
“Pak Rendra, ada yang perlu saya sampaikan sebelum memulai operasi,” ujar dokter Lita sebelum masuk ke ruang operasi.
“Apa ya, Dok?” Rendra mendekati dokter Lita.
“Pak Rendra harus siap dengan segala kemungkinan yang terjadi. Bapak harus siap seandainya nanti kondisi putra Bapak sudah tidak bisa tertolong. Saya harap, Pak Rendra terus memberi semangat dan mendampingi ibu apa pun yang terjadi nanti. Kami tetap berusaha mengupayakan yang terbaik. Tetapi semua kembali lagi pada takdir Allah.”
“Baik, Dok.” Rendra merasa lututnya lemas begitu mendengar penjelasan dokter Lita. Tapi dia berusaha tetap tegak berdiri, dia harus tetap kuat. Dita membutuhkan dukungannya. Dia ingin menjadi suami yang baik, yang selalu ada untuk Dita, apa pun yang terjadi.
“Pak Rendra? Apa Bapak sudah siap?” tanya dokter Lita membuyarkan lamunannya.
“Insya Allah sudah, Dok.” Rendra memantapkan dirinya.
“Dok, apa boleh saya membawa ponsel ke dalam? Saya ingin mengabadikan saat Dita nanti memeluk anak kami.”
“Silakan Pak. Tetapi mohon nanti pakai mode diam ya Pak, agar tidak mengganggu proses operasi. Ponsel Bapak juga bisa disterilkan dulu, diusap dengan alkohol bisa nanti minta pada perawat.”
“Baik, Dok.”
“Tadi ibu sudah mendapat suntikan anestesi. Jadi yang dibius perut ke bawah. Bapak masih bisa mengajak ibu mengobrol. Jangan lupa pesan saya tadi ya, Pak. Terus beri ibu semangat. Mari kita masuk, Pak.”
“Iya, Dok.” Rendra menganggukkan kepala.
“Bismillahirrahmannirrahim, Ya Allah berilah hamba kekuatan, kesabaran dan keikhlasan selama mendampingi Dita,” doanya dalam hati sebelum masuk ke ruang operasi.
Rendra masuk ke ruang operasi setelah memakai pakaian medis dan masker. Tak lupa dia mensterilkan gawainya. Rendra lalu duduk di samping kepala Dita. Dia meraih tangan kanan Dita lalu menggenggam erat tangan istrinya.
"Hai, Sayang." Rendra mengecup kening Dita. "Tenang ya, rileks. Aku di sini."
"Iya, Mas." Dita menatap mata suaminya seolah meminta kekuatan.
"Operasi akan segera kita mulai. Mari kita berdoa dulu agar operasi berjalan lancar. Berdoa dimulai." Dokter Lita menunduk tanda mulai berdoa.
Semua yang ada di ruang operasi khusyuk berdoa, termasuk Dita dan Rendra.
Setelah berdoa, dokter Lita memulai operasi. Dita dan Rendra tidak bisa melihat proses operasi karena di bagian tengah tubuh Dita ditempatkan kain yang seperti tirai.
Rendra terus berusaha mengajak Dita bicara hal-hal yang menyenangkan. Kadang dia juga membisikkan kata-kata manis yang bisa membuat Dita tersipu. Meski di dalam hatinya dia terus berdoa untuk keselamatan istri dan juga anaknya.
Setelah operasi berjalan sekitar 15 menit, terdengar para dokter dan perawat melakukan tindakan pada bayi mereka.
"Mas, anak kita sudah dikeluarkan belum? Kok enggak kedengaran suara tangisnya?" Dita mulai terlihat resah.
"Kita tunggu ya, Sayang. Ayo kita terus berdoa minta yang terbaik sama Allah." Rendra berusaha menenangkan Dita, meski dia sudah merasakan firasat buruk.
"Aku mau lihat dia, Mas," Dita mulai merajuk.
