Romansa Cinta Senior Junior

Romansa Cinta Senior Junior
101


__ADS_3

Minggu siang, Rendra dan Dita datang ke kafe setelah sekian lama tidak ke sana. Mereka membawakan makan siang untuk para karyawan sebagai rasa syukur atas bertambahnya usai Rendra kemarin. Rendra memang tidak menyediakan katering makan siang atau malam untuk karyawannya, tetapi menggantinya dengan uang makan. Karena biasanya mereka lebih suka makan sesuai selera mereka atau membawa bekal sendiri.


Rendra dengan dibantu Candra membawa beberapa kotak makan siang yang tadi diletakkan di bagasi mobil ke dalam ruangan Rendra. Setelah menghitung jumlah karyawan yang masuk shift pertama, Candra segera membagikan kepada karyawan lainnya, termasuk karyawan part time.


Suasana kafe siang itu cukup ramai meski tidak semua kursi terisi. Beberapa cukup sibuk melayani pembeli terutama di dapur lantai 2 karena banyak yang memesan makanan untuk makan siang.


Setelah Candra keluar, Rendra tetap di ruangannya melihat laporan online kafe dengan laporan manual yang dibuat oleh admin. Mengecek kalau ada perbedaan laporan. Hasil seluruh laporan online hanya bisa diakses oleh Rendra sebagai pemilik. Admin hanya menginput data saja.


Sementara itu Dita mengecek ke etalase roti lalu ke dapur produksi roti. Di sana dia mengobrol dengan baker yang bertanggungjawab memproduksi roti dan pastry.


“Mas Fariz, gimana produksinya? Lancar kan?” tanya Dita pada baker di dapur produksi.


“Alhamdulillah lancar, Bu,” jawab Fariz ramah.


“Duh, jangan panggil bu. Panggil Dita aja.”


“Ya, tidak boleh begitu. Masa Bu Bos dipanggil nama saja.”


“Tapi aku jadi merasa kaya tua banget lho. Padahal umurku baru mau 20 tahun depan.”


“Saya panggil mbak saja ya kalau begitu.”


“Ya, enggak apa-apa lah dari pada bu. Jangan panggil bu lagi ya, Mas Fariz. Kan aku sudah berulang kali bilang.”


“Siap, Mbak Dita.”


“Kira-kira sudah butuh asisten belum Mas? Atau masih bisa di-handle sendiri?”


“Masih aman, Mbak. Teman-teman kalau baru lowong juga sering ikut bantu.”


Dita menganggukkan kepala. “Untuk bahan baku gimana? Ada yang kesusahan cari enggak?”


“Mungkin harga telur saja sih Mbak kalau akhir tahun sering naik, selain itu enggak ada masalah.”


“Iya, akhir tahun dan mendekati lebaran pasti harga naik. Putih telurnya bisa dimanfaatkan kan? Jadi enggak terbuang.”


“Bisa, Mbak. Dipakai untuk toping roti meksiko juga dibuat macaron. Malah banyak yang suka, Mbak. Terutama anak-anak SMA.”


“Alhamdulillah. Udah banyak ya Mas perkembangannya selama aku enggak ke sini.”


“Iya, Mbak. Apa kita perlu produksi kue kering juga? Bisa dibikin lidah kucing itu putih telurnya.”


“Kalau Mas Fariz bisa handle enggak apa-apa. Takutnya nanti produksi roti dan pastry yang utama malah enggak fokus. Kalau kue kering kan hanya di momen tertentu saja."


"Iya, tapi kalau untuk lidah kucing sepertinya bisa dijadikan camilan pendamping kopi juga, Mbak."


"Iya, juga sih. Kalau Mas Fariz sudah buat testernya nanti kabari aku."


"Siap, Mbak."


"Mas Fariz, kalau nanti kebutuhan roti sudah meningkat dan kewalahan untuk meng-handle sendiri, bilang sama aku atau Mas Rendra ya. Kalau kami pas enggak ke sini bisa ke Mas Candra. Biar nanti kita carikan partner atau asisten."


"Baik, Mbak."


“Ini baru mau bikin apa Mas?” Dita melihat adonan yang ada di atas meja produksi.


“Roti manis, Mbak."


"Aku bantu ya, Mas Fariz."


"Jangan, Mbak Dita. Nanti Mas Rendra marah. Kami udah di-briefing kalau enggak boleh bikin Mbak Dita capek."

__ADS_1


"Ya Allah, serius Mas Rendra bilang seperti itu?"


"Iya, Mbak."


"Ya udah deh, aku ke kantor aja. Mas Fariz melanjutkan buat rotinya."


"Monggo, Mbak."


Dita meninggalkan dapur produksi roti kemudian masuk ke ruangan Rendra.


"Serius banget sih, Mas." Dita menghampiri Rendra yang fokus di depan laptop.


"Eh, Sayang. Duduk sini." Rendra menarik Dita untuk duduk di pangkuannya.


"Aku sekarang berat loh, Mas."


"Enggak. Aku masih sanggup gendong kamu kok, Sayang." Rendra tersenyum sambil mengelus pipi chubby Dita.


"Penjualan bagus kan, Mas?"


"Alhamdulillah meningkat sejak kita buka 2 lantai dan menambah varian menu."


"Alhamdulillah. Jangan lupa zakat dan sedekahnya, Mas."


"Jangan khawatir soal itu. Di program ini sudah dihitungkan kok untuk zakat dan sedekahnya, tinggal dikeluarkan saja."


"Ada bonus akhir tahun enggak nih buat karyawan, Mas?"


"Insya Allah, ada. Nanti aku hitung dulu."


"Sip lah, biar mereka semangat kerja dan tambah loyal. Suamiku memang bos yang keren." Dita mengecup pipi Rendra.


