Romansa Cinta Senior Junior

Romansa Cinta Senior Junior
73


__ADS_3

Pagi ini Rendra dan Dita dijemput mobil agen tour & travel yang akan mengantar mereka ke bandara. Rendra memang mempercayakan perjalanan bulan madu mereka pada agen tour & travel karena tidak mau pusing dengan segala akomodasi saat di sana. Dia hanya ingin menikmati kebersamaannya dengan Dita tanpa harus memikirkan hal lain.


Pesawat mereka lepas landas pukul 08.50 WIB dari bandara Jogja. Lama penerbangan menuju tempat tujuan mereka sekitar 1 jam 25 menit.


“Mas, benar kita mau ke Lombok?” Dita memandang Rendra dengan wajah berseri saat mereka sudah di dalam pesawat.


“Iya. Suka enggak, Sayang?” Rendra mengelus pipi Dita.


Dita mengangguk. “Suka sekali. Salah satu impianku ingin pergi ke Lombok. Makasih ya Mas sudah mewujudkannya.”


“Alhamdulillah kalau kamu suka. Lain kali kalau ada rezeki kita pergi ke tempat impianmu yang lain, Sayang.”


“Aamiin. Makasih Mas untuk semua kejutannya.” Dita menyandarkan kepalanya di bahu Rendra.


“Insya Allah selama aku mampu, aku akan mewujudkan semua impianmu.” Rendra mengecup puncak kepala Dita yang berbalut hijab.


Dita mengangkat kepalanya lalu mengecup pipi Rendra. Entah keberanian dari mana dia berani melakukannya. Rasanya sebanyak apa pun ucapan terima kasihnya pada Rendra tak pernah cukup membalas semua yang sudah Rendra berikan padanya.


Rendra tersenyum setelah mendapat kecupan di pipinya. Istrinya ini setiap hari memang semakin menggemaskan dengan segala tindakan manisnya yang tidak terduga. Dia harus bisa menahan dirinya bila di tempat umum seperti sekarang.


Pukul 11.20 WITA (Waktu Indonesia Tengah) pesawat mendarat di Bandar Udara Internasional Zainuddin Abdul Madjid. Setelah turun dari pesawat, mereka menunggu koper mereka turun dari bagasi pesawat. Begitu koper sudah di tangan, mereka keluar dari area kedatangan. Mereka mencari perwakilan dari agen tour & travel yang menjemput mereka.


Setelah beberapa saat mencari perwakilan dari agen tour & travel yang membawa kertas bertuliskan namanya, akhirnya Rendra menemukannya di antara puluhan orang yang berdiri di depan area kedatangan. Dengan menggandeng tangan Dita dan menyeret kopernya, Rendra menghampiri orang itu.


“Dari XX Tour and Travel ya Pak?” Tanya Rendra pada orang yang membawa tulisan namanya.


“Iya, benar. Apa ini Bapak Narendra Daneswara?”


“Iya, saya Narendra Daneswara. Panggil saja Rendra, Pak. Ini istri saya, Dita.”


“Selamat datang di Lombok Bapak dan Ibu Rendra. Perkenalkan nama saya Irvan. Saya yang akan menjadi tour guide Bapak dan Ibu selama di sini.”


Mereka kemudian saling bersalaman.


“Izinkan saya mengalungkan selendang tenun khas Lombok sebagai suvenir dari kami.” Ucap Irvan.


“Oh ya, silakan Pak.” Sahut Rendra, dia lalu menundukkan kepalanya agar Irvan mudah mengalungkan selendang di lehernya, setelah itu Dita juga dikalungkan selendang yang sama.


“Mari Pak, saya bawakan kopernya.” Irvan membawa koper mereka.


Rendra dan Dita mengikuti Irvan dari belakang menuju mobil yang akan membawa mereka berkeliling selama di Lombok. Setelah sampai di mobil jemputan mereka, Rendra dan Dita langsung masuk dan duduk di dalamnya. Di dalam mobil, mereka disambut oleh sopir yang duduk di belakang kemudi.


“Selamat datang di Lombok, Bapak dan Ibu Narendra. Saya akan menemani perjalanan Bapak dan Ibu selama di sini. Semoga Bapak dan Ibu mendapat kenangan yang indah selama di Lombok.” Ucap Sang Sopir sambil tersenyum ramah.


“Terima kasih Pak. Panggil saya Rendra saja, dan ini istri saya, Dita.”


“Baik Pak Rendra. Perkenalkan nama saya Wawan.”


“Baik, Pak Wawan.”

__ADS_1


“Bapak dan Ibu Rendra, ini air mineralnya.” Irvan menyerahkan dua botol air mineral pada Rendra dan Dita.


“Terima kasih, Pak Irvan.” Rendra menerima kedua botol air mineral tersebut.


“Pak Rendra, ini nanti check in hotel jam 2 siang, masih sekitar 2 jam lagi. Pak Rendra ingin ke mana biar kami antar?”


