Romansa Cinta Senior Junior

Romansa Cinta Senior Junior
72


__ADS_3

Di resepsi kedua, Rendra memberikan kejutan pada Dita. Di tengah-tengah acara, MC menghentikan tamu untuk memberikan selamat dan doa pada kedua mempelai. Tiba-tiba Rendra diberi mikrofon oleh salah satu staf WO (Wedding Organizer).


Rendra mengajak Dita berdiri di tengah panggung. Dia menggenggam tangan istrinya sambil menatapnya penuh cinta. Dia lalu membacakan puisi untuk Dita dengan disaksikan semua orang yang ada di sana.


Penantianku telah usai


Ketika hadirmu menjelma laksana surya di hamparan mega


Merekah indah bagaikan bunga, menguar harum mengusik jiwa


Kekasih jiwaku, ingin aku ungkap segenap cinta


Tentang aku dan kamu, yang telah menjadi kita


Engkaulah pujaan hati, bersemayam dalam sanubari, menjadi yang terkasih


Mengisi relung hati yang sepi, menggenggam ribuan mimpi


Kekasih tercinta, tak ada kata yang bisa kuungkap, tentang dirimu yang selalu kuharap.


Berjuta kisah indah, ingin ku arungi bersama


Hanya dengan dirimu, belahan jiwa yang telah Tuhan pilihkan untukku


Ketika semesta merestui kita, dan kamu sebagai bidadarinya.


(Kita – Ken/Dhan)


Dita terkejut dan tidak pernah menyangka Rendra akan memberikan puisi itu untuknya. Dia refleks memeluk Rendra sambil mengucapkan terima kasih. Tak lama terdengar alunan musik yang lembut dan syahdu. Rendra mulai melantunkan liriknya.


Setiap manusia punya rasa cinta


Yang mesti dijaga kesuciannya


Namun ada kala insan tak berdaya


Saat dusta mampir bertahta


Kuinginkan dia yang punya setia


Dan mampu menjaga kemurniannya


Saat 'ku tak ada, 'ku jauh darinya


Amanah pun jadi penjaganya


Hatimu tempat berlindungku


Dari kejahatan syah watku


Tuhanku merestui itu


Dijadikan engkau istriku


Engkaulah ... Bidadari surgaku


Rendra mencium kening Dita penuh cinta saat jeda lagu.


Tiada yang memahami


Segala kekuranganku


Kecuali kamu, bidadariku


Maafkanlah aku dengan kebodohanku


Yang tak bisa membimbing dirimu


Hatimu tempat berlindungku


Dari kejahatan syah watku


Tuhanku merestui itu


Dijadikan engkau istriku


Hatimu tempat berlindungku


Dari kejahatan syah watku


Tuhanku merestui Itu


Dijadikan engkau istriku


Engkaulah ... Bidadari surgaku


Robbana hablanaa min azwajinaa


Wa dzurriyatinaa qurrota a'yun

__ADS_1


Waj'alnaa ... lil muttaqiina ...


Imamaa ... Imamaa ... Imamaa ...


Bidadari surgaku


(Bidadari Surga – Uztad Jefri Al Buchori)


Selesai bernyanyi, Rendra mengecup pucuk kepala Dita lalu keningnya. Sepanjang lagu Dita terus tersenyum dan tak kuasa menahan haru. Wanita mana yang tidak bahagia dan terharu saat sang suami menyanyikan lagu itu untuknya.


“Teruntuk, Bidadari Surgaku. Terima kasih sudah menjadi istriku.” Rendra memberikan buket bunga pada Dita, yang tadi diantar oleh salah satu staf WO.


“Terima kasih, Mas. Terima kasih sudah memilihku menjadi istri Mas.” Dita kembali memeluk Rendra.


Para tamu yang melihat mereka lalu bertepuk tangan, tak sedikit yang merasa baper karena melihat keromantisan mereka. Setelah acara kejutan selesai, MC kembali mempersilakan para tamu untuk memberi selamat dan doa pada mempelai.


Resepsi kali ini banyak dihadiri oleh kolega dan pelanggan Ibu Dewi, kolega dan teman kuliah Rendra dan juga Dita.


