
Hari ini Rendra pulang sebelum Magrib. Dita sudah menunggu dan menyambutnya pulang di teras rumah. Rona bahagia langsung menghiasi wajahnya setiap Rendra datang.
Dita langsung mencium punggung tangan Rendra begitu suaminya itu melangkahkan kaki di teras. Rendra membalas dengan mengecup kening istri tercintanya. Mereka kemudian masuk ke dalam rumah sambil bergandengan tangan.
Setelah mengucap salam, dan mencium punggung tangan kedua mertuanya, Rendra masuk ke kamar diikuti Dita.
"Mas, tadi aku bikin pai buah sama bunda." Seperti biasa Dita selalu menceritakan apa saja kegiatannya di rumah.
"Oh ya, pasti enak kalau bikinan istriku," sahut Rendra sambil melepas sepatu.
"Mas, mau langsung mandi apa mau istirahat sebentar?" Dita menyiapkan baju ganti Rendra.
"Langsung mandi, sekalian wudu. Sebentar lagi azan Magrib. Siapin baju koko sama sarung sekalian ya, Sayang. Habis mandi aku langsung ke masjid."
"Siap, Mas."
Setelah Magrib mereka makan malam bersama. Pai buah yang dibuat Dita dan Ibu Hasna tadi siang disajikan sebagai teman bersantai malam itu, setelah mereka menjalankan salat Isya.
Pukul 09.00 malam, Rendra dan Dita masuk ke kamar, bersiap untuk tidur. Seperti biasa mereka selalu melakukan pillow talk sebelum tidur.
"Mas, besok habis kontrol ke dokter Lita, kita balik tinggal sama mama ya."
"Kenapa?" Rendra mengerutkan kening karena heran.
"Kangen sama mama, Mbak Shasha juga Nisa."
"Serius cuma karena itu?" Rendra memberi tatapan menyelidik.
"Iya, Mas enggak percaya ya sama aku?" Dita pura-pura mengambek.
"Percaya dong. Masa enggak percaya sama istri sih. Tapi, aku yakin ada alasan lainnya." Rendra membelai pipi Dita.
"Mas, sok tahu deh." Dita masih mengelak dan tidak mau menatap mata suaminya.
"Aku ini udah hampir setahun jadi suamimu, Sayang. Aku udah hafal lah sama sifatmu. Ayo jujur saja, apa yang Sayang rasakan?" Rendra menyentuh dagu Dita. Dia hadapkan wajah Dita ke wajahnya.
"Aku enggak mau Mas kecapekan. Setiap hari harus menempuh perjalanan pulang pergi 2 jam."
"Aku enggak capek, Sayang. Serius, aku enggak apa-apa. Aku kan juga pernah bilang capekku bakal hilang kalau udah liat wajahmu, Sayang." Rendra menyelipkan rambut di telinga Dita.
"Gombal ah, Mas." Dita mencebik.
"Coba kamu enggak lagi nifas, Sayang. Aku bisa buktikan kalau aku enggak capek. Mau berapa ronde ayok aku jabanin." Rendra mengedipkan sebelah matanya.
"Mas ih." Dita memukul pelan dada suaminya. Seperti biasa, dia selalu tersipu setiap Rendra menggodanya.
"Oke, serius nih sekarang. Pasti Bunda ya Sayang yang bahas soal tadi?"
"Kok Mas tahu?" tanya Dita heran.
__ADS_1
"Kemarin Bunda tanya ke aku kapan balik ke rumah mama. Terus aku jawab terserah kamu, Sayang," jawab Rendra.
"Pantesan tadi bunda tanya ke aku. Maksud bunda baik kok, Mas. Bunda peduli sama Mas. Dulu Mas Adi juga ngekos sejak kuliah dan waktu rumahnya belum jadi, karena sering kecapekan di jalan."
"Aku enggak apa-apa kok, Sayang. Yang penting kesehatan dan kebahagiaan kamu dulu. Kalau di rumah mama pasti kamu juga kesepian enggak ada teman."
"Aku kan bisa ikut mama ke butik atau kalau enggak bisa kontrol keadaan kafe."
"Benar? Serius mau balik ke rumah mama setelah kontrol besok?" Rendra memastikan keputusan Dita.
"Iya, benar. Aku serius banget, Mas."
"Oke, kalau itu maumu. Kebetulan aku juga ingin menapak tilas."
"Menapak tilas apa, Mas?"
"Satu tahun perjalanan cinta kita." Rendra tersenyum sambil menatap Dita.
"Maksudnya?" Dita masih tidak paham apa yang Rendra bicarakan.
"Ya Allah, Sayang enggak ingat?" Rendra mengernyit, menatap Dita tak percaya.
"Serius? Apa sih Mas?"
