
Tok ... tok ... tok ....
Rendra segera menjauhkan wajahnya, dia mengembuskan napas dengan kasar. Lalu dia berdiri untuk membuka pintu. Sementara Dita tertawa geli melihat suaminya itu.
Setelah Rendra membuka pintu tampak sesosok wanita cantik dengan pakaian ketat dan seksi di depan pintu.
“Selamat sore Pak Rendra, saya Rita dari XX Bakery.” Sapa wanita itu.
“Oh ... ya silakan masuk.” Rendra mempersilakan wanita itu untuk masuk.
“Silakan duduk.” Rendra lalu duduk di sebelah Dita, sementara wanita itu duduk di sofa lainnya.
“Pak Rendra baru ada tamu ya?” Tanya Rita saat melihat Dita yang sedang duduk di sana.
“Oh ... itu istri saya. Kenalkan ini Dita istri saya, Dita ini Bu Rita dari XX Bakery.” Dita dan Rita pun lalu bersalaman.
“Wah, ternyata Pak Rendra sudah punya istri, jadi patah hati dong saya, Pak.” Wanita itu mencoba bercanda tetapi Rendra tidak menanggapinya.
“Baik, Bu Rita langsung saja, surat perjanjiannya mana?” Tanya Rendra tanpa basa basi.
Rita lalu menyerahkan surat perjanjian kerjasama mereka, dan beberapa dokumen yang diminta Rendra.
“Sayang, tolong ambilkan notebook-ku di ransel dong,” Rendra menoleh pada Dita lalu Dita pun beranjak mengambil notebook Rendra.
Rendra lalu menyalakan notebook-nya setelah Dita menyerahkan padanya, sambil membaca surat perjanjian yang tadi diberikan Rita.
“Sayang, coba baca ini, ada yang kurang enggak menurutmu?” Rendra menyerahkan surat perjanjian itu pada Dita setelah dia selesai membaca.
Dita kemudian membacanya, “kayanya sudah bagus isinya Mas, tapi apa ini enggak ada tanda tangan saksi?”
“Ya sudah tinggal ditambahkan nama saksi saja, apa Bu Rita sendiri ke sini?” Tanya Rendra.
“Ada karyawan saya di bawah, Pak.” Jawab Rita.
“Panggil ke sini saja, ini nanti tinggal ditambah saksi dari pihak saya dan Bu Rita.”
“Baik Pak, saya panggil karyawan saya dulu.” Rita lalu keluar memanggil karyawannya.
“Mas, sengaja ya menunjukkan kemesraan di depan dia tadi?” Tanya Dita begitu Rita keluar dari ruangan.
“Biar dia tahu diri lah, malas aku ketemu dia kalau enggak karena pekerjaan. Makanya ini kontraknya aku minta 6 bulan saja. Nanti urusan order dan pembayaran biar dipegang Mas Candra saja. Sambil aku ngumpulin modal untuk beli alat bakery sendiri.” Jawab Rendra tanpa mengalihkan pandangan dari notebook-nya melihat dokumen foto produk yang tadi diberikan Rita.
“Memang mau beli peralatan langsung yang gede Mas?”
“Menurutmu gimana? Apa aku beli yang kecil dulu baru beli yang gede?”
“Ya, kalau memang mau secepatnya mendingan beli dengan uang yang ada dulu Mas, yang penting bisa produksi sendiri. Nanti kalau respon semakin bagus tinggal upgrade peralatannya.”
“Eh ... ternyata istriku pintar juga ini ide bisnisnya.” Rendra mencubit ujung hidung Dita dengan gemas.
“Maaf Pak Rendra,” ucap Rita saat dia dan karyawannya sudah berdiri di depan pintu ruangan Rendra tetapi sungkan untuk masuk karena melihat kemesraan Dita dan Rendra.
“Oh ... silakan Bu Rita.”
Rita dan karyawannya lalu masuk ke dalam ruangan, mereka kemudian duduk bersebelahan.
__ADS_1
“Ini untuk saksinya ditulis tangan enggak apa-apa kan, Bu.”
“Iya, tidak apa-apa Pak.”
Rendra lalu menandatangani surat perjanjian yang sudah ditempel meterai itu. “Ini saksi dari saya, istri saya.” Rendra menuliskan nama Dita di kertas perjanjian mereka lalu meminta Dita untuk tanda tangan.
Rita segera menandatangi surat perjanjian itu setelah Dita selesai tanda tangan. Lalu karyawannya juga ikut tanda tangan sebagai saksi.
"Baik, ini kita masing-masing menyimpan satu surat perjanjiannya." Ujar Rendra.
"Iya Pak, lalu nanti kami mulai menyetor kapan Pak?"
"Ini saya buat dulu daftar menu, brosur sama spanduknya. Kemungkinan dua hari selesai cetak. Jadi mungkin Jumat sudah bisa dimulai. Nanti Bu Rita berhubungan dengan karyawan saya yang namanya Candra untuk urusan order dan pembayaran."
