
“Ta, aku mau ngomong sama kamu.” Bella menarik tangan Dita yang sedang duduk dan berbicara dengan Baim.
“Eh ... ada apa ini, Bel?” Tanya Dita yang kaget karena tindakan Bella. Dia menoleh pada Baim bertanya melalui matanya apa yang terjadi, tetapi Baim hanya menjawab dengan mengangkat bahunya. Dita akhirnya pasrah saja ditarik Bella ke salah satu bangku di luar kelas.
Begitu sampai di bangku yang dituju, Bella segera duduk, Dita pun lalu ikut duduk di samping sahabatnya itu.
“Ta, aku mau kamu jujur.” Kata Bella sambil menatap mata Dita.
“Ju ... jujur soal apa ya?” Tanya Dita bingung.
“Sebenarnya kamu ada hubungan apa sama Kak Rendra?” Tanya Bella tanpa basa basi.
Dita terkejut dengan pertanyaan Bella. “Mak ... maksudmu apa, Bel?” Dita mengerutkan keningnya.
“Apa pertanyaanku masih kurang jelas?” Tanya Bella lagi dengan ekspresi dingin.
“Aku ... aku enggak ada hubungan apa-apa sama dia, Bel.” Jawab Dita gugup.
“Kalau tidak ada hubungan apa-apa bagaimana kalian bisa pulang bersama?” Selidik Bella.
“Kamu melihat kami pulang bareng?” Dita balik bertanya.
“Iya, kemarin aku lihat kalian sempat berdebat, terus kamu ikut Kak Rendra ke tempat parkir. Dan aku lihat sendiri kamu berboncengan dengan Kak Rendra.”
“Ah ... itu kemarin. Iya aku pulang bareng dia. Demi Allah aku enggak ada hubungan apa-apa sama dia, Bel.”
“Apa cewek yang dulu Kak Rendra boncengkan itu juga kamu?”
“Iya, Bel,” jawab Dita sambil menundukkan kepala, merasa bersalah pada Bella.
“Aku enggak nyangka ya Ta, ternyata kamu nusuk aku dari belakang.” Sindir Bella.
“Bel, please dengarkan penjelasanku. Ini semua salah paham. Ini tidak seperti apa yang kamu pikirkan. Tolong jangan potong omonganku sampai aku selesai menjelaskan semuanya.” Dita memohon pada Bella.
“Sebenarnya aku dan dia bertetangga. Aku juga baru tahu saat syukuran rumah Mas Adi beberapa waktu yang lalu. Maaf kalau aku tidak cerita sama kamu karena menurutku itu bukan hal yang penting. Kamu tahu sendiri bagaimana kami kalau bertemu saat itu.”
__ADS_1
“Sepulang dari Gelex waktu itu aku enggak sengaja ketemu dia waktu aku makan bareng Mas Adi. Mereka bertukar nomor hp di sana, dan mungkin mulai saling menghubungi, aku sendiri tidak tahu.”
“Waktu aku ketemu Kak Bara, baterai hp-ku habis. Mas Adi yang panik karena tidak bisa meneleponku menghubunginya lalu dia mencari aku. Akhirnya Mas Adi minta aku bareng dia karena aku tidak bisa order ojol. Kamu tahu sendiri kan kalau perintah Mas Adi tidak boleh dilanggar.”
“Lalu kemarin itu dia nawarin pulang bareng karena rumah kami searah, aku udah nolak tapi dia tetap memaksa.”
“Aku sudah ceritakan semuanya Bel, aku harap kamu bisa menerimanya dengan kepala dingin. Aku minta maaf kalau sudah mengecewakan dan mungkin menyakiti kamu.” Dita menghela napas lega setelah menceritakan semuanya pada Bella.
Bella mengembuskan napas panjang setelah mendengar semua penjelasan Dita.
“Maaf ya Ta, aku sudah salah paham sama kamu.” Dia lalu memeluk erat Dita, akhirnya mereka saling berpelukan beberapa saat.
“Jadi, sekarang kamu sudah ‘berteman’ sama Kak Rendra?” Tanya Bella saat mereka saling melepas pelukan.
“Dibilang berteman enggak juga, cuma Mas Adi minta aku enggak boleh benci sama dia. Jadi ya aku berusaha bersikap biasa saja.” Jawab Dita.
