Romansa Cinta Senior Junior

Romansa Cinta Senior Junior
34


__ADS_3

Hari ini ujian akhir semester ganjil selesai, semua mahasiswa merasa lega karena sudah melewati ujian selama beberapa hari terakhir. Ya meskipun mereka masih tetap was-was menunggu nilai hasil ujian nanti. Mereka sudah merencanakan berbagai kegiatan selama liburan semester, terutama bagi mereka yang berasal dari luar Jogja pastinya ingin mudik ke kampung halaman dan terbebas sejenak dari tugas-tugas kuliah.


“Kita jalan yuk.” Ajak Bella pada Dita dan Baim saat mereka nongkrong di kantin setelah selesai ujian.


“Ke mana?” Tanya Baim.


“Ya, ke mana gitu biar otak bisa adem lagi. Otakku udah panas ini 8 hari berpikir keras.” Jawab Bella mendramatisir keadaan.


“Kamu ngajak pergi tapi enggak tahu ke mana, aneh kamu Bel.” Ledek Dita.


“Gimana kalau nanti sore kita ke Malioboro, kita menyusuri pedestrian dari utara sampai titik nol, biasanya kalau malam kan ada grup angklung yang suka perform. Sekarang pasti enggak terlalu ramai karena bukan weekend jadi kita lebih bisa menikmati.” Usul Baim.


“Wah, seru tuh kayanya, Im.” Bella menyambut dengan antusias. “Mau kan, Ta?”


“Aku izin dulu sama Mas Adi ya,” ucap Dita.


“Iya, nanti bilang aja pulangnya diantar sama aku dan Baim.” Kata Bella.


“Oke,” Dita mengambil gawai dari tasnya untuk menelepon Adi.


“Hai, boleh gabung?” Tanya Bara yang tiba-tiba sudah ada di dekat meja mereka.


“Hai Kak Bara, Kak Rendra.” Sapa Bella ramah begitu melihat mereka.


Dita refleks mendongak saat Bella menyebut nama Rendra. Mereka sempat sekilas bertatapan, sebelum akhirnya dia mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Bara lalu duduk di sebelah Baim dan berhadapan dengan Dita, sementara Rendra duduk di sisi lain meja di antara Dita dan Bara.


“Lagi pada ngomongin apa nih kayanya seru banget?” Tanya Bara penuh semangat.


“Ini Kak nanti rencananya kita mau jalan ke Malioboro refreshing otak.” Jawab Bella sambil meringis malu.


“Wah boleh juga itu, seru pasti kalau ramai-ramai. Aku juga mau ikutan.” Bara menganggukkan kepalanya berkali-kali.


“Tapi nunggu Dita dulu Kak, dapat izin enggak dari Mas Adi.” Ujar Bella sambil melirik Dita.


“Udah bilang sama Mas Adi?” Tanya Rendra pada Dita pelan.


“Ini baru mau hubungi Mas Adi.” Jawab Dita sambil menunjukkan gawainya.


“Ya udah bilang aja dulu, nanti kalau ditanya pulangnya bareng sama aku.” Perintah Rendra.


Dita menganggukkan kepala, dia menekan tombol 1 untuk menelepon Adi. Tetapi sampai nada dering selesai Adi tidak mengangkat teleponnya.


"Enggak diangkat," ucap Dita.


"Ya tunggu 5 menit nanti telepon lagi, siapa tahu pas lagi sibuk." Saran Bella.


Dita meletakkan gawainya di atas meja lalu menyesap jus alpokat yang tadi dia pesan.


Ddrrtt ... ddrrtt ....


Dita menekan tombol hijau di layar gawainya.


"Assalamu'alaikum Dek, ada apa? Maaf tadi mas baru ada tamu."


"Wa'alaikumsalam, ini Bella ngajak aku ke Malioboro sore ini, aku boleh pergi ya?"


"Sama siapa saja?"


"Rame-rame Mas, sama Bella, Baim, Kak Bara, ...."


"Sama Rendra juga?" Potong Adi sebelum Dita menyelesaikan ucapannya.


"Iya."


"Nanti Adek pulangnya sama Rendra kan."


"Iya."


"Rendra ada di situ sekarang?"

__ADS_1


"Iya."


"Mas mau bicara sama dia."


Dita menyerahkan gawainya pada Rendra, "Mas Adi mau ngomong."


"Ada apa, Mas?" Tanya Rendra setelah menerima gawai Dita.


"Benar kamu pergi sama Dita?"


"Iya, gimana Mas? Apa enggak boleh?" Rendra menatap Dita yang terlihat cemas.


