
"Gimana kalau kita mengerjakan tugas di rumahmu, Dit?" Usul Baim saat mereka berjalan pulang sore itu.
"Duh, gimana ya. Aku di rumah lebih sering sendiri, Mas Adi sering lembur. Selain enggak baik kalau kita hanya di rumah berdua, aku juga enggak enak sama tetangga." Tolak Dita dengan memberikan alasan yang logis.
"Tapi kan kita cuma mengerjakan tugas Dit, enggak ngapa-ngapain."
Dita menggelengkan kepalanya. "Enggak bisa Im, meski kita hanya mengerjakan tugas tapi setan itu bisa datang kapan saja."
"Terus kita mau mengerjakan di mana?" Tanya Baim pasrah.
"Ya di sini aja. Atau kamu ada usul di mana asal jangan di tempatku kecuali kalau Mas Adi ada di rumah."
"Ya udah kalau kamu maunya kita mengerjakan di sini. Tapi kamu enggak apa-apa kalau pulangnya sampai sore terus?"
"Enggak apa-apa, aku bisa minta izin sama Mas Adi kalau pulang telat."
"Okelah kalau begitu."
"Dita!!!" Teriak seseorang di belakang mereka.
Seketika Dita dan Baim menoleh ke asal suara. Dita melihat Rendra yang berlari kecil ke arahnya.
"Kamu baru mau pulang?" Tanya Rendra begitu berdiri di depan Dita.
"Iya, tadi ada diskusi kelompok." Jawab Dita.
"Dita, aku duluan ya." Pamit Baim yang tiba-tiba merasa terabaikan karena kehadiran Rendra.
"Oh iya, hati-hati." Sahut Dita sambil melambaikan tangan pada Baim.
"Aku pulang dulu." Pamit Dita pada Rendra tak lama kemudian.
"Pulangnya bareng aku aja, sebentar lagi gelap." Ajak Rendra.
"Enggak usah, aku naik ojol aja." Tolak Dita.
"Apa perlu aku telepon Mas Adi?" Tanya Rendra sambil mengerling ke arah Dita.
Dita memutar bola matanya kesal, selalu Mas Adi yang jadi senjata pamungkas. "Iya ... iya, aku bareng kamu."
Rendra tersenyum lebar, akhirnya dia bisa bertemu dan bersama Dita setelah beberapa hari tidak melihatnya. "Ayo ke tempat parkir."
Mereka lalu berjalan beriringan ke tempat Rendra memarkirkan motornya.
"Kamu sering banget bareng sama temanmu tadi." Ucap Rendra saat mereka berjalan menuju tempat parkir.
"Siapa? Baim?" Tanya Dita memastikan.
"Iya, oh namanya Baim."
"Karena kami satu kelompok jadi aku sering bareng dia. Kenapa?"
"Enggak apa-apa, cuma ingin tahu saja." Rendra mengusap tengkuknya untuk menutupi kegugupannya.
"Apa memang cuma berdua saja?" Selidik Rendra.
"Enggak sih, ada 2 orang lagi tapi aku kan lebih akrab sama Baim jadi aku lebih sering bareng dia." Jelas Dita.
"Udah mulai banyak ya tugasnya?"
"Lumayanlah."
"Oh ya ... kamu sudah telepon Mas Adi belum?" Rendra mengingatkan.
"Ya Allah, aku lupa." Dita buru-buru mencari gawainya.
"Biar aku saja yang telepon Mas Adi." Rendra segera mencari kontak Adi lalu menekan tombol panggilan.
"Assalamu'alaikum, ada apa Rend?" Sapa Adi yang menerima panggilannya setelah deringan ke empat.
"Wa'alaikumsalam, ini Dita pulang bareng sama aku, Mas."
__ADS_1
"Loh ... Dita baru pulang? Kok enggak ngabarin aku?"
"Kayanya lupa, Mas. Ini aku kasih teleponnya ke Dita ya, Mas." Rendra menyerahkan gawainya pada Dita.
"Mas, maaf aku lupa ngabarin tadi keasyikan diskusi kelompok."