"Iya, nanti kita lihat. Sabar ya." Rendra mengelus kepala Dita.
Pandangan Dita tampak menerawang, mungkin dia memang sudah merasakan sesuatu terjadi pada anaknya. Bagaimana pun insting seorang ibu pasti lebih kuat karena dia yang mengandung anaknya.
__ADS_1
Selama sekitar 30 menit sama sekali tidak terdengar tangisan bayi, hanya terdengar suara tindakan para dokter dan perawat.
Dokter Lita mendekati mereka berdua. Sebelum bicara dokter Lita memberi kode pada Rendra agar menguatkan Dita.
"Pak Rendra, Ibu Dita, tim kami sudah mengusahakan yang terbaik dan semaksimal mungkin. Tetapi ternyata putra Bapak dan Ibu sudah tidak bisa diselamatkan. Kami mohon maaf dan turut berduka cita," ujar dokter Lita.
"Dokter Lita bercanda kan?" tanya Dita tak percaya.
"Ibu Dita yang sabar, ya," dokter Lita coba menenangkan Dita.
"Enggak, Dokter pasti bercanda. Anak saya cuma tidur kan, Dok. Nanti dia juga bangun kalau haus." Dita masih menyangkal kenyataan.
"Sayang, istigfar." Rendra mengelus kepala Dita. Hatinya hancur melihat istrinya yang terus belum bisa menerima kenyataan.
"Mas, aku ingin melihat anak kita." Dita mulai terisak.
"Dok, bolehkah kami melihat dan memegangnya?" tanya Rendra pada dokter Lita.
"Boleh, sebentar ya," jawab dokter Lita yang lalu mengambil bayi mereka yang masih mungil dan meletakkan di atas dada Dita.
"Boy, bangun. Ini ibu dan ayah. Apa kamu enggak mau melihat kami?" Dita mengelus tubuh bayinya dengan lembut.
Rendra menyerahkan gawainya dan minta bantuan perawat untuk mengambil gambar dan video saat bersama bayi mereka.
"Boy, jangan bercanda. Bangun, Sayang. Apa kamu enggak haus?" Dita masih terus bicara seolah bayi mereka masih bernyawa.
"Mas, kenapa Boy diam saja?" Dita menoleh pada Rendra yang tanpa sadar sudah meneteskan air mata.
Rendra mendekat pada Dita. "Sayang, ikhlas ya. Allah lebih sayang sama Boy. Allah sudah mengambil kembali Boy."
Dita menggelengkan kepala. "Enggak, Boy enggak boleh pergi." Dia memeluk anaknya dengan erat. "Enggak ada yang boleh mengambil Boy."
Semua yang ada di ruangan itu merasa iba dengan Dita, hingga beberapa ada yang meneteskan air mata. Bagaimana pun kehilangan anak yang sudah dikandung bukan suatu hal yang mudah.
"Sayang, lihat aku." Rendra menangkup wajah Dita agar melihatnya.
"Sayang, Boy udah enggak ada. Boy udah dipanggil sama Allah. Ikhlas ya, jangan seperti ini. Aku juga sedih. Kita sama-sama sedih. Tapi kita harus kuat, kita lalui ini bersama, ya." Rendra menatap mata Dita dengan sendu.
Dita hanya diam dan menggelengkan kepala. Air mata semakin deras keluar dari sudut matanya.
"Sayang, boleh peluk Boy. Kita peluk Boy bersama. Kita ucapkan selamat tinggal bersama, ya."
"Lihat wajah Boy yang ganteng dan tersenyum. Dia tidak ingin kita sedih, Sayang. Meski Boy enggak ada di sisi kita, tapi dia akan selalu bersama kita."
"Ikhlas ya, Sayang. Ikhlasin Boy ya." Rendra memeluk mereka berdua, Dita dan bayinya yang ada di atas dada Dita.
