Romansa Cinta Senior Junior

Romansa Cinta Senior Junior
112


__ADS_3

"Assalamu'alaikum. Ada apa, Sayang?" tanya Rendra begitu menjawab panggilan dari istrinya.


"Wa'alaikumsalam. Enggak ada apa-apa, Mas. Aku cuma mau tanya Mas makan siang di rumah atau enggak?"


"Maaf, Sayang. Kayanya aku sama Mas Adi enggak makan siang di rumah. Ini urusannya belum selesai. Masih ada Adelia kan di rumah?"


"Iya, aku masih sama Kak Adel kok di rumah."


"Aku pesankan makanan dari sini ya, Sayang. Kamu mau apa?"


"Enggak usah, Mas. Selesaikan saja urusan Mas dulu. Jangan sampai lupa makan ya, Mas Rendra juga Mas Adi."


"Iya, Sayang. Nanti selesai Zuhur kita pasti makan kok."


"Nanti sore jadi kan ke ayah?"


"Jadi dong. Insya Allah sebelum Asar aku sudah pulang. Bakda Asar baru kita berangkat ke ayah."


"Oke, Mas. Hati-hati ya nanti pulangnya di jalan."


"Siap, Sayang. Sudah ya, aku tutup dulu. Miss you, Sayang. Wassalamu'alaikum."


"Miss you too, Mas. Wa'alaikumsalam." Dita mengakhiri panggilannya.


"Kamu romantis ya sama suamimu," celetuk Adelia setelah mendengar percakapan mereka di telepon tadi.


Dita tersenyum malu. "Kak Adel, dengar ya tadi?"


Adelia mengangguk. "Jadi pengen juga diromantisin," katanya sambil menangkup kedua pipinya sendiri.


Dita terkekeh melihat Adelia. "Makanya Kak buruan nikah," sarannya.


"Nikah sama siapa? Calon suami aja enggak punya."


"Ada Mas Adi tuh yang masih available," goda Dita.


"Mas Adi lagi." Adelia menghela napasnya. "Jangan bikin aku ge er, Dita. Aku takut terbang kalau nantinya bakal jatuh."


"Aku setuju kok kalau Kak Adel sama Mas Adi."


Adelia refleks menoleh pada Dita. "Kamu jangan melantur, Dita." Ada rona merah di wajah Adelia saat mengatakannya.


"Aku enggak melantur, Kak. Aku serius. Seumpama Kak Adel memang berjodoh dengan Mas Adi," ujar Dita.


"Aku aamiin-kan saja lagi. Udah ah jangan bahas soal jodoh. Aku tidak mau berharap lebih. Biarlah waktu yang akan menjawab semuanya."


"Iya, deh. Kalau begitu kita mau makan siang sama apa, Kak? Mau masak atau mau order makanan?"

__ADS_1


"Masak juga boleh, sekalian aku belajar masak dari kamu."


"Oke, kita lihat isi kulkas Mas Adi ada bahan apa aja." Dita mengajak Adelia pergi ke dapur.


"Lho ... kok mesti ngecek kulkas. Memang kamu enggak tahu isi kulkas Mas Adi?"


"Aku kan enggak tinggal di sini, Kak. Aku sama Mas Rendra tinggal di sebelah. Aku ke sini kalau pas lowong aja. Mas Adi tuh jarang makan dan masak di rumah kalau aku di sebelah. Makanya aku ingin Mas Adi segera punya istri biar ada yang mengurus. Meski Mas Adi udah terbiasa mandiri, tapi kalau ada istri kan dia lebih teratur hidupnya."


Adelia menganggukkan kepalanya.


Dita membuka kulkas Adi dan ternyata tak ada bahan masakan sama sekali selain telur dan aneka frozen food di freezer.


"Tuh benar kan enggak ada apa-apa. Bentar aku cek ke lemari siapa tahu ada spageti. Kak Adel mau kan spageti?" Dita menoleh pada Adelia.


"Aku sih apa aja oke. Enggak ada pantangan makan."


Dita segera mencari spageti di lemari tempat penyimpanan makanan. Ternyata stoknya masih ada setengah bungkus.


"Alhamdulillah, masih ada spagetinya. Kak Adel, spagetinya mau dimasak apa?"


"Terserah kamu. Aku kalau masak pakai saos yang udah jadi. Aku enggak ngerti cara masak saosnya."


Dita tersenyum. "Oke, kita bikin saosnya biar Kak Adel enggak perlu beli saos instan lagi. Rasanya juga lebih enak kalau saosnya bikin sendiri, Kak."


"Ini enggak kebanyakan spagetinya?" tanya Adelia saat Dita menyiapkan semua spageti untuk direbus.


"Enggak, nanti kalau kita enggak habis masih bisa dimakan Mas Rendra sama Mas Adi. Mereka suka kok, Kak."


"Tenang saja, Kak. Di sini pantangan membuang makanan," kata Dita sambil menyiapkan panci untuk merebus spageti.


Mereka kemudian memasak dan makan spageti berdua.


...---oOo---...


"Mas Adi, gimana tadi rasa spagetinya? Enak kan?" tanya Dita saat mereka berada di mobil dalam perjalanan pulang ke rumah Pak Wijaya.


Hari ini memang ayah dan bunda meminta mereka pulang karena akan ada acara pertemuan keluarga besar di hari Minggu pagi. Dan memang sudah diagendakan, setidaknya sebulan sekali, mereka akan datang dan menginap di sana.


"Enak, seperti biasanya. Kenapa memangnya, Dek?" Adi mengernyit heran sampai menoleh ke kursi penumpang di belakang, di mana Dita duduk sendiri. Karena Rendra sedang menyetir mobil, dan Adi duduk di kursi penumpang sebelah sopir.


