Romansa Cinta Senior Junior

Romansa Cinta Senior Junior
82


__ADS_3

“Sayang, nanti kita jadi melihat-lihat peralatan untuk bakery?” Rendra merengkuh Dita yang sedang duduk di atas ranjang. Dia baru saja pulang dari salat Subuh berjemaah di masjid bersama Adi.


“Jadi, kenapa Mas?”


“Enggak apa-apa, memastikan saja. Nanti mau bawa motor apa mobil?”


“Bawa motor aja lebih enak kalau cari tempat.”


“Kalau gitu aku nanti ambil motor ya, sama baju. Sayang, mau ikut ke rumah enggak?”


Dita menggelengkan kepala. “Salam aja buat mama, Mbak Shasha sama Nisa. Aku kangen mereka semua.”


“Ya udah, enggak apa-apa. Insya Allah nanti salamnya aku sampaikan.”


“Mas, mau sarapan sama apa?”


“Sayang, kan udah berulang kali aku bilang, kamu masak apa pun pasti aku makan.”


Dita mengerucutkan bibirnya. “Ya, sekali waktu ingin makan apa gitu loh, Mas.”


“Kalau aku ingin kamu gimana, Sayang.” Goda Rendra sambil mengedipkan sebelah mata.


“Mas, ih. Udah berkali-kali juga masa masih aja kurang.” Dita memukul pelan dada Rendra.


“Sama kamu enggak pernah cukup, Sayang.” Rendra mengecup kepala Dita.


“Ishhh ... udah Mas, aku mau masak dulu.” Dita mencoba melepaskan diri dari rengkuhan Rendra, tetapi suaminya itu justru makin erat merengkuhnya.


“Mas, lepas ih. Kasihan Mas Adi nanti kalau enggak sarapan dulu.”


“Cium dulu, nanti baru aku lepas.”


Cup ... cup ... Dita mengecup kedua pipi Rendra.


Masih merasa kurang, Rendra memonyongkan bibir, memberi kode Dita untuk mencium bibirnya. Dita memutar bola matanya sebelum menuruti suaminya.


Setelah Dita menuruti keinginannya, Rendra melepaskan istrinya itu. Dia tersenyum bahagia karena Dita akhirnya sudah kembali seperti semula, meski belum mau ke rumahnya. Memang lebih baik Dita menghindari sumber masalah mereka, dari pada nanti malah mereka jadi bertengkar lagi.


Rendra seperti biasa membantu Dita memasak. Mereka lalu sarapan bersama Adi. Sesudah sarapan, Rendra pulang ke rumahnya.


"Sendiri aja Ren, Dita mana?" tanya Shasha yang bersiap berangkat ke kantor.


"Di sebelah, lagi nyuci baju tadi," jawab Rendra.


"Bukan karena enggak mau ke sini kan?" selidik Shasha.


"Enggak lah, dia nitip salam tadi buat Mama, Kak Shasha dan Nisa, katanya kangen."


"Wa'alaikumsalam, kalau kangen ke sini dong," balas Shasha.


"Nanti aku sampaikan sama Dita."


"Harus dong, aku berangkat dulu. Assalamu'alaikum," Shasha berpamitan pada mamanya dan kedua adiknya.


"Wa'alaikumsalam."


"Udah makan, Ren?" tanya Ibu Dewi.

__ADS_1


"Sudah, Ma. Dita masak terus kok di sana. Mama enggak perlu khawatirkan makanku," jawab Rendra.


"Mama percaya kok Dita bakal mengurus anak mama dengan baik," canda Ibu Dewi.


"Memangnya aku anak kecil Ma, yang harus diurus?" Rendra melayangkan protes pada mamanya.


"Kak Rendra kan jadi manja kalau sama Mbak Dita, wekkk ...," ejek Nisa.


"Enggak apa-apa ya manja sama istri sendiri."


"Iya deh, yang lagi mesra-mesranya," sindir Nisa.


"Iri bilang, Nis," sahut Rendra.


"Sudah, sudah, kalian berdua ini kalau ketemu pasti jadi ramai." Ibu Dewi melerai Rendra dan Nisa yang saling mengejek.


