
Seperti janjinya semalam, pagi itu Rendra menjemput Dita untuk berangkat kuliah bersama.
“Pakai jaket gih, dingin sekarang. Nanti mungkin pulang malam juga.” Perintah Rendra saat melihat Dita hanya memakai kemeja saja.
“Enggak apa-apa, sudah biasa kaya gini,” Dita tak menggubris ucapan Rendra.
“Dita, kita enggak akan berangkat kalau kamu enggak pakai jaket.” Kata Rendra dengan nada lembut tapi tegas.
Dita memutar bola matanya, mau tak mau dia harus menuruti Rendra daripada tidak jadi berangkat ke kampus. Dia kembali masuk ke dalam rumah untuk mengambil jaket.
“Dita kenapa masuk lagi Rend?” Tanya Mas Adi yang sedang memanaskan mobil di garasi.
“Ambil jaket Mas, udaranya dingin sekarang. Mungkin nanti kami juga pulang malam Mas, ada perlu di kafe.” Jawab Rendra.
“Tumben nurut si Dita disuruh pakai jaket, kalau enggak karena keinginan sendiri susah itu anak. Sudah ketemu pawangnya sih ya.”
Rendra tertawa mendengar ucapan Adi. Tak lama Dita keluar dari dalam rumah sudah memakai hoodie hitam andalannya.
“Aku yang kunci pintu atau Mas Adi?” Tanya Dita begitu sudah di depan rumah.
“Nanti Mas aja yang kunci, sudah sana berangkat.” Jawab Adi.
“Aku berangkat dulu Mas,” pamit Dita sambil mencium punggung tangan dan kedua pipi Adi yang dibalas Adi dengan mencium kening Dita.
“Ya, hati-hati Rend bawa motornya. Kalau jadi pulang malam kabari aja ya.” Ucap Adi.
“Siap Mas, assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
Rendra melajukan motornya pelan keluar dari cluster perumahan mereka.
“Eh ... kok ranselnya ditaruh depan, Mas?” Tanya Dita begitu dia sadar tidak ada ransel di punggung Rendra yang biasa dia pakai untuk pegangan.
“Ya sekarang kamu pegangan sama aku lah, masa pegangan ransel.” Jawab Rendra sambil tangan kirinya menarik tangan kiri Dita untuk memeluk pinggangnya.
“Malu Mas,” Dita mencoba menarik tangannya tapi ditahan Rendra.
“Kenapa malu? Kita kan sudah halal, yang belum halal saja enggak malu kok.” Ucap Rendra.
“Ya kan dilihat banyak orang,” Dita beralasan.
“Jadi kalau enggak dilihat banyak orang enggak malu nih?” pancing Rendra.
“Eh ... bukan begitu. Aku kan belum biasa kaya gini.”
“Makanya mulai hari ini dibiasakan ya, Istriku. Peluk pinggangku saat kita naik motor seperti ini.” Rendra menarik tangan kanan Dita untuk memeluk pinggangnya saat mereka berhenti di lampu merah.
Dita pun akhirnya mengikuti keinginan Rendra untuk memeluk pinggangnya. Dia merasa malu, dan canggung, belum lagi jantungnya berdetak kencang saat ini. Sepanjang jalan dia hanya diam kalau tidak diajak Rendra bicara.
Setelah sampai di kampus dan Rendra memarkirkan motornya, lalu mereka berdua berjalan beriringan masuk ke area kampus.
“Mau aku antar ke kelas?” Tawar Rendra.
“Enggak usah, belum jam masuk kelas juga.” Tolak Dita.
“Nanti kabari ya kalau sudah selesai, aku tunggu di kantin.”
“Iya,” Dita lalu mencium punggung tangan Rendra sebelum pergi, tetapi Rendra tak membalas dengan mencium kening Dita seperti biasa. Tidak mungkin dia melakukan hal itu di area kampus.
Rendra menatap Dita yang berjalan menjauhinya sampai tidak lagi terlihat di matanya.
Karena hari itu masih hari pertama masuk kuliah jadi dosen juga tidak mengisi sampai jam kuliah selesai, hanya memberikan kuliah pembuka, kisi-kisi dan buku apa saja yang jadi referensi.
Dita keluar kelas saat azan Zuhur berkumandang, dia lalu mengirim pesan pada Rendra kalau dia sudah selesai dan akan langsung ke musala untuk salat.
"Nyonya Rendra mau ke mana?" Tanya Bella saat Dita akan beranjak pergi.
