Romansa Cinta Senior Junior

Romansa Cinta Senior Junior
12


__ADS_3

Selesai menjalankan salat Magrib, Dita mengambil ponselnya untuk memesan ojol. Malam ini dia sudah berjanji dengan Bella dan Baim pergi ke Gelanggang Expo yang diselenggarakan di Gelanggang Mahasiswa. Sambil menunggu driver ojol datang, dia bersiap-siap.


Hari ini dia memakai hoodie hitam dengan kaos pendek polos di dalam dan celana jin hitam. Rambut panjangnya dia kuncir ekor kuda, tak lupa dia memakai topi kesayangannya serta ransel kecil untuk menyimpan perlengkapannya.


Selesai bersiap, dia segera keluar rumah untuk mengunci pintu, karena kebetulan malam ini Adi lembur jadi tidak ada orang di rumah. Dia menunggu di teras rumah sambil berbalas pesan dengan Bella dan Baim janjian di mana mereka akan bertemu nanti.


Tak lama kemudian ojol yang dipesannya datang.


“Mbak Anindita ya?” Tanya driver ojol saat sampai di depan rumah.


“Iya, Pak.” Jawab Dita lalu berdiri dari duduknya.


Setelah memakai helm yang tadi diserahkan driver ojol, dia segera naik ke atas motor. Lalu driver ojol itu mulai melajukan motornya.


“Malam Minggu kok pergi sendirian Mbak, tidak diapelin pacarnya ya?” Pengemudi ojol itu membuka obrolan.


“Saya enggak punya pacar, Pak,” jawab Dita datar.


“Oh, ini ada acara di kampus ya Mbak kok ke Gelanggang?” Tanya pengemudi ojol itu lagi.


“Iya, Pak.” Dita hanya menjawab sekedarnya.


Akhirnya mereka tiba di depan gelanggang, setelah turun dari motor, membayar dan mengembalikan helm pada pengemudi ojol, Dita menghubungi Bella.


“Kamu di mana Bel, aku udah nyampai depan?” Dita celingukan melihat ke arah pintu masuk yang penuh orang mencari keberadaan Bella dan Baim. Mungkin karena malam Minggu dan hari terakhir jadi banyak yang datang ke Gelex, pikirnya.


“Aku baru parkir motor sama Baim, tunggu di situ ya.” Jawab Bella dari seberang telepon.


“Oke.” Dita memasukkan ponselnya ke saku depan jinnya. Dia memakai tudung hoodie-nya lalu memindahkan ranselnya ke depan. Di saat situasi ramai orang seperti ini, dia hanya berjaga dari hal yang tidak diinginkan.


“Kamu Dita kan?” Tiba-tiba seseorang menyapanya dan sudah berdiri di depannya.


Dita mengernyit mencoba mengingat orang yang menyapanya itu, tapi dia benar-benar tidak ingat. “Iya benar, maaf siapa ya?”


“Wah, kamu benar-benar enggak ingat aku?” Tanya pria itu lagi memastikan.


Dita menganggukkan kepala. “Maaf Kak, saya benar-benar tidak ingat.”


“Aku Bara, beberapa hari yang lalu hari kita pernah ketemu di koridor kampus.” Terang Bara sambil menyunggingkan senyumnya.


Dita masih mengernyit, mencoba mengingat lagi tapi dia tetap tidak punya petunjuk.


“Ya ampun Dita, beneran ya kamu ini kejam enggak ingat aku. Kalau aku bilang aku Bara temannya Rendra kamu ingat enggak?” Tanya Bara gemas melihat Dita yang terlihat bingung sejak dia menyapanya.


“Ah ... Kak Bara yang waktu itu nolongin saya.” Seketika Dita teringat insiden saat dia mau ke musala waktu itu. “Maaf ya Kak, saya lupa.” Dita menangkupkan tangan di depan bibirnya sebagai tanda penyesalannya.

__ADS_1


“Kalau Rendra enggak lupa kan? Begitu aku nyebut Rendra kok langsung ingat.” Goda Bara sambil menatap Dita seraya tersenyum miring.


“Ah ... itu .... Kak Bara sama siapa ke sini?” Tanya Dita mengalihkan pembicaraan untuk menutupi kegugupannya.


“Sendiri, kenapa?” Bara malah balik bertanya.


“Eng ... enggak apa-apa Kak.”


“Kirain mau nanyain kok enggak bareng Rendra.” Bara terkekeh melihat Dita yang gugup.


“Kamu sendiri sama siapa ke sini?” Tanyanya yang melihat Dita berdiri sendiri dan terlihat sedang menunggu orang.


“Saya ke sininya sendiri Kak, tapi janjian sama teman ketemu di sini.” Terang Dita.


“Duh Bella sama Baim mana sih lama banget parkir motornya,” gerutunya dalam hati.


“Teman atau pacar?” Selidik Bara.


“Teman Kak, emmm itu mereka datang.” Dita tersenyum senang melihat Bella dan Baim yang berjalan menuju ke arahnya.


