
Setelah sarapan, Rendra akan langsung pergi ke Gelanggang. Usai berpamitan pada mamanya, dia pergi ke rumah Adi untuk berpamitan pada kedua mertuanya. Dia minta maaf karena tidak bisa ikut pergi bersama mereka.
Selesai Rendra berpamitan, Dita mengantar suaminya sampai ke depan garasi, di mana motornya terparkir. Dita mencium punggung tangan Rendra lalu Rendra mencium kening Dita dan memeluknya.
"HP-mu harus aktif, jangan dimatikan, kabari aku terus." Pesan Rendra.
"Iya, Mas."
"Aku berangkat dulu, kamu hati-hati ya karena aku enggak bisa jaga kamu." Rendra melepas pelukannya lalu mengusap pipi Dita.
"Iya, Mas. Jangan khawatir ada Mas Adi yang jaga aku." Dita memberikan senyum manisnya.
Rendra kembali mencium kening Dita, lalu dia segera naik ke atas motor dan memakai helm.
"Nanti bilang Mas Adi pulangnya mampir ke kafe ya, kamu pulangnya bareng aku."
"Iya, Mas."
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam warahmatullah, hati-hati Mas." Dita melambaikan tangan begitu Rendra melajukan motornya.
Setelah mengantar kepergian Rendra, Dita kembali ke rumah Adi untuk bersiap-siap. Tepat pukul 07.00 WIB, mereka berenam berangkat ke Solo dengan menggunakan mobil Adi.
Sesudah melatih dan rapat dengan pengurus UKM Karate di Gelanggang, Rendra pergi ke Masjid Kampus untuk melaksanakan salat Zuhur berjamaah. Selesai salat, dia makan siang di rumah makan padang, setelah itu dia melajukan motornya ke kafe.
Saat tiba di kafe, suasana cukup ramai. Dia bergegas naik ke ruangannya untuk meletakkan tas, lalu dia segera turun untuk membantu karyawannya.
"Tumben Bos sendiri, biasanya sama Mbak Dita." Tegur Budi, salah satu karyawannya.
"Dita baru pergi sama mama, nanti dia nyusul ke sini kok." Terang Rendra sambil memakai apron barista dan topi.
Kalau Rendra ada di kafe, semua minuman dia yang meraciknya sendiri. Karyawannya bertugas melayani pembeli dan menyiapkan makanan atau roti yang dipesan pelanggan.
Bakda Asar, Dita dan rombongan sampai di butik Ibu Dewi. Mereka turun dan masuk ke butik untuk melihat-lihat koleksi butik. Kain-kain yang tadi dibeli juga dimasukkan di sana, karena semua baju akan dibuat di butik Ibu Dewi.
Setelah dari butik, mereka menuju ke kafe Rendra yang ada di samping butik. Suasana kafe sore itu cukup ramai.
Saat mereka masuk, Rendra sedang serius meracik minuman sehingga tidak melihat mereka datang. Dita memberi kode pada karyawan Rendra agar tidak memberi tahu kalau mereka datang. Dia ingin ayah dan bundanya melihat saat Rendra sedang bekerja. Suaminya itu terlihat lebih tampan dan gagah saat sedang serius bekerja.
Sesudah memastikan mereka dapat tempat duduk, Dita menuju ke area barista.
"Serius banget, Mas. Banyak ya pesanannya?" Tanya Dita begitu berdiri di samping Rendra.
Kepala Rendra otomatis menoleh ke samping begitu mendengar suara Dita. Senyumnya langsung melebar saat melihat sosok istrinya berdiri di sampingnya.
"Kapan datang? Kok aku enggak tahu."
"Beberapa menit yang lalu. Mas itu kalau lagi serius mana tahu keadaan sekitar."
"Maaf ya," Rendra mengusap kepala Dita. "Aku selesaikan ini sebentar, setelah itu i'm yours."
"Apaan sih, Mas." Pipi Dita jadi merona.
"Aku ke meja dulu ya, Mas." Pamit Dita tapi Rendra menahan tangannya.
"Tunggu aku di sini. Kita ke sana bersama."
Dita akhirnya menunggu Rendra menyelesaikan pekerjaannya. Setelah itu mereka menuju meja di mana keluarga mereka berada.
