Romansa Cinta Senior Junior

Romansa Cinta Senior Junior
70


__ADS_3

Sehari menjelang akad nikah, Dita menjalani perawatan pra nikah dari salon yang akan meriasnya besok. Mulai dari creambath, facial, scrub tubuh, lulur, manicure, pedicure bahkan ratus. Katanya biar besok manglingi (membuat pangling) saat akad nikah dan resepsi. Sebenarnya dia tidak meminta semua perawatan itu, tetapi ternyata bundanya yang meminta karena tahu putrinya itu jarang sekali mau melakukan perawatan di salon.


Hampir setengah hari dia melakukan perawatan hingga tidak sempat memegang gawai. Setelah perawatan pun dia asyik bercengkerama dengan saudara-saudaranya yang sudah mulai berdatangan di rumah Pak Wijaya. Dia baru bisa memegang dan mengecek gawainya saat hendak tidur di kamar.


Sewaktu masuk ke kamar, ternyata kamarnya sudah dihias layaknya kamar pengantin. Dengan nuansa hijau, warna kesukaannya, kamarnya jadi terlihat lebih segar dan cantik. Apalagi ditambah hiasan bunga-bunga di dinding atas ranjang dan headboard serta dua vas bunga tinggi di kedua sisi ranjang.


Dita merebahkan diri di atas ranjang sambil mengecek gawainya. Ada puluhan panggilan tidak terjawab dan pesan, dari siapa lagi kalau bukan dari Rendra. Saat akan mulai membuka pesan, tiba-tiba ada panggilan masuk dari Rendra, langsung saja Dita menerimanya.


"Ngapain aja sih seharian ditelepon enggak diangkat, dikirimi pesan enggak dibales?" Omel Rendra begitu Dita menerima teleponnya.


"Assalamu'alaikum, Mas." Salam Dita sambil menahan tawanya.


"Wa'alaikumsalam, kamu ke mana aja Sayang, susah banget dihubungi?"


"Aku di rumah seharian kok, Mas. Tadi dapat perawatan dari salon, terus ngobrol sama saudara-saudara yang datang."


"Memangnya enggak bisa pegang hp?"


"Enggak sopan lah Mas, masa ngobrol ditinggal main hp. Mas, apa kabarnya? Sudah makan belum?"


"Aku lagi sakit."


"Hah ... sakit apa Mas?" Dita seketika bangun dari posisinya.


"Malarindu tropikangen, Sayang."


"Astagfirullah Mas, jangan bercanda seperti itu. Jantungku hampir copot loh dengar Mas sakit."


"Aku serius, Sayang. Aku kangen banget. Kamu enggak kangen sama aku?"


"Ya, kangen Mas."


"Kita video call aja yuk."


"Eh ... jangan, kan kita enggak boleh ketemu sampai besok."


"Ini kan video call, kita enggak ketemu."


"Sama aja lah, kan bisa saling lihat kalau video call."


"Jahat ya kamu! Awas besok kalau ketemu, enggak bakal aku lepasin kamu."


Dita tertawa geli. "Udahan dulu ya Mas, udah malam. Mas tidur juga jangan begadang."


"Tuh kan istriku jahat. Aku masih kangen loh, baru juga ngobrol sebentar udah mau ditutup aja."


"Kita besok kan ketemu Mas, bisa ngobrol sepuasnya. Sudah ya Mas, assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


...---oOo---...


Jumat pagi sebelum akad nikah, diadakan pengajian di rumah Pak Wijaya. Mereka mengundang jemaah masjid, keluarga dan juga anak-anak yatim piatu dari panti asuhan sekitar.


Saat di acara pengajian, Dita melakukan sungkem pada kedua orang tuanya dan juga Adi. Dia meminta maaf pada mereka bertiga apabila selama ini sering berbuat salah serta memohon doa restu agar pernikahannya berkah.


Dita juga meminta izin dan keikhlasan Adi untuk dilangkahi menikah lebih dulu. Adi pun memberi izin dan ikhlas untuk dilangkahi. Dita berterima kasih dan mendoakan agar Adi segera menemukan jodohnya. Lalu Dita menyerahkan satu set alat salat untuk Adi sebagai pelangkah serta meminta kesediaan Adi untuk tetap membimbingnya dalam menjalani kehidupan.