“Mas Adi tahu kamu sering ribut sama Kak Rendra?”
Dita menganggukkan kepala. “Kan aku selalu cerita apa pun sama Mas Adi.”
“Oh ya Bel, kapan itu dia minta aku nyampein ke kamu agar jangan mengejar dia lagi karena katanya percuma hanya buang-buang waktumu saja.” Ucap Dita hati-hati.
Dita merangkul bahu Bella memberikan dukungan. “Suatu saat kamu pasti bisa menemukan cinta sejatimu Bel, jangan menyerah.”
Bella tersenyum pada Dita, "makasih ya."
Dita menganggukkan kepalanya dan membalas senyum Bella.
"Ta, kalau kamu sama Kak Rendra, aku dukung kok. Aku udah ikhlas lepas Kak Rendra apalagi sama kamu." Ucap Bella tiba-tiba.
Dita menoleh ke arah Bella. "Aku kan udah bilang Bel, tidak ada apa-apa di antara kami."
"Tapi aku bisa lihat kalau Kak Rendra itu care sama kamu, sama kaya Kak Bara cuma cara mereka memberikan perhatiannya itu beda."
"Sok tahu kamu." Seloroh Dita.
__ADS_1
"Ta, aku tuh lihat pakai mataku sendiri gimana perhatiannya Kak Rendra sama kamu. Enggak pernah ada cerita dia care sama cewek-cewek di sini. Bahkan cewek-cewek yang mendekati dia langsung dijutekin kaya aku dulu. Kami enggak pernah terlihat di mata Kak Rendra. Beda sama kamu."
"Jangan lebai deh, Bel." Protes Dita.
"Kamu ini emang suka enggak percaya deh." Celutuk Bella kesal.
Dita tergelak melihat ekspresi Bella yang mengerucutkan bibirnya.
"Kamu udah enggak patah hati kan, Bel?" Tanya Dita berubah serius.
Bella menggelengkan kepala. "Sejak kejadian di kantin itu, aku memutuskan untuk melupakan Kak Rendra. Ya kalau rasa sedih dan kecewa pasti ada, tapi aku nikmati saja sebagai proses hidupku menjadi lebih dewasa."
Dita tersenyum lebar mendengar jawaban Bella. "Kamu memang sudah lebih dewasa sekarang, Bel. Aku bangga sama kamu."
"Kalau kamu memang ada rasa sama Kak Rendra jujur saja Ta, enggak usah ditahan atau ditutupi karena kamu merasa enggak enak sama aku. Aku benar-benar sudah ikhlas sekarang." Bella menatap mata Dita.
"Siapa juga yang punya rasa sama dia." Sahut Dita.
"Tapi aku bisa lihat Ta, kalau kamu merasa lebih nyaman sama Kak Rendra daripada Kak Bara."
"Sejujurnya memang aku lebih nyaman sama dia, karena mungkin aku lebih dulu tahu dia dan fakta kalau kami bertetangga membuat kami lebih dekat." Dita menghela napasnya.
"Kalau boleh jujur aku agak takut dengan Kak Bara, entahlah rasanya kaya aku dikejar-kejar terus membuat aku ingin terus menghindar. Tetapi aku enggak bisa juga terus menghindari dia," lanjutnya.
"Kamu itu beruntung loh Ta, ada dua cowok high quality yang mendekatimu."
Dita tersenyum mengejek, "ngaco kamu."
"Pegang ya Ta kata-kataku ini, camkan baik-baik. Kak Rendra itu suka sama kamu."
Dita menggelengkan kepalanya berulang kali sembari tersenyum mengejek.
"Aku enggak bisa bayangin Ta, gimana ya persahabatan mereka nanti? Mereka berdua suka sama kamu pasti akan ada persaingan di antara mereka." Gumam Bella sambil menerawang.
"Omonganmu makin ngelantur, Bel. Kita ke kelas aja yuk." Dita mengulurkan tangan pada Bella.
__ADS_1
"Kebiasaan deh selalu menghindar dari kenyataan." Protes Bella, meski begitu dia menyambut uluran tangan Dita.
Lalu mereka bergandengan tangan menuju ke ruang kuliah untuk mengikuti mata kuliah berikutnya.