Romansa Cinta Senior Junior

Romansa Cinta Senior Junior
76


__ADS_3

Malam harinya, Rendra dan Dita dijemput untuk makan malam di sebuah warung makan yang menyajikan makanan khas Lombok yaitu ayam taliwang. Sesuai dengan namanya, hidangan ayam bakar berbumbu pedas ini memang berasal dari Kampung Karang Taliwang, Kelurahan Cakra Utara, Kecamatan Cakranegara, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat.


Ayam taliwang berbahan dasar ayam kampung muda yang baru berusia 3 sampai 5 bulan. Ayam kampung utuh, dibakar lalu dibaluri dengan bumbu yang terdiri dari cabai merah kering, bawang merah, bawang putih, tomat, terasi goreng, kencur, gula merah dan garam. Penyajian ayam taliwang biasanya bersama nasi putih hangat dan plecing kangkung atau beberuk terong (1).


Mereka memilih duduk di saung yang ada di warung makan tersebut. Kemudian seorang pelayan memberikan buku menu setelah mereka duduk. Mereka lalu memesan paket makan untuk 2 orang yang terdiri dari nasi putih, ayam bakar taliwang, ikan bakar madu, plecing kangkung, tahu goreng, sup bebalung (2) dan minuman. Selain paket tersebut mereka juga memesan beberuk terong.


Cita rasa menikmati ayam taliwang di daerah asal tentu saja berbeda. Meski sebelumnya mereka pernah memakannya di Jogja, tetapi jika dibanding dengan di Lombok rasanya lebih nikmat di daerah asal. Bumbu yang dibalurkan dalam ayam bakar rasanya benar-benar merasuk bahkan sampai ke tulang. Mereka sangat menikmati makan malam itu sambil saling bercerita dan menikmati suasana di sana.


Setelah makan malam, mereka diantar kembali ke hotel. Sebelum masuk ke kamar, mereka berjalan-jalan dulu menikmati suasana malam di lingkungan hotel. Saat Dita sudah merasa kedinginan karena angin laut, baru mereka kembali ke kamar.


...---oOo---...


Agenda hari ketiga perjalanan bulan madu mereka yaitu tur di Gili Trawangan. Pagi itu mereka mengawali perjalanan dengan pergi ke Bukit Malimbu. Dari atas Bukit Malimbu, Rendra dan Dita bisa melihat pemandangan laut yang indah. Selain itu mereka juga bisa melihat pemandangan tiga Gili yakni Gili Air, Meno dan Trawangan, serta Gunung Agung yang ada di Bali dari kejauhan.


Setelah puas melihat pemandangan dan berfoto-foto, mereka menuju ke Pelabuhan Teluk Nare untuk menyeberang ke Gili Trawangan menggunakan Private Speed Boat. Setelah tiba di Gili Trawangan mereka dibebaskan melakukan apa saja di sana hingga waktu makan siang.


Di Gili Trawangan sama sekali tidak ada kendaraan bermotor, mereka menggunakan sepeda atau cidomo sebagai alat transportasi. Cidomo adalah delman khas Lombok yang ditarik seekor kuda, yang membedakan cidomo dengan delman lainnya karena menggunakan roda mobil bekas dan bukan roda kayu.


...



gambar cidomo...


Dita memilih memakai cidomo untuk berkeliling Gili Trawangan karena jarak yang harus ditempuh bila bersepeda mengelilingi pantai kira-kira sepanjang 7 kilometer dengan cuaca yang panas. Sambil naik cidomo mereka juga berhenti berfoto-foto di tempat yang spot-nya keren.


Setelah berkeliling, Dita mengajak Rendra untuk melihat penangkaran penyu di sana. Mereka berjalan kaki dari tempat mereka turun dari cidomo.


Balai Penangkaran penyu itu berlokasi di pinggir jalan utama di tepi pantai. Bangunannya cukup besar, beratapkan jerami yang menaungi tiga buah kolam kaca yang berisi anak penyu (tukik). Pada saatnya nanti sesudah besar dan siap untuk dilepas, maka anak penyu akan dikembalikan ke habitat aslinya ke lautan.


Penyu yang paling banyak ditangkar di sana adalah penyu hijau dan penyu sisik. Telur yang didapat dikeram dalam pasir selama 40 hari. Setelah telur menetas, dipindahkan ke dalam kolam penampungan. Mereka dirawat dan diberi makan setiap hari, agar menjadi lebih besar selama sekitar 6 sampai 8 bulan, dan siap untuk mengarungi samudera luas.