Saat prosesi sungkeman dan langkahan itu, mereka tak kuasa menahan haru. Bahkan para jemaah pengajian juga ada yang ikut meneteskan air mata.

__ADS_1


Di rumah Ibu Dewi, pagi itu mereka juga menyelenggarakan pengajian sekaligus sungkeman dan langkahan, karena Rendra juga melangkahi Shasha. Rendra memberikan perhiasan dan satu set alat salat pada Shasha sebagai pelangkah.


...---oOo---...


Sekitar pukul 13.30 WIB, rombongan keluarga Rendra datang. Mereka menggunakan 5 mobil yang diparkir di pinggir jalan dekat rumah Pak Wijaya, karena halaman rumah sudah dipenuhi dengan tenda dan segala pernak pernik untuk acara akad nikah dan resepsi.


Rendra mengenakan jas koko putih dengan aksen bordir di bagian depan, senada dengan peci dan celana panjangnya. Rendra berjalan dengan digandeng mamanya dan juga Shasha. Sementara Nisa di belakangnya membawa mahar yang nanti akan diberikan pada Dita.


Mereka berjalan masuk melewati sebuah gerbang yang dihiasi dengan bleketepe (1) dan juga beberapa tanaman dan buah di samping kiri dan kanan gerbang. Para kerabat dan among tamu berdiri berjejer menyambut kedatangan mereka, dan mereka langsung dipersilakan duduk di mana acara akad nikah akan berlangsung.


Setelah petugas dari KUA datang, acara segera dimulai. Pembawa acara membuka acara dengan membaca basmalah diikuti dengan doa semoga acara akad nikah berjalan lancar hingga akhir. Kemudian acara dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an. Sesudah itu, penghulu memberikan khotbah nikah yang bertujuan sebagai pengingat serta pembekalan kedua pengantin akan pentingnya menjaga keutuhan rumah tangga. Khotbah nikah diawali dengan mengucapkan hamdalah, istigfar, serta syahadat. Lalu, diikuti oleh bacaan ayat-ayat Al-Qur’an, penyampaian hajat dan inti khutbah nikah.


Acara selanjutnya adalah ijab kabul. Meski Rendra sebelumnya pernah melakukannya, tetapi dia masih sedikit merasa gugup. Setelah penghulu menanyakan mahar yang akan dia berikan, Rendra duduk di depan Pak Wijaya. Dia bersiap untuk melafalkan surat Ar-Rahman.


“A’udzubillahi minasysyaithonir rojiim, bismi-llāhir-raḥmānir-raḥīmi, ar-raḥmān, 'allamal-qur`ān, khalaqal-insān, ....”


Rendra menghela napas lega setelah selesai melafalkan surat Ar-Rahman tanpa ada yang salah dan terlupa, karena dia melafalkannya tanpa membaca Al-Qur’an. Dita yang masih berada di ruang tamu dan mendengar suara merdu Rendra menjadi terharu sampai meneteskan air mata. Dia merasa bangga dan bahagia karena Rendra sudah memenuhi keinginannya.


Pak Wijaya lalu bersalaman dengan Rendra, siap memulai prosesi ijab kabul.


"Ananda Narendra Daneswara Bin Indra Jayanegara. Ayah nikahkan dan kawinkan engkau dengan anak kandung ayah yang bernama Anindita Kusuma dengan mas kawin logam mulia emas seberat 25 gram dan surat Ar-Rahman, dibayar tunai.”


“Saya terima nikah dan kawinnya Anindita Kusuma Binti Wijaya Kusuma dengan mas kawin tersebut, tunai.”


"Sah," ucap kedua saksi dan para hadirin.


"Alhamdulillah." Semua orang merasa lega dan bahagia semuanya berjalan lancar.


Pak Wijaya kemudian melafalkan doa yang di-aamiin-kan oleh semua orang.


بَارَكَ اللَّهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي الْخَيْرِ


Dita kemudian digandeng keluar Ibu Hasna dan Jingga, kakak sepupunya, ke tempat prosesi ijab kabul. Dita memakai gamis putih dengan aksen renda dan payet di tepinya, dilengkapi dengan kerudung panjang putih yang menjutai. Dita lalu duduk di samping Rendra untuk menandatangai buku nikah dan beberapa dokumen lainnya. Setelah selesai tanda tangan, Rendra membaca sighat taklik (2) yang terdapat di bagian belakang buku nikah.