"Tadi Kak Adel yang masak," jawab Dita antusias.


"Mas, enggak percaya. Jangan bohong, Dek. Itu rasa masakanmu banget."


Dita mencebik. Pancingannya tidak berhasil. Dia memang tidak bisa membohongi kakaknya itu karena sudah sangat hafal rasa masakannya.


"Adek kenapa sih selalu ngomongin Adel? Mau jodohin mas sama dia?"

__ADS_1


"Kalau iya kenapa? Enggak masalah kan, Mas. Kak Adel jomlo, Mas Adi juga jomlo. Kedua jomlo bersatu kan bagus, jadi mengurangi populasi jomlo di dunia," cerocos Dita.


"Jomlo itu pilihan, Dek. Bukan karena mas enggak laku. Yang mau dan naksir mas banyak, tapi memang mas belum nemu yang klik di hati aja."


"Iya, iya, aku percaya. Tapi, masa di antara semua wanita yang Mas kenal, enggak ada yang bikin Mas tertarik." Dita memicingkan matanya pada Adi.


"Wanita cantik sih banyak, Dek. Tapi yang cantik hati dan akhlaknya, mas belum nemu."


"Kak Adel itu sedang berusaha mempercantik akhlaknya, Mas. Apa Mas enggak tertarik untuk membimbingnya?"


"Kan sudah ada, Adek."


"Mas Adi, ih nyebelin." Dita sewot sendiri mendengar jawaban Adi. Kakaknya itu memang paling susah kalau sudah berurusan dengan wanita. Entah wanita seperti apa yang dicarinya.


Sementara itu, Adi tergelak melihat kelakuan adiknya yang jengkel karena dia. Memang secara fisik dia tertarik dengan Adelia, orangnya ramah dan juga baik. Sosok wanita yang tidak malu mengakui segala dosanya dan sedang berproses memperbaiki diri. Tetapi untuk urusan menikah, dia harus hati-hati. Dia tidak mau gegabah mengambil keputusan. Setidaknya dia harus memantapkan hatinya sendiri dengan salat Istikharah.


Sama seperti Dita dan Rendra, tidak pernah ada istilah pacaran di hidupnya. Meskipun dia pernah mengalami cinta monyet, itu hanya sebatas mengagumi dan memperhatikannya dari jauh. Tidak pernah sekalipun dia mengutarakan perasaannya, meminta seseorang untuk menjadi pacarnya.


Dulu, memang dia pernah melamar seorang wanita yang dia cintai dalam diam. Meski mereka sama-sama saling tertarik, tetapi keluarga si wanita tidak menerima lamarannya karena dia belum punya apa-apa.


Sejak itu, dia bertekad tidak akan menikah sampai bisa membahagiakan kedua orangtua dan adiknya. Dia juga rajin menabung agar bisa mempunyai rumah dan kendaraan dari hasil kerja kerasnya sendiri, agar suatu saat bila dia melamar seorang wanita lagi tidak mendapat penolakan karena masalah harta.


Karena terlalu fokus kerja, hingga membuatnya tidak mengenal banyak wanita selain teman kerja dan yang dikenalkan padanya. Meski banyak yang berusaha mendekatinya, atau pun beberapa teman ayah dan bunda yang ingin menjadikannya menantu, dia sama sekali belum tertarik untuk menikah.


Sebelum Dita menikah, dia ingin sekali memanjakan adiknya itu dengan apa pun yang dia punya. Dia ingin mengantarkan Dita sampai lulus kuliah hingga bisa bekerja sendiri. Tetapi sejak Dita menikah, dia hanya ingin membahagiakan dan membanggakan kedua orang tuanya. Meski dia pun tetap menjaga dan mengawasi Dita dari jauh. Dia bahagia melihat adiknya bahagia dengan pernikahannya walau dia jadi kehilangan banyak waktu bersama Dita.


Kini, mungkin memang saatnya dia mulai menata hidupnya sendiri. Di usia ke 27 tahun, yang masih dibilang muda untuk ukuran pria, dia sudah cukup mapan. Punya pekerjaan yang bagus, kendaraan dan juga rumah sendiri.


Ayah dan bundanya sebenarnya tidak pernah memaksanya untuk segera menikah. Karena mereka percaya jodoh itu rahasia Allah. Nyatanya, siapa yang pernah menduga Dita akhirnya menikah dengan Rendra di usia yang masih terbilang muda. Padahal mereka sendiri tidak pernah bermimpi untuk menikah muda. Semua terjadi tentu saja karena kehendak dan ketentuan Allah.


Adi menghela napas panjang saat mengakhiri lamunannya.


"Mas Adi, Mas Adi," panggil Dita berulang kali.


"Kenapa sih, Dek?" tanya Adi.


"Mas melamun tadi, dipanggil berulang kali enggak memberi respon," jawab Dita.


"Iyakah?" Adi menautkan alisnya.


"Masa iya aku bohong. Hayo ngaku, Mas lagi mikirin Kak Adel ya," goda Dita.


"Suka-suka kamulah, Dek. Capek aku jelasinnya."


Dita terkikik geli mendengar perkataan kakaknya. Menggoda Adi jadi salah satu hobi barunya sekarang. Dia terus menggoda Adi agar kakaknya itu terus terusik dan memikirkan untuk menikah. Karena sejatinya, dia ingin kakak yang sangat dia cintai itu segera menikah dan bahagia dengan pernikahannya seperti dirinya.


...---oOo---...

__ADS_1


Jogja, 070521 00.05


Masih belum bosan kan dengan Adelia dan Adi? ✌️✌️✌️


__ADS_2