
Waktu berlalu tanpa terasa, besok pagi umat muslim akan merayakan Hari Raya Idul Fitri. Pagi-pagi tadi Ibu Dewi sudah pergi ke pasar dengan diantar Rendra untuk belanja selongsong ketupat, ayam kampung dan daging sapi giling. Mereka sengaja pergi lebih awal agar tidak kehabisan selongsong ketupat, karena agak siang sedikit pasti sudah tidak ada penjual yang menjualnya.
Sudah menjadi tradisi di keluarga mereka setiap lebaran pasti Ibu Dewi membuat ketupat dan memasak opor ayam kampung serta sambal goreng kreni krecek. Kalau dulu saat kecil dan tinggal di kampung, mereka membuat selongsong ketupat sendiri, tetapi karena sekarang susah mendapatkan janur (daun kelapa muda), mereka membeli selongsong ketupat yang banyak dijual di pasar menjelang lebaran.
Sepulang dari pasar mengantar mamanya dan meletakkan barang belanjaan di dapur, Rendra mencari Dita di kamar tapi dia tidak menemukan sosok istrinya. Kemudian dia naik ke lantai atas, ternyata istrinya sedang menjemur pakaian di sana. Diam-diam dia mendekati istrinya lalu memeluk Dita dari belakang.
“Astaghfirullah Mas, bikin kaget aja.” Dita memegang dadanya yang berdebar kencang.
Rendra tertawa kecil sambil terus memeluk Dita. “Aku kangen,” bisiknya.
“Mas ih, lepas. Malu kalau dilihat Nisa atau Mbak Shasha.”
“Enggak bakal, mereka masih tidur.” Rendra makin mengeratkan pelukannya, dia menikmati aroma wangi rambut Dita. Karena di rumahnya tidak ada laki-laki selain Rendra, jadi Dita tidak memakai hijab saat di dalam rumah.
“Aku masih belum selesai menjemur pakaian ini, Mas.”
“Sebentar lagi, aku masih kangen.”
“Iya ... tapi ini nanti enggak selesai-selesai aku menjemurnya kalau Mas kaya gini.”
“Sini aku bantu menjemur biar cepat selesai, terus kita bisa berduaan di kamar.” Rendra melepas pelukannya lalu mengambil pakaian yang akan dijemur. Mereka akhirnya menjemur pakaian berdua, tapi bukan Rendra namanya kalau enggak menggoda Dita. Harusnya acara menjemur bisa selesai lebih cepat tetapi malah menjadi lebih lama.
Selesai menjemur pakaian, Rendra menggandeng Dita masuk ke kamar. Mereka duduk di atas ranjang sambil menyandar di headboard (sandaran kasur). Tangan kiri Rendra merangkul lengan Dita, sementara tangan kanannya menggenggam tangan istrinya.
“Besok kita enggak bareng, aku bakal kangen banget sama kamu, Sayang.” Rendra mencium punggung tangan Dita.
“Kan cuma sehari enggak ketemu, Mas.” Dita menoleh, menatap Rendra.
Demi menuruti keinginan orang tua, sebelum akad nikah mereka akan tinggal terpisah. Ya, istilah kerennya mereka dipingit. Besok Dita akan tinggal di rumah ayahnya, sementara Rendra tinggal di rumah mamanya. Mereka akan bertemu kembali setelah akad nikah, 3 hari lagi.
“Kan, aku jadi tidur sendiri.” Rendra memainkan jemari Dita, dia seperti anak kecil yang sedang merajuk meminta mainan.
Dita tersenyum. “Dulu juga Mas tidur sendiri.”
“Eh ... tapi kan dulu aku belum merasakan pelukanmu, Sayang. Sekarang mana bisa aku tidur tanpa meluk kamu.”
“Gombal ih. Peluk aja guling, anggap aja itu aku.”
“Ya beda lah, Sayang. Kalau kamu kan aku peluk dan cium bisa membalas, kalau guling kan enggak bisa.”
Dita mengkikik geli mendengar ucapan Rendra. "Kan masih bisa telepon, Mas."
"Tapi cuma dengar suara, enggak bisa lihat, nyentuh, meluk kamu."
"Cuma sehari, Mas. Setelah itu kan kita sama-sama terus." Dita membelai wajah Rendra dengan tangannya yang bebas.