Bara dan band-nya kembali mengisi acara itu dengan menyanyikan lagu-lagu romantis. Bara juga tak luput menjadi pusat perhatian karena suaranya yang menawan ditambah wajah yang rupawan.


Selesai acara resepsi, mereka kemudian makan bersama keluarga inti. Rendra juga mengajak Bara dan teman-teman band-nya untuk bergabung dengan mereka.


"Thanks, Bro. Karena kalian kejutannya sukses." Kata Rendra pada Bara dan teman-temannya.


"Sama-sama. Lo juga keren nyanyinya. Mungkin kalau enggak ada Dita, cewek-cewek sudah mendekati Lo." Sahut Bara.


"Bisa aja Lo." Rendra tergelak.


"Kak Bara dan kakak-kakak semua, terima kasih atas bantuannya hari ini." Dita ikut bergabung dengan Rendra, dia datang bersama seorang gadis manis berhijab.


"Sama-sama. By the way, selamat ya untuk kalian berdua, akhirnya menikah resmi. Aku sudah harus siap punya keponakan ini."


"Thanks, Bro. Kalau soal keponakan, tanya sama dia nih." Rendra melirik Dita.


"Mas ih," Dita mencubit pinggang Rendra.


"Sakit, Sayang." Rendra menyentuh pinggangnya yang dicubit Dita.


"Terima kasih, Kak Bara. Oh ya, Kak kenalkan ini kakak sepupuku, namanya Jingga." Dita menunjuk gadis manis berhijab yang berdiri di sampingnya.


"Kak Bara, ini Jingga. Mbak Jingga, ini Kak Bara." Dita mengenalkan mereka berdua.


"Mbak Jingga ini seumuran sama aku, Kak. Dia juga suka nyanyi loh." Terang Dita.


"Oh ... hai Jingga." Sapa Bara dengan ramah.


"Hai juga, Kak Bara." Balas Jingga tak kalah ramah dengan senyum manisnya.


"Gimana, Bro?" Goda Rendra setelah Dita dan Jingga meninggalkan mereka.


"Gimana apanya?" Bara mengernyit tak mengerti.


"Jingga tadi."


"Manis, kayanya juga sama baiknya seperti Dita. Ini maksudnya apa? Lo mau jodohin gue sama dia?"


"Ya kalau Lo cocok. Kalau enggak kan setidaknya Lo nambah punya kenalan cewek satu lagi."


Bara tertawa. "Segitunya ya Lo mikirin gue biar gue bisa cepat move on."


"Gue cuma pengen Lo juga bahagia sama kaya gue."


"Thanks Bro, udah mikirin gue. Gue juga bahagia kok dengan hidup gue sekarang. Masalah hati itu tidak bisa dipaksakan. Kalau dia memang jodoh gue, pasti suatu saat kami juga akan bertemu lagi."


"Sip, Bro." Rendra mengacungkan dua jempol pada Bara.


"Gue pamit dulu ya, udah kangen sama bini gue. Sekali lagi terima kasih atas bantuannya. Silakan nikmati hidangan yang sudah tersedia. Jangan malu dan sungkan. Nanti enggak kenyang kalau malu hahaha."


"Siap."


Rendra lalu meninggalkan Bara dan teman-temannya untuk makan bersama dengan Dita dan keluarga mereka.


Sesudah makan bersama, mereka kembali ke rumah Ibu Dewi. Tiga hari berturut-turut mengikuti seluruh prosesi pernikahan dari pengajian sampai resepsi benar-benar melelahkan, tetapi juga membahagiakan. Badan lelah tetapi hati bahagia. Akhirnya tuntas sudah semua acara, tinggal bulan madu kejutan yang disiapkan Rendra untuk Dita. Tadi Rendra sudah berpamitan dengan Pak Wijaya dan juga mamanya kalau mereka besok akan pergi bulan madu selama 4 hari.


Sampai saat ini, Dita sama sekali tidak tahu ke mana tujuan bulan madu mereka. Dia hanya diminta Rendra untuk menyiapkan baju untuk 4 hari. Malam ini dia menata baju dan perlengkapan mereka di satu koper besar. Dia percaya saja pada Rendra kalau suaminya itu pasti akan memberikan yang terbaik, mengingat selama ini semua kejutan Rendra selalu membuatnya bahagia dan merasa benar-benar dihargai dan dicintai.