Sesudah itu Dita dan Rendra berdiri berhadapan. Rendra memberikan mahar logam mulia emas yang sudah dibingkai dengan cantik pada Dita. Lalu Rendra memasangkan cincin di jari manis kanan Dita, begitu juga Dita memasangkan cincin di jari manis kanan Rendra. Kemudian Dita mencium punggung tangan suaminya yang dibalas Rendra memegang ubun-ubun Dita lalu dia kembali memanjatkan doa.


اللَّهُمَّ إنِّي أَسْأَلُك خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا جَبَلْتهَا عَلَيْهِ وَأَعُوذُ بِك مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا جَبَلْتهَا عَلَيْهِ


[Ya Allah, aku meminta kepada-Mu kebaikan istriku dan kebaikan apa yang dia munculkan pada pernikahan. Dan aku berlindung padamu dari keburukan istriku dan keburukan apa yang dia munculkan pada pernikahan. (Riwayat Imam Abu Dawud dan Ibnu Majah)]


Setelah berdoa, Rendra lalu mencium ubun-ubun dan kening Dita. “I miss you,” bisiknya yang sukses membuat pipi Dita merona.


Penghulu lalu menyerahkan buku nikah pada Dita dan Rendra. Setelah itu mereka berfoto bersama penghulu dan para saksi. Acara berikutnya yaitu mendengarkan nasihat pernikahan dari seorang uztad yang diundang oleh Pak Wijaya, sekaligus untuk mendoakan pernikahan Dita dan Rendra.


Acara kemudian ditutup dengan doa yang dipimpin oleh uztad.  Begitu acara akad nikah ditutup, semua yang hadir lalu memberikan selamat pada Rendra dan Dita sebelum mereka mulai menikmati hidangan yang sudah disediakan. Di saat semua hadirin menikmati hidangan, Rendra dan Dita melakukan sesi foto berdua.


“Kamu cantik banget sih, Sayang. Benar-benar manglingi.” Puji Rendra sembari memandang wajah Dita.


“Jadi biasanya aku enggak cantik nih?” Dita pura-pura cemberut.


“Cantik dong, masa bidadari surgaku enggak cantik. Tapi hari ini kamu tambah cantik banget. Enggak sabar ingin segera ngajak kamu masuk ke kamar.” Bisik Rendra di kalimat terakhir.


“Mas, ih.” Dita kembali merona sambil memukul dada Rendra karena mereka sedang berpose saling berhadapan.


“Aku kan sudah bilang enggak akan lepasin kamu malam ini, hummmm.”


Dita tidak menanggapi lagi godaan Rendra, karena semakin ditanggapi dia akan semakin frontal kata-katanya.


Walaupun acara akad nikah sudah selesai dan rombongan keluarga Rendra juga sudah pulang, mereka berdua tetap terlihat sibuk menemui tamu yang datang. Sudah menjadi tradisi di kampung, para tetangga dan tamu undangan yang tidak bisa datang saat resepsi, mereka akan datang sebelum acara resepsi. Jadi mereka pun mau tidak mau harus menemui para tamu.

__ADS_1


Mereka baru benar-benar bisa beristirahat sekitar pukul 10 malam. Setelah bersih-bersih dan berganti pakaian tidur, mereka masuk ke kamar. Rendra langsung mengunci pintu begitu mereka masuk. Dia mematikan lampu utama lalu menarik Dita, yang akan melepas hijab, hingga membuat mereka berdiri berhadapan.


Rendra menangkup wajah Dita, dia langsung mencium bibir manis istrinya untuk menyalurkan rasa rindu mereka. Dengan bibir saling bertautan mereka berjalan pelan mendekati ranjang Dita, yang dipenuhi dengan kelopak mawar membentuk hati yang besar.


Saat mereka mengambil napas, Rendra sekaligus melepas hijab Dita dan membuangnya ke sembarang tempat. Perlahan dia membaringkan Dita, dia tidak peduli dengan kelopak mawar di atas ranjang. Yang ada di pikirannya hanya menuntaskan rasa rindu pada istrinya.


