Romansa Cinta Senior Junior

Romansa Cinta Senior Junior
100


__ADS_3

"Nisa, nanti kamu keluar enggak?" Dita ke kamar Nisa saat Rendra sedang pergi salat Subuh ke masjid.


"Pergi sebentar, kenapa Mbak?" tanya Nisa.


"Besok Mas Rendra ulang tahun kan. Aku nanti mau bikin kue buat Mas Rendra. Kamu bantu beliin bahannya ya," jawab Dita.


"Siap, Mbak. Nanti Mbak kasih daftar saja apa yang harus dibeli. Aku juga mau bantu bikinnya, sekalian belajar bikin kue."


"Oke. Mama punya loyang kan?"


"Kayanya punya sih, tapi Mbak tanya mama saja biar lebih pasti. Dulu mama juga suka bikin kue, tapi sejak punya butik udah jarang bikin, Mbak."


Dita menganggukkan kepala. "Biasanya kalau Mas Rendra ulang tahun bikin acara apa, Nis?"


"Enggak ada acara apa-apa sih, Mbak. Biasanya mama bikin nasi kuning dan kelengkapannya untuk sarapan pagi, terus kita berdoa bersama di meja makan. Udah gitu aja."


"Berarti besok pagi pasti mama bikin nasi kuning ya. Kalau begitu besok ditambah kue enggak apa-apa ya."


"Bisa lah Mbak sekalian jadi dessert (makanan penutup/pencuci mulut) hihihi. Perpaduan budaya lokal dan inter (internasional)," seloroh Nisa sambil terkekeh.


Dita tersenyum. "Aku mau ngobrol sama mama dulu. Nanti kasih tahu aku kalau kamu udah mau berangkat."


"Siap, Mbak."


"Jangan bilang sama Mas Rendra ya. Soalnya kemarin aku pura-pura lupa ulang tahunnya."


"Beres, Bos."


Dita meninggalkan kamar Nisa lalu menemui Ibu Dewi yang mulai sibuk di dapur menyiapkan sarapan.


"Mau masak apa Ma?" tanya Dita begitu masuk ke dapur.


"Sayur asem, pindang dan tempe goreng sama bikin sambal terasi," jawab Ibu Dewi.


"Enak nih, Ma. Dita bantu ya."


"Kamu duduk aja, jangan banyak berdiri nanti capek," perintah Ibu Dewi.


"Enggak apa-apa, Ma. Dita juga bantu bunda masak kok di rumah."


"Ya udah, kamu bantu potong sayurnya aja sambil duduk di meja makan. Mama enggak mau kamu capek."


Akhirnya Dita mengikuti apa yang mertuanya katakan. Dia hanya memotong kacang panjang, terong, dan labu siam untuk isian sayur asem. Selebihnya Ibu Dewi yang melakukan.


"Assalamu'alaikum," salam Rendra yang baru pulang dari masjid.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Dita dan Ibu Dewi bersamaan.


"Loh, udah bangun, Sayang." Rendra duduk di samping Dita.


"Udahlah, orang udah duduk di sini."


"Tadi aku ke masjid kan masih tidur. Baru mau aku bangunin ini."


"Aku bangun pas Mas berangkat, terus ke sini bantu mama."


"Aku ke kamar dulu ya, Sayang." Rendra mengelus kepala Dita.


"Iya, Mas. Bentar aku nyusul." Dita menyerahkan sayur yang sudah dipotong pada mertuanya. Lalu dia menyusul Rendra masuk ke kamar.


"Mas, mau langsung mandi apa mau olahraga dulu?" Rendra mempunyai kebiasaan olahraga pagi, entah lari pagi atau latihan karate sendiri.


"Kalau aku mau kamu gimana, Sayang?" tanya Rendra dengan senyum menggoda.


"Ish ... belum boleh," jawab Dita sambil tersipu malu.

__ADS_1


"Tapi kan boleh kalau selain yang itu." Rendra menaik turunkan alisnya.


"Apaan sih, Mas. Udah pagi juga. Mas kan juga harus berangkat PKL. Kemarin udah izin."


"Ya udah sini, peluk sama cium aja dulu." Rendra merentangkan tangan, menunggu Dita memeluknya.