“Bagaimana kalau mencari makan siang dan masjid untuk salat Zuhur atau bagaimana sebaiknya?”


"Bisa Pak. Apa Bapak dan Ibu mau salat di Islamic Center NTB (Nusa Tenggara Barat)?"


"Boleh, tempat apa ya Pak itu?"


"Islamic Center NTB itu pusat islami yang ada Mataram. Selain sebagai masjid tempat salat, juga merupakan ikon dan monumen yang bisa dikunjungi wisatawan baik luar maupun dalam negeri."


"Wah, keren pastinya. Oke, kita ke sana Pak Irvan."


"Kalau mau salat tepat waktu kita ke Islamic Center dulu baru makan siang, Pak."


"Iya, begitu lebih baik Pak."


Rendra lalu menoleh pada Dita yang sedang menikmati suasana Lombok dari balik kaca mobil. "Kita salat dulu baru makan ya, Sayang."


"Eh ... iya Mas."


"Lagi lihat apa sih kok kayanya serius banget?"


"Lihat suasana di luar Mas, beda sama di Jogja. Di sini banyak sekali masjid."


"Mas, aku kok merasa aneh ya dipanggil ibu." Bisik Dita pada Rendra.


"Karena belum terbiasa saja, nanti lama-lama juga enggak aneh. Mulai sekarang harus terbiasa dengan panggilan baru itu." Rendra mengusap kepala Dita dengan lembut.


"Iya, Mas."


Perjalanan dari bandara ke Islamic Center NTB sekitar 40-an menit. Begitu tiba mereka disambut dengan bangunan masjid yang didominasi warna krem dan hijau.


Di dalam kompleks Islamic Center terdapat Masjid Raya Hubbul Wathan yang dikelilingi empat menara dengan tinggi 66 meter di keempat sisi ujung bangunan utama masjid. Selain itu juga dibangun Menara Asmaul Husna dengan tinggi 99 meter.


Menara Asmaul Husna bisa dipakai untuk melihat sekeliling Kota Mataram. Bagian bawah menara berukuran 16,5 x 16,5 meter yang memiliki empat jenjang View Deck. Yang pertama di ketinggian 26,55 meter, kedua 47,60 meter, ketiga 65,1 meter, keempat 93,10 meter, dan ke lima di lantai puncak 99 meter. Ketinggian menara disamakan dengan jumlah Asmaul Husna atau nama-nama baik Allah. Untuk menuju ke atas Menara Asmaul Husna, pengunjung bisa menggunakan tangga atau lift.


Di kompleks Islamic Center NTB juga ditampilkan foto-foto masjid dari berbagai desa di Lombok, yang dikenal sebagai Pulau Seribu Masjid.


Sesudah menjalankan salat dan melihat-lihat kompleks Islamic Center, Rendra meminta Irvan untuk mencari makan siang hidangan khas Lombok. Akhirnya mereka makan siang dengan menu nasi balap.


Nasi balap juga dikenal dengan nama nasi balap puyung atau nasi puyung. Sajian nasi balap ini terdiri dari seporsi nasi putih dengan suwiran daging ayam bumbu pedas, kedelai goreng, plus sambal khas yang disajikan di atas daun pisang. Sebagai pelengkap ada kering kentang, oseng buncis, dan juga telur.


Setelah makan siang, Rendra dan Dita diantar untuk check in di sebuah Suites & Villa yang dekat dengan Pantai Senggigi. Mereka memilih kamar tipe suite dengan Pemandangan Laut Sebagian (Suite with Partial Ocean View).


Kalau menurut jadwal perjalanan mereka, seharusnya mereka akan makan malam di restoran, tetapi Rendra ingin makan malam di hotel saja. Dia ingin menikmati waktu bebas dengan istrinya di hari pertama. Kebetulan jadwal perjalanan dari agen tour & travel mereka memang tidak mengikat, bisa berubah sesuai keinginan pelanggan. Jadi, mereka akan dijemput lagi esok pagi untuk jadwal perjalanan berikutnya.

__ADS_1


Dita merasa kagum dengan pemandangan dan suasana di suite itu. Rendra memang selalu memberikan yang terbaik untuk istrinya, pilihannya tak pernah mengecewakan.


"Masya Allah, bagus banget. Makasih kejutannya, Mas." Ucap Dita begitu memasuki kamar. Banyak sekali fasilitas yang mereka dapatkan di kamar. Sesudah berkeliling kamar, Dita segera membuka koper dan menata perlengkapan yang mereka bawa di atas meja.


"Mas mau tidur pakai baju itu?" Tanya Dita karena melihat Rendra sudah berbaring di atas ranjang.


"Tanggunglah mau ganti, nanti saja sekalian kalau mandi." Jawab Rendra.


"Ya sudah," Dita memasukkan kembali baju ganti Rendra ke dalam koper.


