Romansa Cinta Senior Junior

Romansa Cinta Senior Junior
37


__ADS_3

Sudah dua minggu Dita pulang ke rumah orang tuanya. Sejak hari terakhir ujian semester dia tidak pernah lagi menginjakkan kakinya di kampus meski belum memasuki liburan semester ganjil. Untung saja tidak ada tugas tambahan atau hal yang membuatnya harus datang ke kampus. Meski begitu dia tetap memantau semua info perkuliahan melalui grup kelasnya dan tentu saja dari Bella maupun Baim. Selama itu pula dia tidak melakukan kontak dengan Rendra, begitu pun sebaliknya.


Dita sangat menikmati kebersamaan dengan bundanya. Hampir setiap hari Dita membantu bundanya memasak, terkadang juga membantu membuat beberapa kue pesanan orang. Bunda Dita merupakan ibu rumah tangga yang suka sekali memasak dan pintar membuat kue, terkadang ada tetangga atau kenalan yang memesan kue padanya. Tetapi beliau hanya mau menerima pesanan kue dalam jumlah kecil karena memang hanya sekedar mengisi waktu dan menyalurkan hobi saja, bukan sebagai profesi.


Siang itu mereka berdua bersantai di ruang tengah sambil menonton televisi setelah menyelesaikan pekerjaan rumah. Dita berbaring di sofa dengan kepala berada di pangkuan bundanya. Sang bunda dengan sayang membelai kepala Dita.


“Bagaimana Dek, sudah membuat keputusan?” Tanya bunda dengan lembut.


“Belum Bun,” jawab Dita sambil memainkan rambutnya.


“Mau sampai kapan Adek membuat Nak Rendra menunggu?”


“Dia saja bilang mau sabar menunggu kok, Bun.”


“Tapi enggak baik loh menggantungkan perasaan orang lain, Dek.”


“Tapi aku masih takut ambil keputusan yang salah, Bun.”


“Adek sudah salat istikharah kan? Apa masih belum dimantapkan hatinya?”


“Sudah dua minggu Bun rutin istikharah. Kayanya sih aku juga sayang sama dia, tapi aku masih takut Bun.”


“Takut kenapa Dek?”


“Kira-kira ayah mengizinkan enggak ya, Bun?” Dita mengangkat kepalanya dari pangkuan bunda lalu duduk di samping bunda.


“Mengizinkan apa?”


“Ya, aku sama dia.”


“Coba Nak Rendra disuruh ke sini, ketemu ayah dan bunda sekaligus minta izin ke ayah.”


“Harus gitu ya Bun?”


“Ya sebaiknya begitu, kalau lelaki yang baik pasti akan meminta izin langsung ke orang tua dulu.”


Dita menganggukkan kepala. “Iya juga ya Bun, nanti aku bilang ke Mas Adi deh.”


“Kenapa bilang ke Mas? Bilang saja langsung sama Nak Rendra.”


“Enggak enak Bun, lagian sudah dua minggu kami juga enggak pernah berhubungan.”


“Nak Rendra kan nunggu jawaban dari kamu Dek, sebaiknya Adek sendiri yang kirim pesan. Nanti Adek bilang saja kalau mau ke sini bareng sama Mas Adi.” Ujar bunda sambil menggenggam tangan Dita, memberi dukungan.


“Iya nanti aku kirim pesan ke mereka berdua, Bun. Makasih ya Bunda Sayang.” Dita mencium kedua pipi bunda lalu memeluknya erat.


“Sekarang saja Dek, kalau nanti-nanti takutnya lupa. Lagian Adek juga lagi enggak ngapa-ngapain kan.”

__ADS_1


“Siap Bunda.” Dita lalu berdiri tegak memberi hormat pada bundanya kemudian masuk ke kamar untuk mengambil gawainya.


Bunda tertawa geli melihat polah tingkah anak bungsunya itu. Anak yang 19 tahun lalu dia lahirkan itu, saat ini sudah tumbuh dewasa dan mulai mengenal cinta. Dan mungkin sebentar lagi akan menjadi milik suaminya. Waktu sungguh cepat sekali berputar tanpa terasa.


Dita kembali duduk di sofa setelah mengambil gawainya, lalu mulai mencari kontak pesan Rendra setelah itu dia mulai mengetik.


“Assalamu’alaikum


Maaf baru membalas. Kalau kamu masih ingin mendengar jawaban pernyataanmu tempo hari, datanglah ke rumah dan bertemu dengan ayah bersama Mas Adi.


Wassalamu’alaikum”


Dita lalu memencet tulisan kirim begitu selesai mengetik pesan.