"Ya sudah enggak apa-apa, besok jangan diulangi ya, Dek."
"Iya, Mas."
"Adek nanti pulangnya mampir cari makan sekalian ya sama Rendra biar pulang bisa langsung istirahat."
"Iya, Mas."
"Kasih hp-nya lagi ke Rendra, mas mau ngomong sama dia."
Dita mengembalikan gawai Rendra.
"Gimana, Mas?"
"Nanti tolong tanya ke Dita ya mau makan apa, biar dia pulang nanti enggak harus nyari makan lagi dan bisa langsung istirahat."
"Siap, Mas. Ini nanti mampir Maskam (Masjid Kampus UGM) dulu salat Magrib, setelah itu baru makan."
"Oke, titip Dita ya, makasih Rend. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam." Rendra lalu memasukkan gawainya ke saku dalam jaketnya.
Mereka akhirnya sampai di samping motor Rendra. Suasana tempat parkir sudah sepi dan hanya beberapa motor yang masih di sana.
"Pakai ini dulu." Rendra memasangkan helm ke kepala Dita lalu mengancingkan pengait helmnya.
Perlakuan Rendra itu seketika membuat Dita membeku. Apa dia tidak sedang bermimpi mendapat perlakuan manis seperti tadi. Dia menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Kamu kenapa?" Tanya Rendra yang heran dengan tingkah Dita.
"Eh ... enggak apa-apa." Jawab Dita salah tingkah.
Dita lalu naik ke atas motor Rendra. "Sudah."
Rendra melihat posisi Dita melalui kaca spion setelah itu dia mulai melajukan motornya keluar dari fakultas teknik.
"Kita salat Magrib di Maskam dulu." Kata Rendra begitu menyusuri Jalan Kesehatan di depan RSUP Dr. Sardjito.
Dita hanya menganggukan kepala.
Rendra mengendarai motornya ke arah selatan melewati kompleks perumahan Dosen UGM, sampai ke jalan Dr. Sardjito dia mengarahkan motornya ke arah timur menuju perempatan Mirota Kampus, setelah itu ke arah Bundaran UGM. Dari Bundaran ke arah utara menyusuri Jalan Pancasila sampai di depan Grha Sabha Pramana lalu ke timur menyusuri Jalan Bhinneka Tunggal Ika, tak lama sampailah mereka di kompleks Masjid Kampus UGM.
Rendra memarkirkan motor di halaman barat Maskam. Dita lalu turun dari motor begitu Rendra mematikan mesin motornya. Setelah itu Rendra menyusul turun dari atas motor.
"Sudah pernah ke sini?" Tanya Rendra.
"Iya." Jawab Dita pendek.
"Kita ikut berjemaah ya, azan sebentar lagi masih bisa ikut salat berjemaah sama imam masjid. Jemaah wanita di lantai atas, tapi kalau di bawah enggak penuh bisa ikut salat di bawah. Nanti aku tunggu di sebelah sana." Rendra menunjuk ke salah satu sudut Maskam saat mereka memasuki area masjid.
Dita menganggukkan kepala lalu dia masuk ke tempat wudu wanita. Selesai wudu dia menuju ke masjid lalu naik ke lantai 2 karena di bawah terlihat cukup banyak orang.
Selesai salat dan berdoa, Dita bergegas ke bawah. Dia bisa melihat sosok Rendra yang sudah menunggunya di tempat yang tadi mereka janjikan. Dita lalu menghampiri Rendra yang sudah memasang senyum manisnya. "Dia ternyata terlihat tampan dengan rambut basah bekas air wudu, eh ... aku mikir apa sih."
"Kita makan dulu ya, kamu mau makan sama apa?" Tanya Rendra begitu mereka berjalan ke luar area masjid.
"Terserah aja, yang penting enak dan bikin kenyang." Seloroh Dita.
"Kamu bisa bercanda juga ya ternyata." Gumam Rendra seraya melirik ke arah Dita.
"Apa?" Tanya Dita karena tidak mendengar jelas ucapan Rendra tadi.
