Romansa Cinta Senior Junior

Romansa Cinta Senior Junior
90


__ADS_3

Sebelum mulai disibukkan kembali dengan kegiatan kuliah, Rendra merenovasi kafenya berdasarkan desain yang dibuat Dita. Kafe ditutup sementara selama proses renovasi agar tidak menganggu kenyamanan pelanggan.


Lantai satu dipakai untuk proses produksi bakery dan kopi, juga display produk bakery. Ruangan Rendra yang semula di lantai 2 juga dipindah ke bawah karena kondisi Dita yang hamil, rawan kalau harus sering naik turun tangga. Karena itu di lantai satu tidak banyak tersedia meja dan kursi di dalam ruangan, tetapi di depan kafe tetap disediakan meja dan kursi bagi yang merokok.


Lantai dua dipakai untuk memasak dan menghangatkan makanan cepat saji. Di salah satu sudut nanti disediakan area untuk bermain musik secara akustik. Di sini juga lebih banyak tersedia kursi dan meja, baik di dalam ruangan maupun di balkon.


Setiap hari Rendra dan Dita terus memantau proses renovasi agar sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Biasanya mereka datang pagi untuk memberi arahanΒ sambil mengantar Ibu Dewi ke butik. Sore hari mereka datang lagi memantau hasil renovasi sembari menjemput Ibu Dewi pulang.


Selama proses renovasi, mereka juga merekrut beberapa karyawan untuk beberapa posisi. Ada posisi untuk baker (pembuat roti, pastry & kue), memasak makanan cepat saji, melayani pelanggan dan juga admin. Semua karyawan nanti akan melalui masa training, kecuali baker yang jelas mereka rekrut dari profesional.


Di pembukaan kembali kafe, mereka berencana mengundang Bara dan band-nya untuk mengisi acara. Hari ini Rendra janji bertemu dengan Bara di rumah. Mereka sengaja tidak bertemu di luar karena Bara juga sudah lama tidak main ke rumah Rendra.


"Assalamu'alaikum," salam Bara di depan pintu rumah yang terbuka.


Dari luar, Bara bisa melihat Rendra yang sedang fokus di depan notebook-nya.


"Wa'alaikumsalam," balas Rendra yang langsung mengalihkan pandangan dari notebook ke arah Bara.


"Sini masuk dulu, Bro." Rendra bangkit dari duduknya lalu menghampiri Bara. Seperti biasa setiap bertemu mereka melakukan ritual salam khas mereka, lalu berpelukan.


"Wah, wajah lo makin lama makin bersinar aja, Bro. Punya istri, besar juga ya efeknya," goda Bara.


"Hahaha, bisa aja lo. Duduk dulu, Bro." Rendra mengajak Bara duduk di sofa ruang tamu.


"Gue kasih tahu Dita dulu ya, tunggu sebentar." Rendra meninggalkan ruang tamu, mencari Dita.


"Sayang, Bara sudah datang." Rendra memberitahu Dita yang sedang mengambil minum di dapur. Dia memeluk Dita dari belakang.


"Mas, ih jangan peluk-peluk gini. Kasihan Kak Bara nunggu di depan." Dita coba melepaskan diri dari pelukan Rendra.


"Enggak apa-apa, sebentar saja." Rendra lalu mencium pipi Dita.


"Mas," protes Dita, meski pipinya jadi merona.


Rendra tertawa karena berhasil menggoda Dita. "Nanti malam kita lanjutkan," Rendra mengedipkan sebelah mata sebelum meninggalkan istrinya.


"Gimana kabar mama, Bro? Enggak marah kan lo balik ke sini?" tanya Rendra setelah duduk kembali di ruang tamu.


"Alhamdulillah, kabar mama baik dan sehat. Seperti biasa ngomel-ngomel waktu gue bilang mau balik ke sini. Katanya kangennya belum hilang," jawab Bara sambil tersenyum geli.


"Kenapa enggak lo ajak aja ke sini?"


