Romansa Cinta Senior Junior

Romansa Cinta Senior Junior
50


__ADS_3

Dita menunduk malu ditatap Rendra.


“Kenapa menunduk hummm?” Rendra mengangkat dagu Dita agar dia bisa kembali memandang istrinya itu.


“Malu Mas,” Dita tersipu, pipinya memerah.


“Kamu ini gemesin tahu enggak kalau lagi tersipu kaya gini.” Rendra menggoda Dita sambil memiringkan wajahnya.


“Sudah Mas, aku malu.” Dita menutup wajah dengan kedua tangannya.


Rendra tertawa melihat Dita. “Iya udah, aku enggak godain kamu lagi, sekarang dibuka dong tangannya.”


“Enggak mau, nanti pasti godain lagi.” Dita masih menutup wajahnya.


“Benar enggak mau dibuka? Aku gelitikin nih.” Ancam Rendra dengan nada bercanda.


Dita akhirnya membuka tangan yang menutup wajahnya.


“Wajah cantik gini kok ditutupin sih humm. Oh ya ... kemarin aku sudah bilang belum kalau kamu cantik banget pas pakai kerudung.” Ucap Rendra sambil memainkan ujung rambut Dita.


“Itu karena baju yang dibuat Mama yang cantik, jadi bikin aku kelihatan cantik.”


Rendra mengernyit. “Baju kemarin Mama yang buat?”


Dita menganggukkan kepala.


“Kok aku enggak tahu, kapan emang ngasihnya?”


“Pas kita beli perlengkapan lamaran itu aku disuruh nyoba sama Mama, terus pas udah jadi diantar sama Nisa ke rumah. Mama bilang sih kejutan buat Mas Rendra, aku enggak boleh ngasih tahu.”


“Hhmmm ... kalian ternyata sudah main rahasia di belakangku. Bahaya ini besok ke depannya kalau ada konspirasi di antara kalian,” seloroh Rendra.


“Memangnya mau konspirasi apa coba? Pede banget ih.” Cibir Dita.


“Tapi aku serius loh, kamu lebih cantik kalau pakai kerudung.” Puji Rendra lagi.


Dita hanya tersenyum mendengarnya.


“Kapan-kapan kalau kita jalan kamu pakai kerudung ya,” pinta Rendra.


“Insya Allah, tapi aku enggak punya banyak kerudung.”


“Gampang kalau cuma kerudung, tinggal minta di butik mama aja.”


“Eh ... jangan, masa minta sih. Beli lah Mas.”


“Kan buat menantunya, anggap aja kamu lagi endorse produk mama. Pasti mama juga malah senang.”


"Mas Rendra enggak lagi nyuruh aku pakai kerudung tiap hari kan?"


Rendra menggelengkan kepala. "Enggak, aku cuma lebih suka lihat kamu pakai kerudung."


"Bohong."


"Astaghfirullah, aku enggak bohong. Makanya aku lihatin kamu terus selama lamaran sampai ayah akhirnya menikahkan kita." Rendra kembali memainkan rambut panjang Dita.


"Jadi kalau kemarin aku enggak pakai kerudung, kemungkinan kita belum nikah ya." Dita menatap Rendra.


"Tetap nikah kayanya, soalnya aku enggak bisa memalingkan mata tiap lihat wajah kamu. Kaya sekarang ini." Rendra menelusuri wajah Dita dengan jarinya.


Wajah Rendra semakin mendekat ke arah Dita, hingga hembusan napas mereka terasa sangat dekat menyentuh kulit wajah.


🎶 Terimalah lagu ini dari orang biasa. Tapi cintaku padamu luar biasa. Aku tak punya bunga. Aku tak punya harta. Yang kupunya hanyalah hati yang setia, tulus padamu.🎶 (Andmesh - Cinta luar biasa)


Gawai Rendra yang berada di atas meja tiba-tiba berdering, seketika mereka menjauhkan wajahnya. Dita memalingkan wajah dan mengipasinya dengan tangan karena merasa wajahnya memanas.