"Apaan sih Bel, jangan panggil kaya gitu." Protes Dita tanpa menjawab Bella.
"Ya kan memang benar kamu sekarang istrinya Kak Rendra." Bella bersikukuh dengan pendapatnya.
__ADS_1
"Tapi kan ini di area kampus Bel, orang-orang juga enggak tahu. Panggil kaya biasa aja deh."
"Iya ... iya ... jadi mau ke mana habis ini?"
"Ke musala terus ke kantin, habis itu enggak tahu mau diajak ke mana." Terang Dita.
"Tadi kamu berangkat bareng Kak Rendra?"
"Iya."
"Uhhhh romantis ... kan aku jadi pengen berangkat dan pulang kuliah sama suami." Celoteh Bella.
"Udah ah, aku mau ke musala dulu. Kamu bareng enggak?"
"Bareng dong, kita pasti bakal jarang bareng Ta kalau kamu sama Kak Rendra terus."
"Ya enggak 24 jam juga kali aku bareng dia, enggak usah lebai deh."
"Tapi pasti jadi beda deh, sekarang izinnya ke Kak Rendra bukan Mas Adi lagi. Semoga Kak Rendra lebih longgar ya Ta kasih izinnya."
Dita tak menjawab hanya mengangkat bahunya.
Setelah dari musala mereka berdua pergi ke kantin, di sana ada Rendra, Bara dan Adelia yang terlihat sedang asyik bercanda.
"Sini," panggil Rendra saat melihat Dita dan Bella memasuki kantin
Dita dan Bella pun menghampiri meja Rendra.
"Dita, kenalkan ini Adelia, temanku. Adelia ini Dita, istriku." Kata Rendra saat Dita sudah di sampingnya.
Dita dan Adelia pun bersalaman, Adelia tampak mengerutkan keningnya melihat Dita. Seingatnya Dita itu didekati Bara tetapi kok malah jadi istrinya Rendra.
"Serius kalian sudah nikah?" Tanya Adelia tidak percaya.
"Iya kemarin, nikah secara agama, resminya habis lebaran." Jawab Rendra.
"Oh ya ini Bella, temannya Dita." Rendra mengenalkan Bella pada Adelia. Mereka pun lalu bersalaman.
"Ceritanya panjang Del, nanti aku ceritakan." Potong Bara yang melihat Dita seperti kurang nyaman mendengar pertanyaan Adelia.
"Kalian berdua ini selalu punya rahasia di belakangku," protes Adelia pada Rendra dan Bara.
"Sudah salat?" Tanya Rendra pada Dita.
Dita menganggukkan kepala.
"Ya udah pesan makan dulu gih sama Bella, setelah makan baru kita pulang."
Dita dan Bella lalu memesan makanan dan minuman setelah itu mereka bergabung dengan Rendra. Mereka berlima makan sambil mengobrol ringan.
Selesai makan, Rendra, Dita dan Bella pamit pulang dulu, sementara Bara dan Adelia masih mengobrol di kantin.
Setelah itu Rendra mengajak Dita pergi ke bank untuk membuat rekening baru atas nama Dita. Saat Dita bertanya untuk apa membuat rekening baru hanya dijawab Rendra kalau untuk dia tanpa menjelaskan lebih lanjut.
Rendra lalu mengajak Dita pergi ke kafe.
"Wah Mas Rendra, tumben bawa gandengan." Sapa Candra yang sedang masuk shift pertama.
"Bojoku iki, Mas (ini istriku, Mas)." Jelas Rendra.
"Bojo tenan opo yang e, Mas (istri beneran atau pacar, Mas)?"
"Bojo tenan yo (istri beneran)."
"Lah kok ora ngabari Mas, kapan rabine (kok enggak memberi tahu Mas, kapan nikahnya)?"
"Lagi wingi Mas, dadakan. Sesuk tak undang pas resepsi yo (baru kemarin Mas, mendadak. Besok aku undang saat resepsi)."
"Sip, kenalke to Mas bojone (istrinya dikenalkan Mas)."
"Dita, ini Mas Candra. Mas Candra, ini Dita." Rendra mengenalkan mereka lalu mereka pun berjabat tangan.
__ADS_1
"Wes ya Mas tak munggah disik. Mengko jam 4 janjian karo sek arep nyetori roti (sudah ya Mas, aku naik dulu. Nanti jam 4 ada janji sama yang mau setor roti)."
"Siap Mas."