"Kalau sama kamu, aku izinkan. Nanti pulangnya jangan terlalu malam, maksimal jam 9 sudah sampai rumah."


"Oke, siap. Ada lagi, Mas?"


"Tolong jaga adikku ya, aku percaya sama kamu."


"Siap, Mas."


"Ya sudah aku tutup dulu, assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Rendra menyerahkan kembali gawai pada Dita.


"Gimana, Bro?" Tanya Bara.


"Dita boleh pergi tapi jam 9 harus sudah sampai rumah." Jawab Rendra.


"Yeayyyy ... kita jadi jalan-jalan." Pekik Bella girang sambil memeluk erat Dita.


"Biasa aja kali Bel, enggak usah lebai gini." Dita melepaskan diri dari pelukan Bella.


"Ya kan jarang-jarang bisa jalan malam-malam sama kamu, Ta. Secara izin Mas Adi susah turunnya kalau memang enggak penting." Celoteh Bella.


"Kita berangkat habis Asar aja, sebentar lagi masuk azan Asar." Ujar Rendra setelah melihat jadwal salat di gawainya.


Semua menganggukkan kepala menyetujui usul Rendra. Begitu azan Asar berkumandang mereka berlima bergegas ke musala teknik untuk salat Asar berjemaah.


"Kamu enggak mau bareng Kak Bara apa Kak Rendra?" Bisik Bella menggoda Dita.


"Enggak lah, tapi nanti aku pulangnya sama Rendra. Itu syarat dari Mas Adi mengizinkan aku pergi hari ini." Bisik Dita pada Bella.


"Heh kalian berdua? Kenapa bisik-bisik terus dari tadi? Ini di belakang kalian ada 3 cowok keren loh kok dianggurin." Protes Baim yang berhasil membuatnya mendapat cibiran dari Dita dan Bella.


"Kita bertiga ini ceritanya kan bodyguard dua putri cantik," seloroh Bara.


"Wah kalau punya bodyguard ganteng-ganteng gini jadi pengen ditemeni terus kan," sahut Bella.


"Eh, kamu bawa helm enggak, Ta?" Tanya Bella kemudian.


"Enggak." Dita menggelengkan kepala.


"Aku bawa helm dua kok," sahut Rendra.


"Tumben lo bawa helm dua, Bro," celetuk Bara.


"Tadi aku berangkat bareng Nisa." Rendra beralasan, padahal ya memang dia akhir-akhir ini sering membawa dua helm, berjaga-jaga kalau pas bisa pulang bareng Dita.


Akhirnya mereka berlima berangkat ke Malioboro beriringan, Dita berboncengan dengan Bella, sementara Baim, Bara dan Rendra memakai motornya masing-masing.


Sesampai di Malioboro, mereka memarkirkan motor di area parkir Malioboro Mall. Keluar dari tempat parkir mereka langsung mencari spot menarik untuk mengambil foto dan juga tempat duduk yang kosong di sepanjang pedestrian Malioboro.


Bella sibuk ber-selfie ria dengan berbagai macam pose, sesekali dia juga meminta diambilkan foto di spot yang dianggapnya menarik.


Bara sibuk mengamati tingkah laku Dita dan Bella, sementara Baim sibuk mengambil foto dengan kamera DSLR yang selalu dia bawa ke mana pun, karena dia memang menyukai fotografi. Dan Rendra sibuk menikmati suasana di sekitarnya sambil sesekali mencuri pandang pada Dita yang selalu berdekatan dengan Bella.


Suasana sore itu sungguh menyenangkan, karena cuaca yang sudah tidak panas membuat duduk di area pedestrian lebih nyaman. Duduk sambil menikmati lalu lalang kendaraan yang lewat atau melihat orang-orang dengan segala aktivitas di sana cukup bisa menenangkan pikiran. Menghilangkan segala kepenatan di kepala untuk sejenak.


Mereka juga melihat pertunjukkan grup angklung yang setiap hari tampil di sana. Sebelum pulang, mereka menyempatkan makan malam di lesehan Malioboro setelah puas berjalan-jalan menikmati suasana sore menjelang malam di Malioboro.


Hampir tidak ada kesempatan bagi Bara untuk mendekati Dita karena Dita selalu menempel pada Bella selama di Malioboro. Dia hanya bisa puas memandangi Dita yang tertawa atau bercanda dengan Bella dan juga Baim.

__ADS_1


Mereka akhirnya memutuskan pulang pukul 08.00 malam, agar Dita tidak terlambat sampai di rumah dan Bella juga tidak kemalaman sampai di kos. Seperti rencana semula Dita pulang berboncengan dengan Rendra. Begitu keluar dari area parkir mereka berpisah menuju ke tujuan masing-masing.


