
Hari ini Rendra mengikuti acara pertemuan para pengusaha muda di sebuah hotel yang terletak di pusat kota Jogja. Rendra tentu saja mengajak Dita, karena dia ingin istrinya mengenal teman-temannya. Selain itu dia juga ingin Dita pelan-pelan belajar bisnis.
Di pertemuan seperti ini selain untuk menambah teman, juga menambah relasi kerja. Dari sini mereka bisa saling bersinergi dan bekerja sama. Mereka bisa saling berbagi pengalaman dan ilmu. Mereka juga saling mendukung bila ada salah satu dari mereka membuka usaha atau bisnis baru.
“Hai, Pengantin Baru,” sapa seorang pemuda yang berjalan menghampiri Rendra dan Dita yang sedang duduk berdua.
“Wah, yang baru pulang dari traveling di Jepang. Apa kabar, Mas Hardi?” Rendra bangkit dari duduknya. Dia bersalaman dengan Hardi lalu mereka saling berpelukan.
“Ayo gabung di sini, Mas.” Rendra menunjuk kursi di sampingnya.
“Kenalkan ini istriku, Mas.” Rendra menunjuk Dita yang langsung berdiri dan memberi salam pada Hardi.
“Nur Hardi, panggil saja Hardi.” Hardi memperkenalkan diri dan mengulurkan tangan untuk bersalaman.
“Dita.” Dita menyambut uluran tangan Hardi dan mereka pun bersalaman.
“Mas Hardi ini kemarin juga datang ke resepsi kita, tetapi kita enggak sempat ngobrol,” terang Rendra pada Dita.
“Iya, kalian kan sibuk menyalami ribuan tamu. Tapi aku lihat pas Rendra baca puisi dan nyanyi lagu buat Dita. Kalau aku cewek udah pasti baper waktu itu,” cerita Hardi sambil tertawa kecil.
Dita tersenyum malu mendengar cerita Hardi.
“Mas Hardi ini pengusaha bakery yang sudah banyak cabangnya, Sayang. Makanya aku mau berguru sampai beliau,” terang Rendra pada Dita.
“Rendra ini berlebihan kalau memuji. Dia juga hebat kok masih kuliah tapi sudah punya kafe yang jadi tongkrongan anak muda.” Hardi menepuk bahu Rendra.
“Gimana Mas, perjalanan ke Jepangnya?” tanya Rendra.
“Asyik dan menyenangkan di sana. Kapan-kapan ya kita traveling bareng ke sana,” jawab Hardi.
“Aku tadi bawa oleh-oleh buat kalian, tapi di mobil. Nanti pulangnya jangan lupa ya diambil,” lanjutnya.
“Alhamdulillah, terima kasih Mas. Malah merepotkan pakai dibawain oleh-oleh segala.”
“Sama-sama, kamu kemarin pulang dari bulan madu juga bawain aku oleh-oleh. Anggap sebagai balasan,” ujar Hardi sambil tersenyum.
“Gimana, apa sudah ada hasil dari bulan madu kalian kemarin?”
“Alhamdulillah, Mas. Sekarang Dita sedang hamil, masuk ke 3 bulan,” ucap Rendra sambil mengelus perut Dita.
“Alhamdulillah, aku ikut bahagia. Semoga lancar dan sehat sampai kelahiran nanti,” doa Hardi tulus.
“Aamiin,” sahut Rendra dan Dita bersamaan.
“Semoga Mas Hardi juga segera bertemu jodoh dan menikah dengan orang yang dicintai,” doa Rendra.
“Aamiin. Kita saling mendoakan ya,” sahut Hardi.
“Mas, kemarin kita sudah survei alat yang untuk bakery. Menurut Mas bagus yang mana?” Rendra menunjukkan foto-foto di gawainya.
"Tergantung kebutuhan dan kapasitas produksi. Rencananya kamu mau produksi apa saja?" tanya Hardi.
"Roti dan pastry yang jelas. Kalau yang lain sih terserah istriku, Mas."
