
"I wanna say something. I can't get over you and I'm totally about you. Would you be mine for the rest of my life (Aku ingin mengatakan sesuatu. Aku tidak bisa melupakanmu dan aku benar-benar mencintai kamu. Maukah kamu menjadi milikku selama sisa hidupku)?"
Dita terdiam, matanya mengerjab berkali-kali. Otaknya sedang berusaha mencerna apa yang didengarnya. Ini ilusi ataukah nyata?
"Aku tahu ini terlalu cepat dan kamu pasti terkejut. Kamu boleh memikirkannya dulu, tidak harus menjawab sekarang." Rendra mengelus lembut punggung tangan Dita dengan tetap menatap gadis di depannya itu penuh cinta.
"Maaf aku tidak melakukannya dengan cara yang romantis dan di tempat yang bagus. Karena semua yang berkaitan denganmu hatiku yang menggerakkannya. Dan, saat ini hatiku ingin mengungkapkan apa yang dirasakannya."
Dita masih terpaku tak bereaksi, pikirannya masih menerawang hingga tak mendengar beberapa kalimat terakhir yang diucapkan Rendra setelah menyatakan perasaannya. Sungguh ini kejutan yang amat sangat tidak dia duga sama sekali. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Pikirannya buntu, dia tidak bisa berpikir jernih.
Din ... din ....
Suara klakson mobil yang melintas di alun-alun kidul membuyarkan lamunan Dita. Begitu tersadar dia refleks menarik kasar tangannya yang digenggam Rendra.
"Aku ... aku ... mau pulang." Dita segera meraih ranselnya lalu berdiri dan berjalan dengan cepat menuju ke tempat parkir. Dia berdiri di dekat motor Rendra sambil menunggu Rendra datang. Dia tampak gelisah, berulang kali menggigit bibir bawahnya.
Rendra mengembuskan napas panjang saat Dita tiba-tiba menarik tangannya lalu berdiri dan meninggalkannya. Dia meraih ransel, lalu berdiri dan membayar wedang ronde yang tadi mereka pesan kemudian menyusul Dita yang sudah menunggu di dekat motornya.
Rendra menyerahkan helm pada Dita yang langsung diambil dan dipakai Dita dengan cepat. Rendra tersenyum tipis melihat perilaku Dita, mungkin dia salah karena terlalu cepat dan mendadak mengutarakan perasaannya.
Setelah mereka berdua naik di atas motor, Rendra melajukan kendaraannya keluar dari alun-alun kidul untuk pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan yang mereka lalui selama 15 menit tak ada satu pun kata-kata yang keluar dari mulut mereka. Terlalu sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
Sampai di depan rumah Dita, terlihat Adi sedang duduk di teras sedang mengutak atik gawainya ditemani secangkir kopi yang ada di atas meja. Begitu motor berhenti, Dita langsung turun dan menyerahkan helm pada Rendra yang sudah dia lepas saat masuk ke area cluster perumahan tadi.
"Makasih," ucapnya buru-buru lalu melangkah cepat mendekati Adi.
"Assalamu'alaikum, Mas," sapa Dita lalu mencium punggung tangan dan pipi Adi.
"Wa'alaikumsalam," balas Adi sembari mencium kening Dita.
Dita langsung masuk ke dalam rumah tanpa menoleh lagi ke belakang. Tujuan utamanya adalah cepat-cepat sampai di dalam kamar, lalu menyegarkan diri dan pikirannya.
Setelah melepas helm dan memarkir motor, Rendra menyapa Adi yang duduk di teras. "Enggak telat kan, Mas?"
"Pas, on time (tepat waktu). Duduk dulu sini Rend, kita ngobrol." Adi menepuk kursi di sampingnya.
Rendra lalu duduk di samping Adi.
"Tadi ke mana saja?" Tanya Adi memulai pembicaraan.
"Ke Malioboro Mas, sama tadi saya mengajak Dita ke alun-alun kidul beli wedang ronde." Jawab Rendra.
__ADS_1
"Apa tadi terjadi sesuatu?" Adi menatap Rendra dengan pandangan menyelidik.
"Maksudnya, Mas?"
"Ada kejadian apa tadi? Pasti ada sesuatu karena sikap Dita tadi tidak seperti biasanya."
