Romansa Cinta Senior Junior

Romansa Cinta Senior Junior
53


__ADS_3

"Dita ingin konsep resepsi nanti seperti apa?" Tanya Ibu Dewi saat mereka sedang mengobrol bertiga di ruang tengah.


"Enggak pernah terpikir, Ma. Aku ikut saja, Ma." Jawab Dita.


"Mau tradisional atau modern?" Tanya Ibu Dewi lagi.


"Yang praktis dan enggak ribet saja, Ma." Usul Rendra.


"Muslim modern saja ya, pakai gaun tapi enggak ketat. Nanti Rendra bisa pilih pakai jas atau tuksedo?"


"Tuksedo aja, Ma." Sahut Rendra. "Biar kaya putri dan pangeran dari negeri dongeng," lanjutnya sambil melirik Dita.


"Apaan sih, Mas."


"Oke, tinggal nanti kita sesuaikan dekorasi sama temanya." Ujar Ibu Dewi.


"Dekorasi yang simpel aja Ma, simpel tapi elegan. Enggak usah terlalu banyak pernak pernik."


"Memangnya mau di mana resepsinya, Ma?" Tanya Dita.


"Nah itu tugas kalian besok cari gedung yang bisa disewa di tanggal yang sudah ditentukan kemarin." Jawab Ibu Dewi.


"Mama mau mengundang berapa tamu?" Rendra menoleh pada mamanya.


"Mama belum mendata jumlahnya, yang jelas kolega dan pelanggan Mama. Selain itu juga keluarga kita."


"Kenapa enggak pengajian dan mengundang anak yatim saja di rumah Ma? Enggak usah resepsi di gedung." Usul Rendra.


"Pengajian dan mengundang anak yatim tetap ada di rumah. Tetapi kan tidak akan cukup kalau sama kolega dan pelanggan Mama. Sekalian kan kasih tahu ke mereka kalau anak mama yang ganteng sudah sold out, biar enggak ada yang ngarep kamu jadi mantu mereka lagi."


"Memangnya aku barang dagangan Ma pakai sold out segala." Protes Rendra yang membuat Dita tertawa.


"Ini lagi malah ketawa," Rendra mencubit gemas pipi Dita.


"Aduh, sakit Mas." Dita memegang pipinya yang dicubit Rendra.


"Mana yang sakit, coba lihat sini." Rendra mengusap pipi Dita yang tadi dia cubit.


"Ehmmmm ... mama masih di sini ya." Ibu Dewi menyela interaksi Rendra dan Dita.


Dita jadi tersipu malu, "maaf Ma, ini Mas Rendra yang mulai usil."


"Mama sih punya menantu kok selalu bikin gemes buat aku ketagihan buat godain dia terus." Kata Rendra dengan santai.


Ibu Dewi tersenyum melihat Rendra dan Dita yang sudah terlihat saling nyaman dan terbuka. Sangat berbeda dengan saat pertama kali dia melihat mereka bertemu.


"Ya sudah kita teruskan besok, sekalian sama ayah dan bundanya Dita. Kalau begini mama jadi obat nyamuk saja." Seloroh Ibu Dewi sambil merapikan beberapa lembar kertas coretannya.


"Ingat ya tugas kalian besok pagi cari gedung pernikahan, tapi yang seputaran dalam kota saja. Mama mau laporannya besok malam. Tanyakan kapasitas dan fasilitas apa saja yang mereka sediakan."


"Iya, Ma."


"Dita nanti mau tidur di sini?" Tanya Ibu Dewi.

__ADS_1


"Eh ... enggak Ma." Jawab Dita gugup.


"Mama kira mau tidur sini, ya sudah mama ke kamar dulu ya. Rendra jangan lupa nanti dicek dan dikunci semua pintunya."


"Iya, Ma."


Ibu Dewi bangun dari duduknya, lalu melangkah ke kamarnya meninggalkan Rendra dan Dita berdua di ruang tengah.


"Aku pulang ya, Mas."


"Nanti aja, aku masih ingin berdua sama kamu. Dari tadi kita belum ngobrol berdua loh. Aku masih kangen sama kamu." Rendra menatap Dita sambil mengusap lembut pipinya.


"Kan kita juga tiap hari ketemu Mas."


"Tapi kan waktu kita ketemu terbatas, lagian besok libur kuliah enggak apa-apa lah sampai malam. Mas Adi juga enggak bakal marah. Kamu enggak pulang juga enggak masalah."


"Memang kita mau ngapain sekarang?" Dita mengernyit.


"Ya gini aja, duduk berdua, pegangan tangan, ngobrol. Atau kamu mau melakukan hal yang lain? Di kamar misalnya?" Rendra menggoda Dita dengan memainkan alisnya.