Dita menghampiri Rendra, memeluk erat suaminya. Dia lalu berjinjit untuk mencium kedua pipi Rendra. Saat mau melepaskan diri dari pelukan Rendra, tanpa diduga suaminya itu menangkup wajahnya lalu mencium bibirnya dengan lembut.


Rendra menyesap dan menjelajahi setiap sudut bibir Dita. Mereka saling melu mat, menggigit dan tak ingin melepaskan pagutan bibir mereka. Meski sudah beberapa kali mengambil napas tetapi sepertinya mereka masih belum ingin menyudahinya.


Tok ... tok ....


"Kak Rendra, kunci motorku di mana? Aku mau ke warung disuruh mama." Nisa berteriak di depan pintu kamar Rendra.


Mau tak mau Rendra menyudahi ciuman mereka. Dia merapikan rambut yang sudah diacak-acak Dita saat mereka berciuman tadi. "Wait a minute (tunggu sebentar)!" bisiknya pada Dita.


Rendra membuka pintu lalu menyerahkan kunci motor pada Nisa.


"Lama banget sih Kak buka pintunya. Pasti tidur lagi kan," protes Nisa.


"Berisik, ganggu aja. Sudah sana ke warung."


"Makanya kunci ditaruh di tempatnya jangan dibawa terus, Kak."


"Udah buruan ke warung sana." Rendra segera menutup pintu dan menguncinya sebelum Nisa membuka mulutnya lagi.


"Lho kok udah rapi, mau ke mana, Sayang?" tanya Rendra yang melihat Dita sudah merapikan rambut dan pakaiannya yang tadi juga berantakan karena ulahnya.


"Mau bantu mama masak," jawab Dita.


"Enggak boleh, kita belum selesai, Sayang." Rendra mendekati Dita dengan senyum menggoda.


"Mas, enggak enak sama mama kalau kita di kamar terus," tolak Dita.


"Mama paham kok. Mama kan pernah muda. Sayang, mau dilaknat malaikat sampai besok pagi?"


"Tidak harus melakukan itu kan untuk melayani suami, hummm. Come here, i'll tell you something (sini, aku beri tahu sesuatu)."


Dita mendekat, lalu Rendra berbisik di telinganya. Pipi Dita merona setelah mendengar bisikan Rendra.


...---oOo---...


Siang ini Dita dengan dibantu Nisa, membuat Japanese cheese cake untuk ulang tahun Rendra besok. Tadi dia sudah meminta Nisa membelikan bahan kue di sebuah toko bahan kue terkenal yang terletak di Jalan Dr. Sutomo. Setelah semua bahan siap dan ditimbang, Dita memanaskan oven terlebih dahulu. Baru dia meminta Nisa untuk mengocok putih telur yang sudah dipisah dari kuningnya.


Dita mencairkan cream cheese (krim keju) dengan susu cair dengan cara ditim. Kemudian dia masukkan mentega, lalu mengaduknya sampai rata. Selagi hangat, kuning telur dimasukkan ke dalam adonan cream cheese lalu diaduk rata dengan whisk. Setelah itu dia masukkan tepung terigu dan maizena sambil diayak dan diaduk rata.


Sesuai instruksi Dita, Nisa mengocok putih telur dengan air jeruk lemon sampai berbusa. Setelah itu dia memasukkan gula pasir secara bertahap sampai stiff peak/kaku (bila mangkok dibalik sudah tidak jatuh dan di ujung mixer putih telur sedikit melengkung).


Dita lalu memasukkan adonan putih telur secara bertahap ke dalam adonan cream cheese. Setelah diaduk secara pelan dan rata, baru dituangkan ke dalam loyang bulat tanpa sambungan yang sudah dioles mentega dan dialasi dengan kertas roti. Dia memanggang dengan metode au bain marie (loyang utama dialasi loyang yang lebih besar berisi air setinggi 1 cm) selama 1 jam.


Selama menunggu kue matang, dia mengobrol dengan Nisa. Karena cukup lama mereka tidak bertemu dan saling bercerita. Mungkin karena jarak usia yang hanya terpaut satu tahun membuat mereka jadi lebih dekat seperti teman sebaya saja.


