
Dita memejamkan matanya sepanjang perjalanan. Dia tidak berani melihat aksi Rendra yang mengebut di jalan, sambil terus berdoa dalam hati semoga bisa sampai di rumah dengan selamat. Niatnya ingin cepat sampai rumah tetapi malah membuatnya merasa menantang maut. Tiba-tiba motor yang dikendarai Rendra berhenti, tetapi dia belum berani membuka matanya karena pikirnya mereka sedang berhenti di lampu merah.
“Turun!” Perintah Rendra.
“Apa?” Dita tidak jelas mendengar ucapan Rendra.
“Kamu mau turun, apa di atas motor terus?” tanya Rendra ketus.
“Memangnya kita di mana?” tanya Dita balik, masih memejamkan matanya.
“Di depan rumah.”
“Hah ....” Dita mulai membuka matanya. “Alhamdulillah, akhirnya selamat sampai di rumah,” ucap syukur Dita.
Rendra tersenyum geli di balik helmnya, “lucu juga dia kalau lagi takut begini. Eh ... aku mikir apa sih.”
“Kamu enggak mau turun, masih betah di atas motor? Atau masih mau muter-muter belum puas bonceng aku?” Sindir Rendra.
‘”Eh ... iya. Eh ... enggak-enggak, aku turun.” Dita segera bersiap turun dari motor Rendra, dia kembali memegang punggung Rendra agar lebih mudah turun dari motor.
Setelah turun dari motor, Dita segera melepas helm dan menyerahkannya pada Rendra. “Makasih tumpangannya,” ucapnya.
“Lho ternyata Nak Dita yang dibonceng sama Rendra, mama kira Rendra bawa calon mantu siapa gitu. Habisnya enggak pernah memboncengkan gadis mana pun ke rumah.” Celetuk Ibu Dewi yang ternyata sedang ada di teras sedang merawat tanaman-tanamannya.
Dita spontan menoleh ke arah Ibu Dewi, tersenyum kikuk. “Assalamu’alaikum, sore Tante.” Dita menghampiri Ibu Dewi lalu mencium punggung tangannya.
“Wa’alaikumsalam, sore juga Nak Dita.” Ucap Ibu Dewi sambil mengusap lembut kepala Dita.
Sementara itu Rendra sudah memasukkan motornya ke garasi lalu masuk ke dalam rumah.
“Wah, tanamannya bagus-bagus ya, Tante. Kalau ketemu bunda pasti nyambung ini ngobrolnya soal tanaman.” Dita melihat-lihat berbagai tanaman yang ada di teras.
“Bundanya Dita juga suka tanaman?”
“Iya Tante, di rumah juga penuh tanaman, ada anggrek, aglonema, tanaman-tanaman hias gitu.”
“Kalau begitu besok kalau bundanya ke sini kasih tahu Tante ya, biar Tante ada teman ngobrol soal tanaman,” pinta Ibu Dewi antusias.
“Siap, Tante. Oya, sampe lupa keasyikan ngobrol. Saya pamit pulang dulu Tante, sudah sore, belum mandi hehe.”
“Iya, nanti makan malam ke sini ya, kebetulan tante masak banyak. Dita di rumah sendiri kan?”
“Enggak usah, Tante, malah ngerepotin. Terima kasih tawarannya.”
“Eh … enggak baik loh nolak rezeki. Nanti habis Magrib, Nisa jemput kamu ya.”
“Iya sudah, saya nurut Tante saja. Saya pulang dulu, assalamu’alaikum.” Dita kembali mencium punggung tangan Ibu Dewi.
“Wa’alaikumussalam.”
Dita berjalan pulang ke sebelah rumah Rendra. Setelah masuk ke dalam rumah, dia langsung menuju kamarnya. Dilemparnya ransel ke atas tempat tidur lalu menjatuhkan dirinya juga di sana. Dia merebahkan diri untuk sekedar menghilangkan lelahnya hingga azan Magrib berkumandang.
Setelah mandi dan melaksanakan salat Magrib, dia mendengar seseorang mengucap salam di depan rumah. Setelah menjawab salam dia bergegas ke depan untuk membuka pintu, ternyata Nisa yang berdiri di sana.
“Kak Dita sudah ditunggu sama mama di rumah,” kata Nisa dengan nada ceria.
“Tunggu sebentar ya, aku ambil hp dulu takut nanti Mas Adi telepon.” Dita masuk kembali ke kamar mengambil gawai yang belum sempat di-charge dan juga powerbank untuk mengisi daya gawainya.
Setelah mengunci pintu rumah, Dita pergi bersama Nisa ke rumahnya.
