Romansa Cinta Senior Junior

Romansa Cinta Senior Junior
64


__ADS_3

Hari ini adalah hari terakhir Ujian Tengah Semester Genap, Rendra merasa badannya semakin lemas dan kepalanya terasa sakit. Tetapi dia tetap memaksakan diri untuk berangkat ke kampus agar tidak ikut ujian susulan. Kebetulan hari ini jadwal ujiannya pagi, sementara Dita siang, jadi mereka tidak berangkat ke kampus bersama.


Sudah beberapa hari ini Rendra merasakan tidak enak badan, tetapi dia tidak mengindahkannya. Dia tetap saja masuk kuliah dan bekerja sampai malam bahkan dini hari. Memang waktu istirahatnya sangat kurang. Dia bisa beristirahat dengan cukup bila sedang bersama Dita, tetapi jika sedang sendiri jangan ditanya berapa jam dia tidur, kadang-kadang hanya 2 atau 3 jam saja.


Selama mengerjakan ujian dia menahan rasa sakit di kepala hingga membuatnya berkeringat dingin. Setelah selesai ujian, dia meminta Bara untuk mengantarnya ke IGD (Instalasi Gawat Darurat) rumah sakit terdekat.


Begitu sampai di IGD Rendra langsung ditangani oleh dokter dan perawat yang bertugas. Wajahnya terlihat sangat pucat dan terus keluar keringat dingin. Sementara Bara mengurus administrasi Rendra.


Tadi sebelum sampai di IGD, Rendra berpesan pada Bara agar jangan menghubungi Dita sampai jadwal ujiannya selesai. Rendra tidak ingin konsentrasi Dita terpecah karena mengkhawatirkan dia.


Bara menunggu di luar ruangan saat petugas IGD menangani Rendra. Tak lama petugas memanggilnya.


"Keluarga dari Narendra Daneswara."


"Iya, saya." Bara menghampiri petugas itu.


"Sementara Saudara Narendra kami beri obat untuk meredakan rasa sakit kepalanya. Kita observasi dulu bagaimana selama satu atau dua jam ke depan sambil menunggu hasil lab darahnya."


"Kemungkinan sakit apa ya, Dok?"


"Kalau dari keluhan pasien kelelahan dan kurang istirahat, kami curiga tipes karena pernah ada riwayat sebelumnya. Untuk kepastiannya kita tunggu hasil labnya."


"Baik Dok, apa saya sudah boleh menemuinya?"


"Ya, silakan."


"Terima kasih, Dok." Bara lalu menghampiri Rendra di salah satu ruangan IGD.


"Gimana Bro keadaan lo?" Tanya Bara begitu tiba di samping tempat tidur Rendra.


"Alhamdulillah sudah agak mendingan. Kepalaku sudah enggak terlalu sakit. Makasih ya Bro, lo selalu ada buat gue." Jawab Rendra dengan suara lemah.


"Iya, sama-sama. Alhamdulillah kalau sudah lebih baik."


"Lo belum hubungi Dita kan?"


"Belum, kata lo nanti saja kalau ujiannya sudah selesai."


"Iya, gue takut dia malah kepikiran kalau tahu keadaan gue."


"Ya udah, lo istirahat aja dulu. Gue tungguin lo di sini." Bara duduk di samping tempat tidur Rendra.


"HP gue mana? Gue mau kirim pesan sama Dita buat ngasih semangat. Gue enggak mau dia curiga."


Bara menyerahkan gawai pada Rendra, ya sejak masuk IGD semua barang Rendra dibawa oleh Bara kecuali dompetnya. Rendra menerima gawainya lalu mengetik pesan untuk istrinya.


Selamat mengerjakan ujian, Sayang. Semoga diberikan kelancaran. Jangan lupa berdoa dulu. Love you 😘😘😘


Tak lama balasan dari Dita datang.


Aamiin. Mas lagi di mana sekarang?


Aku lagi bareng sama Bara.


Ya udah Mas, aku mau siap-siap ujian. Sampai ketemu nanti Mas, really miss you 😘😘😘


I miss you more, My Love 😘😘😘


Rendra meletakkan gawai di sampingnya begitu Dita tidak membalas lagi pesannya. Dia lalu memejamkan mata untuk beristirahat sambil menunggu hasil labnya keluar.


Satu jam kemudian dokter memanggil Bara.


"Kami sudah mendapatkan hasil labnya dan dipastikan pasien mengalami tipes. Karena dari gejalanya sudah tingkat sedang pasien harus menjalani rawat inap agar bisa mendapatkan perawatan lebih intensif."


"Baik, terima kasih Dok. Nanti saya bicarakan dulu dengan pihak keluarga untuk masalah ruangan rawat inapnya."


"Silakan nanti hubungi perawat bila sudah ada keputusan dan mengurus pendaftaran rawat inap."


"Baik, Dok. Terima kasih." Bara kembali menghampiri Rendra yang masih memejamkan matanya.