Rendra menghentikan kegiatannya setelah mendapat kecupan dari istrinya. Dia tersenyum dan menatap Dita. "Jangan memancingku, Sayang. Kita lagi di kantor loh."


"Bisa aja istriku ini jawabnya." Rendra mengecup bibir Dita sekilas.


"Aku cek ini sebentar lagi, setelah itu i'm yours."


"Aku duduk di sofa saja lah." Dita hendak berdiri dari pangkuan Rendra tapi ditahan.


"No, stay here."


Dita akhirnya diam, ikut melihat apa yang sedang Rendra kerjakan.


"Kok diam, Sayang," tegur Rendra.


"Lah aku mau ngapain kalau enggak diam?" sahut Dita.


"Ya ngomong apa gitu, biar aku merasa enggak sendiri."


"Astaga, Mas. Aku udah duduk di pangkuanmu loh masa masih merasa sendiri," protes Dita.


"Tapi aku udah terbiasa mendengar suaramu, Sayang."


"Gombal. Udah deh Mas, buruan tuh diselesaikan kerjaannya."


"Sayang, kenapa? Capek ya mau buru-buru pulang?" Rendra mengalihkan perhatiannya dari layar laptop ke Dita.


"Enggak kok."


"Benar?"

__ADS_1


"Benar, Mas."


"Oh, aku tahu. Pasti ingin segera sayang-sayangan ya," goda Rendra.


"Apaan sih, Mas." Pipi Dita merona.


"Tuh kan jadi gemesin. Aku kan jadi pengen. Kapan sih selesai nifasnya, Sayang?"


"Enggak tahu, Mas." Dita menundukkan wajah karena malu.


"Ya Allah, kuatkan imin hambamu ini," gumam Rendra.


"Doa apaan itu, Mas?" Dita mengernyit heran.


"Doa biar aku enggak nerkam kamu sekarang."


"Ya udah, makanya aku duduk di sofa saja biar Mas fokus kerjanya."


"Enggak, ini udah mau selesai kok. Jangan coba-coba bangun dari pangkuanku. Wait a minute!"


Rendra kembali fokus pada laptopnya. Dita ikut membaca saja apa yang terpampang di layar, meski dia juga tidak mengerti apa yg dibaca Rendra, hanya penuh dengan angka-angka. Tak sampai sepuluh menit, Rendra akhirnya mematikan laptopnya.


"Kita duduk di sofa yuk, biar lebih nyaman," ajak Rendra.


Dita bangkit dari pangkuan suaminya kemudian beranjak menuju sofa. Rendra mengikutinya dari belakang.


"Mas, apa enggak pengen ngadain gathering karyawan?" Dita menyandarkan kepalanya di lengan Rendra.


"Sempat kepikiran sih, tapi nanti saja tunggu kamu sampai benar-benar pulih, Sayang."


"Kenapa?"


"Karena aku enggak mau kamu capek, Sayang."


"Selalu itu alasannya. Aku kan jadi merasa kaya beban buat Mas." Dita menundukkan kepalanya, merasa kecewa dengan dirinya sendiri.


"Hai, Sayang. Lihat aku." Rendra mendongakkan wajah Dita agar mereka bisa saling menatap mata.


"Kamu prioritasku sekarang selain mama. Aku enggak mau sesuatu yang buruk terjadi sama kamu. Aku pasti akan merasa gagal sebagai suami kalau sampai hal itu terjadi."


"Sayang menjadi tanggung jawabku sejak aku menikahimu. Kamu enggak jadi beban, Sayang. Justru aku menjaga biar kamu enggak terluka. Apa Sayang tahu, kalau kamu sedang kesakitan, hatiku ini rasanya juga ikut sakit. Andai aku bisa menggantikan rasa sakit itu. Tapi enggak mungkin kan."


"Gathering karyawan itu bukan prioritas, Sayang. Dan itu bukan hal yang mendesak yang harus segera kita lakukan. Prioritas utama, kamu sembuh, pulih, enggak merasa sakit lagi, Sayang." Rendra mengelus pipi istrinya dengan lembut.


"Kalau Sayang ingin kumpul-kumpul dengan mereka. Malam tahun baru kita ke sini. Mereka rencananya mau kumpul di sini setelah kafe tutup. Entah mereka punya agenda apa."


"Jangan merasa jadi beban, Sayang. Aku sama sekali tidak merasa terbebani. Aku malah ingin selalu mengabulkan keinginanmu, tetapi aku juga harus berpikir logis. Aku tidak bisa penuhi semua keinginanmu kalau itu bisa membuatmu capek atau tidak nyaman. Prioritas kesehatan dan kenyamananmu itu lebih utama."


Rendra memeluk erat istri tercintanya. Dia mengelus kepala Dita dan mengecup puncak kepalanya. Cukup lama mereka berpelukan sampai Rendra akhirnya mengurai pelukannya.


Rendra tersenyum menatap Dita. "Sayang, mau ikut kumpul-kumpul di sini malam tahun baru nanti?"


Dita menganggukkan kepala.


"Oke, kita akan ke sini. Nanti aku tanyakan apa saja agenda mereka."


"Makasih, Mas."


"Iya, sama-sama, Sayang." Rendra kembali memeluk Dita. Dia sadar sebenarnya Dita butuh hiburan karena sejak hamil besar sampai setelah operasi, istrinya lebih banyak di rumah. Karena itu dia mengizinkan Dita berkumpul dengan karyawan kafe di malam tahun baru.


Rendra kembali mengurai pelukannya. Dia mendekatkan wajahnya pada Dita. Mengikis jarak hingga bibir mereka nyaris bersentuhan.

__ADS_1


Tok ... tok ... tok ....


Jogja, 160421 00.30


__ADS_2