“Tadi katanya pulang bareng Kak Rendra ya, Kak?” tanya Nisa ingin tahu.
“Iya, maaf ya aku sambil nyalain hp-ku dulu, mau kirim WA ke Mas Adi, kalau enggak laporan dulu nanti dia khawatir,” ujar Dita sambil mengetik di gawainya.
__ADS_1
“Iya, enggak apa-apa Mbak eh Kak. Mmmmhhh, Nisa boleh enggak panggilnya Mbak saja bukan Kak?”
Dita menoleh pada Nisa. “Senyamannya kamu saja, Nis,” ujarnya sambil tersenyum.
“Assalamu’alaikum,” salam Dita dan Nisa saat masuk ke rumah.
“Wa’alaikumussalam, sini ... sini langsung ke meja makan saja.” Sahut Ibu Dewi yang sedang menata meja makan.
“Shasha, Rendra, ayo makan,” panggil Ibu Dewi.
“Sini Dita, duduk dekat Tante.”
“Iya, Tante.”
“Eh, ada tamu ternyata.” Celetuk seorang wanita muda dengan paras cantik dan rambut sebahu.
“Sasha, kenalkan ini Dita, tetangga sebelah rumah kita. Dita, ini Shasha, anak pertama Tante. Namanya Alesha tapi dipanggilnya Shasha .”
“Shasha.”
“Dita.”
Mereka berdua saling bersalaman dan tersenyum ramah.
Rendra yang baru saja bergabung di meja makan lalu duduk di samping Dita, karena hanya kursi itu yang kosong.
Ibu Dewi lalu mengambil piring Dita untuk mengambilkan nasi. “Tidak usah Tante biar saya sendiri.”
“Enggak apa-apa, tante sudah biasa begini sama anak-anak tante. Tante juga sudah menganggap Dita sebagai anak tante. Segini cukup? Atau kurang?” Ibu Dewi tetap mengambilkan Dita nasi.
“Sudah cukup, Tante. Terima kasih.”
Ibu Dewi lalu mengambilkan nasi untuk Nisa, Shasha dan juga Rendra, terakhir untuknya sendiri.
“Iya, Tante.” Dita bingung sendiri mau pilih apa karena ada banyak masakan. Biasanya dia hanya memasak satu macam lauk dan sayur saja karena hanya untuk dimakan berdua dengan Adi. Dia lalu memutuskan memilih ayam suwir bumbu kemangi dan capcai.
“Dita kuliah di mana?” tanya Shasha membuka pembicaraan.
“Arsitektur UGM, Mbak.” Jawab Dita.
“Satu fakultas dong sama Rendra. Semester berapa?”
“Iya, Mbak, baru masuk.”
“Mau langsung lanjut program profesi berarti.”
“Insya Allah, Mbak.”
“Kalian bisa bareng dong ke kampus,” Shasha melirik pada Rendra dan Dita.
“Tadi kan Kak Rendra pulangnya sama Mbak Dita, Kak.” Sahut Nisa.
“Wah ... wah ... kemajuan ini Rendra mau berboncengan sama cewek.” Celoteh Shasha dengan wajah takjub.
“Apaan sih, Kak,” Rendra melirik kesal pada Shasha.
“Kenyataan kan, sejak kamu pakai motor dari SMA mana pernah ada cewek yang bonceng kamu selain mama, kakak, dan juga Nisa. Bahkan Adelia saja tidak pernah.” Shasha memberi alasan.
“Betul kata Kak Shasha, iya kan, Ma?” celetuk Nisa tak mau kalah.
“Iya, makanya tadi mama kira Rendra bawa calon mantu yang mama enggak kenal.” Seloroh Ibu Dewi yang diikuti tawa Nisa dan Shasha, sementara Dita tersenyum canggung, dan Rendra hanya diam sambil tetap makan dengan wajah terlihat memerah entah karena marah atau malu.
“Tadi sebenarnya Mas Adi yang minta Ren, eh Mas Rendra boncengin saya, karena hp saya mati tidak bisa order ojol.” Terang Dita berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi agar tidak ada salah paham.
__ADS_1
“Mas Adi itu siapa?” tanya Shasha yang belum sempat berkenalan dengan Adi
“Kakak kandung saya, Mbak.” Jawab Dita.
“Jadi Mas Adi telepon Rendra gitu?” selidik Shasha.
“Iya, Mbak,” jawab Dita polos.
“Wah ... wah .... Ma, beneran deh calon mantu enggak jauh-jauh, restu udah di tangan Rendra.” Shasha kembali menggoda mereka, kejujuran Dita ternyata malah membuat dia dan Rendra menjadi bulan-bulanan Shasha.
