Romansa Cinta Senior Junior

Romansa Cinta Senior Junior
61


__ADS_3

Sejak pergi dari kantin, Rendra memasang wajah dingin dan menutup mulutnya. Dia hanya bicara seperlunya saja. Sepanjang perjalanan pulang, Rendra juga sama sekali tidak mengajak bicara Dita, padahal biasanya mereka akan mengobrol saat berkendara. Dita pun tak berani mengajak suaminya bicara karena dia sadar kalau dia salah.


Rendra langsung menuju ke rumah Adi. Setelah memarkir motor di carport, dia mengikuti Dita yang sedang membuka pintu rumah. Begitu mereka masuk ke dalam rumah, Rendra langsung mengunci pintu.


Rendra kemudian menarik tangan Dita yang hendak masuk ke kamar. Dia membalik badan Dita lalu memeluknya.


"Jangan membuat aku khawatir lagi." Rendra memeluk Dita sembari mengelus kepalanya. Dia lalu mengecup puncak kepala Dita, setelah itu melepas pelukannya.


"Kamu enggak diapa-apain kan sama mereka?" Rendra memandang Dita dengan tatapan khawatir.


Dita menggelengkan kepala sambil tersenyum.


"Aku enggak apa-apa, Mas. Terima kasih sudah membelaku." Dita mengelus wajah Rendra sambil menatap mata suaminya.


"Kamu hutang penjelasan sama aku."


"Nanti aku jelaskan semuanya, Mas. Sekarang aku mau masak dulu, aku lapar."


"Tadi belum makan?"


"Ya belum Mas, keburu mereka datang. Terus Mas langsung ajak aku pulang. Perutku udah keroncongan dari tadi."


"Pesan makan aja ya, sambil nunggu kita bisa ngobrol."


"Kelamaan Mas kalau pesan, masak lebih cepat dan lebih sehat."


"Oke," Rendra akhirnya mengalah.


"Mas istirahat aja di kamar, atau mau pulang ganti baju dulu?" Dita masuk ke kamar untuk meletakkan ransel dan mengambil ikat rambutnya. Dia lalu mengikat rambutnya membentuk cempol.


"Enggak mau, aku hari ini mau sama kamu terus." Rendra terus mengekor Dita.


"Mas duduk aja jangan ngikutin aku terus." Dita merasa risi karena Rendra selalu mengikuti ke mana pun dia melangkah.


"Enggak mau, jarang-jarang kan kita bisa berduaan di rumah kaya gini. Apa kita sewa apartemen aja ya, kalau lagi ingin berdua kita ke sana?"


"Ih ... enggak usah Mas. Mendingan uangnya ditabung buat hal yang lebih manfaat."


"Menurutmu kita berduaan enggak bermanfaat gitu?" Rendra mulai merajuk.


"Bukan gitu maksudku, Mas. Kalau ingin berdua kan kita bisa di sini kalau pas Mas Adi kerja, enggak perlu sewa apartemen." Terang Dita.


"Tapi kan waktunya terbatas, Sayang." Rendra tiba-tiba memeluk Dita dari belakang hingga membuat lehernya meremang karena terkena embusan napas Rendra.


"Mas, jangan gini ih. Aku enggak bisa gerak. Aku udah lapar banget ini. Nanti enggak kelar-kelar masaknya." Protes Dita, tetapi Rendra bergeming tak mau melepas pelukannya.


"Udah, goreng telur aja yang praktis enggak usah masak macam-macam."


"Mas, please lepasin aku. Habis masak dan makan terserah deh mau ngapain aja."


"Benar mau ngapain aja?"


"Iya."


"Janji?"


"Iya, Mas Rendra Sayang."


"Eh ... kamu manggil aku apa? Kupingku enggak salah dengar kan?"


"Apaan sih," Dita seketika merona saat sadar panggilannya pada Rendra tadi.


"Hmmm ... pura-pura lupa," cibir Rendra sambil meletakkan dagunya di pundak Dita.


"Mas, berat. Kapan aku selesai masaknya kalau begini?"


"Panggil aku dulu kaya tadi."


"Yang mana?" Dita berpura-pura lupa.


"Yang terakhir tadi, enggak usah pura-pura lupa." Rendra mulai iseng menciumi leher Dita.


"Udah Mas, geli. Iya aku panggil kaya tadi lagi, tapi janji habis itu Mas lepasin aku dan duduk manis saja di sana." Dita menunjuk ke arah meja makan.

__ADS_1


"Hhmmm ...."


"Mas Rendra Sayang, tolong lepasin aku, biar aku bisa cepat selesai masaknya." Ucap Dita dengan tersipu.