Sementara Rendra tersenyum kecut. "Ganggu aja ini yang telepon, awas aja kalau enggak penting." Gumamnya.

__ADS_1


Tanpa melihat nama pemanggil dia mengangkat telepon itu.


"Halo."


"Halo, maaf Pak Rendra sudah menganggu waktunya."


"Hhmmm ... ya kenapa? Ini siapa?"


"Saya Rita dari XX bakery, mau konfirmasi untuk penandatangan perjanjian kerjasama kita, Pak."


"Oh ya, nanti jam 4 saya tunggu di kafe."


"Baik Pak, nanti saya datang jam 4 dengan beberapa dokumen yang bapak butuhkan. Apa Pak Rendra sekarang sedang sibuk ya?"


"Iya."


"Kalau begitu saya tutup dulu Pak, sampai ketemu nanti sore."


"Oke." Rendra langsung menekan tombol merah begitu dia selesai bicara.


"Siapa Mas? Dingin banget jawab teleponnya."


"Ganggu kita sih, kan kesel aku jadinya."


"Urusan pekerjaan kan?"


"Iya."


"Ya enggak boleh begitu dong, harus profesional."


"Iya ... iya ... besok enggak diulangi lagi."


Rendra melihat jam di pergelangan tangannya. "Sebentar lagi Asar, mau ikut ke masjid apa nunggu di sini?"


"Nunggu sendiri di sini gitu? Enggak mau."


"Enggak ah, aku ikut ke masjid aja."


"Ya sudah, aku siap-siap dulu. Kamu bawa mukena aja enggak usah bawa tas. Aman di sini tasnya."


Setelah Rendra berganti baju koko dan sarung di ruang istirahat, dia mengajak Dita ke masjid untuk salat Asar. Sebelum pergi mereka berpamitan pada Candra.


Mereka kembali ke kafe setelah salat Asar. Rendra berencana membuatkan minum untuk Dita sebelum kembali ke ruangannya.


"Mau minum apa?" tanya Rendra.


"Air mineral aja," jawab Dita.


"Enggak mau aku bikinkan minuman spesial?" tawar Rendra.


"Lain waktu aja sekalian aku belajar bikin kopi," tolak Dita.


Rendra lalu mengambil 2 botol air mineral dingin.


"Mas Candra, nanti kalau dari XX bakery datang, aku ditelepon ya. Kalau nanti di sini mejanya penuh, suruh langsung ke atas aja, aku tunggu di kantor." Pesan Rendra pada Candra sebelum dia naik kembali ke ruangannya.


"Siap Mas."


Rendra dan Dita pun kembali naik ke lantai 2. Rendra berganti kemeja dan celana jin lagi.


"Tasnya ditaruh di kursiku aja, biar di sini nanti longgar. Nanti kamu ikut lihat ya perjanjiannya biar tahu, kalau suatu saat aku berhalangan kan kamu bisa mewakili aku."


"Aku harus belajar bisnis ini jadinya?"


"Ya kalau kamu mau, alhamdulillah. Jadi kita bisa mengelola bersama. Nanti aku juga ngasih gaji sesuai kinerja."


"Enggak ah, aku saat ini cukup mendukung sama mendampingi saja. Entah suatu hari nanti."

__ADS_1


"Senyamannya kamu saja, aku enggak akan maksa. Tetapi setidaknya kamu sama sekali tidak buta soal bisnis, pelan-pelan saja belajarnya."


Dita mengganggukkan kepala.


"Oh ya jadwal kuliahmu mana? Kita harus saling tahu jadwal kuliah biar enggak ada salah paham. Semester ini aku ambil 24 sks jadi ya pasti lebih padat dari jadwalmu."


Dita memperlihatkan jadwal kuliahnya pada Rendra.


"Kita usahakan bisa berangkat kuliah bersama, kalau pulang kayanya agak susah apalagi kalau ada praktikum. Kalau pas aku jadwal pagi, kamu siang ya kamu naik ojol enggak apa-apa ya, pulangnya bareng sama aku.