Rendra memejamkan mata, menikmati setiap sentuhan Dita di wajahnya. Merekam momen manis ini di otaknya.
"Mas, ke luar yuk."
Rendra membuka mata, dia mengerutkan keningnya. "Mau ke mana?"
"Ke luar, bantu mama masak."
"Mama masak biasanya habis Zuhur, kamu enggak bantu enggak apa-apa. Mama bakal ngerti kok. Kita nikmati aja waktu berdua."
__ADS_1
"Eh ... ya jangan begitu Mas. Aku enggak enak kalau enggak bantu mama."
"Sudah ada Kak Shasha dan Nisa yang bantu mama. Kamu di sini saja sama aku."
"Terus kita mau ngapain seharian di kamar?"
"Banyak yang bisa kita lakukan. Kaya sekarang kita bisa ngobrol, bisa tidur. Kalau puasa kan tidur malah berpahala daripada kita berbuat dosa. Terus bisa siapin baju kita yang akan dibawa ke rumah ayah. Banyak kan?"
"Ya udah, Mas siapin baju yang mau dibawa biar aku tata di koper."
"Enggak mau, nanti saja. Aku masih kangen kamu, Sayang." Rendra mengeratkan rangkulannya.
"Iya ... iya ... sekarang dipuas-puasin meluk aku." Kekeh Dita pelan.
"Memangnya kamu enggak kangen sama aku?" Rendra mengerutkan kening sembari menatap Dita.
"Biasa aja tuh, Mas. Kan setiap hari ketemu terus. Tidur bareng terus."
"Tapi kita besok enggak tidur bareng loh. Apa kamu enggak kangen pelukanku ... hummm." Rendra memegang dagu Dita.
"Aku belum kebayang itu sih, Mas. Enggak tahu besok ya."
"Kamu tuh sebenarnya cinta enggak sih sama aku. Enggak ada romantis-romantisnya istriku ini." Rendra mencubit pucuk hidung Dita dengan gemas.
"Kalau aku enggak cinta mana mungkin aku terima lamaran, Mas. Jangan pernah meragukan perasaanku, meski aku tidak pandai mengungkapkan dan mengekspresikan rasa cinta." Ungkap Dita sambil menangkup wajah Rendra.
Mereka terus membicarakan banyak hal sampai ketiduran. Mereka baru terbangun saat aplikasi pengingat salat di gawai Rendra berbunyi. Rendra bergegas bangun, lalu mengambil wudu dan memakai baju koko serta sarung. Setelah itu dia berangkat ke masjid.
Dita juga segera mengambil wudu lalu menjalankan salat Zuhur di dalam kamar. Selesai salat, berdoa dan merapikan peralatan salat, Dita keluar dari kamar. Dia langsung menuju ke dapur, menghampiri Ibu Dewi.
"Enggak apa-apa, ini juga baru mulai kok. Pasti Rendra menahanmu di kamar kan?"
"He ... iya Ma," Dita tersipu menahan malu.
"Anak itu memang begitu. Kamu yang sabar ya menghadapi anak mama yang satu itu. Kalau ada maunya pasti kekeh."
"Iya, Ma. Apa yang bisa aku bantu Ma?"
"Isikan ketupat bisa?"
"Bisa Ma, dulu juga sering bantu bunda kok.'
"Isikan dua per tiga dari selongsongnya ya."
"Iya Ma. Berasnya mana Ma?"
"Itu di dekat wastafel."
"Ini sudah dicuci, Ma?" Dita menunjuk beras di atas wadah.
"Sudah direndam selama 1 jam malah. Itu kan sudah ditiriskan. Oya, janurnya jangan lupa dirapatkan saat mengisi beras biar enggak keluar berasnya."
"Siap, Ma."
Shasha dan Nisa pun kemudian bergabung ke dapur untuk membantu mama mereka. Nisa membantu membulatkan daging giling untuk sambal goreng. Shasha bantu mengupas dan menghaluskan bumbu-bumbu. Rendra pun ikut membantu Dita memasukkan beras ke dalam selongsong ketupat setelah pulang dari masjid. Mereka berlima bekerja sama di dapur sambil mengobrol dan bercanda.
__ADS_1
Setelah selongsong ketupat terisi beras semua, lalu dimasukkan ke dalam panci besar. Kemudian air panas dituangkan ke dalam panci hingga seluruh air merendam ketupat, lalu dimasak selama 2 sampai 3 jam hingga ketupat padat.