"Nah itu, mama aneh. Gue ajak ke sini enggak mau, takut ketinggalan arisan sama teman-teman sosialitanya. Tapi bilang kalau masih kangen gue. Selama di Jakarta, gue jadi sopir mama yang hampir tiap hari ikut arisan. Gue juga dikenalin sama anak-anak teman arisannya." Bara menggelengkan kepala mengingat mama dan teman-teman arisan mamanya.


"Mama ingin lo cepat punya pacar kali," goda Rendra.


"Gara-gara tahu kalau lo udah nikah, jadi ngejar-ngejar gue buat cari istri. Nah lo udah punya penghasilan bulanan. Kalau gue kan ngamennya enggak tentu. Mau gue kasih makan apa istri gue."


Rendra tergelak mendengar cerita Bara. Di satu sisi dia juga merasa tak enak hati karena Dita lebih memilihnya daripada Bara.


Dita masuk ke ruang membawa nampan yang berisi minuman dan camilan. Melihat Dita yang membawa nampan, refleks Bara berdiri lalu memgambil nampan yang dibawa Dita. Rendra mengerutkan kening melihat semuanya.


"Eh, Kak Bara duduk saja. Ini ringan kok." Dita berusaha meminta kembali nampan yang sudah diambil Bara.

__ADS_1


"Udah, kamu duduk aja. Biar ini aku yang bawa." Bara tetap membawa nampan ke meja.


"Kok gue merasa jadi tamu ya di sini," seloroh Rendra meski dengan sedikit menyindir.


"Bisa aja lo, Bro." Bara jadi merasa sedikit tak enak hati.


Dita menurunkan minum dan camilan dari nampan ke atas meja. Lalu dia menyimpan nampan di sampingnya.


"Ayo Kak Bara diminum, dan dicicip camilannya. Maaf seadanya," ucap Dita.


"Terima kasih," sahut Bara sambil tersenyum pada Dita.


"Ya Allah, sampai lupa tanya kabar. Kak Bara apa kabar?"


"Alhamdulillah, baik dan sehat. Gimana kabarmu?" Bara balik bertanya kabar.


"Alhamdulillah kami juga baik, Kak," jawab dita sambil mengelus perutnya.


"Kamu hamil?" tanya Bara.


"Alhamdulillah, Bro. Dita sekarang hamil 3 bulan," jawab Rendra sambil merangkul bahu Dita yang duduk di sampingnya.


"Alhamdulillah, aku ikut bahagia. Semoga sehat dan lancar sampai lahir nanti," doa tulus Bara.


"Aamiin," ucap Rendra dan Dita bersamaan.


"Cewek apa cowok nih?" tanya Bara penasaran.


"Belum tahu, Kak. Mungkin sebulan atau dua bulan lagi. Itu pun kata dokter kalau anaknya enggak ngumpetin itunya," jawab Dita sambil tertawa kecil.


Bara menganggukkan kepala. "Benar, Bro. Itu yang terpenting."


"Kak Bara apa sudah ada agenda manggung?"


"Dalam waktu dekat ini kayanya belum, kenapa?"


"Kita kan mau re-opening kafe dengan konsep baru. Dita mau lo dan band lo manggung saat itu. Tapi mungkin versi akustik karena enggak memungkinkan bawa alat band lengkap."


"Kapan?"


"Sabtu pertama bulan depan. Nanti kita konsep outdoor di samping kafe biar semua bisa lihat termasuk yang di lantai atas."


"Lantai atas jadi dipakai sekarang?"


"Iya, soalnya ruangan gue dipindah ke bawah. Kasihan istri gue kalau harus naik turun tangga. Jadi sekalian aja atas dipakai daripada nganggur."


"Ya nanti gue bilang sama anak-anak. Mereka senang pastinya."


"Benar ya Kak, aku tunggu kabar baiknya."


"Insya Allah."


"Oya, di lantai dua, aku bikin acoustic corner, Kak. Siapa tahu Kak Bara dan teman-temannya mau mengisi. Bebas sih siapa yang mau nyanyi. Ada gitar juga kalau mau nyanyi sambil main gitar," terang Dita.