Mereka mengobrol selama beberapa saat. Pak Wijaya dan Bu Hasna memuji Rendra yang serius saat bekerja. Menantu mereka meski masih muda tetapi sangat bertanggung jawab pada pekerjaannya. Mereka tak salah melepaskan anak gadisnya pada Rendra.
"Ayah sama Bunda pulang besok kan?" tanya Rendra.
"Nanti malam, bakda Isya kami pulang," jawab Pak Wijaya.
"Kenapa enggak besok pagi saja?" tanya Dita sambil menyandarkan kepala di bahu bundanya.
"Kalau besok pagi, ayah pasti terburu-buru masuk ke kantor." Jawab Bunda.
"Nanti kita makan malam bersama ya bakda Magrib di rumah Adi." Kata Pak Wijaya.
"Baik Yah, nanti kita pulang sebelum Magrib." Ujar Rendra.
Karena hari sudah semakin sore, Pak Wijaya, Bu Hasna, Bu Dewi, Nisa dan Adi pulang terlebih dahulu. Rendra dan Dita nanti akan menyusul dengan sepeda motor.
Bakda Magrib mereka berkumpul di rumah Adi. Karena tidak sempat memasak, Ibu Hasna memesan makanan dari rumah makan langganan Adi.
Mereka makan bersama dalam suasana kekeluargaan. Selain menambah keakraban kedua keluarga juga untuk membahas acara pernikahan Dita dan Rendra dengan situasi yang santai.
Makan malam selesai sebelum azan Isya berkumandang. Para pria lalu berangkat ke masjid, sementara para wanita membereskan meja makan. Setelah itu Ibu Hasna, Ibu Dewi dan Nisa salat Isya berjemaah di ruang salat, sedangkan Dita mencuci alat makan yang tadi mereka pakai.
__ADS_1
Begitu Pak Wijaya, Adi dan Rendra pulang dari masjid, Bu Hasna langsung bersiap untuk pulang. Adi memanaskan mobil Pak Wijaya di dalam garasi sambil menunggu kedua orangtuanya bersiap.
"Baik-baik ya Nduk sama Nak Rendra, selalu patuh dan berbakti pada suami." Nasihat Pak Wijaya sambil mengelus kepala Dita saat mereka berpelukan sebelum berpisah.
"Iya Ayah, doakan Dita bisa menjadi istri yang salihah." Ucap Dita sambil memeluk erat ayahnya.
"Ayah selalu mendoakan kalian." Pak Wijaya mencium pucuk kepala Dita lalu melepas pelukannya.
Rendra lalu mencium punggung tangan Pak Wijaya, lalu mereka berpelukan.
"Titip Dita, didik dia agar bisa menjadi istri yang salihah. Ingatkan dia kalau dia salah dengan lembut. Ayah percaya Nak Rendra bisa membuatnya lebih baik." Nasihat Pak Wijaya pada Rendra sambil menepuk punggung menantunya itu.
"Insya Allah, Ayah." Mereka lalu melepas pelukan.
"Bunda masih kangen," Dita memeluk erat bundanya.
"Ih udah punya suami masih manja sama bunda." Canda Ibu Hasna sambil mengelus punggung Dita.
"Adek harus bersikap dan berpikir lebih dewasa ya. Ada suami yang harus Adek perhatikan sekarang." Nasihat Ibu Hasna.
"Iya Bun, doakan Dita bisa menjadi istri salihah." Dita makin mengeratkan pelukannya.
"Pasti, bunda selalu mendoakan anak-anak bunda." Bu Hasna melepas pelukannya lalu mengecup kening dan kedua pipi Dita.
Setelah itu Rendra mencium punggung tangan Bu Hasna lalu mereka berpelukan.
"Nak Rendra yang sabar ya menghadapi Dita. Bunda yakin Nak Rendra itu suami yang baik, bisa mendidik Dita menjadi lebih baik. Bunda bisa merasakan perubahan Dita sejak menikah dengan Nak Rendra. Tolong jaga Dita ya," nasihat Bu Hasna.
Rendra menganggukkan kepala. "Insya Allah, Bunda."
Bu Hasna melepaskan pelukannya pada Rendra.
Rendra lalu berdiri di samping Dita dan merangkulnya agar istrinya itu tidak sedih berpisah dengan kedua orang tuanya.
