Romansa Cinta Senior Junior

Romansa Cinta Senior Junior
66


__ADS_3

Tanpa terasa bulan Ramadan tiba, artinya sebulan lagi Dita dan Rendra akan menikah secara resmi. Persiapan pernikahan mereka sudah hampir selesai. Gedung, katering, dekorasi, dokumentasi, pengisi acara sudah di-booking semua. Suvenir sudah dipesan dan akan diambil 7 hari sebelum hari H. Undangan juga sudah jadi, tinggal diberi nama penerima lalu dikirim. Baju tinggal fitting, tinggal cincin dan mendaftarkan pernikahan di KUA saja yang belum. Tempat bulan madu? Itu masih menjadi rahasia Rendra, yang ingin memberi kejutan untuk Dita.


Rencananya hari ini sepulang kuliah, Rendra dan Dita akan ke toko perhiasan langganan Ibu Dewi untuk memesan cincin. Ke tempat mereka dulu memesan cincin saat lamaran Dita. Kebetulan hari ini mereka bisa pulang bersama, sekalian nanti mereka akan ngabuburit setelah memesan cincin.


Ramadan kali ini merupakan bulan puasa pertama mereka sebagai suami istri. Dini hari tadi, mereka salat Tarawih berjemaah di rumah. Mereka melakukan salat Tarawih di sepertiga malam terakhir, kemudian dilanjutkan dengan sahur bersama seluruh anggota keluarga, termasuk Adi. Setelah sahur, sambil menunggu azan Subuh, mereka tadarus Al-Qur'an berdua.


Mulai hari ini, Dita memutuskan untuk memakai hijab. Rendra tentu saja menyambut gembira keinginan istrinya, itu merupakan hal yang selama ini dia tunggu. Dia memang ingin Dita menyempurnakan penampilannya sebagai seorang muslim dengan berhijab, tetapi dia tidak mau memaksa. Dia bersyukur akhirnya Dita mendapat hidayah, dengan kesadarannya sendiri, istrinya ingin memakai hijab. Dan Rendra pun tak berhenti memuji Dita lebih cantik dengan memakai hijab.


Karena kuliah Dita selesai lebih cepat dari Rendra, dia menunggu suaminya di Musala Teknik sembari menanti azan Asar. Selama menunggu, dia menyibukkan diri dengan membaca Al-Qur'an. Begitu azan Asar berkumandang, dia menghentikan kegiatannya. Dia mengembalikan Al-Qur'an yang tadi dia baca ke tempatnya.


Dita kembali mengambil wudu sebelum mengikuti salat Asar berjemaah. Setelah itu dia memakai mukena lalu melakukan salat sunah. Begitu iqomah berkumandang, dia berdiri lalu merapatkan diri dengan barisan jemaah wanita lainnya. Sekilas sepertinya dia melihat Rendra sudah berdiri di barisan jemaah pria.


Selesai salat dan berdoa, Dita melipat mukena lalu merapikan hijabnya sebelum turun ke lantai 1. Begitu tiba di bawah, dia melihat Rendra sudah menunggunya.


Rendra tersenyum lebar saat melihat Dita. Dia tak bisa menahan diri untuk tidak memandangi Dita yang sudah memakai hijab. Di matanya, Dita bak bidadari surga yang diturunkan Allah padanya. Lebai? Ya mungkin, tapi dia tidak peduli, nyatanya memang Dita terlihat lebih cantik dengan berhijab.


"Assalamu'alaikum, Bidadari Surgaku." Salam Rendra saat menghampiri Dita yang sedang memakai sepatunya.


"Wa'alaikumsalam, Mas." Balas Dita sambil tersipu.


"Ayo, kita pergi." Rendra mengulurkan tangan kanannya yang disambut Dita dengan malu-malu. Mereka lalu berjalan sambil bergandengan tangan sampai ke tempat parkir. Kini, Dita sudah berani menunjukkan kedekatannya dengan Rendra. Dia sudah tidak peduli lagi omongan orang lain, selama Rendra selalu ada di sampingnya.


Setelah menempuh perjalanan selama sekitar 30 menit, akhirnya mereka tiba di toko perhiasan langganan Ibu Dewi.


“Selamat sore, selamat datang, ada yang bisa kami bantu?” Sapa salah satu karyawan toko.


“Sore, Mbak. Kami mencari cincin untuk pasangan,” sahut Dita.


“Mari, saya tunjukkan contoh modelnya.” Karyawan itu mengajak Dita dan Rendra untuk melihat contoh desain cincin pasangan.


“Dari desain yang ada nanti masih bisa di-custom lagi.” Terang karyawan itu.


“Ini sudah ready stock, Mbak?” Tanya Rendra.


“Belum Mas, kami spesialis membuat cincin custom, jadi baru akan dibuat sesuai permintaan pelanggan.”


Rendra menganggukkan kepala.


“Kamu suka yang mana, Sayang?” Tanya Rendra sambil mengelus kepala Dita.


“Sebentar Mas, masih melihat-lihat modelnya. Mas mau yang model seperti apa?”


“Yang simpel, kalau bisa jangan ada permatanya.”


“Oke, aku lihat dulu beberapa pilihannya.” Dita melihat-lihat contoh cincin.


“Ini Mas ada beberapa pilihan, mau yang benar-benar polos atau yang ada tekstur luarnya?” Dita menunjukkan beberapa cincin pilihannya.


“Yang model wanitanya kamu suka yang mana, Sayang?”


“Yang kembar saja lah sama kaya punya Mas.”


“Jangan dong, punyamu harus ada permatanya.”

