
“Kak Rendra sebenarnya ada masalah apa sih sama Kak Dita kok tadi Nisa lihat kaya saling menghindar gitu?” Tanya Nisa penasaran setelah Adi dan Dita berpamitan.
Saat ini Nisa, Rendra dan mamanya masih duduk di sofa ruang tamu.
“Enggak ada apa-apa.” Jawab Rendra pendek.
“Ih ... Nisa enggak percaya. Kak Rendra pasti menyembunyikan sesuatu deh. Iya kan?” Desak Nisa lagi.
“Sudah dibilang enggak ada apa-apa kok enggak percaya.” Rendra mulai kesal dengan pertanyaan adik bungsunya itu.
“Apa Mama percaya sama Kak Rendra?” Tanya Nisa pada mamanya yang dari tadi hanya mendengarkan kedua buah hatinya berbicara, mencoba mencari dukungan.
“Ya sejujurnya mama juga kaget tadi, normalnya orang saling kenalan ya saling tersenyum bukan malah saling membuang muka.”
“Nah kan, mama sependapat sama Nisa. Pasti ada sesuatu deh antara Kak Rendra sama Kak Dita.” Nisa masih tetap dengan pemikirannya.
“Kenapa Mama jadi ikut-ikutan Nisa?” Sewot Rendra yang merasa terpojok.
“Mama kan hanya menjawab pertanyaan Nisa, Ren. Apa mama salah? Karena tidak biasanya kamu seperti itu. Biasanya kamu ramah sama orang yang baru kamu kenal, seperti kalau mama ngenalin kamu sama anak-anak teman mama. Baru kali ini mama lihat kamu bersikap seperti tadi. Mama jadi merasa tidak enak dengan Adi dan Dita.”
Rendra hanya diam mendengarkan mamanya, memang benar dia selalu ramah pada siapa pun, tapi entah kenapa bila melihat Dita rasanya kesal apalagi setelah 2 kali insiden pertemuan mereka yang bisa dibilang jauh dari kata akur.
“Aku tahu, pasti Kak Rendra pernah ditolak sama Kak Dita ya jadi Kakak dendam sama dia?” Tebak Nisa sembarangan.
“Sok tahu! Omonganmu makin enggak jelas dan tidak masuk akal Nis.” Geram Rendra.
“Memang yang sebenarnya gimana Kak? Habisnya Kak Rendra tidak mau jujur.” Gerutu Nisa kesal.
Rendra hanya diam, malas meladeni ocehan Nisa. Dia bangkit dari sofa meninggalkan Nisa dan mamanya di ruang tamu. Nisa yang kesal melempar bantal sofa ke arah Rendra tetapi meleset membuatnya semakin kesal.
“Kak Rendra ngeselinnnn!!!”
Rendra berlalu dari ruang tamu menuju ke kamarnya. Dia harus mendinginkan kepalanya, lebih baik menghindari Nisa yang akan terus bertanya sampai dia mendapat jawaban yang pasti. Begitu masuk kamar tak lupa dia menutup pintu lalu duduk di atas kasurnya.
“Gila!!! Sial sekali aku. Mimpi apa aku semalam, bisa-bisanya cewek gila itu jadi tetangga sebelah rumah. Enggak di kampus, enggak di rumah ketemu dia terus.” Rendra mengacak rambutnya kesal sambil terus mengumpat.
Tak mau terlalu larut memikirkan kekesalannya, Rendra berjalan ke meja belajarnya. Dia membuka tugas kuliah dan berniat mengerjakan tugas yang harus dikumpulkan esok hari. Tetapi dia tidak bisa sepenuhnya konsentrasi, beberapa kali bayangan Dita yang bersikap menyebalkan menganggunya.
__ADS_1
“Kenapa sih otakku hari ini.” Dia memejamkan mata dan memijat kedua pelipisnya berharap bisa berkonsentrasi penuh pada tugas kuliahnya.
...---oOo---...
“Dek, duduk sini mas mau bicara.” Adi mengajak Dita duduk di ruang tengah setelah melepas kepulangan ayah dan bunda mereka di depan rumah.
“Ada apa Mas, kayanya kok ada yang serius?” Dita mengernyit heran tapi tetap menuruti Adi untuk duduk di sebelah kakaknya itu.
“Adek mas yang paling cantik, apa Adek ada sesuatu sama Rendra?”
Dita terkesiap mendengar pertanyaan Rendra, tetapi dia berusaha untuk tetap tenang. “Maksudnya Mas apa? Kenapa Mas bisa berpikiran seperti itu?”