"Sayang, mau snorkling?" Tanya Rendra begitu mereka selesai melihat penangkaran penyu.


"Enggak ah. Kalau Mas mau, ya snorkling aja. Aku temenin naik kapalnya." Jawab Dita sambil membenarkan letak topi lebarnya.


"Enggak seru kalau sendiri. Terus kita mau ngapain?"


"Ya duduk-duduk aja, lihat pemandangan. Mau foto-foto juga bisa. Beli jajanan apalagi, Mas."


"Sewa kamar aja, yuk." Rendra mengedipkan sebelah matanya.


"Hah??? Sayang uangnya, cuma sebentar."


"Biar sebentar tapi kan bisa membuat bahagia, Sayang. Kamu maunya kita di kamar seharian ya?" Goda Rendra.


"Mulai deh," Dita memutar bola matanya jengah.


"Udah yuk, kita jalan-jalan aja." Dita lalu menggandeng lengan Rendra menuju ke gerai yang menjual gelato.

__ADS_1


Saat jam makan siang, mereka makan di restoran lokal yang ada di sana, yang sudah disiapkan oleh agen tour & travel. Setelah makan siang, mereka kembali naik Private Speed Boat menuju ke Pelabuhan Teluk Nare.


Mereka melanjutkan perjalanan ke Monkey Forest Pusuk. Di sini banyak terdapat ratusan ekor monyet jinak yang selalu setia menanti di pinggir jalan untuk diberi makan pengendara atau turis asing yang lewat.


Monyet-monyet itu biasa diberi makan pisang, kacang atau roti. Karena itu tadi mereka mampir ke sebuah toko untuk membeli roti. Rendra yang memberi mereka roti karena Dita merasa takut. Dia berdiri di belakang Rendra saat suaminya itu memberi makan monyet-monyet di sana.


Usai dari Monkey Forest Pusuk, Rendra dan Dita kemudian diantar ke sebuah tempat spa untuk mendapatkan treatment selama kurang lebih 2 jam. Mereka mendapatkan perawatan berupa pijat badan, scrub badan dan mandi susu. Badan mereka menjadi lebih segar dan berkurang capeknya setelah mendapat perawatan.


Sebelum kembali ke hotel, mereka menuju ke Sentra Kerajinan Mutiara Sekarbela yang terletak daerah Sekarbela, di Kota Mataram. Banyak pengrajin dan pembudidaya mutiara yang bisa dijumpai di sini.


Mereka menyediakan mutiara air laut dan mutiara air tawar. Mutiara air tawar biasanya berbentuk lonjong dan harganya lebih murah. Mutiara yang dijual di sana berupa butiran sampai yang sudah dirangkai menjadi berbagai macam perhiasan. Beberapa toko di sana juga memberikan sertifikat untuk membuktikan mutiara yang mereka jual benar-benar asli.


Dita membelikan perhiasan mutiara untuk bundanya dan mamanya Rendra, tak lupa Nisa, Shasha serta Bella. Dita sendiri lebih memilih membeli bros untuk dirinya sendiri karena dia tidak terlalu suka memakai perhiasan.


Kemudian mereka pergi ke salah satu gerai yang menjual kaos dan aksesoris yang bertemakan Lombok. Rendra membeli beberapa kaos untuk Bara, Adi, karyawan kafenya, Nisa, Shasha dan juga untuk mereka berdua.


Selain itu mereka juga pergi ke pusat oleh-oleh untuk membeli dodol rumput laut khas Lombok. Dodol rumput laut warnanya bening dengan aneka warna, rasanya manis dan kenyal. Dodol ini diyakini punya banyak manfaat untuk kesehatan, seperti mampu menyeimbangkan berat badan, anti bakteri serta membersihkan racun di dalam tubuh.


Sesudah membeli oleh-oleh, mereka diantar kembali ke hotel untuk beristrirahat. Nanti malam mereka akan dijemput lagi untuk candle light dinner di sebuah restoran seafood pinggir pantai.


Sampai di kamar, mereka mulai mencicil mengepak berbagai macam oleh-oleh yang sudah mereka beli. Ada terlalu banyak barang hingga Rendra meminta tolong pada staf hotel mencarikan kardus untuk tempat oleh-oleh.