Pak Wijaya dan Bu Hasna juga berpamitan pada Ibu Dewi dan Nisa. Terakhir mereka berbicara dengan Adi yang memasukkan barang bawaan mereka ke dalam mobil. Setelah selesai berpamitan, Pak Wijaya dan Ibu Hasna masuk ke mobil. Kemudian Pak Wijaya melajukan mobilnya meninggalkan rumah Adi setelah mengucap salam.
Ibu Dewi dan Nisa juga pamit pulang tak lama kemudian. Tinggallah Adi, Dita dan Rendra di sana. Dita dan Rendra kembali ke dalam rumah sementara Adi memasukkan mobilnya ke garasi.
Dita masuk ke kamarnya untuk mengambil perlengkapan kuliah dan baju untuk besok pagi, karena malam ini dia tidur di rumah Rendra lagi. Besok dia akan berangkat kuliah dari sana.
Adi masuk ke dalam rumah setelah memasukkan mobilnya.
"Mau tidur sini Rend?" Tanya Adi saat melihat Rendra duduk di ruang tengah.
"Wah, kemajuan. Kayanya aku bakal tinggal sendiri lagi ini." Adi tersenyum menggoda.
"Dita masih tidur di sini kok Mas. Karena tadi seharian enggak ketemu, jadi dia mau tidur di rumah lagi." Terang Rendra.
"Aku sih terserah kalian mau tidur di mana, yang penting hubungan kalian baik-baik saja."
"Mohon doanya Mas, karena kami juga masih proses saling mengenal dan menyesuaikan diri."
Adi menganggukkan kepala.
"Mas, aku malam ini tidur di rumah mama ya, besok pagi langsung berangkat kuliah dari sana. Tadi sayur dan lauknya aku masukkan kulkas, besok pagi tinggal dipanaskan saja buat sarapan." Kata Dita setelah keluar dari kamarnya.
"Iya, silakan nikmati waktu kalian berdua." Goda Adi.
"Apaan sih Mas Adi." Dita mulai merona.
"Sudah sana, nanti kemalaman."
Rendra lalu berdiri membantu Dita membawa barang-barangnya.
"Kami pulang dulu ya Mas," pamit Rendra.
"Iya," Adi bangkit dari duduknya lalu mengikuti Dita dan Rendra ke luar rumah.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam warahmatulah." Adi mengunci pintu setelah Dita dan Rendra pergi.
Dita langsung masuk ke kamar begitu tiba di rumah Rendra, sedangkan Rendra seperti biasa mengecek semua pintu dan kunci rumah sebelum masuk ke kamar. Setelah memastikan semua aman Rendra baru menyusul Dita ke kamar.
"Mas, tadi sepreinya belum dicuci kan, biar aku cuci sekarang. Merendamnya di mana?"
"Besok pagi saja nyucinya, udah malam loh."
"Tapi kalau kelamaan direndam nanti bau, Mas. Ada mesin cuci kan, tinggal masukkan mesin cuci nanti tinggal dijemur."
"Ya tunggu sebentar aku ganti baju dulu." Rendra berganti baju di hadapan Dita tanpa merasa malu, sementara Dita sibuk memalingkan wajah agar tidak melihat tubuh tegap dengan otot yang terbentuk milik Rendra.
__ADS_1
Rendra memakai kaos tanpa lengan dan celana kolor di atas lutut. Baju kesehariannya saat tidur.
"Ayo, kita cuci bersama." Rendra menggandeng tangan Dita menuju ruang cuci di lantai 2.
Rendra memasukkan rendaman seprei di ember ke dalam mesin cuci, lalu dia mengatur program pencucian. Setelah itu dia mengajak Dita duduk di sofa sambil menunggu proses pencucian.
"Sini duduk dekatan, aku kangen banget sama kamu." Rendra merapatkan tubuh mereka hingga saling menempel.
"Mas, enggak enak nanti kalau dilihat Nisa." Protes Dita, karena dia tahu kamar Nisa ada di dekat mereka.
"Enggak bakal. Dia kalau sudah masuk kamar jarang keluar. Kalaupun dia tahu ya enggak apa-apa kan, wajar kan kita suami istri bermesraan."
"Tapi Mas ...."