Hardi menganggukkan kepala. "Bukannya kemarin kamu sudah kerja sama dengan XX Bakery? Kenapa berhenti?"
__ADS_1
"Kalau bisa produksi sendiri keuntungan lebih besar kan, Mas. Kemarin itu juga untuk tes pasar, ternyata responnya cukup bagus. Sejujurnya aku malas bertemu dengan owner-nya yang suka pakai baju ketat dan seksi, Mas," Rendra tersenyum canggung.
"Dari dulu kamu memang paling alergi kalau didekati cewek. Padahal banyak yang mau dekat, mereka pura-pura minta diajari cara meracik kopi."
"Makanya aku heran waktu terima undangan pernikahanmu. Enggak pernah kelihatan gandeng cewek, tahu-tahu sebar undangan. Berarti Dita ini istimewa, bisa menaklukan kamu." Hardi mengerling pada Dita.
"Jelas istimewa, Mas. Mendapatkannya saja enggak mudah. Sampai setiap hari, aku sebut namanya di doa sepertiga malamku, Mas." Rendra menggenggam erat tangan Dita.
"Jadi iri aku melihat kemesraan kalian," canda Hardi dengan raut wajah dibuat sedih.
"Mas Hardi bisa saja. Oh ya, balik ke masalah tadi, Mas. Sebaiknya aku bagaimana?"
"Omset roti selama ini sehari berapa rata-rata yang keluar?" tanya Hardi.
"Kayanya 100 roti ada sehari, kalau weekend bisa lebih banyak," jawab Rendra.
"Oke, kita simulasi ya dari omset yang ada. Sehari 100 roti, misal satu berat roti 60 gram berarti membutuhkan adonan roti 6000 gram atau 6 kilo. Rencananya roti 100 itu mau dibuat dalam satu kali atau dua kali?"
"Menurut Mas, bagusnya gimana?"
"Kalau mau selalu fresh ya dua kali," saran Hardi.
"Misal dibuat dua kali bagaimana, Mas?"
"Berarti kan sekali membuat adonan 3000 gram, paling enggak kamu cari kapasitas mixer minimal yang 6 kg untuk berjaga-jaga. Jadi kalau ada pesanan bisa lebih cepat produksinya. Membuat 100 roti sekali mengadon. Saranku cari yang lebih besar sih," terang Hardi.
"Lalu untuk baker-nya (orang yang membuat roti), Mas?"
"Rekrut satu orang yang sudah pengalaman. Membuat 100 roti pasti hal kecil buat dia. Tawarkan dia gaji yang lebih tinggi dari tempat sebelumnya. Tambah deh karyawan cewek biar ada pemandangan gitu, enggak cowok semua."
"Kalau cari karyawan cewek biar itu wewenang istriku, Mas. Rencananya nanti dia yang pegang bakery, aku pegang manajemennya aja. Mau buat produk apa atau dibikin bagaimana, biar Dita yang mengatur."
Pembicaraan mereka menjadi semakin serius, meski beberapa kali terhenti karena menjawab sapaan teman-teman mereka lainnya. Dita pun ikut menyimak pembicaraan Rendra dan Hardi, sesekali dia pun ikut bertanya dan bicara.
Mereka baru menghentikan pembicaraan saat acara pertemuan itu ditutup. Mereka lusa janji bertemu lagi di salah satu bakery milik Hardi untuk melihat proses produksinya. Sebelum pulang, Hardi menyerahkan sekotak Tokyo Banana (1) pada Rendra dan Dita sebagai oleh-oleh dari Jepang.
Begitu masuk ke dalam mobil, Dita sudah tidak sabar membuka oleh-oleh dari Hardi. Rendra yang melihatnya hanya tersenyum. Dia merasa bahagia karena kehamilan Dita sama sekali tidak menyusahkan meski nafsu makannya jadi bertambah. Sejauh ini makanan yang Dita inginkan juga masih wajar dan gampang diperoleh.
"Mas, coba deh. Enak banget ini. Kuenya lembut banget, krimnya juga enak enggak bikin enek." Dita menyuapi Rendra sepotong tokyo banana.