"Apa bukan Pak Rendra sendiri yang memegang order dan pembayaran?"
"Tidak Bu, karyawan saya yang menangani itu. Saya hanya menangani kontrak saja."
"Baik, Pak."
"Baik Bu Rita, semoga kerjasama kita bisa berjalan lancar." Rendra berdiri lalu berjabatan tangan dengan Rita dan juga karyawannya.
"Iya Pak, kalau begitu kami permisi." Pamit Rita.
"Ya, silakan."
Rendra segera menutup pintu setelah Rita dan karyawannya keluar dari ruangannya. Dia lalu mengutak atik notebook-nya lagi.
"Bisa bantu aku enggak?" Tanya Rendra pada Dita yang sedang melihat-lihat dokumen.
"Ini mencocokkan foto sama nama dan harganya. Mau aku bikin sekalian daftar menunya."
"Enggak capek Mas?"
"Kan ada kamu, kalau aku capek terus lihatin kamu langsung ilang capekku."
"Ih, gombal banget sih." Dita kembali tersipu.
"Apa kamu jangan-jangan yang capek?"
"Enggak, capek ngapain? Orang dari tadi juga enggak ngapa-ngapain."
"Memangnya kamu mau ngapa-ngapain?" Rendra kembali menggoda Dita.
"Apaan sih, udah buruan sini mana yang perlu dibantu dicek." Dita segera mencari dokumen yang diminta Rendra.
"Ternyata enak ya kalau punya asisten pribadi (aspri)." Gumam Rendra.
"Maksudnya apa?" Dita mengernyit.
"Kamu jadi asisten pribadiku aja yah, selain jadi istriku tentunya."
"Enggak mau."
"Kenapa enggak mau?"
__ADS_1
"Ke mana-mana harus ikut dong, gimana kuliahku."
"Ya kamu tetap kuliah lah, aku aja tetap kuliah kok. Aku menyesuaikan jadwal aspriku lah kalau mau kerja."
"Mana ada pimpinan mengikuti jadwal asprinya, aneh deh kamu. Sudah enggak usah dibahas lagi, jadi dibantu enggak nih? Keburu Magrib nanti."
"Jadi lah, sini lebih dekat biar enggak capek." Rendra menepuk sofa di sebelahnya, Dita lalu mendekat pada Rendra. Mereka berdua kemudian mulai bekerja bersama.
Tanpa terasa azan Magrib mulai berkumandang. Mereka menghentikan pekerjaan, Rendra mematikan notebook-nya.
"Habis dari masjid, kita makan, terus pulang ya." Kata Rendra.
"Oke," sahut Dita.
"Oh ya, sudah kasih kabar Mas Adi belum?"
Dita menepuk jidatnya, "ah iya lupa, aku kirim pesan sekarang." Dita segera mengambil gawainya untuk mengirim pesan pada Adi.
Setelah itu mereka berdua pergi ke masjid. Selesai salat, mereka lalu mencari makan malam. Mereka memutuskan makan di sebuah warung pecel lele langganan Rendra yang tak pernah sepi pembeli.
Usai makan, mereka mampir dulu ke masjid untuk salat Isya baru kemudian pulang ke rumah. Sampai di depan rumah Adi, ternyata rumah masih gelap dan sepi, berarti Adi belum pulang.
"Mau aku temani sampai Mas Adi pulang?" tawar Rendra saat dia mengantar Dita sampai depan pintu rumah.
"Enggak usah, udah biasa juga sendiri." Tolak Dita.
"Ya, udah. Habis ini mandi terus istirahat. Jangan lupa mimpiin aku nanti." Rendra tersenyum sambil mengusap pipi Dita.
"Mas juga, mandi terus istirahat habis ini." Ucap Dita malu-malu.
"Aku masih ada kerjaan ini, menyelesaikan yang tadi."
"Emang enggak capek?"
"Kan aku udah bilang, kalau aku capek terus lihat kamu capekku jadi ilang."
"Tuh kan gombal lagi," pipi Dita kembali memerah.
"Enggak lah, kenyataan kok. Apa mau menemani aku kerja?"
"Di mana?"
"Di dalam rumah lah, tapi aku pulang mandi dulu nanti aku ke sini lagi. Sambil nunggu Mas Adi pulang."
"Terserah Mas aja."
"Ya udah, kamu masuk dulu. Jangan lupa kunci pintunya. Nanti kalau aku ke sini aku telepon kamu."
Dita menganggukkan kepala, lalu segera membalikkan badannya.
"Eh, ada yang lupa." Rendra memutar badan Dita lalu mengecup keningnya. "Nah udah sekarang, buruan gih masuk."
Dita segera membuka pintu rumah, lalu langsung menguncinya setelah dia masuk ke dalam rumah.
Setelah memastikan Dita mengunci pintu, Rendra baru kembali ke rumahnya.
__ADS_1