"Mau minum wedang ronde atau makan jagung bakar?" Tawar Rendra pada Dita saat mereka mulai menyusuri jalan Malioboro untuk pulang.


"Memangnya masih ada waktu?" Tanya Dita.


"Setengah jam masih bisa lah," jawab Rendra.


"Wedang ronde aja, kalau jagung bakar masih kenyang," ujar Dita.


"Oke," Rendra lalu melajukan motornya ke alun-alun selatan. Di sana banyak orang yang menjual wedang ronde dan juga jagung bakar. Ada juga yang menyewakan sepeda/kendaraan yang dihias dengan lampu-lampu cantik berwarna-warni, yang dibuat berbagai macam bentuk yang menarik.


Setelah mencari tempat parkir, mereka menuju ke salah satu penjual wedang ronde.


"Rondene kaleh nggeh, Pak (Wedang ronde dua ya, Pak)." Pesan Rendra pada penjual wedang ronde.


"Nggeh Mas, diunjuk mriki nggeh (ya Mas, diminum di sini ya)."


"Nggeh, Pak (iya, Pak)." Rendra dan Dita lalu mencari tempat duduk di tikar yang masih kosong.


"Pernah ke sini?" Tanya Rendra sambil menatap Dita yang sedang memandangi keadaan sekitar.


"Pernah, tapi saat siang," jawab Dita.


"Jadi ini pertama ke sini malam hari."


Dita menganggukan kepala. "Sudah lama ingin ke sini kalau malam, ingin coba masangin sama naik sepeda yang ada lampunya itu."


"Lain waktu kita ke sini kalau kamu mau, kalau sekarang waktunya mepet." Ujar Rendra.


"Ya kalau diizinkan sama Mas Adi." Dita mengembuskan napas pasrah.


"Pasti diizinkan, tenang saja."


"Sok PD (percaya diri) banget sih."


"Enggak percaya kalau aku bisa minta izin Mas Adi?"


"Iya, percaya ... percaya ... Mas Adi lebih percaya kamu daripada adiknya sendiri." Dita mencebikkan bibir.


"Monggo Mas rondene (silakan Mas wedang rondenya)." Penjual ronde itu menempatkan 2 mangkuk wedang ronde di depan mereka.


"Matur nuwun, Pak (terima kasih, Pak)." Ucap Rendra.


"Ayo diminum mumpung masih panas. Biar badan anget, kamu juga enggak bawa jaket kan."


Dita mulai menyendok wedang rondenya, menyesap pelan menikmati rasa dan aromanya. "Mmmhhh nikmat," gumamnya.


Rendra terpaku memandang Dita yang meminum wedang ronde sambil tersenyum, menikmati pemandangan sekitarnya.


"Kok punyamu malah enggak diminum?" tegur Dita yang mendapati Rendra malah asyik memandangnya. "Apa ada yang aneh di mukaku?"


"Eh ... enggak ada kok. Aku hanya sedang menikmati indahnya ciptaan Allah yang ada di depanku."


Blush ....


Dita segera memalingkan wajahnya membelakangi Rendra, dia merasa pipinya memanas. Untung saja pencahayaan di sana tidak terlalu terang jadi dia bisa menyembunyikan rona merah di wajahnya.


Dita menjadi salah tingkah, dia cepat-cepat menghabiskan wedang rondenya agar bisa segera pulang. Situasi saat ini sungguh sangat tidak bagus untuk jantung dan hatinya.


Rendra pun segera menghabiskan wedang rondenya, sambil sesekali melirik Dita yang salah tingkah. Bukannya dia tidak tahu kalau Dita salah tingkah karena ucapannya tadi, tetapi melihat Dita malu dan salah tingkah menjadi hiburan tersendiri buatnya.


"Dita," panggil Rendra dengan lembut.


Dita menoleh pada Rendra, dia melihat mata Rendra yang teduh menatapnya.


Rendra meraih kedua tangan Dita lalu menggenggamnya dengan lembut. "I wanna say something. I can't get over you and I'm totally about you. Would you be mine for the rest of my life (Aku ingin mengatakan sesuatu. Aku tidak bisa melupakanmu dan aku benar-benar mencintai kamu. Maukah kamu menjadi milikku selama sisa hidupku)?"


...※※※※※...


Catatan :

__ADS_1


Masangin : berjalan di antara dua beringin kembar di Alun-alun Kidul dengan mata tertutup.


__ADS_2