Begitu kue matang, Dita membuka sedikit pintu oven selama 10 menit. Sesudah itu baru kue dikeluarkan dari oven dan ditangkupkan di atas rak agar dingin. Setelah dingin, Dita mengoleskan selai stroberi kesukaan Rendra di atas permukaan kue. Di pinggiran atas kue, dia beri butter cream yang dibentuk dengan spuit agar tampilannya lebih cantik. Kue kemudian disimpan di dalam kulkas.


...---oOo---...


Dita terbangun saat Rendra sedang membaca Al-Qur’an setelah menjalankan salat Tahajud.  Dia bangkit dari tidur lalu duduk menyandar di headboard. Dia tersenyum melihat suaminya yang sedang khusyuk membaca Al-Qur’an. Mendengar Rendra melantukan ayat suci dengan merdu selalu bisa menenangkan perasaannya.


Selesai membaca Al-Qur’an, Rendra terkejut melihat Dita sudah duduk manis sambil menatapnya.


“Sudah bangun, Sayang? Aku terlalu keras ya bacanya sampai membangunkan kamu?” Rendra mendekati Dita, lalu mencium keningnya. "Good morning, My Love."


“Enggak, Mas. Memang kebangun aja karena ingat sesuatu.” Dita memeluk Rendra yang duduk di sampingnya.


“Apa memangnya?” Rendra menatap Dita.

__ADS_1


Dita melepas pelukannya lalu menangkup wajah Rendra. “Yaumul milad, Mas Rendra Sayang. Barakallahu fii umrik. Semoga di hari lahir Mas ini, Mas menjadi pribadi yang lebih bertakwa. Mas diberikan segala kebaikan, diberi kemudahan dalam menjalani misi dunia dan akhirat, dan diberikan kesehatan selama menjalaninya. Tetap menjadi suami yang saleh, yang selalu membimbingku menjadi lebih baik. I love you, Mas.” Dita mencium kedua pipi Rendra dan mengecup singkat bibirnya.


Senyum Rendra seketika mengembang. Wajahnya berubah ceria, dia mengira Dita melupakan hari lahirnya. Ternyata istrinya itu hanya mengerjai dia saja.


“Aamiin. Terima kasih, Sayang.” Rendra memeluk erat istrinya dan mencium keningnya.


“Maaf ya Mas, kemarin aku pura-pura lupa. Tapi, aku enggak punya kado lho buat Mas.”


“Aku enggak perlu apa-apa. Cukup kamu ada di sampingku, itu sudah cukup, Sayang. Kamu sudah melengkapi hidupku. Kamu adalah kado terindah yang Allah beri padaku.” Rendra kembali mencium kening Dita. Dalam hati dia bersyukur karena di usianya yang ke 22 tahun, Allah sudah memberinya banyak kebahagiaan dan kenikmatan, termasuk memiliki Dita sebagai istrinya.


Saat akan sarapan pagi, Dita sempat menghilang. Padahal dia hanya memanggil Adi untuk sarapan bersama, sekaligus mengambil kue yang kemarin dia titip di kulkas Adi.


Rendra sempat panik karena tidak menemukan istrinya di rumah. Padahal Ibu Dewi, Shasha dan Nisa sudah duduk manis, dan di atas meja sudah tersaji tumpeng nasi kuning dengan kelengkapannya.


Tiba-tiba Dita datang bersama Adi sambil membawa kue yang dibuatnya.


"Surprise!!!" seru Dita sambil tersenyum lebar.


Rendra bangkit dari duduknya dan menghampiri Dita. Dia mengambil kue yang Dita bawa lalu diletakkannya di atas meja. Senyum tak pernah lepas dari wajahnya. Pagi ini semua orang yang menyayanginya berkumpul bersama, merayakan hari kelahirannya. Bahkan istrinya yang super cuek, memberinya kejutan yang tak pernah dia duga. Tak hentinya dia bersyukur dengan semua kenikmatan yang Allah berikan padanya.


