
"Bro, gue dengar Mas Adi mau taaruf sama Adel. Apa benar?" tanya Bara pada Rendra.
"Iya, benar. Adel cerita ya sama Lo?"
"Iya. Pas kalian habis nonton penampilan band gue. Tiba-tiba Lo ngabarin kalau langsung pulang enggak nunggu gue. Malamnya gue telepon Adel begitu sampai kos."
"Ya memang pas itu Mas Adi bilangnya sama Adel. Akhirnya Dita ngajak cabut cari tempat buat ngobrol. Dia sewot karena aku sama kakaknya enggak bisa cari tempat yang romantis." Rendra tersenyum geli mengingat reaksi Dita malam itu.
"Ah iya. Lo waktu itu nembak dia di alkid ya."
"Iya, spontanitas itu. Gue sama sekali enggak punya rencana nembak dia." Rendra menggelengkan kepala sambil tersenyum.
"Untung aja Lo diterima, Bro."
"Tapi gue juga lama nunggu jawabannya, Bro. Ada tuh sebulanan ketir-ketir tiap hari nunggu jawaban. Akhirnya gue kencengin aja doa di sepertiga malam. Alhamdulillah enggak lama Dita kasih jawaban."
"Berarti penantian Lo enggak sia-sia. Tapi memang Dita udah jodoh Lo sih, Bro."
"Alhamdulillah, cinta pertama gue, bisa jadi istri gue." Rendra kembali tersenyum lebar.
"Sekarang, giliran Mas Adi yang ketir-ketir menunggu jawaban Adel. Tiap hari tanya sama Dita, apa Adel udah kasih jawaban. Dita sampai kesal dan marah-marah sama Mas Adi."
"Kenapa harus tanya ke Dita?" tanya Bara penasaran.
"Karena Mas Adi yang bilang sendiri sama Adel kalau jawabannya lewat Dita. Jadilah Dita setiap saat ditanya sama Mas Adi," jawab Rendra sambil terkekeh.
"Memangnya Adel sama sekali belum ngasih jawaban atau clue gitu?"
"Belum. Mas Adi kan pakai mode yang dulu gue pakai. Sama sekali enggak ada kontak selama proses Istikharah. Gue cuma bisa kasih semangat dan doa aja buat Mas Adi."
"Menunggu jawaban itu emang paling enggak enak banget. Apalagi menunggu kepastian," gumam Bara.
"Benar, Bro. Masih mending ya kalau langsung ditolak jadi jelas. Mau sepasrah apa pun kita kalau menunggu jawaban, tetap saja rasanya gelisah. Meski di depan orang kita bisa berpura-pura biasa saja."
"Iya." Bara menganggukkan kepalanya.
"Lo sendiri gimana, Bro? Sudah menemukan bidadari surga, Lo?" Rendra menepuk bahu sahabatnya itu.
Bara menggeleng sambil tersenyum hampa. "Belum. Lagian gue juga belum terburu-buru ingin menikah. Fokus gue sekarang menyelesaikan kuliah. Gue juga sudah harus menentukan masa depan, mau terus di band dengan pemasukan yang enggak pasti atau kerja kantoran yang setiap bulan pasti dapat gaji."
"Papa masih belum setuju ya Lo main band?"
"Kalau cuma buat hobi atau senang-senang, papa enggak masalah. Cuma kalau untuk masa depan, papa tetap enggak setuju. Kecuali dalam waktu dekat band gue tiba-tiba jadi hit dan terkenal, mungkin papa bisa mempertimbangkan itu."
"Alasan papa kenapa?" Rendra mengernyit.
"Seniman itu kalau di Indonesia sini enggak bisa menjamin masa depan. Banyak seniman yang hidupnya sampai kekurangan apalagi di usia tua. Kalau enggak punya pekerjaan lain bakal susah nantinya. Dan, gue belum bisa membuktikan ke papa kalau gue bisa hidup dari ngeband."
"Gue ngerti sih apa yang papa khawatirkan. Kenapa enggak coba Lo kerjakan saja dua-duanya," saran Rendra.