Rendra lalu mengajak Dita naik ke ruangannya di atas. Rendra membuka pintu yang ada tulisan office.
"Ayo masuk sini, duduk dulu di sofa. Mau minum apa?"
"Belum haus, nanti saja." Dita melihat-lihat isi ruangan Rendra yang cukup rapi. Diam-diam dia mengagumi sosok suaminya itu.
"Sini duduk dulu, ada banyak yang harus kita bicarakan." Rendra menepuk sofa di sampingnya.
Dita lalu duduk di samping Rendra.
Setelah Dita duduk, Rendra mengeluarkan beberapa kartu ATM dari dompetnya.
"Karena kita sekarang sudah jadi suami istri, aku mau jelaskan keuanganku biar kamu tahu."
"Ini rekening untuk tabungan pribadi, yang ini untuk modal usaha atau investasi, yang ini operasional kafe, ini untuk gaji karyawan kafe, ini rekening gajiku dan semua fee yang aku dapat dari kerjaanku lainnya masuk ke sini, yang ini untuk pengeluaran pribadi bulananku. Nah yang baru dibuat tadi itu untuk nafkahku buat kamu."
"Kalau kamu mau, pegang yang rekening gajiku nanti kamu yang atur pengelolaannya." Rendra menyerahkan kartu ATM pada Dita.
"Enggak, Mas aja yang pegang. Aku nanti malah salah mengelola." Tolak Dita.
"Oke, tapi suatu saat kamu harus pegang ini, bukankah tugas istri salah satunya mengelola keuangan keluarga." Ujar Rendra.
"I ... iya tapi jangan sekarang."
"Ini untuk nafkah bulananku, mau cash atau transfer saja?" Rendra menyerahkan kartu ATM yang tadi baru dibuat rekeningnya.
"Tapi aku sudah dapat dari ayah dan Mas Adi. Ini enggak perlu."
"Kamu enggak mau menerima nafkah dari aku?" Tanya Rendra sambil menatapnya tajam.
"Enggak ... bukan begitu." Jawab Dita gugup.
"Kemarin aku sudah bicara sama ayah dan Mas Adi, mereka bersikeras mau membiayai kuliahmu sampai selesai, dan aku hanya berkewajiban memberi nafkah untuk keseharianmu saja. Sekarang kamu mau menolak nafkah dari aku? Lalu di mana tanggung jawab aku sebagai suami kalau begini?"
"Maaf, bukan maksudku menolak nafkah dari Mas Rendra. Karena kita belum menikah resmi, aku pikir ya masih seperti biasa." Dita menundukkan wajahnya merasa bersalah.
Rendra mengangkat dagu Dita agar tidak menunduk lagi.
"Dita, kita sudah sah menikah secara agama. Mulai kemarin kamu sudah jadi tanggung jawabku, bahkan kalau aku lalai mengingatkan kamu, aku pun ikut menanggung dosamu."
"Aku mohon mulai saat ini kalau kamu butuh apa-apa kamu ngomong sama aku, semampuku aku akan berusaha memenuhinya. Kalau Mas Adi atau ayah masih memberi uang, simpan saja untuk tabunganmu. Oke." Rendra memandang wajah Dita sambil mengusap pipinya.
Dita menganggukkan kepala. "Iya, aku minta maaf kalau sudah menyinggung perasaan Mas Rendra."
"Oke, sudah clear ya masalah nafkah ini?"
"Iya Mas."
"Mau cash atau transfer?" Tanya Rendra lagi.
"Cash secukupnya aja, sisanya ditransfer saja." Jawab Dita.
Rendra memberikan beberapa lembar uang berwarna merah pada Dita. "Segini kurang enggak cash-nya?"
"Sudah cukup, kalau kebanyakan nanti malah cepat habis buat jajan."
Rendra tersenyum lalu mengacak gemas rambut Dita. "Kalau habis ya aku kasih lagi lah."
"Eh ... jangan nanti aku jadi keenakan minta terus malah jadi enggak bisa mengelola uang."
"Istri siapa sih pinter gini." Rendra mencubit gemas pipi Dita.
"Sakit Mas." Protes Dita sambil melepaskan tangan Rendra dari pipinya.
Tangan Rendra memang lepas dari pipinya, tetapi malah jadi menggenggam tangan Dita.
"Ternyata nikmat ya pacaran halal begini, mau ngapain aja bebas." Rendra mencium tangan Dita sambil menatap matanya penuh cinta.
__ADS_1