
“Jujur ya Bro, gue sebenarnya masih kesal sama lo.” Ungkap Bara.
Rendra menoleh menatap Bara sambil mengernyit. “Kesal? Kenapa?”
“Gimana enggak kesal, dulu gue sudah kasih lo kesempatan buat deketin Dita tapi lo nolak. Gue bahkan rela mundur demi lo tapi lo enggak mau. Sekarang gue sudah maju, lo malah mau maju juga. Tapi gue enggak mau mundur secara sukarela lagi sekarang, kecuali Dita emang sudah milih lo baru gue mundur.” Bara mengeluarkan kekesalannya.
“Apa sekarang gue yang sebaiknya mundur demi lo?” Gumam Rendra.
“Lo mau lepas cinta pertama lo? Seriously?” Bara menatap Rendra tak percaya.
“Dulu lo rela mundur demi gue, sekarang giliran gue. Lagian gue juga masih ragu sama perasaan gue.”
“No ... no ... gue enggak setuju, lo enggak boleh mundur. Cinta pertama itu harus diperjuangkan walau apapun hasilnya nanti.” Tolak Bara.
“Sebenarnya apa yang membuat lo masih ragu?” Tanya Bara penasaran.
Rendra terdiam beberapa saat setelah mendengar pertanyaan Bara. Dia menghela napas panjang sebelum mulai bicara.
“Pacaran tidak pernah terlintas sedikit pun dalam rencana hidup gue. Dari dulu gue ingin langsung nikah begitu ketemu orang yang tepat, makanya gue enggak pernah sekalipun menanggapi cewek-cewek yang mendekati gue, karena fokus utama gue membahagiakan mama, menjaga keluarga gue sebagai satu-satunya laki-laki di keluarga gue.”
“Dulu gue pikir akan menemukan seseorang saat gue sudah mapan. Mama sudah bisa menikmati hidupnya tidak bekerja di butik lagi, Kak Shasha sudah nikah dan Nisa juga sudah bekerja. Tapi ternyata kenyataannya berbeda. Sekarang gue masih semester 5, baru merintis usaha tapi hati gue mengkhianati gue.” Rendra tersenyum miris.
“Gue juga ragu sama apa yang gue rasakan. Apakah memang she’s the one (dia orangnya)? Atau ini hanya perasaan sesaat.” Rendra kembali menghela napasnya.
Bara menepuk bahu Rendra memberikan dukungan, sahabatnya itu memang selalu merencanakan segala sesuatu dalam hidupnya. Dia juga tahu dan memahani beban yang Rendra rasakan sebagai satu-satunya pria dalam keluarga menggantikan peran almarhum papanya.
“Sekarang gue tanya, apa yang lo rasakan pada Dita?” Tanya Bara.
“Yang jelas dia selalu ada di pikiran gue meski gue sudah coba menepisnya. Gue bahagia kalau bisa lihat dia, apalagi kalau bisa dekat sama dia. Gue juga enggak suka saat dia bersama cowok lain.” Jawab Rendra sambil menerawang.
“Kalau lo enggak ketemu Dita, apa yang lo rasakan?” Tanya Bara lagi.
“Hhhmmm ... ya gue kepikiran dia terus, pengen bisa lihat dia langsung.” Jawab Rendra lugas.
“Fix, lo cinta sama Dita, sama seperti yang gue rasakan.” Ujar Bara.
Rendra diam, mencerna apa yang Bara katakan. “Jadi ini yang dinamakan cinta?”
“Terus apa rencana lo selanjutnya?” Bara melirik Rendra yang terlihat melamun.
__ADS_1
“Rencana apa?” Rendra malah balik bertanya.
“Rencana lo buat dekatin Dita.”
“Gue enggak punya rencana apa pun.”
Bara memandang Rendra dengan tatapan heran.
“Gue mau semuanya mengalir begitu saja,” lanjut Rendra sambil tersenyum pada Bara.
“Lo enggak ada niat deketin Dita kaya gue?” Selidik Bara.
“Enggak, buat apa? Nyatanya Dita juga masih dingin sama lo meski lo gencar mendekati dia.” Ledek Rendra sambil terkekeh.
“Sialan lo!” Umpat Bara kesal membuat Rendra semakin tergelak.
“Dita itu muncul di luar rencana hidup gue, jadi sampai sekarang gue enggak punya gambaran apa pun. Toh selama ini kami juga tidak pernah merencanakan pertemuan, selalu takdir yang mengaturnya. Apa mulai saat ini Dita sebaiknya gue masukkan dalam rencana hidup gue?” Rendra menoleh pada Bara meminta pendapatnya.