“Mas kan lihat dengan mata mas sendiri bagaimana Adek tadi sama Rendra. Setahu mas, Adek itu orang yang selalu ramah sama orang lain. Mas baru kali ini lihat Adek jutek seperti itu, apalagi sama orang yang baru dikenal.”
Dita mengembuskan napas kasar sebelum mulai bicara.
“Aku pernah cerita kan Mas kalau ada kakak tingkat yang menyebalkan, nah orang itu ya si Rendra sebelah rumah itu.” Terang Dita.
Adi manggut-manggut mendengar penjelasan Dita. “Tapi mas rasa dia sebenarnya baik, Dek.”
Dita menoleh heran ke arah kakaknya. “Baik apanya Mas? Mas kan lihat tadi dia juga seperti apa.”
“Pura-pura baik itu Mas, jangan percaya sama dia deh Mas.” Sungut Dita kesal.
“Mas ini pria, mas tahu mana pria baik dan mana yang tidak. Dan mas yakin Rendra itu pria yang baik.”
“Terserah Mas deh. Enggak usah bahas dia lagi bikin kesal aja.”
Adi mengekeh melihat polah adiknya itu. Dita melirik sebal kakaknya yang malah menertawakannya.
“Jangan terlalu benci sama Rendra, nanti Adek malah jatuh cinta loh sama dia.” Adi mulai menggoda Dita.
“Mas ih apa-apain sih, ngeselin tahu enggak.” Dita memukul-mukul lengan Adi saking kesalnya.
“Aduh, sakit Dek.”
“Biarin, habis Mas jahat sama aku.” Dita masih saja memukuli lengan Adi.
__ADS_1
Adi lalu menghadap Dita, lalu memeluk adik satu-satunya itu. “Iya mas minta maaf ya.”
Dita masih saja cemberut dan menatap Adi kesal.
“Mas kan sudah minta maaf Dek, kok masih cemberut gitu sih.”
Dita masih bergeming, meski wajahnya sudah terlihat mulai tenang walau masih tersisa sedikit rasa kesal.
“Iya dimaafin, tapi jangan diulang lagi Mas.” Dita lalu memeluk kakaknya, dan Adi mengecup kening adiknya.
“Iya ... iya .... Ya sudah yuk kita salat Isya dulu tuh sudah azan. Kita salat jemaah ya, Dek.” Adi melepas pelukannya.
“Mas enggak ke masjid?”
“Di rumah saja, lain waktu mas ke masjid. Kayanya mas harus beli sepeda biar rajin ke masjid.” Kekeh Adi.
Dita mencibir, “bilang saja malas jalan ke masjid Mas. Nanti aku bilangin ayah ya.”
“Adek kok jadi pengadu sih, mas lagi capek banget ini pasti ayah juga bisa mengerti keadaan mas. Kan biasanya juga mas selalu salat di masjid.”
“Iya, aku bercanda Mas.”
“Sudah sana ambil wudu dulu, nanti mas tunggu di musala.”
Dita menganggukkan kepala, dia bergegas membersihkan diri di kamar mandi lalu berwudu setelah itu masuk ke musala. Di rumah mereka memang ada sebuah ruangan khusus untuk salat dan juga tempat wudhu. Sudah menjadi tradisi sejak kakek mereka dahulu selalu menyediakan ruang khusus untuk beribadah.
“Mas, aku ke kamar ya,” pamit Dita setelah menyelesaikan salat Isya dan berdoa.
“Enggak makan dulu Dek?” Tanya Adi.
“Masih kenyang Mas, kalau Mas mau makan biar aku siapin.” Jawab Dita.
“Sudah kamu istirahat saja, mas juga masih kenyang. Sepertinya mas juga mau langsung tidur biar besok pagi lebih fresh.”
“Okelah kalau begitu. Jangan lupa dicek lagi pintunya Mas.” Dita berlalu ke kamarnya.
Dita mengambil ponselnya yang dia letakkan sembarang di atas tempat tidurnya. Dia merebahkan diri di atas kasur sambil mengecek ponselnya. Sejak bangun tidur dia belum mengecek pesan di ponselnya karena sibuk mempersiapkan acara pengajian tadi pagi. Ada 5 panggilan terjawab dari Bella dan ratusan chat dari WA grup maupun pesan pribadi.
__ADS_1
Dia terlalu malas untuk membuka semua pesan di WA, bahkan pesan dan panggilan dari Bella pun dia abaikan. Matanya sudah terasa berat dia berpikir akan membuka pesan besok pagi sebelum kuliah. Saat ini dia hanya ingin mengistirahatkan badannya yang terasa lelah. Tidak lupa dia berdoa sebelum tidur, tak lama kemudian dia sudah berada di alam mimpi.