“Ini sudah aku kirim Bun,” Dita menunjukkan gawainya pada bunda yang dibalas bunda dengan acungan jempol.


Tak lama gawainya bergetar tanda ada pesan masuk yang ternyata berasal dari Rendra. Dita lalu membuka pesan itu.


“Wa’alaikumsalam, insya Allah besok Minggu aku datang ke rumah. Salam untuk ayah dan bunda.”


“Besok Minggu katanya mau ke sini Bun. Dia juga kirim salam buat ayah sama bunda,” ucap Dita setelah selesai membaca pesan Rendra.


“Wa'alaikumsalam warahmatullah. Berarti Nak Rendra benar-benar serius sama Adek, langsung membalas pesan tanpa pikir panjang lagi.”


Dita menyandarkan kepalanya di pundak bunda. “Tapi aku masih takut, Bun.”


“Tapi sekarang aku lagi berhalangan, Bun.”


“Ya tetap saja berdoa kapan pun Adek mau, Allah pasti akan selalu mendengar doa hamba-Nya setiap saat.”


Gawai Dita kembali bergetar, kali ini panggilan dari Adi. Dia segera menggeser tombol hijau di layar.


“Assalamu’alaikum Mas.”


“Wa’alaikumsalam. Dek katanya besok Minggu Rendra mau datang ke rumah apa benar? Barusan Rendra telepon mas.”


“Katanya sih gitu Mas.”


“Adek sudah punya jawaban ya berarti.”


“Insya Allah, Mas pulang kan?”


“Iya, Sabtu malam mas pulang.”


“Loh, enggak bareng dia?”


“Enggak, biar dia usaha sendiri cari alamat rumah hahaha. Nanti mas kasih aja gmaps sama petunjuk jalannya. Eh Dek, kamu ini loh kok masih manggil dia ... dia ... mbok panggil nama kenapa sih. Mas Rendra gitu hahaha.”

__ADS_1


“Ih Mas nyebelin, Bunda ini Mas loh godain terus,”


“Masak udah mau dilamar orang masih suka ngadu sama bunda.”


“Memangnya siapa yang mau dilamar?”


“Ya Adek lah, masak mas yang mau dilamar Rendra sih hahaha.”


“Aku tutup nih teleponnya.”


“Enggak asyik kamu sekarang Dek, ambekan terus.”


“Udah nih ngomong sama bunda aja, aku mau nonton TV.” Dita menyerahkan gawainya pada bunda.


“Kamu ini loh Mas sukanya ganggu Adeknya terus.”


“Assalamu’alaikum Bun, sehat kan ayah sama bunda?”


“Wa’alaikumsalam, alhamdulillah ayah sama bunda sehat semua. Kamu jadi pulang kapan Mas?”


“Insya Allah Sabtu Bun, dari kantor langsung pulang.”


“Ya sudah, jadi nanti kamu bisa bicara dulu sama ayah, Mas.”


“Iya Bun. Aku tutup dulu ya Bun, ini mau lanjut kerja. Assalamu'alaikum”


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Bunda meletakkan gawai Dita di atas meja lalu mulai bicara lagi dengan putri bungsunya itu.


"Dek, makanan kesukaannya Nak Rendra apa?"


Dita mengerutkan kening, mencoba mengingat apa yang pernah dikatakan mamanya Rendra. "Kalau enggak salah cumi asam manis. Kenapa memangnya Bun?"


"Bunda mau masak makanan kesukaannya Nak Rendra. Benar cuma itu saja Dek?"


"Kayanya sih cuma itu Bun, seingatku." Dita meringis lebar.


"Kamu ini loh Dek kebiasaan terlalu cuek. Besok kalau kamu sudah punya suami kurangi tuh sikap cueknya kalau perlu dihilangkan."


"Iya ... iya Bun. Lagian masih lama juga aku punya suami, Bun." Dita menyandarkan kepalanya di bahu bunda sementara bunda hanya menggelengkan kepala.


"Oh iya Bun, kayanya dia juga suka sama capcai deh. Cumi asam manis sama capcai goreng. Iya dua menu itu." Dita tiba-tiba ingat ucapan Mama Rendra saat mereka makan bersama dulu.


"Ya besok kita belanja cumi dan bahan untuk capcai. Adek yang masak ya besok."


"Lah ... tadi katanya Bunda yang mau masak, kok jadi aku sih Bun." Protes Dita sambil mengerucutkan bibir.


"Enggak boleh protes, anggap saja latihan untuk menyenangkan suami." Bunda mencubit ujung hidung Dita dengan gemas.

__ADS_1


__ADS_2