Rendra tersenyum penuh kemenangan lalu melepas pelukannya, sebelum itu dia sempat mencuri ciuman di pipi Dita. Setelah melepas pelukannya, bukannya duduk manis tetapi dia malah berdiri di samping Dita.


"Sini aku bantu biar cepat." Rendra merebut pisau yang dipegang Dita.


"Mas bisa masak?" Tanya Dita heran.


"Kamu meragukan kemampuan suamimu hummm?"


"Bukan begitu, tapi kan jarang cowok mau masuk dapur."


"Aku harus bisa melakukan apa pun sejak papa meninggal. Mau tidak mau aku harus lebih mandiri dan tidak bergantung pada siapa pun. Jadi ya aku kalau makan ya harus masak, apalagi saat mama sedang merintis usaha butik. Meski tiap hari mama sempatkan memasak, tetapi kan hanya untuk sarapan. Makan siang dan malam otomatis kami harus masak sendiri agar lebih berhemat."


"Wah, Mas keren juga ya." Dita mengacungkan dua jempol sembari memandang kagum suaminya.


"Aku tahu aku ganteng, enggak usah sampai seperti itu memandangku. Katanya mau cepat selesai masaknya kok malah berhenti gimana sih." Rendra menoleh pada Dita.


"Iya ... iya ...."


Mereka lalu masak berdua sambil sesekali Rendra menggoda Dita. Selesai memasak, mereka pun makan berdua. Setelah makan, mereka juga bersama-sama mencuci alat makan dan alat masak yang tadi dipakai.


Rendra mengajak Dita duduk di sofa ruang tengah sesudah menyelesaikan urusan dapur.


"Duduk sini," Rendra menepuk pahanya meminta Dita duduk di pangkuannya.


Dita pun menuruti keinginan suaminya. Dia melingkarkan sebelah tangan di leher Rendra.


"Sekarang coba jelaskan kenapa kamu enggak cerita soal dua katingmu tadi?" Rendra mulai memasang wajah serius.


"Aku enggak mau membuat Mas khawatir." Dita menundukkan wajahnya merasa bersalah.


"Jangan menunduk, aku enggak bisa melihat wajahmu." Rendra mengangkat wajah Dita agar berhadapan dengannya.


"Apa kamu tahu kalau kamu malah membuatku semakin khawatir karena enggak cerita sama aku?" Rendra menatap mata Dita.


Dita menggelengkan kepala. "Maafkan aku, Mas."


"Enggak Mas, bukan begitu. Aku anggap ini masalah kecil saja. Mereka juga tidak pernah main fisik sama aku, jadi aku tetap santai. Kalau hanya omongan pedas, aku masih bisa menanggapi. Mereka mau duel fisik pun aku siap, Mas. Laki-laki saja aku lawan apalagi hanya mereka berdua." Dita beralasan.


"Tapi kamu sudah enggak jujur sama aku. Terus terang aku merasa sakit hati, aku merasa enggak kamu hargai sebagai suami."


"Maaf Mas, aku enggak bermaksud enggak menghargai Mas sebagai suami. Aku hanya enggak mau menambah beban pikiran Mas dengan masalah kecil ini."


"Ini bukan masalah kecil, Dita. Kalau mereka sampai nekat dan terjadi sesuatu sama kamu, apa yang harus aku katakan sama Mas Adi, ayah dan bunda?"


"Sejak kita menikah, kamu itu tanggung jawabku, jadi apa pun yang terjadi padamu otomatis jadi tanggung jawabku. Apa kamu mau aku dianggap sebagai suami yang tidak becus, tidak bisa menjaga dan melindungi istrinya?"


"Enggak Mas, sungguh aku enggak ada niat seperti itu. Mas itu suami yang baik, bertanggung jawab. Aku minta maaf kalau aku belum bisa menjadi istri yang baik. Aku minta maaf kalau sudah menyakiti hati, Mas. Aku minta maaf sudah membuat Mas khawatir. Aku salah." Dita memeluk Rendra sambil menangis.


Rendra mengusap punggung Dita untuk menenangkannya. Tanpa dia sadari, dia pun meneteskan air mata. Sungguh, dia tidak ingin membuat istrinya menangis. Hatinya sakit melihat Dita menangis apalagi karena merasa bersalah padanya.


"Sssttt ... sudah jangan menangis. Aku maafin kamu. Janji ya jangan diulangi." Rendra melepas pelukan Dita, dia mengusap air mata di wajah Dita. Hatinya kembali nyeri melihat air mata Dita yang masih terus keluar.


Dita menganggukkan kepala. "I ... iya Mas, aku janji."


"Sudah jangan menangis," Rendra tersenyum lalu mengecup kening Dita lama, menyalurkan segenap rasa cintanya. Rendra kembali mengusap sisa-sisa air mata di wajah Dita setelah mengecup kening istrinya.