__ADS_1


“Kan ini udah ada yang dari mama, Mas.” Dita menunjukkan cincinnya.


“Itu kan dari mama bukan dari aku, Sayang.”


“Ya sudah, modelnya sama kaya punya Mas terus dikasih permata.”


“Oke, kita cari model yang kaya gitu.” Rendra mulai menyortir lagi contoh cincin seperti apa yang mereka inginkan.


“Yang ini gimana. Mas?” Dita menunjuk salah satu model cincin polos dengan aksen pahatan yang melingkar di bagian tengah cincin.


“Oke, kita pesan yang ini Mbak.” Kata Rendra.


“Baik Mas, materialnya mau pakai apa?”


“Platinum yang 90% ya, permatanya bisa diganti berlian enggak Mbak?”


“Loh kenapa diganti Mas?” tanya Dita heran.


“Ya enggak apa-apa, aku pengen aja.” Jawab Rendra santai.


“Tapi, Mas.”


“Sssttt ... enggak boleh protes, Sayang.” Rendra menaruh telunjuknya di depan bibir Dita.


“Jadi bagaimana Mas mau pakai permata Zirconia atau pakai berlian?” Tanya karyawan toko memastikan.


“Pakai berlian Mbak,” jawab Rendra.


“Dua minggu bisa selesai kan Mbak?” tanya Rendra.


“Sebenarnya standarnya 4 sampai 5 mingguan hari kerja, Mas. Kalau mau dipercepat bisa tetapi ada tambahan biaya.” Jawab karyawan toko.


“Enggak apa-apa nambah biaya yang penting dua minggu jadi.”


“Untuk nama mau digrafir dengan nama siapa?”


“Rendra, Dita sama tanggal pernikahan ya Mbak.” Rendra menyebutkan tanggal pernikahan mereka.


Rendra dan karyawan toko itu lalu membahas detail pesanan lebih lanjut dan perkiraan harga cincin yang dipesan, sementara Dita iseng melihat-lihat model-model cincin yang ada di sana.


“Bisa pakai kartu debit kan, Mbak?” Tanya Rendra setelah selesai membahas detail pesanan.


“Bisa, Mas. Mau uang muka dahulu atau langsung lunas?”


“Lunas saja, biar enggak kepikiran lagi nanti.” Rendra menyerahkan kartu debit pada karyawan itu.


Karyawan itu menerima kartu debit Rendra lalu menggesek pada mesin EDC (1), dia memasukkan nominal yang harus Rendra bayar.


“Nominalnya xxxx rupiah ya, Mas.” Karyawan toko itu menunjukkannya pada Rendra.


“Oke, Mbak.”


“Silakan memasukkan nomor PIN (2).”

__ADS_1


Rendra lalu mengetikkan nomor PIN, setelah itu karyawan toko memencet salah satu tombol lalu keluar beberapa setruk.


“Ini Mas setruk transaksi dan nota pesanannya.”


Rendra menerima setruk dan nota pesanan yang diberikan karyawan toko lalu menyimpan di dompetnya.


“Saya bisa langsung ambil di tanggal yang tertera atau akan dihubungi kalau sudah bisa diambil?”


“Bisa langsung ke sini Mas, tetapi kalau mau telepon dulu juga bisa.”


“Oke, ya sudah Mbak, kami pulang dulu.”


“Terima kasih Mas Rendra dan Mbak Dita atas kedatangannya.”


Rendra dan Dita meninggalkan toko perhiasan itu.


“Kita mau ngabuburit ke mana, Sayang?” tanya Rendra sambil memakaikan helm di kepala Dita.


“Terserah Mas saja. Aku enggak ngerti daerah sini,” jawab Dita.


“Ya sudah kita cari makanan buat buka puasa di Pasar Kotagede aja. Mau kan masuk pasar?”


“Ya mau lah Mas, aku kan anak kampung sudah biasa keluar masuk pasar.”


“Oke, kita ke sana.”


Rendra lalu melajukan motornya ke Pasar Kotagede yang letaknya tidak terlalu jauh dari toko perhiasan tadi.


“Kita enggak buka puasa di rumah Mas? Nanti kalau mama sudah masak kan kasihan kalau enggak dimakan.”


“Kita makan di rumah, ini buat berjaga-jaga kalau kita buka di jalan. Sekalian buat oleh-oleh orang rumah. Di sini kan banyak dijual makanan khas Jogja, mungkin banyak yang kamu bahkan enggak tahu atau belum pernah makan sama sekali.”


“Memangnya Mas pernah ke sini?”


“Pernah, kalau mengantar mama mencari takjil ke sini.”


Dita menganggukkan kepala, lalu dia menyandarkan kepalanya di punggung Rendra.


“Capek, Sayang? Apa kita langsung pulang saja? Lain kali saja kita ke Pasar Kotagede.”


“Iya, Mas.”


“Kalau menyandar pegangan, jangan sampai tertidur ya, Sayang.” Pesan Rendra pada Dita, lalu dia memutar motornya menuju rumah.


...※※※※※...


Catatan:


(1)   Mesin EDC (Electronic Data Capture) adalah sebuah alat penerima pembayaran yang dapat menghubungkan antar rekening bank.


Mesin EDC berfungsi sebagai alat gesek tunai, transaksi pembayaran belanja, pembayaran biaya tol, pembayaran biaya tiket pesawat dan listrik


(2)   PIN (Personal Identification Number) adalah angka identifikasi pribadi (kata sandi numerik yang digunakan untuk autentikasi pengguna suatu sistem, misalnya ATM, mobile banking)

__ADS_1


__ADS_2