Romansa Cinta Senior Junior

Romansa Cinta Senior Junior
8


__ADS_3

“Ta, kamu mau masuk UKM apa?” Tanya Bella saat mereka sedang di kantin untuk makan siang sebelum masuk ke kelas berikutnya.


“Kenapa? Kamu mau masuk ke UKM yang ada idolamu itu?” Dita malah balik bertanya.


“Ya … kalau bisa sih, Ta.” Bella cengar-cengir tanpa dosa.


“Ya udah sana kamu masuk saja sendiri, aku enggak mau ikutan.” Dita menggelengkan kepala heran dengan Bella yang selalu terobsesi dengan Rendra.


“Masalahnya nih Ta, aku enggak tahu Kak Rendra masuk UKM apa?” Bella menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil tersenyum malu.


Dita tersenyum mengejek.


“Kamu kok jahat gitu sih Ta, bantuin aku napa nyari info soal Kak Rendra.” Protes Bella.


“Ogahhhh.”


Bella melirik kesal pada Dita. “Enggak setia kawan ih.”


“Bodo amat!!!” Ketus Dita sambil tersenyum jahil pada Dita.


“Hei Cantik, boleh gabung duduk di sini?” Sapa seorang pemuda di samping meja mereka yang menghentikan perdebatan kecil Bella dan Dita.


Seketika Dita dan Bella menoleh ke arah suara pria itu.


“Eh, kamu Im, duduk aja.” Kata Dita pada Baim teman sekelasnya. Baim lalu duduk di depan Dita.


“Kenapa kamu cemberut gitu, Bel?” Tanya Baim penasaran yang melihat Bella masih mengerucutkan bibir.


“Temanmu itu jahat.” Sahut Bella sambil melirik kesal pada Dita.


“Emang Dita ngapain kamu, setahuku dia selalu baik sama siapa saja.”


Dita yang menjadi obyek pembicaraan Bella dan Baim hanya senyum-senyum saja malas menanggapi, sambil tetap menikmati makan siangnya.


“Dita enggak setia kawan, Im.” Adu Bella.


Baim mengernyit pada Bella lalu mengalihkan pandangannya pada Dita yang duduk di depannya. Dia mengkode Dita dengan matanya tapi Dita hanya mengangkat bahunya.


“Kenapa sih kalian ini sebenarnya?” Baim mulai kesal.


“Bella mau masuk UKM yang ada idolanya, tapi dia enggak tahu idolanya itu masuk UKM apa.” Dita tergelak saat menjelaskan pada Baim.


Baim ikut tertawa dengan Dita sementara Bella makin melirik kesal pada kedua temannya itu.


“Kalian berdua emang jahat sama aku.” Bella mendramatisir dengan mimik seperti ingin menangis.


“Yaelah masalah gitu doang kaya masalah besar aja.” Sela Baim santai.


“Ya gitu deh Im, kalau menyangkut idolanya itu dia jadi lebai.” Sahut Dita.

__ADS_1


“Emang siapa sih idolamu itu?” Tanya Baim pada Bella.


“Kak Rendra, teknik sipil.” Jawab Bella.


“Oh Kak Rendra.” Baim manggut-manggut.


“Kamu kenal sama dia kan? Tanyain dong dia masuk UKM apa?” Tanya Bella antusias.


“He he he … enggak.” Baim menggeleng sambil memperlihatkan deretan giginya.


“Cih, punya dua teman enggak ada guna semuanya.” Gerutu Dita.


“Kenapa kamu enggak nanya sendiri sama Kak Rendra?” Desak Baim.


“Aku malu dan juga enggak berani, Im. Terakhir ketemu aja Kak Rendra marah-marah. Tuh gara-gara si Dita.” Ujar Bella beralasan.


“Lah malah jadi aku yang disalahin. Lagian kenapa sih Bel mesti ngikutin apa aja kegiatan dia, yang ada dia malah ilfil nanti kalau kamu kejar terus.” Protes Dita.


“Betul tuh kata Dita, cowok kalau dikejar-kejar sama cewek malah sering lari, kecuali kalau Kak Rendra itu playboy pasti dia bakal nanggepin kamu.” Baim mendukung pendapat Dita.


“Kalian berdua ini kompak banget sih, bukannya mendukung temannya malah disuruh mundur. Memang kalian ini enggak setia kawan.” Sungut Bella.


Dita memutar bola matanya jengah, sudah tidak tahu lagi bagaimana cara menasehati Bella. Dia segera menyelesaikan makan dan minumnya karena harus melaksanakan kewajibannya sebagai hamba Tuhan yang taat sebelum masuk ke kelas.


“Aku duluan mau ke musala dulu,” pamit Dita.


“Oke, nanti aku tunggu di kelas,” balas Baim.