Setelah puas menikmati bibir manis istrinya, Rendra mulai turun menelusuri dagu lalu leher Dita. Dia mengecup dengan lembut dan menggigit di beberapa tempat hingga membuat tanda yang membuat Dita mendesah pasrah.


Sembari menuntaskan ciuman di leher, tangannya mulai meraba da da Dita. Seolah tangannya punya mata, satu per satu kancing baju Dita terlepas hingga nampak keindahan di depan matanya. Dita berusaha menutup da danya dengan tangan karena dia merasa malu.


Rendra tersenyum. Dia kembali mencium bibir Dita lalu menarik kedua tangan istrinya hingga kedua tangan mereka saling bertaut di samping kepala Dita. Setelah Dita kembali terbuai, Rendra mulai menciumi tulang selangka istrinya lalu perlahan turun ke bawah. Satu tangan Rendra menelusup ke punggung Dita dan mulai melepas pengait penutup da danya.


Terimalah lagu ini dari orang biasa, tapi cintaku padamu luar biasa ...


Tiba-tiba gawai Rendra berdering. Dia lupa mematikan gawainya atau mengubahnya dalam mode diam. "Shit!!!" umpatnya dalam hati.


Semula dia tidak menghiraukannya, tetapi Dita memintanya untuk mengecek siapa yang menelepon karena terus berdering berulang kali. Rendra mengacak kasar rambutnya karena frustasi.


Rendra beranjak dari atas tubuh Dita lalu mencari gawainya. Rupanya Ibu Dewi yang menelepon, langsung saja dia menerimanya.


Ibu Dewi ingin memastikan pukul berapa beliau harus sampai di sana untuk dirias sebelum acara resepsi. Setelah mengobrol dengan mamanya beberapa saat, dia lalu mematikan gawainya agar tidak terganggu lagi.


Rendra kembali mendekati Dita, ternyata istrinya itu terlihat sudah tertidur pulas. Acara hari ini memang melelahkan, jadi sudah sewajarnya Dita merasa kecapekan. Rendra kembali mengacak kasar rambutnya sambil tersenyum miris. Tidak tega rasanya membangunkan Dita lagi. Dia lalu memasang lagi kancing baju tidur Dita dan menyelimuti tubuh istrinya. Akhirnya malam itu mereka hanya tidur dengan Rendra memeluk Dita.


...※※※※※...


Catatan:


(1)   Bleketepe : anyaman daun kelapa yang dipasang di depan rumah sebagai tanda pesta pernikahan.


(2)   Sighat taklik adalah perjanjian yang diucapkan mempelai pria setelah akad nikah yang tercantum dalam buku nikah berupa janji talak yang digantungkan kepada suatu keadaan tertentu yang mungkin terjadi di masa yang akan datang.


Isi sighat taklik :


Saya Fulan bin Fulan, berjanji dengan sesungguh hati bahwa saya akan mempergauli istri saya yang bernama Fulanah binti Fulan dengan baik (mu’asyarah bil ma’ruf) menurut ajaran Islam.


Kepada istri saya tersebut, saya menyatakan sighat taklik sebagai berikut :


Apabila saya :



Meninggalkan istri saya selama 2 (dua) tahun berturut-turut;


2. Tidak memberi nafkah wajib kepadanya 3 (tiga) bulan lamanya;


Menyakiti badan atau jasmani istri saya;


4. Membiarkan (tidak mempedulikan) istri saya selama 6 (enam) bulan atau lebih,



Dan karena perbuatan saya tersebut, istri saya tidak ridho dan mengajukan gugatan kepada Pengadilan Agama, maka apabila gugatannya diterima oleh Pengadilan tersebut kemudian istri saya membayar uang sebesar Rp. 10,000,- (sepuluh ribu rupiah) sebagai ‘iwadl (pengganti) kepada saya, maka jatuhlah talak saya satu kepadanya.


Kepada Pengadilan Agama saya memberikan kuasa untuk menerima uang ‘iwadl (pengganti) tersebut dan menyerahkannya kepada Badan Amil Zakat Nasional setempat untuk keperluan ibadah sosial.


Referensi: https://konsultasisyariah.com/26206-hukum-shighat-taklik-talak.html


Jogja, 100321 23.15

__ADS_1


__ADS_2