Agar ketupat tidak cepat basi dan berair, setelah ketupat matang sempurna, Ibu Dewi segera mengangkat ketupat dan menyiram dengan air dingin. Proses ini untuk membersihkan lendir dari janur yang menempel pada ketupat yang telah matang. Sekaligus menghilangkan kotoran pada sisa air rebusan ketupat. Setelah itu ketupat diiriskan sampai benar-benar kering di atas wadah bercelah seperti tampah yang bisa mengalirkan sisa-sisa air.
Mereka selesai memasak menjelang azan Magrib. Shasha dan Dita lalu menyiapkan minuman untuk buka puasa.
"Alhamdulillah," ucap Rendra begitu azan Magrib berkumandang. "Bismillahirrahmanirrahim," lanjutnya sebelum meminum es semangka susu yang tadi dibuat Dita dan Shasha.
Seusai minum untuk membatalkan puasa dia lalu berdoa.
ذَهَبَ الظَّمَأُ، وابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وثَبَتَ اْلأَجْرُ إِنْ شَاءَاللهُ
“Dzahabazh zhoma’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah.” (1)
(Telah hilanglah dahaga, telah basahlah kerongkongan, semoga ada pahala yang ditetapkan, jika Allah menghendaki)
Rendra lalu memakan tiga butir kurma setelahnya. Kemudian dia berangkat ke masjid untuk salat Magrib sekalian membayar zakat fitrah keluarganya.
اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ، لا إِلهَ إِلاَّ اللهُ واللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ وَِللهِ الحَمْدُ
"Allaahu akbar, Allaahu akbar, Allaahu akbar, laa illaa haillallahuwaallaahuakbar, Allaahu akbar walillaahil hamd."
(Allah maha besar, Allah maha besar, Allah maha besar. Tiada Tuhan selain Allah, Allah maha besar, Allah maha besar dan segala puji bagi Allah.)
Suara gema takbir mulai berkumandang di mana-mana. Membuat hati yang mendengar menjadi bergetar dan penuh haru menyambut hari kemenangan.
...---oOo---...
Pagi ini keluarga Rendra mengikuti salat Idul Fitri di Alun-alun Utara Jogja. Dengan menggunakan pakaian yang seragam, mereka berangkat pagi-pagi dari rumah agar bisa mendapatkan tempat salat dan parkir mobil, karena biasanya akan banyak orang yang ikut salat di sana, bila telat sedikit tidak akan mendapatkan tempat.
Sesudah salat Idul Fitri, mereka pulang ke rumah lalu saling bermaaf-maafan. Kemudian menyantap hidangan lebaran bersama.
Siangnya, keluarga Rendra bersilaturahim ke keluarga Pak Wijaya, sekalian mengantarkan Dita yang mulai hari ini akan menginap di sana selama tiga hari.
Sejak bangun tadi, Rendra selalu menempel pada Dita, tidak mau jauh dari istrinya. Dita sampai merasa risi karena selalu diikuti ke mana saja. Bahkan duduk pun harus selalu berdampingan sambil bergenggaman tangan. Makan juga maunya sepiring berdua dan minta disuapi sampai diledeki Nisa dan Shaha.
Saat tiba waktunya Rendra dan Dita berpisah. Dita mengantar Rendra sampai di samping pintu mobil. Rendra memeluk Dita erat.
"Jangan lupa salat, makan. Jangan buat aku khawatir. Jangan ketemu atau ngobrol sama Reza lagi."
"Iya, Mas."
"I love you, My Love. Aku bakal kangen banget sama kamu." Rendra mencium kening Dita lama sambil terus memeluknya.
"Kak Rendra buruan, nanti kita kemalaman pulangnya." Teriak Nisa dari dalam mobil.
...※※※※※...
Catatan :
Kreni : daging sapi/ayam yang digiling atau dicincang kecil kemudian dibentuk bulat sebesar kelereng
(1) Hadits shahih, Riwayat Abu Daud [2/306, no. 2357] dan selainnya; lihat Shahih al-Jami’: 4/209, no. 4678
sumber : https://muslimah.or.id/1050-doa-berbuka-puasa-yang-shahih.html
__ADS_1
Jogja, 080321 16.00