"Sssttt, enggak usah banyak protes." Rendra menarik kepala Dita agar bersandar di lengannya, sementara dia merangkul bahu Dita. Akhirnya Dita hanya pasrah menuruti Rendra.
"Kamu kangen enggak sih sama aku?" Tanya Rendra sembari menoleh pada Dita.
"Ya ... ka ... kangen, Mas." Dita menjawabnya dengan tersipu.
"Gimana kalau tiap weekend kita seperti ini?"
"Seperti ini bagaimana Mas?" Dita mengerutkan keningnya.
"Tidur bareng," Rendra menatap mata Dita.
"Senin sampai Kamis, kamu tidur di Mas Adi. Jumat sampai Minggu, kamu tidur di sini. Bagaimana?"
"Ke ... kenapa?"
"Ya, biar kita lebih sering bersama. Aku janji enggak akan lepas kendali lagi." Bisik Rendra di telinga Dita yang menimbulkan gelenyar aneh di tubuhnya.
"Mau kan?" Rendra menatap mata Dita penuh harap.
"Nanti ... aku pikirkan lagi."
"Apa yang perlu dipikirkan lagi, Dita?"
"Kan Mas juga janji kita enggak tinggal bersama sampai aku siap."
"Kita kan enggak tinggal bersama tiap hari, cuma 3 malam saja."
"Tapi kan itu tetap tinggal bersama juga." Dita masih bersikeras.
"Sekarang aku tanya, apa kemarin kamu siap tidur bareng sama aku?"
"Eng ... enggak. Kalau enggak karena ayah, aku tidur di Mas Adi."
"Kamu enggak siap nyatanya bisa kan kita tidur bersama. Bahkan kemarin kita hampir lepas kendali loh." Rendra memainkan alisnya menggoda Dita.
"Apaan sih Mas," pipi Dita kembali memerah.
"Anggap saja ini buat latihan kalau suatu saat kamu sudah siap tinggal bersama. Mau ya, Sayang." Rendra kembali menatap mata Dita dengan pandangan sendu dan penuh harap.
"Kita butuh saling mengenal loh, Senin sampai Jumat kita sudah disibukkan dengan kuliah. Aku minta waktumu di weekend aja masa kamu enggak mau."
"Aku enggak mau maksa kamu, walau sebenarnya aku bisa memaksa tapi aku enggak mau. Aku ingin kita saling kompromi dalam memutuskan sesuatu."
"Asal kamu tahu, sejak aku menikahimu. Aku enggak bisa jauh dari kamu. Meski kita baru ketemu dan bersama pun, pasti aku langsung merasa kangen kamu. Jangan bilang aku sedang menggombal karena aku jujur mengatakan apa yang aku rasakan." Rendra mengusap pipi Dita dengan lembut.
"Jadi, bagaimana keputusanmu hummm?"
Dita masih diam tak bersuara. Pikirannya sedang mencoba menerima kata-kata Rendra. Sedangkan hatinya tentu saja ingin terus bersama Rendra. Dia bingung mau menuruti pikiran atau hatinya.
"Kalau aku menolak apa aku dosa Mas?" Dita menatap Rendra.
"Mungkin, aku juga tidak tahu. Tetapi sebagai istri yang salihah hendaknya patuh pada suami bila itu bukan hal yang melanggar perintah agama."
"Aku ... aku mau belajar jadi istri salihah."
"Jadi ...." Rendra menanti keputusan Dita dengan penuh harap.
"Agar Mas rida, aku mau."
"Benar, Sayang? Kamu mau?" Tanya Rendra tak percaya.
"I ... iya Mas." Dita menganggukkan kepalanya.
"Terima kasih, Sayang." Rendra langsung memeluk erat Dita lalu mencium pucuk kepala istrinya.
"Kamu memang istri yang salihah." Rendra mengusap kepala Dita, dia melepaskan pelukannya lalu mencium kening Dita.
__ADS_1
Rendra tersenyum lebar sambil memandang wajah istrinya penuh cinta. Perlahan dia mendekatkan dirinya hingga mereka saling bisa merasakan hangatnya hembusan napas dari hidung masing-masing.
"Kak Rendraaaaa, kalau mau bermesraan jangan di sini. Membuat mataku yang suci jadi ternoda saja." Teriak Nisa yang tiba-tiba keluar dari kamarnya.