Romansa Cinta Senior Junior

Romansa Cinta Senior Junior
52


__ADS_3

Jumat siang sepulang kuliah, Rendra dan Dita ke kafe untuk memantau penjualan perdana roti di sana. Setelah beberapa hari melakukan promo melalui brosur, spanduk dan media sosial, akhirnya hari ini mereka mulai menjual produk roti yang bekerja sama dengan XX Bakery. Mereka menjualnya dalam bentuk satuan dan ada juga yang satu paket dengan minuman.


Dita pun ikut membantu melayani pembeli, meski dia hanya bertindak sebagai kasir, setelah sebelumnya dia belajar sistem penjualannya. Karena dia tidak mungkin ikut membuat minuman untuk para pelanggan. Rendra pun ikut turun menjadi barista karena suasana kafe yang ramai pembeli.


“Nanti kita makan malam sama mama ya,” bisik Rendra pada Dita saat tidak ada antrean di depan kasir. Dita sedikit berjingkat saat dia merasakan hembusan napas hangat menerpa leher belakangnya. Saat ini Dita memang mengikat rambutnya ala ekor kuda jadi leher jenjangnya tidak tertutup apa pun.


“Mas ih, ngagetin aja.” Dita memukul pelan lengan Rendra.


“Makanya jangan melamun,” Rendra menyentil mesra hidung Dita.


“Siapa yang melamun? Aku kan sedang melihat para pengunjung.”


“Awas ya jangan coba-coba tebar pesona.”


“Siapa juga yang tebar pesona? Dari tadi juga kebanyakan cewek yang datang. Mas tuh yang dari tadi dilihatin anak-anak SMA yang datang ke sini.” Cibir Dita.


“Istriku cemburu ya,” Rendra menggoda Dita dengan senyum miringnya.


"Enggak lah, buat apa cemburu."


"Padahal aku cemburu loh kalau kamu dilihat sama cowok lain," pancing Rendra.


"Gombal."


"Enggak percayaan banget sih sama suaminya." Rendra mengerucutkan bibir pura-pura kesal yang membuat Dita tertawa kecil.


Mereka berdua di kafe sampai pukul 5 sore karena mereka sudah berjanji makan malam dengan mamanya Rendra. Sejak menikah memang mereka lebih banyak menghabiskan waktu berdua bila sedang tidak ada kuliah, praktikum atau pun tugas.


Seperti biasa Rendra selalu mengantar Dita dulu pulang ke rumah Adi sebelum dia pulang ke rumahnya.


"Mas, nanti habis Magrib aku langsung ke rumah mama saja enggak usah dijemput." Ucap Dita saat mereka sampai di depan rumah Adi.


"Benar enggak apa-apa? Tunggu aku pulang dari masjid aja kenapa sih? Udah gelap loh nanti." Ungkap Rendra tak rela Dita pergi sendiri.


"Ya ampun, Mas, orang tinggal jalan berapa langkah aja loh. Lagian tuh terang jalannya enggak gelap. Jangan lebai lah." Protes Dita.


"Menuruti kata suami kenapa sih enggak mau? Biar dekat aku tuh enggak tenang." Rendra mulai posesif.


Dita memutar bola matanya jengah, perdebatan enggak akan selesai kalau sifat posesif Rendra kambuh. Jadi dia memutuskan untuk mengalah saja daripada enggak kelar-kelar urusannya.


"Iya, nanti aku tunggu Mas pulang dari masjid. Udah sekarang Mas pulang dulu sana, mandi, trus ke masjid."


"Ngusir neh?"


"Astaghfirullah, Mas ini udah mau Magrib loh. Jangan kaya anak kecil gitu kenapa sih?" Dita mulai sedikit kesal.


"Ya udah sini peluk dulu, terus aku pulang." Rendra melebarkan dua lengannya.


Dita segera mendekat pada Rendra lalu memeluknya cepat, setelah itu Rendra mengecup keningnya seperti biasa baru Dita bisa bebas.


"Aku masuk ya Mas, assalamu'alaikum." Dita mengecup punggung tangan Rendra lalu masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


"Wa'laikumsalam." Rendra lalu pulang ke rumahnya.


Seperti rencana sebelumnya, Rendra langsung menjemput Dita sepulang dari masjid. Kini mereka sudah ada di rumah Rendra.


"Assalamu'alaikum Ma. Maaf ya Ma enggak bantu siapin makanan." Sapa Dita pada Ibu Dewi setelah mencium punggung tangan dan kedua pipi mertuanya itu.


"Wa'alaikumsalam, enggak apa-apa. Sudah ada Nisa juga yang bantu."


"Halo Mbak Dita," sapa Nisa yang baru keluar dari kamarnya setelah menunaikan salat Magrib.


"Halo juga Nis, gimana sekolah?"


"Seperti biasa Mbak, tiap hari latihan soal ujian."