“Kalau lo emang serius sama dia ya harusnya lo masukkin Dita.”
“Nah itu, gue belum tahu apa memang she’s the one atau bukan.”
“Kaya gue sudah mau nikah dan dihadapkan sama dua pilihan aja.” Rendra tertawa kecil.
“Katanya lo enggak mau pacaran, gimana sih?”
“Ya enggak secepat itu juga Bro. Gue masih kuliah, mau dikasih makan apa istri sama anak gue nanti.”
“Lo kan udah punya kafe ini, tiap bulan lo udah dapat penghasilan pasti. Belum lagi kalau lo ngerjain desain tambah lagi kan penghasilan lo.”
“Hahaha ... tapi gue belum mapan, belum punya rumah sendiri.”
“Emang ada aturan orang nikah harus punya rumah sendiri? Enggak kan?”
“Eh ... eh ... sebentar, ini kenapa jadi bahasannya seolah-olah gue harus segera menikah.” Rendra menyela Bara yang masih membahas soal pernikahan.
Bara terkekeh melihat Rendra yang tidak terima.
"Kenapa lo malah ketawa? Ngeledek gue?" Protes Rendra.
__ADS_1
"Lo itu lucu, Bro."
"Emang gue pelawak apa?"
Bara menggelengkan kepala sambil tetap tertawa. Rendra yang kesal kembali meminum ice americano-nya yang tinggal setengah gelas.
"Gue itu tadi ngasih pandangan ke lo kalau seumpama lo nikah tanpa mau pacaran. Karena lo sendiri bilang ingin langsung nikah kalau ketemu orang yang tepat. Nah, seumpama setelah lo salat Istikharah dan ternyata semakin dimantapkan sama Dita, berarti kan lo harus segera nikah sama dia. Iya kan."
Rendra mengacak rambutnya frustasi. "Iya, tapi enggak secepat itu juga kali. Gue masih kuliah, dia juga masih kuliah, baru masuk kuliah malahan. Dan belum tentu juga dia mau nikah muda."
"Iya, gue tahu. Tapi seumpama lo dihadapkan pada pilihan lo harus nikahin atau ninggalin dia apa yang akan lo lakukan?"
"Memangnya ada kemungkinan seperti itu?" Rendra mengerutkan keningnya.
"Segala kemungkinan pasti ada Bro, kita kan enggak tahu apa yang akan terjadi di depan."
"Entahlah gue pusing, yang penting sekarang gue jalanin dulu apa yang ada. Gue enggak mau memaksakan diri. Gue juga enggak mau membayangkan apa yang akan terjadi nanti."
"Jadi lo benar-benar hanya pasrah sama takdir tanpa lo mau usaha?" Tanya Bara memastikan yang dijawab Rendra dengan anggukan kepala.
"Ingat Bro, ada kalimat bahwa usaha tidak akan mengkhianati hasil." Bara menepuk punggung Rendra mengingatkan sahabatnya itu bahwa segala sesuatu pasti didapat sesuai dengan usahanya.
"Tapi hati lain perkara, Bro." Elak Rendra.
"Sama aja menurut gue. Lo juga tahu kan kalau batu tiap hari ditetesin air juga lama-lama pasti berlubang. Begitu juga perasaan, kalau tiap hari lo dikasih perhatian pasti suatu saat lo bakal luluh juga."
"Eh ... kenapa jadi lo yang menasehati gue soal Dita."
"Ya karena gue sekarang ini sebagai sahabat lo bukan sebagai rival lo."
"Kenapa enggak bahas soal lo dan Dita?" Usul Rendra berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Apa yang mau dibahas? Lo tiap hari juga sudah gue ceritain gimana perkembangan gue sama Dita yang masih tetap berjalan di tempat."
Rendra meringis mendengar jawaban Bara, memang benar setiap mereka ketemu pasti Bara menceritakan apa saja yang dia lakukan untuk menarik perhatian Dita, dan hasilnya memang masih tetap sama.
"Udah sekarang lo dengerin aja apa yang gue bilang, sebagai senior, gue bakal ngasih tips cara mendekati cewek. Fokus kita kali ini perasaan lo dan bagaimana cara mendekati Dita."
Rendra mencibir Bara yang selalu percaya diri dengan apa yang dia lakukan. "Bisa-bisanya dia mau ngasih nasehat padahal dia saja masih belum bisa menaklukan Dita."
__ADS_1