
Setelah bulan madu, Rendra dan Dita disibukkan lagi dengan kegiatan perkuliahan. Mereka mengikuti Ujian Akhir Semester Genap. Seperti biasa bila waktu ujian mereka bersamaan, mereka akan berangkat ke kampus bersama. Bila Rendra jadwal ujiannya siang, dan Dita pagi, dia akan mengantar Dita ke kampus. Tetapi bila jadwal ujian Rendra pagi dan Dita siang, maka Dita akan naik ojol ke kampus.
Selesai Ujian Akhir Semester, mereka libur kuliah selama satu bulan. Selama liburan, mereka lebih banyak menghabiskan waktu di kafe, kadang juga menginap di rumah Pak Wijaya. Dita mulai belajar cara meracik kopi. Dia juga diminta Rendra untuk membuat desain baru kafe yang akan menggabungkan konsep bakery dan kafe.
Karena sedang libur kuliah, saudara sepupu Rendra yang tinggal di Jakarta ada yang main ke Jogja dan menginap di rumah Ibu Dewi. Olivia, namanya, dia seumuran dengan Dita.
Semenjak datang di rumah Ibu Dewi, Olivia selalu bersikap manja pada Rendra. Dia bahkan selalu ingin ikut ke mana pun Rendra pergi. Meski Rendra kadang tidak begitu menanggapi tingkah sepupunya itu, tetapi sepertinya Olivia tidak pernah menyerah.
Semula Dita tidak mempermasalahkan hal itu, tetapi lama-lama dia pun menjadi gerah dengan sikap manja Olivia. Beberapa kali bahkan Ibu Dewi sempat menegur Olivia yang selalu ingin berdekatan dengan Rendra. Ibu Dewi bahkan minta maaf pada Dita karena merasa tidak enak hati. Selama ini dia berusaha menahan diri agar tidak meluapkan emosi pada Olivia maupun Rendra karena menghormati mertuanya.
Kekesalan Dita memuncak saat melihat Olivia berbaring di atas ranjang kamar. Dia yang baru saja turun dari menjemur baju dan masuk ke kamar terkejut melihat keberadaan Olivia di kamarnya.
“Kenapa kamu bisa ada di sini?” Tanya Dita dengan wajah yang tak bersahabat.
“Aku nunggu Kak Rendra mandi,” jawab Olivia tanpa rasa bersalah. Dengan cueknya dia tetap berbaring sambil memainkan gawainya.
“Kamu kan bisa nunggu di luar.”
“Aku dulu biasa kok nunggu Kak Rendra mandi sambil berbaring di sini.”
“Itu kan dulu, sekarang Mas Rendra sudah punya istri. Harusnya kamu tidak boleh lagi berbuat seenak hati. Apalagi memasuki kamar kami.”
Olivia mulai terusik. Dia bangun dari posisinya kemudian duduk di atas ranjang.
“Kamu jangan sok ya mentang-mentang jadi istri Kak Rendra. Bagaimanapun aku lebih dulu kenal Kak Rendra dari pada kamu. Kak Rendra saja tidak pernah melarang aku masuk ke kamarnya.”
“Aku enggak peduli kamu lebih kenal dan dekat dulu dengan Mas Rendra. Sekarang aku minta dengan baik-baik, kamu keluar dari kamar kami.” Dita mencoba menahan dirinya.
“Kamu ngusir aku?” Tanya Olivia dengan nada tinggi.
“Aku memintamu keluar dengan baik, bukan mengusir.”
“Sama saja, intinya kamu enggak mau kan aku ada di kamar ini.”
Dita menganggukkan kepalanya.
“Ada apa ini ribut-ribut?” Tanya Rendra yang baru keluar dari kamar mandi.
Dita menghela napas lega karena Rendra keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap tidak hanya berbalut handuk di pinggang.
“Kak Dita ngusir aku dari kamar Kak, padahal aku cuma menunggu Kak Rendra mandi saja. Aku enggak ngapa-ngapain.” Adu Olivia.
Rendra menatap Dita meminta penjelasan, tetapi Dita hanya menatapnya datar. Rendra masih tidak mengerti apa yang terjadi, tetapi melihat raut wajah Dita sepertinya bukan sesuatu yang sepele.
“Aku sekarang sudah selesai mandi. Oliv, sebaiknya kamu keluar.” Kata Rendra pada Olivia.
Olivia tampak kesal, dia menghentakkan kakinya. “Kak Rendra enggak asyik sekarang.” Dia lalu keluar dari kamar dengan muka cemberut.
Kini hanya tinggal Rendra dan Dita di dalam kamar. Rendra berjalan mendekati Dita.
