
Mereka menikmati sop kambing sambil sesekali berbicara, kecuali Dita tentu saja yang lebih banyak diam. Adi dan Rendra bicara tentang kuliah dan proyek yang dikerjakan Adi, yeah sesama anak teknik sipil pasti nyambung lah obrolan mereka.
Setelah makanan dan minuman mereka habis, Adi mengajak untuk pulang.
“Duluan saja Mas, aku masih nunggu pesanan mama yang dibawa pulang.”
“Oke, ayo Dek pulang.” Adi beranjak dari duduknya.
Dita pun ikut berdiri, tetapi karena sedikit kehilangan keseimbangan dia terhuyung ke samping membuat Rendra refleks berdiri dan menangkap pinggangnya. Sepersekian detik mereka saling terpaku tetapi Dita segera sadar.
“Ma ... kasih,” ucap Dita sembari menegakkan tubuhnya. “Tolong dilepas tangannya.”
“Eh ... iya maaf. Hati-hati.” Rendra segera melepaskan tangannya dari pinggang Dita, dia berusaha meredakan rasa gugup dan debaran jantungnya yang tiba-tiba berdetak kencang.
Dita segera menyusul Adi yang sedang membayar pesanan mereka, lalu dia berjalan menuju tempat mobil diparkir. Dia merasa malu sekaligus kesal karena dalam jangka waktu 1 jam sudah dua kali Rendra menolongnya.
“Rend, duluan ya, ini udah aku bayar sekalian.” Adi melambaikan tangan pada Rendra.
“Loh Mas kok dibayarin, biar aku bayar sendiri.” Rendra mendekat pada Adi berniat mengganti uangnya.
“Udah santai aja, kayak sama siapa aja.” Adi menepuk bahu Rendra.
“Terima kasih Mas, lain waktu gantian aku yang traktir.”
“Gampang, bisa diatur. Udah ya tuh adekku cemberut terus dari tadi.” Adi menunjuk Dita yang sudah gelisah di samping pintu mobil.
“Hati-hati, Mas.”
“Kamu juga hati-hati.”
“Iya, Mas.” Rendra memandang Adi yang berjalan ke mobilnya, lalu menunggu sampai mobil Adi bergerak dan hilang dari pandangannya.
“Ini Mas pesenannya.” Seorang pekerja warung itu menyerahkan kantong plastik padanya.
“Terima kasih.” Rendra lalu melangkah ke motornya, menggantungkan kantong plastik di setang motor. Setelah itu dia memakai helm lalu memanggil tukang parkir.
“Ini Pak parkirnya,” Rendra menyerahkan uang sepuluh ribu pada tukang parkir.
“Sudah dibayar sama masnya yang tadi bawa fortuner hitam,” tolak tukang parkir.
“Kalau begitu ini rezeki untuk anak bapak,”
Rendra memasukkan uangnya ke dalam saku rompi tukang parkir itu.
“Matur nuwun lo Mas, semoga selalu dilancarkan rezekinya.”
“Aamiin.” Rendra segera naik ke atas motor lalu mengendarainya membelah jalanan malam dengan kecepatan sedang menuju ke rumah.
...---oOo---...
“Kenapa sih Dek dari tadi cemberut terus?” Tanya Adi sambil membelai kepala Dita dengan tangan kirinya penuh sayang, sementara tangan kanannya memegang kemudi mobil.
“Mas ini pura-pura apa emang enggak ngerti?” Dita melipat tangannya di depan dada.
“Mas beneran enggak tahu loh, kalau tahu ya mas enggak tanya.”
__ADS_1
“Males ah.” Dita memalingkan wajahnya ke samping.
Adi menghela napasnya, menghadapi Dita yang sedang mengambek itu harus punya stok sabar yang banyak.
“Apa Adek marah tadi mas malah ngajak ngobrol Rendra dan nyuekin Adek?” Tanya Adi hati-hati, salah bertanya bisa makin mengambek nanti.
“Itu salah satunya.” Dita masih memalingkan wajahnya ke samping.
“Terus, salah duanya apa?” Tanya Adi mencoba berseloroh.
“Taukkkk,” Dita makin mengerucutkan bibirnya.
“Dek, mas itu nanya baik-baik loh kok jawabnya gitu.” Adi melembutkan suaranya.
“Kalau mas ada salah yang mas enggak tahu kan harusnya Adek ngasih tahu, jangan malah diam gini. Mas kan bukan orang yang bisa baca pikiran orang lain. Kalau mas tahu juga enggak mungkin mas tanya sama Adek.”
“Beneran Mas enggak tahu?” Dita menoleh pada Adi.
Adi menggelengkan kepala. “Demi Allah, mas enggak tahu, Dek.”
“Kenapa tadi Mas harus manggil dan ngajak orang itu makan bareng kita?” Dita menatap Adi dengan pandangan kesal.
“Orang itu siapa? Rendra?” Tanya Adi memastikan.
“Memang ada orang lain selain dia tadi yang makan bareng kita.”
“Woalah, gara-gara Rendra to Adek jadi cemberut gitu.” Adi tertawa keras sambil menggelengkan kepalanya.