Sebelum mulai memotong tumpeng dan kue, mereka berdoa bersama. Setelah itu Rendra memotong tumpeng yang dibuat mamanya. Potongan pertama tentu saja dia berikan pada mamanya, baru pada istrinya, Adi, Shasha kemudian Nisa.


Sesusah membagi tumpeng, dia memotong kue yang Dita buat. Potongan pertama tetap dia berikan pada mamanya, dengan urutan yang sama seperti tumpeng tadi.


Mereka kemudian makan nasi kuning sambil saling bercerita, ditutup dengan menikmati sepotong japanese cheese cake yang lembut dan manis. Selesai sarapan bersama, mereka kembali disibukkan dengan kegiatan masing-masing.


Dita menyiapkan keperluan Rendra untuk dibawa PKL. Dia juga membawakan bekal makan siang untuk suaminya. Setelah Rendra bersiap, Dita mengantar Rendra sampai di depan rumah.


"Makasih Sayang, untuk semua kejutannya. Nanti malam kita dinner berdua, oke. Aku nanti akan reservasi tempat," ucap Rendra sebelum pergi.


"Oke, Mas. Jangan lupa bekalnya dimakan. Hati-hati di jalan, jangan ngebut," pesan Dita.


"Siap laksanakan, Komandan," seloroh Rendra.


"Aku berangkat dulu, Sayang. Jangan melakukan kegiatan yang berat dan bikin capek."


"Iya, Mas." Dita mencium punggung tangan Rendra yang dibalas dengan ciuman di keningnya.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam warahmatullah." Dita melambaikan tangan, saat Rendra mulai melajukan motor meninggalkan dia.


...💞💞💞💞💞...


Assalamu'alaikum ... Sudeng Ndalu ... Annyeong haseyo ... Ohayou gozaimasu ...


Apa kabar semuanya? Bagaimana puasa hari pertama? Lancar kan? Semoga tetap lancar sampai di akhir Ramadhan ... aamiin.


Tidak terasa hari ini kisah Rendra dan Dita sudah mencapai bab 100. Sejujurnya saya tidak pernah menduga sampai sepanjang ini. Dari sekedar iseng menerbitkan draft yang dibuat beberapa tahun yang lalu, lalu mendapat apresiasi yang tidak pernah saya duga. Dari yang dulu up setiap tiga hari sekali hingga sekarang hampir setiap hari. Ini semua di luar rencana saya.


Terima kasih untuk semua yang sudah meluangkan waktu untuk membaca cerita receh dan sederhana ini. Terima kasih yang selalu mendukung saya dari awal, dari yang hanya segelintir pembaca hingga sekarang ratusan setiap hari (belum mencapai ribuan, semoga segera ... aamiin).


Terima kasih yang sudah memfavorit, sudah setia memberikan komentar yang selalu bisa membuat saya senyum setiap kali membaca. Terima kasih yang sudah ikhlas memberi sedekah like/jempol, gift/hadiah, dan juga vote. Hanya Allah yang bisa membalas kebaikan teman-teman semua.


Saya tetap menantikan kritik dan saran atau ide dari teman-teman semua agar bisa lebih baik lagi. Bisa disampaikan melalui komentar, grup chat (GC), personal chat (PC) atau direct message (DM) di instagram (@kokoro.no.tomo.82).


Mohon maaf bila cerita saya kadang gaje, atau mirip dengan cerita lain atau adegan di suatu drama atau film, itu semua bukanlah faktor kesengajaan. Itu hanya hasil imajinasi otak saya yang masih dangkal ini. Semoga ke depan saya bisa lebih baik lagi meskipun tidak bisa memuaskan semua keinginan teman-teman.


Sekali lagi terima kasih untuk yang sudah setia mengikuti kisah Rendra dan Dita sampai saat ini. Matur nuwun sanget, kamsahamnida, arigatou gozaimasu. 🙏🙏🙏


Jangan lupa tetap jaga kesehatan dan minum vitamin, tetap patuhi prokes dan ingat pesan Ibu 5M. Tetap semangat serta tetap jaga hati dan pikiran agar tetap bahagia. 🤗🤗🤗


Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Kokoro no tomo (Ayaka Kirei)

__ADS_1


Jogja, 130421 23.35


__ADS_2