"Rendra mau ambil motor sama baju, Ma. Rendra enggak tahu sampai kapan di Mas Adi."


"Iya, enggak apa-apa. Nikmati waktu kalian berdua di sana. Dita pasti masih butuh waktu mau kembali ke sini. Jaga Dita baik-baik selama kalian di sana," tutur Ibu Dewi.


"Pastinya, Ma. Tanpa Mama minta pun, Rendra selalu menjaganya. Dita sudah jadi separuh jiwaku, Ma." Rendra meletakkan satu tangannya di depan dada.


"Ih, Kak Rendra lebai," cibir Nisa.


"Kak Rendra di sini ternyata," sapa Olivia yang bergegas mendekati Rendra dengan girang.


Rendra seketika memasang wajah dingin, sebisa mungkin dia menghindari kontak dengan Olivia.


"Dita mana?" Olivia celingukan.


"Istri macam apa itu enggak mau pulang ke rumah mertua," sindir Olivia.


"Kamu bisa diam enggak?" geram Rendra.


"Kenapa sih Kak Rendra belain Dita terus? Sudah jelas dia bukan istri yang berbakti sama mertua," cerocos Olivia.


"Olivia, jaga bicaramu. Bude sudah beri kamu peringatan kemarin, ternyata kamu tidak juga berubah. Terpaksa bude telepon mamamu," tegas Ibu Dewi.


Olivia mendadak panik. "Bude, jangan. Oliv mohon. Oliv akan berubah."


"Bude tidak percaya lagi sama kamu, Olivia. Sebaiknya kamu memang segera pulang ke Jakarta. Libur semester juga hampir selesai."


"Ma, minta Tante Vina langsung belikan tiket pulang. Udah enek aku lihat dia berkeliaran di rumah ini," ucap Rendra dengan nada kesal.


"Kak Rendra kok gitu sih sama aku. Kak Rendra jahat, udah enggak sayang lagi sama aku," gerutu Olivia.


"Cih, orang yang pikirannya picik kaya kamu itu enggak butuh dikasihani. Kalau aku enggak menghargai Mama dan Tante Vina, sudah aku usir kamu dari sini." Rendra menatap tajam Olivia.


"Kak Rendra jahat. Sejak menikah enggak pernah perhatiin aku lagi. Semuanya Dita ... Dita ... terus. Dita juga sudah mencuci otak Kak Rendra buat membenci aku."


"Jangan coba memfitnah Dita lagi. Ingat, sekali lagi kamu bicara buruk soal Dita, aku enggak menjamin bisa bersikap baik," ancam Rendra.


"Rendra, cukup. Sebaiknya kamu segera ambil keperluanmu lalu kembali. Kasihan Dita kalau menunggu terlalu lama," Ibu Dewi berusaha mencegah hal yang lebih buruk terjadi.


"Iya, Ma." Rendra beranjak menuju kamarnya.


"Olivia, mulai kemasi barang-barangmu. Bude mau telepon mamamu."

__ADS_1


"Bude, apa Oliv harus pulang sekarang?" Olivia menatap Ibu Dewi dengan raut cemas.


"Tergantung mamamu, kamu siap-siap saja." Ibu Dewi mengambil gawainya lalu menelepon mamanya Olivia.


Olivia menunduk pasrah, dia sudah berusaha membujuk budenya tapi tidak berhasil. Dia menyalahkan mulutnya yang tidak bisa direm. Hal tentang Dita selalu membuatnya kesal. Dita jadi sosok yang selalu menarik perhatian siapa pun. Semua yang ada di sini selalu memperhatikan Dita, dan dia merasa terpinggirkan.


Rendra dulu selalu baik padanya, meski dia tahu Rendra hanya menganggapnya adik. Tapi, sejak hari pertama dia datang ke rumah ini, Rendra berubah. Memang, Rendra masih menanggapi sikap manjanya mesti tidak selalu. Rendra selalu saja menempel pada Dita, membuatnya kesal. Dia selalu mencari kesempatan mendekati Rendra saat Dita sedang tidak bersama Rendra.


