Romansa Cinta Senior Junior

Romansa Cinta Senior Junior
111


__ADS_3

Perkuliahan semester genap sudah dimulai. Dita masuk kuliah setiap hari dari Senin sampai Jumat, sedangkan Rendra hanya dua hari. Meski begitu, setiap hari Rendra selalu mengantar dan menjemput Dita kuliah di sela kesibukannya mengerjakan skripsi.


Hubungan Dita dan Adelia pun semakin dekat. Setiap hari mereka selalu berkirim pesan. Dita juga selalu mengajak Adelia mengikuti acara kajian di musala teknik. Setiap akhir pekan Adelia juga selalu datang menemui Dita untuk belajar mengaji lagi. Ya, meskipun dulu dia pernah belajar, kalau tidak pernah dilakukan pasti akan lupa.


Bagaimana Adi dan Adelia? Biasa saja, mereka hanya mengobrol saat bertemu, itu pun lebih sering membahas tentang skripsi atau kuliah. Kadang Dita gemas sendiri melihat kakaknya yang tak punya inisiatif untuk lebih dekat dengan Adelia. Setiap kali dia bertanya pada Adi kenapa masih tidak bergerak, pasti jawabannya, 'nanti kalau jodoh juga bersatu, Dek.'


Sabtu ini, Adelia kembali datang ke rumah Adi. Dia janji bertemu dengan Dita. Kebetulan pagi ini mereka hanya berdua saja karena Adi dan Rendra sedang ada urusan bersama di luar.


"Alhamdulillah bacaan Kak Adel sudah lebih lancar. Dirutinkan ya Kak, biar bisa lebih lancar lagi," puji Dita setelah Adelia selesai membaca buku iqra.


"Alhamdulillah. Insya Allah setiap habis Subuh atau Magrib, aku usahakan membaca." Adelia menutup buku iqra di depannya.


Dita tersenyum sambil menganggukkan kepala. "Insya Allah tidak lama lagi, Kak Adel sudah bisa lancar membaca Al-Qur'an, asal tetap istikamah belajar dan membacanya."


Bukannya Adelia belum bisa membaca huruf hijaiyah (aksara bahasa arab), dia bisa karena dulu pernah belajar saat masih kecil. Tetapi, Dita ingin mengoreksi makhrojul huruf (tempat keluarnya huruf saat membaca Al-Qur'an atau huruf hijaiyah) dan juga tajwidnya. Karena Adelia masih terbata-bata dan belum memahami cara membaca Al-Qur'an yang benar. Untuk itulah Adelia kembali belajar membaca Al-Qur'an dengan buku iqra sambil belajar makhrojul huruf dan tajwid.


"Dita, apa aku harus memakai hijab juga?" tanya Adelia sambil menatap istri sahabatnya itu usai memasukan buku iqra ke dalam tasnya.


"Kewajiban kita sebagai wanita muslim memang memakai hijab, Kak. Tapi, aku sendiri tidak berani mengharuskan Kak Adel memakainya. Karena aku sendiri pun belum ada setahun memakai hijab. Dulu ayah atau pun Mas Adi sama sekali tidak memaksaku untuk berhijab karena mereka ingin aku memakai atas kesadaranku sendiri. Takutnya kalau dipaksa malah enggak bisa istikamah, buka dan lepas hijab seenak hati."


"Mas Rendra juga tidak pernah memaksa, meski dia sangat ingin aku berhijab. Cara Mas Rendra menyadarkan aku secara pelan-pelan. Alhamdulillah, Allah memberiku hidayah di bulan ramadan kemarin. Di awal, aku juga tetap memakai celana jin dan kemeja, jadi masih memperlihatkan lekuk tubuh. Baru setelah hamil mulai memakai gamis, dan sampai sekarang aku lebih nyaman memakainya." Dita tersenyum pada Adelia.


"Kalau Kak Adel ingin memakai hijab, itu lebih baik. Aku hanya bisa berdoa semoga Kak Adel istikamah memakai hijab." Dita menggenggam tangan Adelia.


"Aku juga ingin punya suami yang saleh seperti suamimu. Karena itu aku ingin memantaskan diri dengan belajar agama dan berhijab. Tapi, apa aku masih pantas mendapat suami saleh?"


"Kenapa tidak pantas?" Dita mengernyit.


"Aku dulu pezina dan pendosa, Dita."


"Bukankah Kak Adel sudah melakukan taubatan nasuha?"


Adelia menganggukan kepala. "Sudah."


"Lalu apalagi yang Kak Adel khawatirkan?"

__ADS_1


"Apa tobatku diterima? Apa Allah akan mengampuni semua dosa dan kesalahanku di masa lalu?"


"Allah Maha Pengampun, Kak. Insya Allah, tobat Kak Adel diterima, asalkan tobat dengan sungguh-sungguh dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Yang penting sekarang, Kak Adel kembali menjalani kewajiban sebagai seorang muslim. Menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Jangan lupa juga terus berdoa dan memohon ampunan-Nya."


"Aamiin. Terima kasih, Dita."


"Memangnya Kak Adel sudah siap untuk menikah kalau ada yang datang melamar?" pancing Dita.


"Aku kan memang sudah siap menikah, Dita.Tetapi karena kami tidak berjodoh akhirnya tidak jadi menikah." Wajah Adelia berubah menjadi sendu.