"Oh ... itu ... tadi ... saya ... saya mengutarakan perasaan saya, Mas. Maaf ... saya tidak minta izin dulu, tadi spontanitas saja."
Adi menghela napas, "lalu apa jawaban Dita?"
"Dita belum menjawab Mas, dia tadi langsung minta pulang."
Adi terkekeh mendengar ucapan Rendra. "Dita ... Dita ...."
"Kenapa, Mas?" Rendra heran melihat Adi yang tertawa.
"Dita pasti kaget dan bingung, makanya langsung minta pulang."
"Salah saya juga Mas langsung bilang tanpa ada basa basi dulu."
"Enggak ... bukan itu. Biasanya Dita akan langsung kasih jawaban kok kalau ada yang nembak dia. Kaya ke siapa itu temanmu yang juga suka sama Dita?"
"Bara?"
"Mas Adi kenal Bara?"
"Dibilang kenal ya enggak juga, tapi pernah ketemu tempo hari pas aku jemput Dita, Bara ngajak aku kenalan."
"Oh."
"Dita itu selalu langsung menolak cowok yang nembak dia tanpa perlu basa basi. Kalau sama kamu mungkin dia bingung mau jawab apa."
"Kok Mas Adi tahu kalau Dita selalu menolak cowok?"
"Dita selalu cerita semuanya sama aku, enggak pernah terlewat satu pun, termasuk juga pertengkaran kalian di awal kalian ketemu."
Rendra meringis malu mendengar kata-kata Adi. "Tapi kami sekarang tidak pernah bertengkar lagi, Mas."
"Iya, aku tahu." Adi mengambil cangkir kopi dan menyesapnya.
"Oh ya sampai lupa dianggurin, aku bikinkan kopi dulu ya."
__ADS_1
"Makasih Mas, enggak usah. Tadi sudah minum wedang ronde kok."
"Oke. Kenapa tadi kamu ngajak Dita ke alkid (alun-alun kidul) sendiri?"
"Karena saya sama sekali tidak bisa bicara dengan bebas selama bersama teman-temannya. Dita selalu bersama Bella dan Baim. Jadi tadi saya iseng ajak dia, ternyata kok Dita-nya mau. Maaf tadi enggak izin Mas Adi dulu ngajak Dita ke alkid."
"Ya udah enggak apa-apa sudah terlanjur, tapi lain waktu jangan sampai diulangi."
"Iya, Mas."
"Kamu nembaknya berarti di alkid?"
"Iya, Mas."
"Enggak romantis banget kamu," ledek Adi sambil terkekeh pelan.
Rendra meringis, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Lain waktu saya pasti mencari tempat yang romantis, Mas."
"Yakin ada lain waktu?"
"Ya semoga ada kesempatan lagi, Mas."
"Kalau Dita ternyata nolak kamu gimana?"
"Ya, saya akan berusaha lagi Mas sampai batas akhir kemampuan saya."
Adi menganggukkan kepalanya. "Enggak kamu, enggak Bara, semuanya pejuang tangguh dalam cinta," seloroh Adi.
"Kalau aku lihat kayanya kamu masih ada kesempatan, tapi aku juga enggak tahu pasti isi hati Dita. Soal hati dan perasaan aku enggak ikut campur karena nanti dia yang menjalaninya sendiri, jadi aku enggak bisa membantumu."
"Saya sudah sangat berterima kasih Mas Adi mengizinkan saya untuk mendekati Dita. Hal lainnya biar saya berusaha sendiri, Mas," ujar Rendra.
"Tapi, seperti yang pernah aku bilang tempo hari, kalaupun nanti Dita menerima kamu, keputusan akhir tetap di tangan ayahku."
"Iya Mas, saya mengerti."
"Kamu terus saja Istikharah dan berdoa, semoga segera diberikan petunjuk dari Allah."
"Aamiin."
"Ya udah Rend, sudah malam ini. Kapan-kapan kita ngobrol sambil ngopi lagi."
__ADS_1
"Baik Mas, saya pulang dulu. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam." Adi berdiri di teras, dia menunggu sampai Rendra membawa motornya pulang ke rumah. Setelah Rendra tidak terlihat lagi, dia membawa cangkir kopinya lalu masuk ke dalam rumah.