"Kita sayang Boy, tapi Allah lebih sayang Boy. Ikhlas ya, Sayang." Rendra mengurai pelukannya. Dia lalu mengecup kening Dita dan kepala anaknya. Dia mengelus tubuh yang masih sangat mungil itu.
"Kita foto bertiga ya sama Boy untuk kenang-kenangan. Kalau kangen dia, kita bisa lihat fotonya."
__ADS_1
Dita menganggukkan kepalanya.
"Sini hapus dulu air matanya, biar kelihatan lebih cantik. Ibunya Boy yang cantik dan kuat." Rendra mengusap air mata di pipi Dita.
"Sus, bisa minta tolong foto kami bertiga," pinta Rendra pada perawat yang tadi dia beri gawainya.
"Baik, Pak." Perawat itu mendekati mereka bertiga.
"Ayo senyum, Sayang." Mereka berusaha tersenyum meski hati mereka sangat sedih. Setidaknya ada kenangan yang bisa mereka lihat nanti.
"Sayang, ada mau yang diomongin sama Boy sebelum diambil perawat?" tanya Rendra.
"Iya," jawab Dita lirih.
Dita meraih Boy dari atas dadanya, membawa ke dekat bibirnya. Dia mengecupi wajah anaknya.
"Boy, terima kasih sudah pernah hadir di hidup kami. Ibu sayang kamu. Tunggu ibu di pintu surga ya, Nak. Insya Allah ibu ikhlas melepasmu. I love you, My Boy. I'm gonna miss you." Dita kembali mencium dan memeluk tubuh mungil Boy.
"Udah, Mas."
Rendra mengambil Boy dari dekapan Dita. Dia menggendong Boy lalu berbisik, "Ayah dan ibu sayang kamu, Boy. Insya Allah kami ikhlas melepasmu. Terima kasih sudah memberi banyak kenangan indah. Terima kasih karena tidak pernah menyusahkan ibu selama mengandungmu. You're really a good boy. That's why Allah really love you. We love you and will miss you."
Rendra mengecup anaknya sebelum memberikan pada dokter Lita. "Dok, izinkan saya nanti yang memandikan dan mengafani dia."
"Iya, Pak. Biar putra bapak dibersihkan dulu oleh perawat sebelum dimandikan."
Rendra menganggukkan kepala, lalu kembali mendekati Dita. "Ikhlas ya, Sayang. Dia akan selalu ada di hati dan di setiap doa kita."
Dita mengangguk tanpa bersuara. Air mata kembali keluar dari sudut matanya.
"Bapak, Ibu, ini operasinya sudah selesai. Nanti kami akan mengantar Ibu Dita langsung ke kamarnya. Sementara itu, Bapak bisa menunggu di luar."
"Baik, Dok."
"Sayang, aku tunggu di luar ya," pamit Rendra pada Dita.
"Iya, Mas."
Rendra kembali mengecup kening Dita sebelum keluar dari ruang operasi. Dia berjalan dengan lunglai begitu sudah di luar ruang operasi.
"Ren, bagaimana keadaan Dita dan anakmu?" Ibu Dewi mendekat padanya.
Rendra sudah tidak bisa menahan lagi perasaannya. Di depan Dita, dia harus tetap kuat walau sebenarnya dia juga rapuh. Rendra memeluk mamanya dan menumpahkan kesedihannya.
Ibu Dewi mengelus punggung putra satu-satunya itu penuh cinta. Tanpa terasa air matanya ikut keluar. Rendra yang selama ini terlihat kuat, mandiri dan tak pernah menyerah, saat ini menjadi pribadi yang rapuh tak berdaya. Dia menangis sesenggukan di pelukan mamanya.
Setelah bisa menguasi diri, Rendra melepas pelukannya. Dia mengusap air matanya dengan kasar. "Dita baik-baik saja, tetapi anak kami sudah kembali pada Allah," ucapnya sambil berusaha tetap tegar.
"Innalillahiwainnailaihirojiun."
__ADS_1
Jogja, 040421 01.40