Rendra menganggukkan kepala. "Iya, Sayang. Enak. Tapi, jangan nyidam ini yah nanti. Mesti ke Jepang dulu soalnya," candanya.
Dita tertawa kecil mendengar ucapan suaminya. "Baby, jangan nyusahin ayah ya. Nanti minta makanannya yang ada di sini aja," ucap Dita sambil mengelus perutnya.
Rendra ikut tertawa, dia mengelus kepala Dita dengan tangan kirinya.
"Kita mau langsung pulang atau mau mampir ke mana, Sayang?" tanya Rendra sambil tetap fokus menyetir.
"Katanya tadi mau mampir ke kafe," jawab Dita.
"Sayang, enggak capek?"
"Capek sedikit sih, tapi enggak apa-apa. Lagian aku juga mau lihat lagi untuk memastikan desain terakhir biar bisa segera direnovasi. Biar Mas juga enggak perlu lagi ketemu sama owner XX bakery."
Rendra tersenyum geli mendengar Dita menggodanya.
__ADS_1
"Mas, kenapa sih sampai anti pati sama cewek?" tanya Dita penasaran.
"Aku cuma menjaga diri aja biar enggak timbul fitnah atau ada yang salah paham," jawab Rendra.
"Tapi Mas bisa dekat sama Kak Adelia."
"Karena dia satu-satunya cewek yang enggak modusin aku."
"Ih, ge er banget sih kalau semua cewek modusin, Mas," ledek Dita.
"Kenyataannya begitu. Sayang, tadi dengar sendiri kan apa yang Mas Hardi bilang. Mereka pura-pura minta diajari cara meracik kopi. Dan, banyak trik lainnya."
"Kok Mas tahu kalau Kak Adelia enggak modusin Mas?"
"Karena dia sudah punya pacar, Sayang."
"Sebenarnya Bara sih yang dekat dulu sama Adelia. Dia sering satu kelompok sama aku dan Bara. Ya udah akhirnya kami berteman sampau sekarang. Eh, kok aku jadi penasaran, kenapa tanya soal Adelia? Sayang, cemburu ya."
"Enggak. Kak Adelia kan baik, buat apa aku cemburu. Tapi sekarang, Mas juga harus jaga jarak sama Kak Adelia biar enggak timbul fitnah."
"Iya, Sayang."
"Kabar Kak Bara gimana ya, Mas?"
"Baik, baru di Jakarta dia sekarang. Mamanya marah karena dia jarang pulang."
"Oh, padahal aku ingin lihat Kak Bara manggung sama band-nya."
"Minggu depan dia udah balik ke sini."
"Wah, asyik. Tanyain Mas kapan dia manggung lagi?"
"Iya, nanti. Kenapa sih ingin lihat dia manggung?" tanya Rendra dengan nada cemburu.
"Aku suka suaranya Kak Bara kalau nyanyi."
"Memang suaraku kurang bagus, Sayang."
"Eh ... bukan gitu maksudku. Kalau suara Mas kan kapan pun aku bisa dengar. Kalau Kak Bara kan jarang, Mas."
"Bukannya dulu kamu suka dikirimin lagu covernya dia, Sayang."
"Sudah aku hapuslah, sejak aku memutuskan menerima Mas jadi suamiku."
Rendra tersenyum lebar, rasa cemburunya perlahan menguap mendengar ucapan Dita. Tidak seharusnya kan dia cemburu saat istrinya benar-benar menghapus semua hal yang diberikan oleh Bara.
...※※※※※...
Catatan:
(1) Tokyo Banana adalah oleh-oleh makanan manis khas Tokyo. Kue spons ini berbentuk pisang yang di dalamnya berisi krim, yang terbuat dari pisang yang dihaluskan. Setelah kue spons dipanggang, kue ini dikukus untuk memberikan tekstur yang lembut. Setiap satu tokyo banana dikemas dalam sebuah plastik. Beberapa tokyo banana itu dikemas dalam sebuah kotak yang cantik.
__ADS_1
Jogja, 290321 01.15