Brukkkk


Dita menabrak lengan seseorang. “Maaf,” katanya sambil tetap menunduk.


“Kalau jalan itu lihat depan jangan lihat ke bawah!!!” Seru orang yang dia tabrak.


Dita mendongakkan kepala begitu mendengar ucapan kasar yang diterimanya padahal dia sudah meminta maaf. Dia memasang senyum sinis setelah tahu bahwa Rendra yang dia tabrak, “pantas omongannya kasar gitu.”


Karena sedang malas meladeni Rendra dan terburu waktu, dia langsung melengos pergi setelah sempat memberikan tatapan tajam pada pria itu. “Dasar pria tak tahu sopan santun,” desisnya pelan.


“Heh ... kamu cari masalah ya sama aku?” Rendra berbalik dan menarik pergelangan tangan Dita yang mulai berjalan menjauhinya.


Dita menghentikan langkahnya, dia menatap pergelangan tangannya yang dipegang Rendra. Dia membalikkan badannya, menatap tajam pada Rendra.


“Bisa lepasin tanganku?” Kata Dita sambil mengeratkan gigi menahan amarah.


“Kamu minta maaf dulu, baru aku lepas.” Sahut Rendra dingin.


“Maaf? Bukannya aku sudah minta maaf karena tidak sengaja menabrakmu?” Tanya Dita sinis sambil menggelengkan kepalanya.


“Bukan untuk itu, tapi karena kamu mengataiku tidak tahu sopan santun.” Jawab Rendra tak kalah sinis.

__ADS_1


Dita tersenyum mengejek mendengar jawaban Rendra. “Tapi itu kenyataan, dan aku tidak merasa salah mengatakannya. Jadi aku tidak akan minta maaf untuk itu.”


Rahang Rendra mengeras, wajahnya memerah dan cengkraman tangannya pada Dita semakin kencang membuat Dita meringis menahan sakit di pergelangan tangannya.


“Hei woles Bro, lo enggak perlu bersikap kasar begitu sama cewek.” Tegur Bara yang dari tadi bersama Rendra dan melihat perselisihan antara temannya itu dan Dita.


“Lo enggak usah ikut campur urusan gue.” Sahut Rendra sengit.


“Sori Bro, bukannya gue mau ikut campur, tapi gue enggak bisa lihat cewek dikasari kaya gini. Dia udah minta maaf dan lo enggak perlu memperpanjang masalah ini.” Bara menepuk bahu Rendra.


“Sebaiknya lo lepasin dia, lo mau jadi pusat perhatian orang di sini? Lihat semua orang melihat kita.” Saran Bara berbisik sambil melihat sekeliling.


Rendra mengalihkan pandangan ke sekitarnya, memang banyak mata yang memandang mereka lalu dia menghempaskan kasar tangan Dita.


“Ingat, urusan kita belum selesai!!!” Ancam Rendra lirih di samping telinga Dita, dia lalu berjalan meninggalkan Dita dan Bara.


Dita menyentuh pergelangan tangannya yang tadi dicengkeram Rendra. “Ishhhh ...,” erangnya menahan sakit.


“Kamu tidak apa-apa? Sakit banget ya?” Tanya Bara khawatir pada Dita.


“Tidak apa-apa Kak, terima kasih.” Jawab Dita sambil tersenyum ramah.


“Maaf ya, Rendra tadi sudah kasar denganmu.” Ucap Bara lembut.


“Kakak tidak perlu minta maaf, saya sudah biasa melihat sikap kasarnya itu.” Balas Dita.


Bara menganggukkan kepalanya. “Apa gadis ini yang selalu membuat Rendra uring-uringan ya?”


“Oya, kenalkan aku Bara, teman sekelas Rendra.” Bara mengulurkan tangannya.


“Dita.” Dita membalas uluran tangan Bara untuk bersalaman, mereka saling tersenyum ramah.


“Kalau Rendra cari masalah lagi denganmu, kamu bisa mencariku.” Ucap Bara.


“Terima kasih Kak, tetapi sepertinya tidak perlu.”


“Jangan sungkan begitu, santai saja.”


“Terima kasih kak, tetapi maaf saya harus segera pergi karena sebentar lagi masuk ke kelas.” Pamit Dita sopan.


“Oh ya, baik, sampai ketemu lagi.” Bara menyunggingkan senyum manisnya.


Dita mengangguk dan membalas senyumnya, lalu dia bergegas ke musala karena waktu masuk ke kelas semakin pendek gara-gara insidennya dengan Rendra.


Bara memandang kepergian Dita sambil terus tersenyum.


“Menarik juga gadis itu, pantas saja Rendra terkesan dengannya.”


...※※※※※※※...

__ADS_1


Catatan:


UKM \= Unit Kegiatan Mahasiswa (seperti kegiatan ekstra kurikuler di SMP/SMA)


__ADS_2