"Enggak usah dipaksakan kalau memang enggak bisa bareng, aku juga sudah biasa pakai ojol."


"Bukan masalah dipaksakan, tapi aku ingin kita tiap hari bisa ketemu, ngobrol meski cuma sebentar. Kita kan kuliah dari Senin sampai Jumat belum nanti praktikum dan mengerjakan tugas. Nah Sabtu dan Minggu waktu khusus untuk kita berdua, entah kita di rumah, di kafe, jalan atau mengurus pernikahan tetapi kita harus bersama di akhir pekan."


"Iya Mas."


"Pokoknya kalau ada apa-apa harus ngomomg sama aku, jangan ada yang disembunyikan. Kalau kamu punya pendapat ya katakan saja, jangan dipendam. Kita sama-sama saling terbuka."


"Kita masih sama-sama muda, yang jelas jalan di depan kita enggak akan selamanya mulus, pasti akan ada lubang, tanjakan, turunan, belokan. Aku cuma minta kita tetap menghadapinya bersama."


"Iya Mas."


"Dari tadi iya ... iya terus, enggak ada kata yang lain apa?" Seloroh Rendra sambil mengacak gemas rambut Dita.


Dita merengut, melirik Rendra dengan pandangan kesal karena sudah mengacak rambutnya.


"Kenapa sih kalian para pria suka banget mengacak-acak rambut wanita?" Celetuk Dita kesal sambil merapikan rambutnya kembali.


"Salah sendiri kamu ngegemesin ... wekkk." Rendra menjulurkan lidahnya pada Dita.


"Ih ... nyebelin." Dita hendak memukul lengan suaminya itu tetapi tangannya malah ditangkap Rendra.


"Nyebelin tapi ngangenin kan," Rendra memainkan alisnya naik turun.


"Enggak." Dita memalingkan wajahnya.


"Enggak salah kan, hummm." Rendra menarik wajah Dita untuk menghadapnya.


"Apaan sih." Dita mulai salah tingkah.


Rendra tersenyum menatap Dita, lalu memeluk Dita erat.


"Makasih ya kamu sudah hadir di hidupku. Memberi warna baru yang belum pernah aku temui. I love you Anindita Kusuma. You are the love of my life."


Rendra kemudian mengecup kening Dita lama, menyalurkan rasa cintanya. Kemudian mereka saling menatap penuh rasa cinta. Rendra memiringkan kepala lalu mendekatkan wajah mereka. Tanpa sadar mereka sudah saling menutup mata.


Tok ... tok ... tok ....


...※※※※※...


Assalamu'alaikum,


anyeong haseyo yorobun 😉


Apa kabar semuanya? Semoga semua dalam keadaan sehat.


Alhamdulillah tidak terasa cerita Rendra dan Dita ini sudah sampai part 50. Terima kasih yang sudah menemani kisah Rendra - Dita dari yang awalnya seperti tom dan jerry sampai akhirnya mereka menikah.


Terima kasih, maturnuwun, yang sudah meluangkan waktu untuk membaca, memfavorit, menyukai, memberi komentar, memberi hadiah, vote, merekomendasikan cerita, dan juga setia memberi kritik dan saran. 🙏🙏🙏


Jangan sungkan kalau ingin memberikan kritik dan saran, karena saya masih sangat jauh dari sempurna. Silakan sampaikan via komentar, DM, PC/PM atau lewat GC, saya akan sangat berterima kasih sekali.


Terima kasih juga untuk Mbak Wulan yang sudah bersedia berbagi cerita tentang kisah seseorang yang menikah saat masih kuliah (pacaran halal) dan menjadi teman diskusi yang menyenangkan. Maturnuwun sanget, lemah teles nggeh 🙏🙏🙏.


Terima kasih sekali lagi untuk semuanya, semoga teman-teman bisa menemani kisah mereka sampai akhir nanti. 🤗🤗🤗


Jangan lupa tetap jaga kesehatan ya 🙂

__ADS_1


Wassalamu'alaikum


__ADS_2