Setelah Magrib, mereka kembali dijemput untuk makan malam. Suasana makan malam menjadi lebih romantis dengan ditemani lilin dan suara deburan ombak yang menenangkan jiwa. Pukul 21.00 WITA, Rendra dan Dita kembali ke hotel setelah candle light dinner.


Begitu sampai di kamar, mereka langsung bersih-bersih dan berganti baju tidur. Rendra mematikan lampu utama dan mengganti dengan lampu tidur. Seperti biasa mereka berbaring saling berhadapan sambil melakukan pillow talk.


"Iya, Sayang. Aku senang kalau kamu suka." Rendra mencium kening Dita.


"Mas," panggil Dita pelan.


"Apa, Sayang?"


"Kalau aku hamil bagaimana?" Dita menatap mata Rendra.


"Alhamdulillah, berarti aku hebat dong langsung bisa membuatmu hamil."


"Mas ih, bukan gitu. Aku kan masih kuliah."


Rendra mengernyit. "Kenapa memangnya? Kamu kan sudah punya suami, wajar kan kalau kamu hamil."


"Aku belum siap punya anak, Mas."


"Terus?"


"Ya, gimana caranya biar aku enggak hamil?"


"Kamu mau aku puasa sampai kamu siap punya anak?"


"Bukan begitu, aku enggak mau ya dilaknat malaikat tiap hari."

__ADS_1


Rendra tergelak mendengar Dita bicara. "Terus, kamu maunya gimana, Sayang?"


"Ya, Mas pakai pengaman atau gimana gitu."


"Enggak mau, katanya enggak enak kalau pakai itu."


"Memang Mas pernah coba?" Dita memicingkan matanya curiga.


"Belum lah, coba sama siapa. Cuma sama kamu, aku menyerahkan diriku sepenuhnya, Sayang."


"Terus kok bisa bilang enggak enak?"


"Banyak yang bilang seperti itu. Dan aku enggak mau pakai. Kalau kamu mau nunda punya anak ya kamu aja yang KB," saran Rendra.


"Aku juga enggak mau. Aku takut nanti malah susah punya anak kalau aku sudah siap." Dita beralasan.


"Ya sudah kalau begitu, kita jalani saja semuanya apa adanya. Kita serahkan semua pada Allah. Allah akan memberi kita anak dalam waktu dekat atau nanti saat kamu sudah siap, kita pasrahkan saja." Rendra mengusap pipi Dita.


"Anak itu rezeki, Sayang. Banyak di luar sana yang ingin punya anak tetapi belum diberi. Kalau suatu saat kamu hamil harusnya kita bersyukur kita diberi amanah oleh Allah. Memangnya kenapa kamu belum siap?"


"Aku ... aku ingin full mengurus anak sendiri. Kalau aku masih kuliah, berarti aku enggak bisa full mengurusnya."


"Nanti kamu bisa cuti, Sayang. Atau kita mencari pengasuh untuk membantumu di bawah pengawasan Mama." Rendra mengelus kepala Dita.


Dita menghela napasnya.


"Sudah, jangan dijadikan beban pikiran. Kita jalani saja. Jangan takut, aku akan selalu di sampingmu apa pun yang terjadi." Rendra mengecup lama kening Dita untuk memberi ketenangan.


"Sayang," panggil Rendra.


"Ya, Mas."


"Tadi kan kita sudah dipijat, berarti capeknya sudah hilang kan."


"Lumayan Mas, badan lebih enteng."


Rendra menyeringai lebar. "Kalau begitu, kita nikmati malam terakhir di sini. Kita lembur, ya."


Sebelum Dita sempat bicara, Rendra sudah membungkam mulutnya dengan ciuman yang melenakan. Malam ini mereka lewati dengan panas dan penuh cinta.


...※※※※※...


Catatan:


(1)   Beberuk terong juga merupakan makanan khas Lombok yang terbuat dari lalapan terong dan kacang panjang dengan sambal tomat yang pedas. Hidangan ini tergolong lalapan, jadi biasanya semua bahan dihidangkan mentah. Kesegaran beberuk terong makin bertambah bila ditambah perasan air jeruk limau di atas sambal.


(2)   Sup bebalung ini bila di daerah lain biasa disebut dengan sup iga, kaledo dan sebutan lainnya. Cita rasa sup bebalung khas Lombok ini terletak di dalam kuah yang kaya akan rempah-rempah pilihan serta daging dari tulang iga sapi yang empuk.


Jogja, 170321 02.15

__ADS_1


__ADS_2