“Seharusnya tadi kamu diam saja tidak perlu menjelaskan semuanya. Kak Shasha enggak akan berhenti menggoda sampai dia puas.” Kata Rendra pelan pada Dita. “Diam saja enggak usah ditanggapin,” lanjutnya.
“Wah, Ma, udah main bisik-bisikan tuh mereka,” goda Shasha lagi. Memang terlihat di wajah Shasha kalau dia puas menggoda mereka, terutama Rendra, adiknya yang tidak pernah terlihat dekat dengan cewek mana pun.
Muka Dita memerah karena malu, dia makan sambil menundukkan wajah.
“Shasha, sudah berhenti, kasihan Dita,” tegur Dewi pada Shasha yang masih berusaha menggoda mereka. “Dita, maafkan Shasha ya, dia memang suka usil begitu.”
“Iya, Tante,” Dita tersenyum kikuk.
Akhirnya mereka makan dengan tenang, sesekali juga tetap mengobrol tetapi sudah tidak menggoda Dita dan Rendra lagi. Selesai makan malam, Dita ikut membantu membereskan meja makan dan berniat mencuci piring, tetapi dilarang oleh Ibu Dewi.
“Itu sudah tugas Nisa, kamu duduk saja ngobrol sama Shasha,” jelas Ibu Dewi.
Terpaksa Dita menuruti Ibu Dewi lalu berbicara dengan Shasha di meja makan. Sebenarnya Shasha itu baik hanya memang dia suka usil, nyatanya mereka akhirnya bisa akrab bahkan saling bertukar nomor ponsel.
Keluarga Rendra sungguh keluarga yang hangat, mengingatkan Dita pada ayah dan bundanya, membuatnya rindu dan berjanji akan menghubungi mereka setelah pulang nanti. Kebersamaan dengan keluarga Rendra membuatnya bisa menghilangkan rasa sepi karena sering di rumah sendirian.
Pukul 08.00 malam, Dita pamit pulang karena dia harus mengerjakan tugas kuliah. Ibu Dewi meminta Rendra untuk mengantar Dita sampai depan pintu rumahnya. Dia sudah berusaha menolak karena jarak rumah yang amat sangat dekat jadi tidak perlu diantar. Namun, Ibu Dewi beralasan sudah malam dan tidak baik perempuan keluar di malam hari. Pada akhirnya dia hanya pasrah menuruti kemauan Ibu Dewi.
Dan di sinilah mereka sekarang di depan pintu rumahnya.
“Makasih sudah diantar,” ucapnya.
“Masuklah.” Rendra masih berdiri di depannya.
Dita mengernyit heran tidak mengerti kenapa Rendra belum beranjak pulang.
“Kamu masuk dulu, baru aku pulang.” Jelas Rendra menjawab kebingungan di wajah Dita.
“Oh.” Dita lalu memasang dan memutar kunci pintu, membuka pintunya kemudian masuk ke dalam rumah. “Terima kasih,” ucapnya sekali lagi.
“Jangan lupa kunci pintunya,” pesan Rendra, Dita menganggukkan kepala. Dia menutup pintu lalu menguncinya dari dalam.
Setelah terdengar Dita mengunci pintu, Rendra lalu beranjak pulang ke rumahnya.
...💕💕💕💕💕...
Assalamu'alaikum 🙏
Annyeong haseyo yeoreobun
Apa kabar semua? Semoga semuanya dalam keadaan sehat ya ... aamiin.
Tak terasa 2020 segera berlalu, pasti banyak peristiwa yang terjadi di tahun ini baik suka maupun duka. Di tahun ini kita pun sama-sama berjuang melawan pandemi yang telah membuat segalanya berubah drastis.
Mari kita sambut 2021 dengan lebih optimis, banyak berpikir positif dan buang pikiran/aura negatif. Tetap jaga kesehatan, bahagia dan selalu bersyukur atas semuanya. Semoga pandemi ini segera berakhir.
Terima kasih untuk para pembaca baik yang baru atau yang sudah mendukung dari awal cerita ini. Kalian penyemangat saya untuk terus menulis. Saya sangat menantikan kritik dan sarannya agar tulisan saya bisa lebih baik lagi. Silakan sampaikan lewat komentar, PM atau pun lewat IG @kokoro.no.tomo.82, saya tunggu 🤗
Jangan lupa tetap bahagia, jaga kesehatan, dan terapkan 4M (Memakai masker, Menjaga Jarak, Mencuci Tangan, Minum vitamin).
Wassalamu'alaikum
__ADS_1
Kokoro no tomo (Ayaka Kirei)