"Udah sini rebahan dulu, Sayang. Pasti kamu capek kan. Tidur dulu siapkan stamina untuk nanti malam." Rendra menepuk kasur di sampingnya sambil mengedipkan sebelah mata untuk menggoda istrinya.


"Iya, aku lepas hijabku dulu." Setelah melepas hijab, Dita lalu menyusul Rendra berbaring di atas ranjang. Mereka berdua menikmati tidur siang yang jarang mereka lakukan.


Menjelang Magrib, Rendra menelepon layanan kamar untuk memesan makan malam. Dia meminta makan malam di antar ke kamar karena sedang malas keluar, hanya ingin di kamar saja dengan Dita.


Selepas makan malam dan salat Isya berjemaah, mereka duduk-duduk sebentar di teras menikmati suasana malam di dekat Pantai Senggigi. Rendra lalu mengajak Dita masuk ke kamar. Dia menutup semua tirai dan mengunci pintu kamar. Tak lupa, tadi dia memasang tanda Please Don't Disturb di gagang pintu luar.


"Sayang, ganti ini ya buat tidur." Rendra menyerahkan paper bag kecil pada Dita.


"Apa ini, Mas?"


"Baju tidur. Sudah sana ganti. Atau mau ganti di depan suamimu?"


"Eh ... aku ganti kamar mandi aja." Dita bergegas masuk ke kamar mandi. Dia membuka paper bag yang tadi diberikan Rendra dan mengeluarkan sesuatu dari sana. Ternyata Rendra memberinya satu set lingerie hitam berbahan lace yang didesain seksi dengan spaghetti strap, dengan detail asymmetric cutting serta dilengkapi g-string.


Dita merasa ragu-ragu memakainya. Itu sama saja dia tidak memakai apa-apa karena seluruh bagian tubuhnya akan terlihat jelas. Tetapi dia juga tidak mau menentang keinginan suaminya. Selama ini Rendra sangat bisa menahan diri untuk tidak meminta haknya. Sungguh egois kan kalau dia tidak mau memenuhi hak suaminya yang akan diminta malam ini.


Setelah beberapa saat berpikir, Dita memakai juga lingerie yang Rendra berikan. Dia bingung dan malu harus ke luar begitu saja atau menutupinya dengan bathrobe. Akhirnya dia memutuskan memakai bathrobe untuk menutupi tubuhnya yang terbalut lingerie dengan g-string.


Saat Dita ke luar dari kamar mandi, Rendra ternyata sudah berganti dengan pakaian tidurnya, kaos tanpa lengan dengan celana kolor pendek.


"Sudah, Sayang. Kok lama banget sih." Gerutu Rendra yang sedang duduk sambil menonton televisi. Suasana kamar sudah menjadi remang-remang, hanya bercahayakan lampu tidur dan dari televisi yang menyala.


"Aku kan sekalian bersih-bersih, Mas." Dita gugup dan bingung, dia tidak tahu harus tetap berdiri atau bergabung dengan suaminya.


"Kenapa berdiri terus, Sayang." Tiba-tiba Rendra sudah memeluknya dari belakang. Dita menjadi hilang fokus karena merasa gugup.


"Semua hp dan saluran telepon sudah aku matikan, jadi tidak akan ada yang akan mengganggu kita malam ini." Bisik Rendra di telinga Dita, yang sukses membuat Dita meremang.


Masih dengan posisi yang sama, Rendra mulai melepas tali bathrobe yang melingkar di perut Dita sembari menciumi tengkuk istrinya. Setelah tali bathrobe terlepas, Rendra memutar badan Dita hingga mereka berdiri berhadapan.


Dengan pelan namun pasti, Rendra mengecup bibir Dita. Mengulumnya pelan dan penuh kelembutan, terkadang menghisap dan sesekali menggigit. Mereka saling menjelajahi dan menikmati bibir pasangannya, hingga tanpa sadar bathrobe Dita sudah hilang entah ke mana.


Kini Dita hanya memakai lingerie saja. Perlahan sambil terus saling memagut, Rendra menuntun Dita ke atas ranjang. Dia membaringkan Dita dengan lembut dan pelan.


Rendra mulai menelusuri leher istrinya. Dia tidak hanya mengecup semua sisinya tetapi juga menghisap dan menggigit leher Dita. Dia tidak peduli bila besok Dita akan marah-marah karena dia meninggalkan banyak jejak di sana.


Lalu ciuman Rendra mulai turun ke bagian dada istrinya. Sekarang, dia tidak perlu lagi membuka kancing baju tidur dan kaitan bra untuk melihat keindahan dada istrinya. Bibirnya bermain-main di kedua dada Dita, bergantian memberikan sensasi yang menggelikan sekaligus melenakan. Saat bibirnya bermain di atas dada Dita, satu tangannya mulai bergerilya di bawah sana.

__ADS_1


"Ouch Mas ...," desah Dita.


Jogja, 140421 01.50


__ADS_2