"Istriku ini memang ya cueknya kebangetan deh." Rendra mencubit ujung hidung istrinya karena gemas.
"Mas, ih. Buruan bilang, aku tinggal tidur nih." Dita hendak merubah posisi tidurnya tetapi ditahan Rendra.
"Oh, yang itu." Dita langsung tersenyum malu.
"Ingat kan?" tanya Rendra.
Dita menganggukkan kepala sebagai jawaban. "Mas, kok masih ingat sih?"
"Tentu saja, itu pertama dan terakhir kalinya aku nembak perempuan yang aku cintai. Pasti aku ingat lah. Gimana aku ketir-ketir waktu nunggu jawabanmu juga aku masih ingat." Rendra mengelus pipi halus istrinya.
"Maaf ya Mas, kalau aku enggak ingat tadi. Waktu itu aku gugup banget, enggak tahu mesti gimana. Padahal aku udah biasa nolak cowok lain, tapi entah kenapa aku enggak bisa nolak Mas, tapi juga enggak bisa menerima Mas."
"Karena hanya aku yang bisa mencuri dan mengisi hatimu, Sayang," ucap Rendra penuh percaya diri.
"Idih ge er." (ge er/GR : Gede Rumongso atau Gede Rasa)
"Enggak ya, Sayang. Coba sekarang sebutkan siapa yang bisa mencuri dan mengisi hatimu selain aku," tantang Rendra.
"Ada lah. Nanti Mas cemburu kalau aku sebutkan," goda Dita.
"Serius ada?" Rendra menatap Dita tak percaya.
Dita mengangguk sambil tersenyum.
__ADS_1
"Siapa? Reza si berengsek itu?" tebak Rendra dengan nada kesal.
Dita menggeleng, "bukan."
"Siapa? Bara? Enggak mungkin." Rendra menggelengkan kepala.
Dita hanya tersenyum tanpa menjawab.
"Siapa sih, Sayang? Bilang dong jangan bikin suamimu ini penasaran," desak Rendra.
"Tapi Mas janji ya jangan marah. Jangan cari dan tonjok orangnya."
"Iya ... iya, aku janji." Rendra membentuk huruf V dengan jari telunjuk dan tengahnya.
"Dia ... eh mereka adalah ... ayah dan Mas Adi." Dita tertawa terbahak-bahak setelah mengucapkannya, sementara Rendra sempat bengong karena ucapan istrinya. Rupanya Dita sedang mengerjai dia.
"Hmmm ... udah mulai usil nih ngerjain suaminya sendiri." Rendra mulai menggelitik pinggang Dita.
"Ampun, Mas. Udah dong. Sakit ini perutku kalau kebanyakan ketawa." Dita meringis sambil memohon pada Rendra karena terus menggelitik pinggangnya.
"Puas kan udah ngerjain aku hummmm." Rendra masih belum mau berhenti menggelitik Dita.
"Auchhh ...," jerit Dita sambil memegang perutnya.
"Sakit, Sayang? Maaf ya." Rendra langsung berhenti sekaligus merasa bersalah.
"Sini aku elus yang sakit."
"Jangan Mas. Biar aku atur napas dulu." Dita lalu tidur berbaring. Dia menarik napas panjang lalu mengeluarkannya pelan-pelan. Dia melakukannya beberapa kali. Hal itu sering dia lakukan saat merasa sakit sampai reda rasa sakitnya.
Rendra hanya bisa memandangi istrinya dengan penuh rasa bersalah. Harusnya tadi saat Dita memintanya berhenti dia langsung melakukannya. Tapi karena kesal sudah dikerjai Dita dan mengira istrinya hanya bercanda sakitnya, dia terus menggelitik pinggang Dita.
Setelah beberapa saat Dita sudah mulai bernapas dengan normal.
"Maaf ya, Sayang. Aku kira tadi kamu cuma bercanda pas bilang sakit." Rendra meraih satu tangan Dita lalu mengecup punggung tangannya.
"Enggak apa-apa, Mas. Aku juga salah tadi sudah ngerjain Mas. Maaf ya, Mas."
"Iya, enggak apa-apa. Kita tidur aja ya, sudah malam."
"Iya, aku tidur berbaring gini enggak apa-apa ya, Mas."
"Senyamannya Sayang aja. Jangan lupa berdoa dulu sebelum tidur. Selamat tidur, Bidadari Surgaku." Rendra mencium kening istrinya sebelum dia terlelap di alam mimpi.
...※※※※※...
Jogja, 110421 13.40
Ada yang nungguin Rendra dan Dita enggak sih? 🤔🤔🤔
__ADS_1
Marhaban ya Ramadhan, selamat menjalankan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan bagi yang menjalankan. Mohon maaf lahir dan batin atas segala salah dan khilaf 🙏🙏🙏