"Apaan sih, ya udah kita ngobrol aja di sini." Dita tersipu setiap kali Rendra menggodanya.


Rendra tersenyum melihat pipi Dita yang memerah.


"Coba lihat sini hp-mu." Rendra meminta gawai Dita.


"Buat apa?" Dita mengerutkan kening, meski begitu dia tetap menyerahkan gawainya pada Rendra.


Dita menggigit bibirnya, karena dia ingat belum merubah nama Rendra.


"Mana sih namaku?" Rendra kesal karena tak juga menemukan namanya, lalu dia memutuskan menulis nomor ponselnya. Rendra terkejut saat mengetahui namanya di gawai Dita 'senior gila'.


"Hhhmmm ... jadi suamimu ini namanya senior gila ya," Rendra mengangkat sebelah alisnya.


"Ah ... itu ... maaf ... lupa belum diganti." Dita menggigit bibir bawahnya merasa bersalah pada Rendra.


"Minta dihukum hummm," Rendra mendekatkan wajahnya pada Dita.


"Dihukum apa?" Dita memundurkan wajahnya menjauhi Rendra.


Cup ... cup ....


Rendra tiba-tiba mencium kedua pipi Dita, membuat istrinya itu sempat diam terpaku karena terkejut dengan tindakannya. Rendra tersenyum puas melihat pipi Dita yang kembali merona.


"Kok diam, mau lagi hukumannya?" Goda Rendra.


"Eh ... eng ... enggak."


"Ini ya aku ganti namanya jadi 'my lovely hubby', awas kalau nanti diganti. Hukumannya lebih dari tadi."


"Iya ... enggak akan diganti."


"Good," Rendra meletakkan kembali gawai Dita di atas meja.

__ADS_1


"Memang namaku di hp Mas apa?" Tanya Dita ingin tahu.


"My lovely wife dong. Kamu belum jadi istriku aja aku namakan my lovely neighbour loh. Tega ya kamu namain aku 'senior gila'."


"Maaf Mas, tapi kan sekarang sudah diganti."


"Iya karena aku yang ganti, coba tadi aku enggak ngecek sampai kapan namaku seperti itu?" Rendra melipat kedua tangannya di depan dada, pura-pura marah pada Dita.


"Maaf aku lupa Mas, lagian aku jarang pegang hp juga. Sudah dong jangan marah nanti gantengnya hilang loh." Dita mencoba merayu Rendra meski dia merasa malu.


"Biarin hilang, toh aku udah punya istri. Enggak penting punya wajah ganteng."


"Jangan hilang dong gantengnya, nanti istrimu enggak bisa pamer ke orang-orang kalau dia punya suami ganteng."


"Istriku enggak suka pamer."


"Kata siapa?"


"Kataku lah."


"Ih Mas, udah dong marahnya. Iya, aku salah. Tadi kan aku juga sudah dihukum sama Mas. Masa masih marah gitu."


"Mau aku enggak marah lagi?"


Dita menganggukkan kepalanya. Rendra menunjuk kedua pipinya dengan jari telunjuk, memberi kode agar Dita mencium pipinya.


"Aku malu, Mas," Dita menutup matanya dengan tangan.


"Ya sudah kalau tidak mau, enggak boleh pulang kalau begitu."


"Ya kok jadi gitu." Protes Dita.


"Mau apa enggak?" Rendra pura-pura akan beranjak pergi.


"Iya, mau. Tapi Mas tutup mata ya."


"Kenapa harus tutup mata?"


"Aku malu, Mas." Dita menundukkan wajahnya.


Rendra lalu menutup matanya, meski dia sedikit mengintip dari sudut matanya.


Dita tampak gelisah, dia menarik napas panjang dan mengembuskannya sebelum mulai mendekati wajah Rendra.


Cup ... cup ... cup ....


Begitu Dita selesai mencium kedua pipinya, Rendra langsung mengecup sekilas bibir Dita yang lagi-lagi membuat Dita terpaku.


Rendra menatap intens kedua mata Dita. Mereka saling berpandangan seolah berbicara dengan mata mereka. Rendra mendekatkan kembali wajah mereka berdua, mereka menutup kedua matanya.


Bibir Rendra kembali menyentuh bibir Dita, kali ini sedikit lebih lama dan dengan gerakan lembut yang membuat sekujur tubuh mereka seperti tersengat aliran listrik. Rendra menjauhkan dirinya lalu membuka mata, dan tersenyum manis pada Dita.


"Rasanya manis, seperti kamu. I love you."

__ADS_1


__ADS_2