"Semangat ya," Dita mengepalkan tangan kanannya memberi semangat pada Nisa.


"Makasih Mbak. Lo Kak Rendra mana?" Nisa celingukan karena tidak melihat Rendra.


"Di kamar mungkin Nis, ganti baju." Sahut Ibu Dewi.


"Mbak Dita, coba susul Kak Rendra di kamar. Ini sudah siap makanannya." Usul Nisa.


"Emm ... kamarnya yang mana ya?" Tanya Dita sambil meringis malu.


"Itu," Nisa menunjuk pintu yang ada tepat di samping meja makan.


Dita lalu berjalan menuju pintu kamar Rendra, dia mengetok kamarnya.


"Ya," Rendra menyahut dari balik pintu, tak lama pintu dibuka dan keluar sosok Rendra yang memakai kaos dan celana pendek.


"Ayo makan," Rendra merangkul bahu Dita menuju meja makan.


"Duduk sini," Rendra menarik kursi untuk Dita duduki, lalu dia duduk di samping Dita.


"Mbak Shasha ke mana kok tidak kelihatan?" Tanya Dita.


"Baru dinas ke luar kota." Jawab Ibu Dewi.


"Oh ... sibuk ya Mbak Shasha."


"Maklum kan baru masuk kerja, masih junior jadi masih disuruh ke sana kemari." Terang Ibu Dewi.


"Gimana kuliahnya, Dita?"


"Biasa Ma, kuliah, tugas, praktik. Begitu saja alurnya."


"Bagaimana kabar ayah dan bunda?"


"Alhamdulillah baik dan sehat, Ma. Oh ya, baru ingat besok ayah sama bunda rencana mau silaturahim ke sini, Ma. Sekalian mau membahas tentang acara pernikahan kalau enggak salah."


"Jam berapa?" Tanya Ibu Dewi sembari mengerutkan kening.

__ADS_1


"Malam mungkin Ma, biasanya ayah sama bunda kalau ke sini bakda Zuhur atau Asar."


"Sekalian makan malam saja kalau begitu. Nanti tolong disampaikan ayah sama bunda ya."


"Iya Ma, nanti aku sampaikan. Kayanya bunda juga mau cari kain untuk seragam keluarga sama among tamu, Ma."


"Wah kebetulan kalau begitu, besok mama juga mau ke toko kain. Bisa sekalian beli bareng karena waktunya juga semakin dekat."


"Pasti bunda senang sekali ada teman belanja ini besok kalau sama Mama." Celetuk Dita.


"Tapi bukannya semua wanita suka belanja ya?" Tanya Rendra yang tiba-tiba ikut bersuara.


"Kayanya enggak cuma wanita, pria pun juga suka belanja." Jawab Dita.


"Kamu besok juga sekalian belanja ya," perintah Rendra pada Dita.


"Belanja apa?" Dita mengernyit.


"Belanja baju lah, kerudung atau apa gitu."


"Lihat besok deh," sahut Dita malas.


"Dita besok baju akad sama resepsi, mama yang bikinkan ya?"


"Nanti Mama repot dan capek."


"Enggak repot, tinggal desain aja. Nanti mama kirim desainnya, kamu tinggal pilih aja ya yang kamu suka."


"Siap Ma, kalau itu keinginan Mama."


"Mama ternyata yang buat baju lamaran Dita ya?"


"Iya, sengaja mama mau bikin kejutan buat kamu."


"Pantes, perfect dan pas buat Dita." Puji Rendra sambil mengacungkan ibu jari pada mamanya.


"Dita kan juga sudah cantik, jadi kelihatan makin cantik karena Dita yang pakai." Balas Ibu Dewi.


Dita tersipu malu mendengar ucapan Ibu Dewi.


"Tuh kan benar yang aku bilang, kamu makin cantik kalau pakai kerudung." Rendra kembali memuji Dita yang membuat pipinya makin memerah.


Mereka meneruskan makan sambil mengobrol santai sampai tiba waktu Isya, kemudian Rendra pergi ke masjid.


Dita membantu Ibu Dewi membereskan meja makan lalu mencuci alat makan yang tadi dipakai meski sudah dilarang.


"Gimana Dita setelah menikah, apa Rendra bersikap baik?"


"Mas Rendra baik sekali Ma, alhamdulillah sangat sabar menghadapi aku. Maaf ya Ma, belum bisa menjadi menantu Mama yang seutuhnya."


"Mama senang melihat perkembangan hubungan kalian, meski kalian masih tinggal terpisah. Kalian nikmati saja prosesnya, mama cuma pesan apa pun kalau ada masalah atau mengambil keputusan dibicarakan baik-baik dengan kepala dingin, jangan terbawa emosi."

__ADS_1


"Iya Ma, terima kasih atas pengertian dan nasihatnya." Dita memeluk Ibu Dewi erat.


__ADS_2