"Apa mungkin gue bisa?" ragu Bara.
"Kenapa enggak bisa? Nyatanya Lo bisa bagi waktu antara kuliah sama main band."
"Tapi kuliah dan kerja kan beda Bro tanggung jawabnya. Gue enggak bisa seenak hati masuk kerja. Enggak mungkin juga gue sering izin kerja." Bara mendesah.
"Ya, setidaknya Lo ada gambaran gimana bagi waktunya. Setidaknya tiap weekend kan Lo bisa tetap manggung, Bro."
"Masalahnya enggak semudah itu, Bro. Mama juga ingin aku balik tinggal di Jakarta." Bara kembali mendesah sambil mengacak rambutnya.
"Sabar, Bro. Enggak ada salahnya juga kalau Lo salat Istikharah, minta petunjuk jalan mana yang baik buat Lo. Istikharah kan enggak cuma untuk jodoh saja." Rendra merangkul bahu sahabatnya saat memberi saran.
"Makasih, Bro. Enggak salah memang gue pilih Lo jadi sahabat. Lo selalu ajak gue kembali ke Allah."
__ADS_1
"Sama-sama, Bro." Rendra tersenyum pada Bara.
"Assalamu'alaikum. Asyik banget ngobrolnya sampai enggak sadar sekitar." Dita menghampiri suaminya dan juga Bara di kantin fakultas teknik.
Hari ini Rendra ada jadwal kuliah, begitu pun Bara. Jadi dia menunggu Dita sambil ngobrol dengan Bara di kantin. Sejak KKN, mereka memang jarang bertemu kecuali ada kuliah bersama atau janji bertemu.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," balas Rendra dan Bara bersamaan.
"Sudah selesai, Sayang?"
"Sudah, Mas." Dita mencium punggung tangan Rendra sebelum menjawab suaminya.
"Kak Rendra, Kak Bara, apa kabar?" sapa Bella yang datang bersama Dita.
"Alhamdulillah, baik," jawab Rendra.
"Aku juga baik," sahut Bara kemudian.
"Gimana skripsinya Kak Rendra dan Kak Bara?" tanya Bella.
"Alhamdulillah, aku udah mau masuk bab 4," kata Rendra.
"Aku baru mau bab 3," jawab Bara sambil meringis.
"Semangat skripsinya ya, Kak." Bella mengangkat tangan kanannya yang terkepal.
"Makasih," sahut Bara.
"Adel enggak ke kampus, Sayang?" tanya Rendra pada Dita.
"Enggak, Mas. Kak Adel enggak ada jadwal hari ini. Kan biasanya juga enggak datang," jawab Dita.
"Ya, siapa tahu janjian sama kamu, Sayang," kata Rendra sambil mengusap kepala Dita yang tertutup hijab.
"Kenapa? Mas, disuruh tanya sama Mas Adi ya?" Dita memicingkan matanya pada Rendra.
"Terus, kenapa tanya-tanya Kak Adel?" Dita masih belum percaya.
"Memang enggak boleh ya tanya soal Adel. Bagaimanapun dia juga temanku, Sayang. Sekarang kan, kamu yang lebih dekat sama dia dari pada aku atau Bara."
"Benar bukan Mas Adi yang menyuruh?"
"Demi Allah, bukan, Sayang." Rendra mengangkat tangan dengan jari membentuk huruf V.
"Bro, Dita kalau marah seram juga ya," bisik Bara di telinga Rendra.
Rendra tidak menjawab, hanya tersenyum canggung.
"Kenapa bisik-bisik, Kak Bara?" tanya Dita pada Bara.
"Mati gue," batin Bara.
"Engg ... anu ... aku tanya apa Adel sudah memberi jawaban untuk Mas Adi," jawab Bara gagap. Dia sampai berulang kali mengusap tengkuknya karena gugup.
"Benar, Mas?" Dita beralih menatap suaminya.
"Eh ... iya, Sayang." Terpaksa Rendra berbohong pada Dita.