“Sayang, ada apa sebenarnya?” Tanya Rendra lembut sambil mengelus pipi Dita.
“Apa Olivia dari dulu sering tiduran di sini?” Dita balik bertanya tanpa menjawab suaminya.
“Enggak sering juga, mungkin dua atau tiga kali. Kenapa?” Rendra mengerutkan kening.
“Kalian tidur seranjang?” tanya Dita lagi sambil memicingkan matanya.
“Enggak lah, seingatku dia nungguin aku gambar. Aku duduk di meja kerja, dia di atas tempat tidur. Kenapa? Kamu cemburu ya, Sayang?”
“Bukan masalah aku cemburu, tapi aku enggak suka dia masuk ke kamar kita.”
__ADS_1
“Nanti akan aku bilang sama Olivia biar dia enggak sembarangan masuk lagi ke sini.” Ujar Rendra.
“Mas tahu enggak sih kalau sepupu itu bukan mahram, kalian halal untuk menikah.”
“Terus, hubungannya apa?” Rendra menatap Dita tak mengerti.
“Kalian tidak boleh berduaan di dalam kamar.”
“Ya Allah. Kami enggak ngapa-ngapain di kamar, Sayang.”
“Tapi ada pihak ketiga, yaitu setan. Entah dia menggoda Mas atau Olivia.”
“Sayang, jangan berpikiran yang aneh-aneh. Aku dan Olivia murni bersaudara, aku sudah menganggap dia adikku, seperti Nisa.” Rendra menangkup wajah Dita.
“Tapi, apa Olivia menganggap Mas seperti kakaknya?” tanya Dita sembari menatap mata Rendra.
“Mmmhhh ... ya mungkin. Pastinya dia menganggap aku kakaknya,” jawab Rendra tak yakin.
“Mas sadar enggak sih, dari awal dia datang ke rumah berusaha dekat terus sama Mas. Sepertinya dia juga enggak mengganggap aku ada.”
“Sayang, buang pikiran negatifmu. Sejak kecil memang kami sudah dekat.”
“Tapi, Mas tuh sekarang sudah punya istri. Sudah seharusnya bisa menjaga jarak dengan perempuan lain meski dia masih saudara.”
“Oke, mulai saat ini aku akan jaga jarak sama Olivia.” Rendra mengangkat kedua tangannya.
“Kita damai, ya.” Rendra tersenyum sambil menyodorkan jari kelingkingnya, Dita mengangguk lalu mengaitkan jari kelingking mereka.
Rendra memeluk Dita dan mengecup pucuk kepalanya. “Sayang, aku itu cinta banget sama kamu. Cuma kamu yang bisa membuat jantungku berdebar enggak karuan. Jadi, jangan pernah meragukan aku.”
“Aku percaya sama Mas, tapi aku enggak percaya sama Olivia.” Sahut Dita sambil mengeratkan pelukannya.
“Nanti kita bicara baik-baik sama dia, ya.” Rendra mengelus kepala Dita.
“Kenapa dilepas, Sayang? Tadi pagi kan baru diganti.”
“Aku enggak mau tidur di bekas tidurnya Olivia.” Sahut Dita sambil terus melepas seprei.
“Enggak usah berlebihan seperti itu juga, Sayang.”
“Aku enggak berlebihan. Ya sudah kalau Mas enggak bolehin aku ganti seprei, aku tidur di Mas Adi.” Dita menghentikan kegiatannya melepas seprei.
“Kok jadi gini sih, tadi kan kita sudah baikan.”
“Mas, yang mulai lagi. Mas, bilang aku berlebihan.”
“Gimana enggak berlebihan. Masa cuma buat tiduran Olivia saja terus mau ganti seprai sih, Sayang.”
“Apa Mas enggak sadar, kalau Mas juga sering bersikap berlebihan?”
“Kapan?” Rendra mengernyit.
“Dulu itu soal Mas Reza.”
“Kenapa jadi bawa-bawa dia? Aku enggak suka ya kamu ngomongin dia apalagi menyebut namanya.” Rendra mulai terpancing emosinya.
“Kan Mas tanya, aku jawab. Salahku di mana?”
“Kamu menyebut namanya. Aku sudah bilang jangan pernah menyebut namanya lagi.”
“Nah, kan. Apa sikap Mas ini enggak berlebihan? Lebih berlebihan siapa aku atau Mas?”
__ADS_1
Rendra mengacak rambutnya kesal. “Ya sudah, ganti saja sepreinya,” ucapnya frustasi.