"Senyum dong, kalau kamu sedih gini aku jadi ikut sedih."


Dita mencoba tersenyum meski terasa kaku.


"Mulai hari ini kita berjanji ya harus cerita apa pun yang terjadi. Mau masalah kecil atau masalah besar kita harus saling terbuka."


"Iya, Mas."


"Kita sama-sama belajar jadi lebih dewasa. Belajar lebih menghargai pasangan. Belajar lebih saling mengerti. Belajar saling terbuka. Kamu mau kan?"


"Iya, aku mau Mas."


Rendra tersenyum sembari menyelipkan rambut Dita ke belakang telinganya.

__ADS_1


"Mas, boleh tanya?"


"Tanya apa?"


"Mas tahu dari mana soal tadi?"


"Adelia yang memberi tahu aku."


"Kak Adel tahu soal ini?"


"Iya, kamu udah jadi bahan gosip di kampus." Rendra mencubit pucuk hidung Dita.


Dita terhenyak, dia lalu menghela napas panjang. "Pasti orang-orang sudah memandang rendah aku ya, Mas."


"Enggak ada yang memandang rendah kamu. Apalagi tadi aku sudah mengakui kalau kamu istriku. Mereka pasti tidak akan berani memandang rendah dan mengusikmu. Kalau sampai ada, aku yang akan langsung turun tangan."


"Kok Mas tadi tahu mereka datang, bukan kebetulan kan?"


"Bella yang mengirim pesan. Aku langsung pergi begitu membaca pesannya. Untung saja masih belum terlambat."


"Apa? Bella? Diam-diam Bella cerita sama Mas ya?"


"Aku yang minta dia cerita dan hubungi aku kalau mereka mendatangi kamu lagi. Kamu harusnya bangga dan berterima kasih pada Bella, dia benar-benar sahabat yang baik."


"Iya, aku tahu Mas. Eh ... dari mana Mas dapat nomornya Bella? Aku enggak pernah ngasih Mas loh."


"Cemburu ya karena aku menghubungi Bella?" Rendra menggoda Dita.


"Mas ih, jawab dulu pertanyaanku."


Rendra tertawa melihat Dita yang cemberut.


"Baim yang ngasih nomornya Bella."


"Oh ...."


"Kenapa hummm?"


"Enggak apa-apa."


"Oh iya, aku ingat tadi kamu janji habis masak dan makan terserah aku mau ngapain aja."


"Eh ... apa iya aku ngomong gitu Mas?" Dita bersikap sok polos.


"Jangan sok pura-pura lupa." Rendra mencubit pucuk hidung Dita lagi.


"Apaan sih, Mas." Dita tersipu malu.


Rendra mendekatkan wajahnya. Dia mengecup dengan pelan dan lembut bibir manis Dita. Dari yang semula pelan kemudian semakin menuntut hingga mereka hampir kehabisan oksigen. Rendra lalu menggendong Dita masuk ke kamar dengan bibir tetap saling menyesap tanpa ada yang mau melepaskan.


...πŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’ž...


Assalamu'alaikum


Apa kabar teman-teman? Semoga selalu dalam keadaan sehat ya ☺️


Di sini saya mau kasih pengumuman, bila ada teman-teman yang ingin masuk ke GC (Grup Chat) agar kita bisa ngobrol bareng, bisa meminta bergabung dari halaman depan cover cerita ini di bagian kanan atas yang bertuliskan 'Ayo Chat'.



Atau bisa juga klik profil saya, di bagian profil pribadi ada 'Grup Kokoro No Tomo' tinggal pencet saja di sana.


SYARAT untuk bergabung HARUS meninggalkan jejak KOMENTAR.


Isikan alasan untuk masuk ke GC dengan >> memberikan alasan KENAPA MENYUKAI CERITA INI.


Insya Allah kalau ada jejak komentar dan alasannya, saya akan menerima teman-teman untuk masuk ke GC dan kita bisa mengobrol bersama πŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜‰.


Tak lupa saya ucapkan terima kasih pada teman-teman yang masih setia mendukung kisah Rendra dan Dita, baik yang sudah meluangkan waktu untuk membaca, memfavorit, menyukai, mengomentari, memberikan hadiah atau pun vote. Tanpa kalian semua apalah saya ini. πŸ™πŸ€—


Saya juga terbuka menerima kritik dan saran yang membangun, atau bisa koreksi saya bila saya salah dalam menyampaikan sesuatu πŸ™πŸ™πŸ™.


Jangan lupa tetap jaga kesehatan, minum vitamin dan jaga hati serta pikiran dari hal negatif agar tetap bahagia πŸ€—.

__ADS_1


Wasaalamu'alaikum


__ADS_2