Meski tidak yakin dengan jawaban kedua pria di depannya, Dita akhirnya menjawab pertanyaan Bara. "Kak Adel belum memberi jawaban untuk Mas Adi. Kan tidak secepat itu juga dapat petunjuknya."
"Sudah berapa lama Istikharah-nya, Ta?" tanya Bella.
"Hampir dua minggu," jawab Dita.
__ADS_1
"Lama juga ya," gumam Bella.
"Karena ini perkara serius, Bel. Kita enggak bisa sembarangan. Hati harus dalam keadaan netral agar bisa tahu petunjuk yang Allah berikan. Tidak hanya sekedar hawa nafsu karena kita suka pada sesuatu," terang Dita.
"Harus begitu ya, Ta?"
"Iya. Kalau kita sudah condong pada sesuatu kita sudah melibatkan hawa nafsu, sudah enggak netral lagi. Kan kita juga harus ikhlas seandainya sesuatu yang kita inginkan ternyata bukan yang terbaik menurut Allah."
"Maksudnya gimana, Ta?"
"Misal nih ya, kamu dan Kak Bara sama-sama saling cinta. Terus kalian mau serius nikah, akhirnya kalian berdua Istikharah. Ternyata setelah Istikharah hubungan kalian bukannya semakin baik tapi malah semakin jauh. Nah berarti kan kalian tidak berjodoh meski saling cinta."
"Karena kalau sudah dapat petunjuk dari Istikharah itu kayanya semua bakal dimudahkan. Yang awalnya rasanya biasa jadi luar biasa. Yang dulunya jauh jadi lebih dekat. Kita jadi lebih enjoy jalani semuanya. Itu sih dari pengalamanku dulu. Makanya juga enggak gampang memutuskan untuk menerima," jelas Dita panjang lebar.
"Jadi dengan Istikharah kita juga harus siap kehilangan ya, Ta?"
Dita mengangguk. "Iya."
"Sayang, enggak pesan minum?" Rendra menatap istrinya.
"Enggak, Mas. Kita pulang aja ya, aku capek. Bella nanti juga masuk kerja, kasihan kalau enggak istirahat dulu."
"Enggak apa-apa lagi kalau mau ngobrol di sini dulu, Ta."
"Enggak, Bel. Serius, badanku rasaku capek, pegal semua."
"Mau spa?" tawar Rendra.
Dita menggeleng. "Pulang aja, Mas. Aku mau tidur."
"Ya udah, kalau begitu. Bro, gue pulang dulu." Rendra melakukan salam khas dengan Bara.
"Oke, hati-hati di jalan. Selamat istirahat, Dita, semoga bugar lagi setelah tidur," kata Bara.
"Makasih, Kak. Maaf kami pulang dulu," pamit Dita.
"Aku bareng sekalian sampai ke parkiran ya, Ta."
"Oke."
"Kak Bara, duluan ya," pamit Bella pada Bara.
"Ya, aku masih ingin di sini. Hati-hati di jalan, Bel," pesan Bara.
"Terima kasih, Kak."
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
"Mau aku gendong sampai ke parkiran, Sayang? Pasti kamu capek karena kita lembur semalam ya," bisik Rendra pada Dita dengan nada menggoda.
Dita tidak menjawab tetapi wajahnya jadi memerah. Dia mempercepat langkahnya dan menggandeng Bella sampai ke tempat parkir.
Rendra tersenyum gemas melihat istrinya. Rasanya tidak sabar ingin segera sampai di rumah.
...---oOo---...
Jogja, 160521 23.40
Karena Adi dan Adelia masih Istikharah, balik ke Rendra dan Dita dulu ya āļøš
Teman-teman boleh dibantu vote di IG story saya @kokoro.no.tomo.82 tentang kelanjutan cerita ini š
__ADS_1
Kalau cerita ini tamat di bab 120-an lalu dilanjut ke season 2 setuju atau tidak? Agar tidak terlalu banyak babnya.
Jangan lupa jempol like-nya ya Kak setelah membaca. Terima kasih šš¤