“Mas saja yang ganti, aku sudah malas. Aku mau tidur di Mas Adi.” Dita memakai hijab dan kunci rumah Adi.
“Anindita Kusuma, sebagai suamimu, aku melarangmu keluar dari kamar ini, apalagi dari rumah ini.” Tegas Rendra.
Dita membalikkan badan menghadap Rendra. “Maaf, Mas. Aku mau menenangkan diri. Sepertinya kita harus introspeksi diri masing-masing. Assalamu’alaikum.” Dita melangkah menuju pintu kemudian ke luar kamar.
“Ma, aku mau ke Mas Adi dulu. Assalamu’alaikum.” Pamit Dita pada Ibu Dewi yang sedang nonton TV di ruang tengah.
“Wa’alaikumsalam warahmatullah,” balas Ibu Dewi dengan mengerutkan kening. Sepertinya telah terjadi sesuatu antara Rendra dan Dita, karena raut muka Dita tak seperti biasanya.
Sementara di dalam kamar, Rendra mengumpat beberapa kali setelah Dita keluar dari kamar. Dia menarik seprei yang tadi mau dilepas Dita dan membuangnya sembarangan. Lalu dia duduk di atas kasur sambil mengurut keningnya. Mencoba mencerna lagi apa yang terjadi sore ini, pertengkaran besar mereka yang pertama.
Tok ... tok ....
“Ren, boleh mama masuk?” Suara Ibu Dewi membuyarkan lamunannya.
“Masuk saja, Ma.” Sahut Rendra tanpa beranjak dari posisinya.
Ibu Dewi membuka pintu kamar Rendra lalu masuk ke dalam. Dia terkejut melihat seprei yang tergeletak asal di lantai. Sepertinya benar memang ada sesuatu yang terjadi dengan anak dan menantunya. Dia memungut seprai itu lalu mendekati Rendra.
“Dita tadi pamit ke sebelah.” Ibu Dewi duduk di sebelah Rendra.
“Iya, Ma. Dia mau menenangkan diri.” Sahut Rendra pelan.
"Ada apa? Apa boleh mama tahu apa yang terjadi?" Tanya Ibu Dewi dengan lembut.
"Dita marah karena Olivia tiduran di sini," jawab Rendra.
Ibu Dewi terkesiap, dia tidak menduga kejadian seperti ini. "Terus, apa kamu membela Olivia?"
"Enggak, Ma. Tentu saja aku lebih percaya Dita. Tadi kami sudah baikan, terus bertengkar lagi gara-gara seprei." Rendra menundukkan kepala.
"Kok bisa?"
Rendra lalu menceritakan semuanya pada mamanya.
"Mama mengerti apa yang Dita rasakan. Mama sudah berulang kali menegur Olivia tetapi dia tetap ngeyel. Kalau mama tahu dia tadi mau masuk ke sini, pasti akan mama larang. Mama sudah menduga, hal seperti ini cepat atau lambat pasti terjadi."
"Dita sudah cukup bersabar sama sikap Olivia, Ren. Mama malah yang tidak enak hati sama dia. Nanti mama akan bicara sama Tante Vina biar menyuruh Olivia pulang. Mama enggak mau kamu dan Dita bertengkar karena dia." Ibu Dewi menggenggam tangan Rendra.
"Nanti kita bicara sama Olivia. Setelah itu kamu susul Dita. Segera selesaikan masalah kalian. Jangan sampai menyimpan amarah saat tidur. Dan, mungkin sebaiknya kalian tinggal dulu di sana sampai Olivia pulang." Nasihat Ibu Dewi.
"Iya, Ma. Makasih ya, Ma." Rendra mencium tangan mamanya.
"Mama itu sayang banget sama Dita, jadi kamu harus berhasil bujuk dia."
"Jadi Mama lebih sayang Dita dibanding Rendra?"
"Mama sangat sayang kalian berdua." Ibu Dewi menyunggingkan senyumnya.
"Aku juga sayang banget sama Mama. Terima kasih Ma untuk semuanya." Rendra memeluk erat mamanya.
Ibu Dewi mengelus punggung Rendra. "Sudah, siap-siap sana sebentar lagi azan Magrib. Nanti setelah Magrib kita bicara sama Olivia."
"Iya, Ma." Rendra melepaskan pelukannya.
"Ini seprei mau dicuci?" Ibu Dewi mengangkat seprei yang tadi dia dipungut.
"Iya. Masukkan saja ke keranjang kotor, Ma."
__ADS_1
"Oke." Ibu Dewi bangkit dari duduknya. Dia memasukkan seprai ke dalam keranjang kotor di dekat kamar mandi.
Jogja, 180321 23.45