
“Libur Mas?” Rendra menghampiri Adi yang sedang mencuci mobil di depan garasi.
“Iya Rend, nanti kan ayah sama bunda mau ke sini.”
“Semalam Dita juga bilang. Mas Adi mau jemput ayah sama bunda?”
“Enggak, mereka biasanya ke sini bawa mobil sendiri. Aku pernah mau jemput tapi enggak mau. Katanya masih sehat, masih bisa bawa mobil sendiri.”
Rendra menganggukkan kepala. “Kenapa enggak dicuci di pencucian mobil saja Mas?”
“Sekalian olahraga, biar gerak badannya. Kamu ada janji sama Dita?” Adi menoleh pada Rendra.
“Semalam mama minta kami cari info gedung buat resepsi, Jadi nanti kami mau pergi, Mas.”
“Masih di kamar kayanya Dita, kalau lagi haid suka malas-malasan dia.”
Rendra mengerutkan kening, seingatnya kemarin Dita masih salat Asar dengannya di masjid.
“Semalam aku kira Dita mau tidur di rumahmu,” ucap Adi sambil menggosok spon yang penuh busa ke permukaan mobil.
“Dita enggak mau, Mas.”
“Harusnya kamu tahan saja dia di rumahmu, enggak usah diantar pulang.”
“Jangan lah Mas, aku enggak mau maksa dia. Biar nanti seiring waktu juga lama-lama dia bakal mau.”
“Kamu ini jangan terlalu manjain dia loh,” tegur Adi.
“Enggak Mas, dia sudah mulai berubah kok sekarang sudah enggak sekeras dan sedingin dulu. Aku ingin menikmati proses kedekatan kami secara natural. Aku kan juga ingin merasakan pacaran ala anak muda, antar jemput pacar, Mas ... hehehe.” Rendra meringis malu.
“Ya sudah kalau itu keputusanmu. Tapi nanti malam aku pastikan dia tidur di rumahmu.” Kata Adi dengan yakin.
“Kenapa Mas memangnya?” Tanya Rendra penasaran.
“Nanti kan ayah sama bunda menginap. Pasti Dita enggak akan boleh pulang ke sini. Mana berani dia melawan ayah sama bunda. Meski besok setelah ayah sama bunda pulang dia bakal balik ke sini lagi.” Jawab Adi.
Rendra tersenyum mendengar jawaban Adi. “Dita paling takut sama ayah dan bunda ya, Mas?”
“Ayah sih, kalau bunda kadang masih dilanggar sama dia. Tapi kalau ayah sudah ambil keputusan tidak ada satu pun dari kami yang bisa melawan. Kamu sudah tahu sendiri kan.”
“Iya Mas. Eh ... kanebo-nya di mana Mas, aku bantu mengeringkan?”
“Sudah enggak usah, kamu bangunin Dita saja sana. Kamarnya yang dekat ruang salat.” Titah Adi.
“Benar nih Mas enggak mau aku bantu?” Tanya Rendra memastikan sebelum ke kamar Dita.
“Enggak usah, lagian kamu sudah mandi kan nanti keringetan lagi.” Tolak Adi.
“Ya sudah, aku izin masuk rumah ya Mas.”
__ADS_1
“Masuk saja enggak perlu izin-izin, kaya sama siapa saja.”
Rendra lalu melangkah masuk ke dalam rumah, dia celingukan mencari letak kamar Dita. Setelah menemukan ruang salat, dia menuju kamar yang ada di sampingnya.
Tok ... tok ....
“Dita ... Dita ...,” panggil Rendra beberapa kali tetapi tidak ada jawaban dari dalam kamar. Rendra akhirnya memutuskan untuk membuka pintu kamar Dita, untungnya tidak dikunci dari dalam. Dia membiarkan pintu tetap terbuka saat Rendra memasuki kamar Dita.
Kamar Dita terlihat gelap karena tirai jendelanya masih tertutup. Rendra melihat Dita masih meringkuk di atas kasur dengan satu tangan memegangi perutnya. Perlahan dia menuju ke jendela lalu membuka tirainya, sehingga cahaya mulai masuk ke kamar Dita.
Dita merubah posisi tidur tanpa membuka mata karena merasa terganggu dengan cahaya yang masuk ke kamarnya.
Rendra tersenyum dan menggelengkan kepala melihat Dita yang masih tetap memejamkan mata meski kamarnya sudah terang. Dia lalu duduk di atas tempat tidur, di samping kepala Dita.
Rendra mengamati wajah tidur Dita yang telihat tetap cantik di matanya. Dia menyibak beberapa helai rambut yang menutupi wajah Dita.
"Mau tidur sampai jam berapa, Cintaku?" Ucap Rendra lembut sambil mengusap pipi Dita pelan.
Kening Dita berkerut, matanya mulai bergerak. Dia memicingkan mata berusaha menyesuaikan cahaya. Saat dia mulai menangkap sosok asing di depannya, Dita langsung membelalakkan matanya.
"Ah ...." Teriak Dita begitu sadar kalau Rendra yang ada di sana, dia langsung menutup wajah dengan tangannya dan membalikkan badan membelakangi Rendra.
"Kenapa Mas ada di sini?" Tanya Dita tanpa berani berhadapan dengan Rendra.