“Memangnya kenapa sama Rendra?” Pancing Adi.
“Adek masih kesal sama dia?”
“Gimana enggak kesal, dia selalu cari masalah sama aku. Mas jangan percaya sepenuhnya sama dia. Sikapnya di kampus dan tadi itu beda banget.” Cerocos Dita.
“Adek belum kenal saja sama Rendra. Tadi saja dia baik loh mau nolongin Adek, dua kali malahan.”
“Itu karena ada Mas jadi dia baik.” Elak Dita.
“No, dia tulus kok Dek. Kalau dia enggak baik, dia bakal diam saja. Apalagi mengingat hubungan kalian, seperti yang Adek bilang kalau kalian selalu bermasalah kalau ketemu di kampus, dia enggak bakal bereaksi seperti tadi.”
“Mas itu laki-laki, Dek. Mas tahu mana laki-laki yang modus dan mana yang tulus. Dari ceritanya tadi mas tahu dia laki-laki yang bertanggung jawab. Dia cinta banget sama keluarganya, sampai dia tidak mau meninggalkan Jogja karena tidak mau jauh dari mereka. Mas bakal kasih restu kok kalau Adek nikah sama Rendra.” Adi tersenyum kecil setelah mengatakannya.
Dita mendelik mendengar kalimat Adi yang terakhir, bisa-bisanya kakaknya itu bicara seperti itu. “Sangat tidak masuk akal,” pikirnya.
“Mas kalau ngomong jangan melantur kenapa sih?” Omel Dita.
“Melantur? Bagian mana yang mas melantur?” Adi mengernyit.
“Itu yang bilang mau kasih restu.”
Adi kembali tertawa mendengar ucapan Dita. “Mas enggak melantur ya Dek, mas serius, dua rius malah.”
“Tuh kan malah bercanda.” Dita mencubit lengan kiri Adi.
“Sakit Dek, kok pakai acara nyubit sih.” Adi mengelus lengan kirinya yang dicubit Dita.
__ADS_1
“Mas sih nyebelin.” Dita kembali melipat tangannya di depan dada.
“Dek, dengerin mas ya. Adek itu jangan terlalu benci atau kesal sama orang takutnya nanti berbalik jadi terlalu cinta sama dia loh.”
“Ih ... amit-amit.” Dita menggetok dashboard mobil tiga kali.
“Adek enggak percaya? Banyak loh kejadian kaya gitu. Kalau istilah jawanya sêngit ndulit, gêthing nyanding.”
“Artinya apa Mas?”
“Siapa yang membenci akan mencolek, siapa yang sangat membenci akan bersandingan.”
“Terus maksudnya gimana? Mas doain aku gitu suatu saat suka sama dia?” Dita menoleh pada Adi.
“Maksud mas gini, kalau Adek benci ya biasa saja jangan terlalu benci. Sekedarnya saja. Ada loh Dek hadisnya. ‘Cintailah orang yang kau cinta dengan sewajarnya, boleh jadi suatu hari dia menjadi orang yang kau benci. Dan bencilah orang yang kau benci sewajarnya, boleh jadi suatu hari dia yang kau benci menjadi orang yang kau cinta (HR Tirmidzi).’ Nah mas enggak ingin Adek seperti itu.”
“Iya Mas,” Dita menganggukan kepala pelan.
“Makanya mas memang sengaja tadi memanggil Rendra dan mengajak dia makan bersama. Dia kan tetangga kita sudah sepatutnya kan kita berhubungan baik dengan tetangga. Dan juga mas ingin Adek bisa berbaikan dengan dia, tidak harus akrab lah, setidaknya Adek tidak membenci dia secara berlebihan. Cobalah Dek suatu saat bicara dengan Rendra secara baik-baik tidak pakai emosi, pasti Adek juga bisa merasakan kalau dia sebenarnya orang yang baik.”
“Aku enggak bisa janji Mas, tetapi aku akan berusaha bersikap biasa kalau ketemu dia. Karena aku tuh bawaannya emosi kalau lihat dia atau dengar namanya.”
“Nah itu tuh tanda-tanda.” Adi melirik Dita.
“Tanda-tanda apa?”
“Tanda kalau kamu terlalu benci sama Rendra. Benar-benar cinta maksudnya.” Adi tertawa keras setelah menggoda adiknya.
“Mas Adiiiiiiii.” Dita kali ini memukul lengan Adi dengan keras.
“Aduh!!! Dek, mas lagi nyetir loh ini.”
“Bodo!!!”
...※※※※※...
Catatan :
matur nuwun (bahasa Jawa) \= terima kasih
sêngit ndulit, gêthing nyanding
sêngit \= benci
ndulit \= mencolek
gêthing \= sangat benci
nyanding \= bersanding
......💕💕💕💕💕......
Terima kasih untuk semua yang sudah meluangkan waktu untuk mendukung, memfavorit, menyukai, memberikan komentar dan juga memberi vote cerita ini meskipun masih banyak kekurangan di sana sini.
Dukungan kalian memberikan semangat untuk terus menulis, matur nuwun sanget 🙏🙇
__ADS_1