"Kamu mau hotplate enggak?" Tanya Rendra mengalihkan pembicaraan.
"Boleh, aku belum pernah." Jawab Dita antusias.
__ADS_1
"Mas Adi belum mengajak kamu wisata kuliner ya."
"Mas Adi kan sering lembur, hanya sesekali saja kami makan di luar."
Rendra lalu melajukan motornya ke arah Jalan Gejayan (Jalan Affandi) begitu Dita sudah naik ke atas motornya. Dia memutar balik arah di depan Universitas Sanata Dharma lalu belok kiri ke arah Jalan Mozes Gatotkaca. Rendra lalu menghentikan motornya di sebuah kedai spesial hotplate seafood dan chinese food.
"Mau makan di sini?" Tanya Rendra begitu mereka berhenti di depan kedai.
"Mau, kayanya enak banget dari aromanya." Jawab Dita.
Mereka lalu turun dari atas motor. Bangunan kedai itu sederhana dengan banyak meja panjang dan tempat duduk. Meski begitu kedai itu tak pernah sepi pengunjung. Apalagi saat jam makan sering kehabisan tempat duduk hingga harus mengantri. Sementara itu pengunjung bisa memilih duduk di dalam atau di luar kedai.
"Mau duduk di mana? Di dalam atau di luar?" Tawar Rendra.
"Di luar saja biar enggak banyak asap rokok." Jawab Dita.
"Kamu pilih aja duduk di mana, aku ambil menunya dulu ke dalam." Rendra lalu masuk ke dalam kedai mengambil buku menu.
Setelah itu Rendra menuju ke meja yang dipilih Dita, dia menyerahkan buku menu pada Dita.
"Aku ikut aja."
"Minumnya apa?"
"Jeruk panas aja."
"Aku pesan hotplate komplit ya, isinya daging sapi, ayam sama seafood, sama capcai goreng, gimana?"
"Oke."
Rendra lalu menulis menu yang mereka pesan kemudian menyerahkan pada pelayan kedai.
"Kamu sering ya ke sini?" Tanya Dita.
"Enggak sering juga, cuma beberapa kali sama anak-anak." Jawab Rendra.
Dita menganggukan kepalanya.
Tak lama pelayan mengantar minuman dan nasi ke meja mereka serta membawa tatakan sebagai alas hotplate. Karena belum terlalu ramai jadi pesanan mereka cepat disajikan. Begitu hotplate diletakkan di atas tatakan langsung mengeluarkan asap yang mengepul dengan aroma menggoda.
"Kamu ambil dulu," perintah Rendra.
"Jangan, kamu dulu aja," tolak Dita.
"Ladies first." Rendra mengulurkan tangan kanannya meminta Dita mengambil dahulu.
Akhirnya Dita memegang sendok di atas hotplate. "Auwww," pekiknya lalu melepas sendok karena sendoknya terasa panas.
"Maaf aku lupa memberi tahu kalau sendoknya agak panas, sini piringnya aku ambilkan."
"Aku enggak habis nasi segini." Ucap Dita.
"Ya sudah taruh ke piringku nasinya." Rendra menyodorkan piring nasinya.
"Maaf ya jadi menghabiskan nasiku." Dita mengurangi jumlah nasi di piringnya dan memindahkan ke piring Rendra.
"Enggak apa-apa, mubazir juga kalau dibuang. Di luar sana banyak yang tidak bisa makan, setidaknya kita menghargai nasi kita agar tidak terbuang sia-sia." Ujar Rendra.
"Segini dagingnya?" Tanya Rendra sambil memindahkan daging dari atas hotlplate ke piring Dita.
"Sudah cukup, masih ada capcai nanti aku malah tidak habis kalau kebanyakan."
Rendra lalu mengambil daging dan capcai untuk dirinya sendiri.
Setelah berdoa, mereka mulai makan.
"Mmmmhhhh ... enak banget. Aku harus mengajak ayah dan bunda ke sini nih." Ucap Dita dengan wajah berbinar.
"Kalau aku ajak ke sini lagi mau?" Tanya Rendra.
"Mau."
__ADS_1