Malam ini mereka masuk kamar lebih cepat karena besok pagi harus terbang dengan pesawat pagi.


“Mas, kapan sih nyiapin kejutan tadi? Enggak mungkin on the spot kan?” Tanya Dita setelah mereka berbaring di atas ranjang.


“Ya, di sela-sela waktu kuliah. Dua atau tiga kali aku ikut latihan sama band-nya Bara.” Jawab Rendra.


“Jadi Mas pamit sama aku ke mana kalau ikut latihan sama mereka?” Dita memicingkan mata curiga pada Rendra.


“Ke kafe, tapi habis latihan pasti aku ke kafe kok. Aku enggak bohong.” Rendra mengangkat tangannya membentuk huruf V.


“Iya lah, aku maafkan kebohongan Mas yang satu ini. Makasih ya Mas untuk semua kejutannya.” Dita mengecup kilat bibir Rendra.


“Eh ... sudah berani ya cium-cium sekarang. Apa ini kode mau menjalankan kewajiban istri ... hummm.” Rendra mengusap bibir Dita sembari tersenyum menggoda.

__ADS_1


“Ngomong apa sih, Mas?” Dita tersipu, menyembunyikan wajahnya di bantal.


“Sini to, lihat aku.” Rendra membelai rambut Dita.


Dita kembali menghadap Rendra dengan malu-malu.


“Kenapa sih kamu masih suka malu? Kita kan sudah menikah selama 4 bulan, Sayang.”


“Memang aku enggak boleh malu ya, Mas?” Dita menatap mata Rendra.


“Boleh, aku malah suka kalau kamu malu. Gemesin tahu enggak, jadi pengen ....” Rendra menggantung kalimatnya.


“Pengen apa Mas?”


“Pengen ngapa-ngapain kamu.”


“Mas, ih.” Dita memukul pelan dada Rendra.


“Tuh kan malu-malu lagi. Gimana aku bisa menahannya lebih lama lagi kalau kaya gini.”


Rendra mengelus bibir Dita, lalu dia mendekatkan bibirnya. Dita memejamkan mata, saat bibir Rendra mulai menyentuhnya. Mereka saling melu mat, menyesap dan menggigit.


Setelah puas bermain dengan bibir Dita, Rendra mulai mengecup rahang istrinya. Dia menjelajahi leher jenjang Dita. Bibirnya yang basah mengecup dengan lembut seluruh bagian leher Dita tanpa kecuali. Sesekali dia menghisap dan memberi gigitan kecil yang membuat Dita mengeluarkan desahannya. Semakin Dita mendesah, membuatnya semakin bergai rah.


Tangannya mulai masuk ke baju tidur istrinya dan bermain di atas da danya. Satu tangannya yang lain membuka kancing baju tidur Dita. Sepertinya dia harus meminta Dita memakai gaun tidur saja, jadi dia tidak harus repot membuka kancing lagi.


Setelah semua kancing terbuka, Rendra membenamkan wajahnya di antara kedua bukit indah Dita yang masih memakai penutup. Satu tangannya menelusup ke punggung Dita untuk membuka kaitan penutup da danya. Seperti seorang ahli, dengan sekali gerakan langsung terlepas kaitannya.


Rendra menggeser penutup da da ke atas, lalu tampaklah kedua bukit kembar tanpa adanya penghalang. Rendra menghentikan kegiatannya, dia menikmati pemandangan di depan matanya.


"Mas," panggil Dita begitu Rendra tak bergerak, dia membuka mata yang sedari tadi terpejam karena menikmati setiap sentuhan suaminya.


"Sayang, mulai besok kalau tidur jangan pakai bra lagi ya." Pinta Rendra sembari menatap mata Dita.


Rendra lalu meneruskan kegiatannya, dia menciumi setiap sisi da da istrinya. Saat bibirnya menjelajahi da da kanan, maka tangannya akan memainkan da da sebelah kiri, begitu pun sebaliknya. Dita kembali memejamkan matanya menikmati sentuhan lembut Rendra.