Puncaknya, saat tempo hari Dita sedang di lantai atas menjemur pakaian, dan Rendra sedang duduk sendiri di ruang tengah. Dia mendekati Rendra dan mengajak bicara. Dia minta Rendra mengantarkannya berjalan-jalan di Malioboro. Rendra menyanggupi, tetapi mereka harus pergi bersama dengan Dita dan juga Nisa. Setelah itu Rendra pamit ke kamar untuk mandi.


Saat itu suasana sepi, membuatnya leluasa mengikuti Rendra masuk ke kamar. Dia berbaring di atas ranjang empuk Rendra sambil memainkan gawai, sedangkan Rendra di kamar mandi tidak tahu kalau dia ikut masuk ke dalam kamar. Tak lama Dita masuk ke kamar dan memergoki dia.


Dia tahu, tingkahnya sudah melewati batas. Tetapi dia sudah hilang akal, tidak tahu lagi bagaimana cara untuk mendekati Rendra, membuatnya berbuat nekat. Ada risiko yang harus dia tanggung karena kenekatannya, Rendra membencinya dan mamanya pasti akan memberi hukuman atas kesalahannya.


Sebagai anak tunggal, dia merasa kesepian. Karena itu, dia senang berada di rumah Ibu Dewi. Semua bersikap baik padanya, apalagi Rendra. Sikap baik Rendra padanya, ternyata menumbuhkan rasa yang tak biasa, entahlah itu namanya cinta atau obsesi.


Saat mendengar kabar Rendra akan menikah, berhari-hari dia menangis. Hatinya terasa sakit, seolah separuh nyawanya hilang. Apalagi saat dia melihat langsung kemesraan Rendra dan Dita, hatinya panas, terbakar api cemburu.


Penyesalan memang selalu datang terlambat. Kini dia harus menghadapi segala konsekuensi atas perbuatannya.


"Olivia, nanti sore mamamu akan datang ke sini. Besok pagi kalian akan kembali ke Jakarta."


"I ... iya, Bude." Ucapan Ibu Dewi membuyarkan lamunannya.


"Olivia, bude sebenarnya tidak mau mengadu sama mamamu. Tapi bude terpaksa karena semua nasihat bude tidak kamu dengar dan turuti. Seandainya kamu mau berubah dan menurut, hal seperti tadi tidak akan terjadi," tutur Ibu Dewi lembut.


"Iya, Bude." Olivia menunduk, tidak berani menatap budenya.


"Bude harap, kamu bisa introspeksi diri setelah pulang dari sini. Bude tidak mau ada keributan lagi kelak saat kamu datang ke sini."


"Iya, Bude."


"Sudah sana, mulai kemasi barang-barangmu."


Olivia menganggukan kepala. Dia beranjak ke kamar yang disediakan untuk tamu atau keluarga yang menginap.


"Ma, Rendra mau bawa motor." Rendra keluar kamar sambil menenteng jaket dan ransel.


"Kalian berdua mau pergi?"


"Iya Ma, mau melihat-lihat peralatan bakery. Kan bulan depan kontrak sama XX bakery berakhir. Rendra mau produksi roti dan kue sendiri. Tempatnya nanti didesain sama menantu mama yang paling cantik."


"Syukurlah, mama ikut senang. Oh ya, nanti sore Tante Vina datang mau menjemput Olivia. Kalau bisa, kamu bujuk Dita ke sini ketemu Tante Vina."


"Nanti Rendra coba bicara sama Dita, tapi kalau dia enggak mau enggak apa-apa kan, Ma?"


"Iya, jangan dipaksa kalau dia tidak mau. Mama bisa mengerti."


"Kalau nanti Dita tidak mau, Rendra tetap ke sini. Kabari ya Ma, kalau Tante Vina sudah datang."


"Iya, pasti mama kabari. Hati-hati ya kalian di jalan. Jangan ngebut, siapa tahu sudah ada calon cucu mama di perut istrimu."


"Aamiin ... siap Mama. Rendra pamit dulu. Assalamu'alaikum." Rendra mencium punggung tangan dan kedua pipi mamanya.


"Wa'alaikumsalam warahmatullah."


Jogja, 230321 13.50

__ADS_1


__ADS_2