"Bro, lo udah bangun apa belum?"


Rendra membuka mata. "Ada apa?" Tanyanya lemah.


"Lo harus dirawat inap. Lo mau di ruangan apa?"


"VIP aja, kasihan Dita nanti kalau di ruang biasa." Rendra mengambil dompet dari saku celana belakang lalu menyerahkannya pada Bara. "Kartu asuransi gue di situ, lo cari aja."


"Oke, gue urus dulu pendaftaran ruangannya."


"Ya, Dita udah lo kasih tahu?"


"Belum, mau dikasih tahu sekarang?"

__ADS_1


Rendra melihat jam tangannya, masih 30 menit lagi waktu Dita selesai ujian. "Setengah jam lagi lo bisa hubungi Dita. Lo bawa aja hp gue."


"Oke, gue tinggal dulu."


Rendra mengangguk lemah, dia kembali memejamkan matanya. Bara kemudian menghubungi perawat meminta surat pengantar untuk pendaftaran rawat inap.


Setelah melakukan pendaftaran rawat inap, Bara kembali mendatangi Rendra. Dia melihat sahabatnya itu masih terbaring lemah dengan selang infus sudah terpasang di tangan kanannya.


"Kapan gue beri tahu mama?"


"Sekarang juga enggak apa-apa. Pesan saja nanti kalau ke sini sama Nisa atau Kak Shasha biar mereka sekalian antar lo ambil motor gue di kampus."


"Iya, udah lo enggak usah pikirin motor lo, nanti gue urus."


"Kuncinya di kantong ransel yang kecil, STNK-nya lo ambil di dompet gue."


"Iya, udah lo istirahat aja. Gue mau hubungi mama sama Dita dulu."


"Thanks Bro."


Bara keluar dari IGD untuk menelepon agar mendapat sinyal yang bagus. Pertama-tama dia menelepon Ibu Dewi, reaksinya tentu saja terkejut tetapi tetap tenang setelah mendapat penjelasan Bara. Ibu Dewi berjanji akan datang nanti sore dengan kedua putrinya serta membawakan baju ganti untuk Rendra.


Selesai menelepon Ibu Dewi, Bara menelepon Dita.


"Assalamu'alaikum, Mas lagi di mana? Aku udah selesai ujiannya."


"Wa'alaikumsalam. Dita ini aku Bara."


"Lho Kak Bara ..., Mas Rendra mana Kak?"


"Dia baru istirahat. Kamu sedang sama Bella enggak sekarang?"


"Iya Kak, saya sama Bella. Apa yang terjadi Kak? Kenapa Mas Rendra?" Suara Dita mulai terdengar panik.


"Kamu tenang dan jangan panik ya. Rendra kena tipes, dia harus dirawat inap tapi masih di IGD sekarang."


"Ya Allah, di rumah sakit mana Kak?"


"Di Sardjito."


"Saya ke sana sekarang, Kak. Bel, tolong antar aku ke Sardjito sekarang ...."


Tut ... tut ... tut ....


Dita menutup telepon sebelum Bara sempat bicara akan menunggunya di depan IGD. Tak sampai 10 menit dia sudah melihat sosok Dita dan Bella yang masuk ke area parkir motor rumah sakit di selatan IGD.


"Kak Bara, di mana Mas Rendra?" Tanya Dita begitu bertemu Bara.


"Ayo, aku antar." Bara masuk ke ruangan IGD diikuti Dita dan Bella. Setelah sampai di tempat Rendra, dia membuka tirai yang menutupi setiap tempat tidur pasien.


Dita langsung menangis setelah melihat wajah suaminya yang pucat dengan tangan diinfus. Dia mendekati Rendra yang memejamkan mata.


"Kenapa Mas sakit enggak bilang sama aku?" Dita duduk di samping ranjang dan menggenggam tangan kiri Rendra sambil terus menangis.


Pelan-pelan Rendra membuka mata, dia menoleh ke sebelah kiri dan melihat sosok istrinya. Dia lalu tersenyum. "Aku enggak apa-apa. Kapan datang?"


"Enggak apa-apa bagaimana, wajah Mas itu pucat banget. Tuh tangannya diinfus juga. Pasti Mas begadang lagi ya tiap hari. Lama-lama aku umpetin notebook-nya Mas." Omel Dita sambil terus menangis.


"Sssttt ... enggak usah nangis. Aku enggak apa-apa. Paling besok sudah bisa pulang." Rendra mengusap bekas air mata Dita dengan tangan kanannya.


"Mana mungkin tipes sehari langsung pulang. Mas tuh mau ngetes jantungku apa? Aku enggak boleh bikin Mas khawatir, malah Mas sendiri yang bikin aku khawatir." Dita masih terus mengomel.


"Sama siapa ke sini?" Rendra berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Bella," Dita menunjuk Bella yang berdiri di samping Bara.


Rendra menoleh pada Bella. "Makasih ya sudah antar Dita ke sini."