Bara mengalihkan pandangannya mengikuti arah pandang Dita, “ah benar hanya teman, masih ada harapan berarti.”


“Kalau begitu aku masuk dulu ya,” pamit Bara.


“Iya Kak, silakan.”


“Kak Bara.” Jawab Dita pendek.


“Kamu kenal cowok ganteng gitu kenapa enggak bilang-bilang sih. Mau kamu gebet sendiri ya.” Protes Bella.


“Ampun deh Bel, aku aja enggak ingat dia siapa tadi. Sempat kenalan tapi aku lupa.” Terang Dita.


“Cowok seganteng itu kamu lupa dia siapa? Kayanya otakmu harus diperiksa deh, Ta.” Sindir Bella.


“Otakku masih waras ya Bel, otakmu tuh yang harus diperiksa biar enggak mikirin cowok terus.” Sahut Dita datar.


“Kita mau ngobrol di sini aja, apa mau masuk ke dalam Girls?” Baim menyela perdebatan kedua temannya itu.


“Masuk lah, capek aku berdiri di sini terus nungguin kalian.” Dita berjalan menuju ke pintu masuk Gelex diikuti Bella dan Baim.


Setelah menempelkan KTM di alat pemindai, mereka memasuki arena Gelex. Ada 51 UKM dan beberapa komunitas yang ada di UGM yang ikut berpartisipasi dalam Gelex kali ini. Masing-masing mereka menempati stan yang dihias sedemikian rupa oleh masing-masing UKM untuk menarik para mahasiswa baru agar bergabung dengan mereka. Selain itu di Gelex juga menyajikan berbagai atraksi dan penampilan dari masing-masing UKM yang tentunya juga spektakuler. Rangkaian acara di Gelex meliputi opening ceremony, expo, photo zone, selfie hunting contest, pasar atraksi malam, dan closing ceremony.


“Wah keren-keren semua UKM-nya jadi bingung aku mau masuk UKM mana.” Puji Bella yang terpukau dengan semua stan dan atraksi di sana.


Dita dan Baim hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Bella yang selalu bereaksi “Wow, keren, bagus banget,” di setiap stan yang mereka datangi.

__ADS_1


“Katanya mau masuk yang ada idolamu Bel,” sindir Baim.


“Hehehe ... enggak juga enggak apa-apa. Di tiap UKM soalnya pasti ada yang ganteng.” Bella meringis malu menatap Baim.


“Niat kamu masuk UKM buat ketemu cowok ganteng gitu?” Tanya Dita yang tidak mengerti dengan jalan pikiran Bella.


“Enggak usah masuk UKM kamu juga bisa ketemu cowok ganteng Bel,” sahut Baim sambil memainkan kerah kemejanya.


“Maksudmu apa Im?” Tanya Bella penasaran.


“Lah kamu enggak sadar apa tiap hari ketemu cowok ganteng. Ngapain nyari lagi.” Jawab Baim sambil memainkan alisnya naik turun.


“Cowok ganteng itu kamu maksudnya?” Cibir Bella.


“Siapa lagi yang paling ganteng di kelas kalau bukan aku.” Ucap Baim penuh percaya diri.


Bella dan Dita tergelak mendengar jawaban Baim.


“Iya dilihat dari Parangtritis pakai sedotan.” Ejek Bella yang membuat dia dan Dita semakin tertawa keras, sementara Baim tersenyum kecut melihat tingkah dua temannya itu.


“Kalian ini memang tidak bisa melihat keindahan di depan mata.” Gerutu Baim yang kesal.


“Ya ampun Im, kamu punya bakat ngelawak juga.” Dita masih tertawa sambil memegang perutnya.


"Temen enggak ada akhlak emang kalian berdua." Baim bersedekap sambil melotot pada Dita dan Bella.


Tiba-tiba Bella berhenti tertawa dan menepuk lengan Dita berkali-kali.


"Ada apa sih Bel?" Dita mengernyit melihat Bella yang sedang fokus pada satu titik.


"Kak Rendra sama cewek, Ta." Bella berkata lirih sambil tetap memandang ke satu arah.


Dita terhenyak, dia mengikuti arah pandang Bella. Memang benar ada Rendra di sana sedang tertawa dan berdiri berdekatan dengan seorang gadis cantik.


...※※※※※...


Catatan :


KTM : Kartu Tanda Mahasiswa


......✩✩✩✩✩......


Terima kasih yang sudah meluangkan waktu membaca cerita receh ini. Mohon maaf bila masih banyak kesalahan dan ke-gaje-an dalam cerita, mohon maklum masih belajar menulis 🙏


Terima kasih yang sudah memfavorit, menyukai dan memberikan komentar, mohon dukungannya selalu. Saya selalu terbuka menerima kritik dan saran, jangan sungkan 😉

__ADS_1


Terima kasih, matur nuwun, arigatou gozaimasu, gomawoyo


Kokoro no tomo (Ayaka Kirei)


__ADS_2