__ADS_1


"Wah, bagus itu. Kalau ada live music biasanya banyak yang suka."


"Aamiin. Semoga ya, Kak."


"Sayang, jadi mau masak atau pesan makan?" Rendra mengingatkan Dita karena hampir masuk jam makan siang.


"Astaghfirullah, keasyikan ngobrol jadi lupa. Aku masak aja, Mas. Lagian tinggal bikin saos aja. Mas mau ke masjid dulu kan baru makan?"


"Iya, setelah salat nanti baru makan. Sayang, tapi kalau capek enggak usaha masak."


"Aku enggak capek, Mas Rendra Sayang." Dita mengelus pipi Rendra hingga membuat suaminya tersenyum lebar.


Ada rasa nyeri di dada Bara saat melihat kemesraan Rendra dan Dita. Meski dia sudah berusaha menghilangkan dan menepis perasaannya pada Dita, tapi nyatanya masih ada rasa yang tertinggal meski tidak sebesar dulu. Memang benar, melupakan itu tidak semudah membalikkan telapak tangan.


Walaupun begitu, Bara sama sekali tidak ingin merebut Dita dan menyakiti sahabatnya. Cukuplah dia mengagumi Dita dalam diam. Biarlah waktu yang akan mengikis rasa di hatinya.


Begitu azan Zuhur berkumandang, Rendra mengajak Bara untuk salat di masjid. Sedangkan Dita salat sendiri di rumah. Selesai salat, Dita menyiapkan makan siang.


Siang itu Dita menyajikan spageti dengan saos bolognese, zupa soup dan lasagna. Semua menu tadi rencananya akan jadi menu makanan di kafe. Karena itu dia jadi rajin mencoba resep makanan yang praktis untuk dijual di kafe. Otak bisnis Dita mulai berjalan karena pengaruh Rendra yang selalu minta pendapat dan masukannya setiap akan mengambil keputusan.


Setelah pulang dari masjid, Rendra langsung mengajak Bara menuju meja makan. Dita sudah menunggu di sana.


"Maaf ya Kak, seadanya. Enggak apa-apa kan tidak ada nasi?" tanya Dita yang khawatir Bara adalah pecinta nasi garis keras, yang tidak merasa makan kalau belum makan nasi.


"Banyak gini kok seadanya. Aku aman kok enggak makan nasi," jawab Bara menenangkan kekhawatiran Dita


"Syukurlah," ucap Dita lega.


"Ini kamu semua yang masak?" tanya Bara tak percaya.


Dita menganggukkan kepala. "Iya, tapi juga dibantu Mas Rendra."


"Coba dicicip, Bro. Kalau enggak enak atau ada yang rasanya kurang bilang ya. Ini menu yang akan dijual di kafe, jadi ya masih trial and error resepnya," terang Rendra.


Bara mencicip spageti, zupa soup dan juga lasagna. Dia menganggukkan kepala tiap selesai mencicip. Dita menunggu dengan cemas komentar Bara.


"Enak kok semuanya di lidahku. Rasanya sudah pas." Bara mengacungkan dua jempol pada Dita.


"Alhamdulillah." Dita mengembuskan napas lega.


"Nah kan benar, udah enak, Sayang. Kamu harus percaya diri dengan resep ini." Rendra mengelus kepala Dita.


"Iya, Mas." Dita jadi tersipu.


"Resep yang dicoba ini yang akan dipakai di kafe, Bro. Nanti dia yang akan mengajari karyawan yang tugasnya memasak di sini. Harusnya di kafe tapi gue enggak mau dia sering naik turun tangga."


"Keren ... keren .... Aku enggak menyangka Dita bisa masak." Bara menatap kagum Dita.


"Istri gue memang keren. Serba bisa pokoknya," puji Rendra.


"Kalian berdua berlebihan. Aku masih harus banyak belajar," ucap Dita merendah.


Mereka pun makan bertiga sambil saling bercerita.

__ADS_1


Jogja, 010421 01.05


Hayo, siapa yang kemarin kangen sama Bara? 😁😁😁


__ADS_2