"Iya Kak, sama-sama. Kakak istirahat saja enggak usah didengar omelan Dita. Suami sakit kok malah dimarahin." Ucap Bella.


Dita langsung mendelik ke arah Bella.


Rendra tersenyum lalu kembali menoleh pada Dita. "Enggak apa-apa diomelin, artinya dia memang beneran cinta sama aku."


"Mas ini sakit masih sempat-sempatnya bercanda," protes Dita.


"Aku enggak bercanda, kan memang benar omelanmu itu tanda cintamu. Jadi makin cinta deh sama istriku ini."


"Ehhhmmm ... maaf Tuan dan Nyonya Rendra, kami kaum jomblo sebaiknya menyingkir dulu. Silakan lanjutkan kemesraan kalian, kami tidak akan mengganggu." Seloroh Bella.


"Kapan gue dipindah ke ruangan, Bro?" Tanya Rendra pada Bara.


"Masih menunggu info dari sana, kalau sudah siap nanti akan dikabari." Jawab Bara.

__ADS_1


"Sudah jadi telepon mama?"


"Iya, katanya mama nanti sore ke sini sama Nisa dan Kak Shasha sekalian bawa baju ganti buat lo."


"Thanks, Bro. Kalian bertiga sebaiknya makan siang dulu, aku enggak apa-apa ditinggal sendiri."


"Aku nitip aja makannya, aku tungguin Mas di sini." Ucap Dita.


"Lo nitip apa Bro?"


"Belikan air mineral sama roti saja. Kamu mau makan apa, Sayang?"


"Apa aja yang Bella makan, asal jangan yang berkuah."


"Uangnya ambil di dompet gue, Bro."


"Enggak usah, dompet lo udah gue masukkan ke ransel bagian depan." Kata Bara sambil menunjuk ransel di samping bawah ranjang Rendra.


"Aku sama Bella pergi dulu. Dita, kalau ada apa-apa langsung hubungi aku ya."


"Siap, Kak."


Bella dan Bara kemudian meninggalkan mereka berdua.


"Mas, istirahat aja. Aku temani di sini."


"Kita ngobrol aja."


"Mas tuh baru sakit butuh banyak istirahat, malah mau ngobrol."


"Aku kangen kamu, Sayang."


"Aku juga," sahut Dita sambil menunduk malu.


"Sayang, aku enggak bisa peluk sama cium kamu ini."


"Enggak usah peluk-peluk dan cium dulu. Mas, sembuh dulu, kalau sudah sembuh bebas peluk dan cium."


"Benar ya, aku tagih nanti kalau aku sembuh. Jadi pengen cepat sembuh kan kalau begini."


"Iya ... iya ...."


"Gimana ujiannya tadi?"


"Alhamdulillah lancar. Mas tadi pas ngerjain ujian pasti sambil nahan sakit ya."


"Iya, tapi aku masih bisa jawab pertanyaan kok."


"Tadi ke sini jam berapa?"


"Habis ujian, aku langsung ke sini minta antar Bara. Makanya motorku masih di kampus sekarang."


"Jadi tadi Mas kirim pesan ke aku udah di sini?"


"Iya."


"Kenapa enggak bilang dari tadi?"


"Nanti kamu panik dan enggak fokus ujian. Makanya aku minta Bara ngabarin setelah kamu selesai ujian."


"Iya juga. Makasih, Mas malah mikirin aku padahal Mas lagi sakit."


"Kamu itu kan selalu ada di pikiranku, jadi enggak mungkin aku enggak mikirin kamu."


"Mas ini sebenarnya sakit apa enggak sih kok masih bisa gombal sama aku?"


Rendra tersenyum.


"Aku mau telepon Mas Adi minta antar bajuku ke sini."


"Nanti kalau mama ke sini, kamu pulang saja dulu."


"Aku mau tidur di sini temani Mas."


"Iya, tapi pulang dulu ganti baju sama bawa pulang tas."


"Iya, nanti aku minta jemput Mas Adi ke sini."


"Mudah-mudahan sebentar lagi aku dipindah ke kamar, jadi kamu bisa lebih nyaman nunggunya."


"Mas ini loh, pikirkan saja kesembuhan Mas, malah memikirkan kenyamananku."


"Kalau kamu nyaman, aku bisa tenang, Sayang. Makanya aku minta ruang VIP. Tenang saja aku pakai asuransi, enggak usah kamu pikirkan soal biaya." Rendra mencium tangan Dita yang menggenggam tangannya.

__ADS_1


"Sudah ngobrolnya, Mas tidur dulu. Pucat banget wajahnya Mas." Dita mengelus-elus kepala Rendra penuh cinta.


Rendra menuruti keinginan istrinya. Dia memejamkan mata sambil menikmati elusan Dita yang membuatnya merasa tenang dan dicintai. Pelan-pelan dia pun masuk ke alam mimpi.


__ADS_2