Saat Rendra mengecup dan menggigit pucuk bukitnya, Dita mendesah sambil menyebut nama Rendra. Tangannya yang mengacak rambut Rendra menahan kepala suaminya agar terus bermain di sana.


Setelah puas bermain-main di da da Dita, Rendra kembali mencium bibir manis istrinya.


"Terima kasih Sayang, untuk malam ini. Kita tidak akan melakukannya sekarang, aku takut kamu kecapekan. Tapi, kamu harus siapkan stamina untuk besok, karena aku benar-benar enggak akan melepaskan kamu." Rendra mencium kening Dita. Dia lalu kembali mengancingkan baju tidur Dita.


"Besok kamu tidur pakai baju yang sudah aku siapkan di koper. Dan, ingat jangan pakai bra lagi kalau tidur."


"Iya, Mas." Dita hanya bisa pasrah, meski gai rah juga sudah menguasainya. Dia merasa malu dan gengsi bila harus memintanya terlebih dahulu.


Akhirnya malam ini mereka kembali tidur dengan saling berpelukan. ✌️✌️✌️


...※※※※※...


Catatan:


Robbana hab lanaa min azwajinaa wa dzurriyatinaa qurrota a'yun waj'alnaa ... lil muttaqiina imamaa.


Artinya: Wahai Robb kami, karuniakanlah pada kami dan keturunan kami serta istri-istri kami penyejuk mata kami. Jadikanlah pula kami sebagai imam bagi orang-orang yang bertakwa (QS. Al Furqon:74)


...💞💞💞💞💞...


Assalamu'alaikum ...


Apa kabar semua? Semoga teman-teman selalu dalam keadaan sehat dan dalam lindungan Allah SWT.


Pertama-tama saya mau mengucapkan terima kasih pada Dhan/Ken yang sudah meluangkan waktu dan pikirannya untuk membuat puisi. "Terima kasih ya, Dek. Maafkan emak-emak rempong ini yang banyak maunya. Semoga kamu bisa mencapai semua cita dan cintamu. Puisi-puisimu lebih bagus lagi dan dikenal banyak orang. Sukses selalu buat kamu."



Yang kedua, saya mohon maaf bila ada beberapa teman yang belum saya terima masuk di Grup Chat (GC) karena belum memenuhi syarat masuk.


Syarat untuk masuk GC gampang kok, cukup tinggalkan jejak komentar dan tuliskan alasan masuk ke grup dengan menuliskan kenapa suka dengan cerita Rendra dan Dita.



Gampang dan tidak berat kan 🤗🤗🤗


Yang ketiga, saya mohon maaf bila ada yang tidak suka dengan cerita ini, mungkin terlalu datar, membosankan atau terlalu bertele-tele. Mohon maaf bila tidak bisa memenuhi semua keinginan teman-teman. Saya sadar masih harus banyak belajar lagi agar bisa menuliskan cerita yang menarik.


Sebenarnya memang cerita ini hanya cerita ringan, tidak akan ada konflik yang berat karena semata ingin menghibur. Hidup di real life sudah berat ya, jadi ingin menyajikan cerita yang ringan saja.


Mohon maaf juga bila saya juga sering detail menuliskan sesuatu, karena saya ingin sedikit membagi proses dan pengetahuan. Karena saya percaya bahwa segala sesuatu itu berproses dan tidak instan. Saya juga ingin mengenalkan beberapa tradisi, tempat atau pun kuliner di sini.


Yang terakhir, saya ucapkan terima kasih pada teman-teman yang selalu mendukung saya dan cerita receh saya ini. Apalah saya yang hanya butiran debu ini tanpa teman-teman.


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca, memfavorit, menyukai, memberi komentar, hadiah dan juga vote. Saya juga terbuka untuk menerima masukan, kritik dan saran. ☺️☺️☺️


Jangan lupa selalu jaga kesehatan, patuhi prokes, minum vitamin dan tetap jaga hati dan pikiran kita tetap bahagia. 🤗🤗🤗


Wasalamu'alaikum


Kokoro no tomo (Ayaka Kirei)

__ADS_1


Jogja, 130321 01.00


__ADS_2