"Menurut Kak Adel, Mas Adi bagaimana?" tanya Dita penuh antusias.


"Maksudnya apa ya? Aku enggak ngerti."


"Mas Adi di mata Kak Adel itu sosok pria yang bagaimana?"


"Oh ... itu. Mas Adi baik, tipe penyayang keluarga sepertinya, suka membantu, sopan dan insya Allah pria yang saleh."


"Kalau nih ya, Kak. Kalau seumpama Kak Adel dilamar Mas Adi apa mau?"


"Bukannya tadi Kak Adel bilang ingin memantaskan diri biar dapat suami yang saleh?"


"Eh ... itu ... itu." Adelia bingung menjawab pertanyaan Dita.


Dita terkekeh melihat Adelia.


"Kenapa tertawa?" tanya Adelia.


"Habis Kak Adel lucu sih. Katanya mau memantaskan diri tetapi aku tanya malah bingung sendiri." Dita masih tertawa geli.


"Aku ... aku enggak pernah kepikiran aja menjadi istri Mas Adi. Di mataku dia sosok yang sempurna, berbeda sama aku yang penuh kekurangan. Membayangkannya saja tidak berani, apalagi memikirkannya."


"Manusia tidak ada yang sempurna, Kak. Di balik kelebihan pasti ada kekurangan, begitu juga sebaliknya. Mungkin saat ini Allah masih menutup aib Mas Adi, jadi Kak Adel belum melihatnya. Mas Rendra pun bukan orang yang sempurna, meski dia suami dan pria yang saleh." Dita menerawang membayangkan suaminya.


"Kak Adel tidak boleh minder, apalagi berkecil hati. Bukankah Allah selalu memberikan kelebihan di balik kekurangan? Suami istri itu bukan dua orang sempurna yang hidup bersama. Mereka saling melengkapi kekurangan dan kelebihan pasangannya, karena itu membuat hidup seolah menjadi sempurna. Jadi, nanti seumpama ada pria baik yang melamar Kak Adel, jangan lupa untuk salat Istikharah. Selalu libatkan Allah dalam mengambil setiap keputusan." Dita menyunggingkan senyumnya.

__ADS_1


"Apa kamu dulu juga Istikharah sebelum menerima Rendra?"


"Tentu saja, Kak. Kami berdua sama-sama salat Istikharah. Mas Rendra sih yang awalnya meminta aku untuk salat Istikharah. Waktu Mas Rendra menyatakan perasaannya saja aku bingung, Kak. Sama sekali tidak ada pendekatan seperti pria lain, kaya Kak Bara gitu. Tiba-tiba langsung main tembak saja." Dita tertawa kecil.


"Pantas saja, setahuku soalnya Bara yang melakukan pendekatan sama kamu. Ternyata diam-diam Rendra malah langsung to the point."


"Makanya Kak, waktu itu aku kaget banget. Tapi sebenarnya kalau dipikir lagi, cara pendekatan Mas Rendra itu halus sih enggak kelihatan kaya Kak Bara. Ada perhatian kecil di balik sikapnya yang sering menjengkelkan. Terus juga memanfaatkan Mas Adi."


"Kok bisa memanfaatkan Mas Adi?"


"Karena pria yang boleh boncengin aku selain driver ojol ya cuma Mas Rendra. Pokoknya kalau pergi ada Mas Rendra, pasti dikasih izin sama Mas Adi. Kakak belum tahu sih gimana protektifnya Mas Adi dulu. Sekarang aku sudah punya suami saja masih protektif. Nanti kalau Kakak jadi istrinya juga bakalan tahu dan merasakannya."


"Eh ... kenapa jadi melantur aku jadi istrinya Mas Adi," protes Adelia.


"Memangnya Kak Adel enggak mau jadi istri Mas Adi?"


"Bu ... bukan begitu, Dita. Siapa juga yang mau menolak kalau punya suami seperti Mas Adi. Tapi itu kan hanya dalam hayalan saja. Lagian juga tadi bahas kamu sama Rendra malah melipir bahas yang lain."


"Kalau seumpama jadi nyata gimana, Kak Adel?"


"Aku aamiin-kan saja lah. Aku pasrah nanti siapa pun jodohku. Yang jelas aku selalu berdoa diberikan suami saleh yang bisa menerimaku apa adanya, bisa membimbing dan membawaku masuk surga."


"Aamiin. Insya Allah doa Kak Adel didengar dan dikabulkan oleh Allah."


"Aamiin."


...---oOo---...


Jogja, 050521 23.50


Masih soal Adelia ya yang berusaha hijrah, yang menanti keuwuan Rendra dan Dita mohon bersabar. Katanya mau Mas Adi dapat jodoh juga šŸ˜‚šŸ˜‚šŸ˜‚.


Mohon maaf baru sempat up karena ada kewajiban di real life yang harus diutamakan. Ini kalau ada yang nunggu up, kalau enggak ada ya enggak apa-apa šŸ‘‰šŸ‘ˆ.


Maturnuwun, terima kasih yang masih setia mengikuti kisah receh ini. Kalau ada kritik dan saran boleh via komentar, PC atau DM di instagram @kokoro.no.tomo.82 šŸ™šŸ¤—.

__ADS_1


__ADS_2