"Bangunin istriku lah." Jawab Rendra. "Hadap sini dong, aku di belakangmu loh."
"Enggak mau, malu."
"Ih, pasti kerjaan Mas Adi ini." Gerutu Dita kesal.
"Ayo bangun, terus mandi." Rendra mengusap rambut Dita.
"Iya, aku bangun tapi Mas keluar dulu." Pinta Dita.
"Aku enggak keluar kalau kamu belum bangun."
"Tapi aku malu, Mas."
"Malu kenapa hummm?"
"Wajahku pasti jelek banget, rambut acak-acakan, aku bau lagi." Dita beralasan.
"Aku mencintaimu apa adanya loh, aku enggak bakal ilfeel lihat kamu dalam keadaan apa pun. Ayo bangun hadap sini, atau mau aku cium?"
"Aku malu Mas, enggak pede." Dita masih bergeming di tempatnya.
"Aku hitung sampai tiga ini, kalau enggak bangun aku cium. Satu ... dua .... ti ...."
"Iya, aku bangun." Dita lalu bangun dari tidurnya dan duduk di atas tempat tidur. Dia atur rambutnya agar tak terlalu berantakan, baru dia balikkan badannya menghadap Rendra.
__ADS_1
"Nah gitu dong bangun, masa harus diancam mau dicium baru bangun. Kalau begitu besok aku cium saja ya biar langsung bangun."
Dita diam sambil mengerucutkan bibirnya.
"Mandi dulu gih, aku tunggu di luar." Rendra mengacak rambut Dita sebelum berjalan ke luar dari kamar Dita.
Dita mengembuskan napas lega setelah Rendra keluar dari kamarnya. Dia bangkit lalu merapikan tempat tidurnya setelah itu beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Tiga puluh menit kemudian, Dita keluar dari kamarnya. Dia langsung menuju dapur untuk mengambil minum. Samar-samar dia mendengar Adi dan Rendra sedang mengobrol di teras. Lalu dia menghampiri mereka.
"Mas-mas berdua sudah sarapan belum?" Tanya Dita pada Adi dan Rendra.
"Belum," jawab Adi dan Rendra bersamaan.
"Aku masakin nasi goreng dulu ya." Dita kembali ke dapur untuk memasak sarapan mereka.
Setelah nasi goreng siap, mereka bertiga sarapan bersama. Selesai sarapan, Rendra dan Dita pergi mencari info gedung untuk resepsi pernikahan mereka. Semalam mereka menyempatkan mencari tahu gedung mana saja yang akan mereka datangi. Jadi pagi ini mereka bisa langsung ke lokasi gedung.
Begitu semua gedung sudah didatangi, mereka makan siang lalu memutuskan untuk pulang ke rumah Rendra.
Dita membantu Ibu Dewi memasak di dapur untuk memasak makan malam mereka bersama ayah dan bunda Dita. Sementara Rendra bekerja dengan notebook-nya di meja makan agar bisa terus melihat Dita.
Bakda Magrib, Pak Wijaya, Ibu Hasna dan Adi datang ke rumah Ibu Dewi. Dita tentu saja sudah berada di sana sejak tadi menyiapkan makan malam. Mereka kemudian makan bersama sambil mengobrol santai.
Saat azan Isya berkumandang, para pria pergi ke masjid. Sementara Ibu Dewi dan Ibu Hasna meneruskan mengobrol di ruang tamu. Karena mereka memiliki hobi sama dengan tanaman membuat mereka menjadi lebih cepat akrab. Dita dan Nisa tentu saja membereskan meja makan dan juga mencuci peralatan makan mereka tadi.
Bakda Isya mereka mulai melakukan rapat keluarga untuk menentukan acara pernikahan Dita dan Rendra. Para orang tua saling mengungkapkan keinginan mereka, sementara Adi, Rendra, Dita dan Nisa hanya mendengarkan, sesekali juga memberikan pendapat atau usulan bila diminta.
Setelah menemukan titik temu dan kesepakatan, mereka mengakhiri pertemuan malam itu. Esok mereka akan pergi bersama mencari kain untuk seragam keluarga dan among tamu.
Begitu Pak Wijaya pamit pada Ibu Dewi, Dita mengikuti mereka pulang ke rumah.
"Dita mau ke mana?" Tanya Pak Wijaya.
"Pulang Yah," jawab Dita dengan polosnya.
"Pulang ke mana?"
"Ya ke rumah Mas Adi, Yah."
"Enggak bisa, kamu harusnya sama suamimu. Apa Nak Rendra mau tidur di rumah Adi?" Pak Wijaya menoleh pada Rendra.
"Enggak, Yah."
"Kalau begitu, Dita juga harus bersama Nak Rendra. Dita tidur di sini." Tegas Pak Wijaya.
"Iya, Yah." Sahut Dita pelan sambil menundukkan wajahnya.
"Tapi, aku mau ambil perlengkapanku dulu, Yah. Boleh kan?"
__ADS_1
"Boleh, tapi kamu harus segera kembali ke sini."
Dita menganggukkan kepalanya. Mereka berempat lalu beranjak pergi meninggalkan rumah Ibu Dewi. Rendra juga ikut Dita mengambil perlengkapannya.