Romansa Cinta Senior Junior

Romansa Cinta Senior Junior
115


__ADS_3

"Mas, udah malam loh. Kapan mau tidur?" tegur Dita yang melihat suaminya masih asyik mengetik di depan notebook-nya.


"Tanggung, Sayang. Sebentar lagi. Ini mumpung lagi ada ide di kepala, kalau enggak segera ditulis takut lupa." Rendra tetap fokus ke depan layar notebook, sama sekali tidak mengindahkan istrinya.


"Mau sampai jam berapa, Mas?"


Rendra melirik pojok kanan bawah layar notebook-nya, waktu menunjukkan pukul 23.00. "Setengah jam lagi ya, Sayang. Kalau kamu udah ngantuk tidur saja dulu."


"Benar setengah jam lagi? Kok aku sangsi ya, Mas. Nanti kalau aku tidur dulu pasti Mas sampai pagi selesainya."


"Kan enggak tiap hari, Sayang. Please, ya! Izinkan suamimu bergadang malam ini. Biar aku cepat selesai skripsinya. Kalau lagi ada ide gini, aku bisa cepat nulisnya."


Dita menghela napas panjang. "Ya udah, aku tunggu setengah jam. Apa perlu aku bantu ngetik biar cepat selesai, Mas?"


"Enggak usah, Sayang. Malah kelamaan nanti."


Dita bingung harus melakukan apa sembari menunggu Rendra. Tugas kuliah sudah selesai dikerjakan semua. Akhirnya dia mengambil tablet lalu mengecek laporan kafe secara online. Biasanya setiap akhir pekan, dia dan Rendra datang ke kafe untuk mengecek secara langsung. Tetapi karena minggu ini harus pulang ke rumah Pak Wijaya, mereka tidak sempat datang ke kafe.


Sejak Candra diangkat menjadi manajer kafe, mereka semakin jarang ke kafe. Apalagi Rendra juga sedang fokus mengerjakan skripsi. Hal yang pasti ditangani Rendra langsung bila ada kaitannya dengan gaji karyawan atau berhubungan dengan kontrak pihak ketiga. Selebihnya Candra yang mengatur semuanya. Kalau butuh sesuatu untuk dikonsultasikan biasanya hanya lewat telepon.


Alhamdulillah penjualan di kafe meningkat sejak dipegang Candra. Banyak inovasi yang dia lakukan demi kemajuan kafe. Promo di medsos pun lebih digencarkan. Tak salah memang mengangkatnya jadi manajer kafe.


Setelah puas melihat laporan kafe, Dita meletakkan tablet di atas nakas. Jam di tablet tadi sudah menunjukkan pukul 23.45, tetapi suaminya masih serius mengetik di depan notebook.


Dia bangkit dari duduknya lalu menghampiri Rendra. Dia berdiri di belakang kursi yang diduduki suaminya. Dia menundukkan badan lalu memeluk belahan hatinya dari belakang.


"Masih belum selesai, Mas?" tanyanya sambil menatap layar notebook.


"Eh ... belum, Sayang. Masih mengalir terus ini idenya. Sayang, tidur aja dulu kalau sudah ngantuk." Rendra menghentikan ketukan jemarinya di keyboard.


Dita menggelengkan kepala. "Enggak mau."


"Sayang, duduk sini." Rendra mengurai pelukan Dita kemudian membimbing istrinya untuk duduk di pangkuannya.


Dengan manja, Dita duduk di pangkuan Rendra dan menyandarkan kepala di dada bidang suaminya itu.

__ADS_1


"Sayang, besok kan kuliah pagi. Tidur dulu ya," bujuk Rendra sambil membelai rambut istrinya.


Dita menggelengkan kepala. "Aku maunya tidur sama, Mas."


"Tapi aku belum selesai, Sayang."


"Aku temenin." Dita mulai merajuk.


"Ya udah, duduk begini aja. Aku selesaikan ini dulu, tinggal beberapa halaman lagi." Rendra kembali mengetik lagi.


"Enggak berat, Mas?"


"Enggak, paling lama-lama pegal aja," canda Rendra.


"Ya udah, aku pergi aja." Dita hendak bangkit tapi ditahan Rendra.


"Mau ke mana? Di sini aja."


"Nanti Mas pegal."


"Enggak. Aku bercanda, Sayang. Udah, duduk manis di sini aja."


Meskipun Rendra sedikit kesulitan mengetik karena Dita ada di pangkuannya, tapi dia tetap menahan istrinya di sana. Dia kasihan pada istrinya yang sudah mengantuk tetapi memaksa menemaninya. Karena tidak ingin mengecewakan istri sekaligus mengerjakan skripsi, dia melakukan hal itu.


Tak berapa lama, dia merasakan napas Dita pelan dan teratur. Rupanya, satu-satunya wanita yang berhasil mencuri hatinya itu sudah tertidur. Dia akan menunggu beberapa saat sebelum memindahkan istrinya ke atas tempat tidur agar lebih nyaman tidurnya.


Sejujurnya dia juga merasa bersalah, karena sekarang tidak punya banyak waktu untuk istrinya. Meski dia selalu menyempatkan untuk mengantar dan menjemput Dita kuliah, tetapi waktu untuk ngobrol berdua sangat berkurang.


Biasanya sepulang kuliah, Dita istirahat sebentar. Setelah itu dia akan melakukan pekerjaan rumah tangga seperti mencuci baju, menyetrika atau pun memasak. Bila tak ada yang dikerjakan, dia akan langsung mengerjakan tugas kuliahnya. Malam hari pun biasanya mereka juga sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Baru bisa bersama saat akan tidur, itu juga kalau tidak ada dari mereka yang lembur.


Seperti malam ini, misalnya. Entah karena tadi sore ke pantai pikiran jadi fresh, ide di kepalanya mengalir dengan deras. Mau tak mau dia harus segera menuliskan apa saja yang ada di kepalanya. Hal langka yang terjadi dia bisa menulis dengan lancar. Biasanya dia hanya membolak-balikkan buku referensi tanpa tahu harus mengetik apa. Sekarang tanpa buku referensi, apa saja yang harus diketik sudah ada di kepalanya.


Rendra meregangkan tangannya pelan agar tidak membangunkan Dita. Dengan perlahan dia bangkit dari duduknya, menggendong dan membaringkan Dita ke atas kasur. Dia mengelus kepala istrinya lalu mencium keningnya.


"Maafkan aku, Sayang. Selamat tidur, mimpi yang indah. I love you," bisiknya. Dia lalu menyelimuti tubuh istrinya. Setelah itu, dia kembali ke depan notebook untuk menyelesaikan ketikannya.

__ADS_1


Kring ... kring ... kring ....


Alarm salat Tahajud berbunyi.


Rendra terbangun dari tidurnya. Ternyata dia tertidur di atas meja kerja. Dia mematikan alarm lalu menutup notebook-nya. Dia tidak ingat sampai jam berapa dia mengetik, terakhir mengecek pukul 01.00. Dia meregangkan tubuhnya sebelum beranjak ke kamar mandi untuk mengambil wudu.


Selesai wudu, dia menghampiri istrinya yang masih tidur dengan lelap. "Sayang, bangun. Salat Tahajud yuk."


"Iya, Mas," jawab Dita dengan suara serak khas bangun tidur. Pelan-pelan dia membuka matanya, menyesuaikan dengan cahaya di kamar. Setelah beberapa saat, dia bangkit dari tidurnya.


"Mas, tidur jam berapa tadi?" tanya Dita sambil mengikat rambutnya.


"Enggak tahu. Aku ketiduran tadi di meja. Eh, enggak boleh marah. Nanti aku ganti dengan tidur siang, oke. Sekarang, Sayang, ambil wudu dulu, aku tunggu ya."


Tanpa menunggu jawaban Dita, Rendra beranjak dari ranjang dan menyiapkan sajadah untuk mereka berdua. Dita segera beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengambil wudu. Setelah itu mereka salat Tahajud berjemaah.


"Mau tadarus atau tidur sambil nunggu Subuh?" tanya Rendra usai salat Tahajud.


"Tadarus aja, Mas. Nanti malah ketiduran dan kelewat Subuh-nya," jawab Dita.


"Oke." Rendra mengambil dua Al-Qur'an, satu untuknya dan satu untuk istrinya.


"Sayang, yang pertama ya bacanya," kata Rendra saat menyerahkan Al-Qur'an pada Dita.


"Ya, Mas." Dita menerima Al-Qur'an lalu mulai membuka dan mencari halaman di mana terakhir kali mereka membacanya.


"A’udzu billahi minasy syaithonir rojiim. Bismillahirrahmanirrahim. Kaf Ha Ya 'Ain Sad. Thikru rahmati rabbika 'abdahu zakariyya ...."


Mereka berhenti membaca Al-Qur'an saat azan Subuh berkumandang. Rendra lalu pergi ke masjid, sedangkan Dita menjalankan salat Subuh di rumah.


...---oOo---...


Jogja, 100521 00.00


Balik sebentar ke Rendra dan Dita dulu ya ✌️✌️✌️

__ADS_1


Kalau ada masukan, kritik atau saran bisa melalui komentar, PC atau DM di instagram @kokoro.no.tomo.82 maturnuwun, terima kasih 🙏🤗


Boleh minta jempolnya Kakak setelah membaca 😉


__ADS_2