Romansa Cinta Senior Junior

Romansa Cinta Senior Junior
24


__ADS_3

Seketika suasana menjadi hening dan canggung di antara mereka berempat, hanya terdengar suara hiruk-pikuk orang-orang di kantin yang menjadi latarnya.


Diam-diam Bara mengamati Rendra dan Dita yang tak saling bicara tapi terlihat seperti ada sesuatu di antara mereka. Entah memang benar mereka menyembunyikan sesuatu atau hanya perasaannya saja, dia sendiri tidak berani menduga lebih jauh.


Sementara Bella, jelas terkejut dan tentu saja sedih dan kecewa. Selama ini dia yang mendekati Rendra tetapi justru sahabatnya yang mendapat perhatian Rendra. Dia merasa seperti tidak terlihat di mata Rendra. Mungkin memang sudah saatnya dia berhenti mengejar Rendra, pikirnya. Dia makan dengan menunduk untuk menutupi kesedihannya, sambil sesekali mencuri pandang pada Rendra yang tak menghiraukannya sama sekali.


Seperti biasa, Rendra tetaplah Rendra yang cuek. Meski tadi dia ‘berulah’, dia tetap bersikap tenang. Bukannya dia tidak tahu kalau Bara dan Bella memerhatikannya secara diam-diam, dia tahu tetapi bertindak seolah tidak terjadi apa-apa. Dia sadar apa yang dilakukannya tadi pasti menimbulkan reaksi dari mereka, tetapi apa salah kalau dia mengingatkan Dita?


Di sisi lain, Dita yang sempat kesal dengan Rendra karena sudah melarangnya menambah sambal menjadi kikuk. Apalagi dia menyadari Bella terus menunduk sejak kejadian tadi. Dia sedikit merasa tidak enak dengan Bella, tetapi dia juga tidak tahu harus memberi penjelasan apa nanti pada sahabatnya itu karena kejadian tadi benar-benar tidak terduga dan di luar kuasanya.


Dddrrttt ... dddrrrttt ....


Dita mengambil gawainya yang bergetar, ada nama Mas Adi sedang memanggil di sana.


“Assalamu’alaikum. Halo, Mas,” sapa Dita setelah menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan.


“Wa’alaikumsalam, udah makan, Dek?”


“Ini baru makan, jangan-jangan Mas yang belum makan ya.”


“Nanti sebentar lagi. Makan sama apa, Dek?”


“Soto.”


“Jangan banyak-banyak sambalnya, nanti sakit perut.”


Dita memutar bola matanya jengah, enggak Mas Adi, enggak Rendra semua ngomongin soal sambal. “Iya Mas, udah ada yang ngingetin juga tadi.”


“Siapa? Apa kamu lagi makan sama Rendra?”


“Hhmmm ... eh enggak usah dibahas deh, Mas.”


“Hahaha ... iya nanti bahasnya di rumah saja. Oya Dek, tadi bunda telepon besok Sabtu kita disuruh pulang karena Minggu pagi ada acara pertemuan keluarga di rumah. Sekalian bunda juga minta dipesenkan kue untuk bingkisan dibawa pulang saudara-saudara yang datang.”


“Oke Mas, nanti aku telepon bunda.”


“Nanti mas jemput ya sekalian pesan kuenya. Pulang jam berapa nanti, Dek?”


“Jam 3.”


“Ya nanti Adek salat Asar dulu saja ya, mas mungkin sampai kampus sekitar jam 4.”

__ADS_1


“Siap Mas. Ya udah Mas makan dulu ya, aku juga mau lanjutin makan karena jam 1 udah masuk kelas lagi.”


“Oke, mas tutup ya. Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikumsalam.” Dita meletakkan kembali gawainya ke atas meja lalu melanjutkan makannya.


“Mas Adi kenapa telepon?” Tanya Bella penasaran sambil menoleh ke arah Dita.


“Nanti mau jemput aku.” Jawab Dita.


“Kok tadi nyebut bunda juga, bunda enggak apa-apa kan?” Bella terlihat khawatir.


“Enggak apa-apa, bunda nyuruh kami pulang Sabtu besok karena Minggu pagi ada acara keluarga di rumah.” Jelas Dita.


“Syukurlah kalau begitu.” Bella menghela napas lega.


“Loh rumahmu memang di mana Dita?” Tanya Bara yang ikut mendengarkan percakapan Bella dan Dita tadi.


Dita menyebutkan nama daerah di salah satu sudut propinsi DIY.


“Terus kamu ngekos sama kakakmu dekat sini?” Tanya Bara penasaran.


Dita menggeleng, “Enggak, Mas Adi ada rumah di sini. Saya tinggal di rumah Mas Adi.”


“Aku jadi ingin kenalan sama kakakmu, siapa tadi namanya? Mas Adi?” Ujar Bara sambil mengulum senyum.


Dita menganggukkan kepala.


“Mau ngapain, Bro?” Tanya Rendra curiga sambil mengerutkan kening.


“Ya kenalan sama bakal calon kakak ipar dong.” Jawab Bara lugas sembari memainkan alisnya naik turun.


“Uhukkkk ... uhukkkk.” Dita tersedak setelah mendengar jawaban Bara.


Rendra refleks mengulurkan gelas minuman ke Dita. “Minum dulu, pelan-pelan,” perintahnya dengan nada lembut.


Dita menerima gelas dari Rendra lalu mulai minum. “Makasih,” ucapnya.


“Hhhmmm ... pelan-pelan masih ada waktu,” balas Rendra sambil memerhatikan Dita yang sedang minum.


Sekali lagi tindakan Rendra membuat Bara dan Bella tercengang.

__ADS_1


Bara yang tadi sempat tersenyum bahagia kini jadi tersenyum kecut. Dia merasa ‘kalah’ lagi dari Rendra. “Sebenarnya bagaimana perasaan Rendra pada Dita? Kenapa sikapnya berbeda sekarang?”


Bella kali ini memandang Dita dan Rendra bergantian. Dia tidak mengerti kenapa Rendra bisa bersikap perhatian dengan Dita, dua kali malahan, padahal selama ini yang dia tahu mereka selalu bertengkar setiap bertemu. Dita pun akhir-akhir ini tidak terlalu menanggapi dengan emosi setiap dia cerita soal Rendra. Apa ada yang terjadi di belakangnya tanpa dia tahu?


"Maaf," ucap Dita canggung karena suasana kembali hening.


"Tidak ada yang perlu dimaafkan Dita, aku yang seharusnya minta maaf. Kamu pasti tersedak karena ucapanku kan?" Tebak Bara sambil menatap Dita.


"Eh ... enggak kok." Elak Dita dengan senyum canggung.


"Ta, kamu udah selesai kan. Ke kelas yuk, bentar lagi masuk." Ajak Bella yang sudah merasa tidak nyaman sejak Rendra mengangsurkan gelas pada Dita.


Dita melihat layar gawainya mengecek jam digital di sana, sudah pukul 12.50 WIB.


"Yuk Bel. Maaf Kak, kami masuk ke kelas dulu." Pamit Dita.


"Oke, aku antar ke kelas ya?" Tawar Bara.


"Enggak usah, Kak Bara lanjutkan saja makannya. Assalamu'alaikum." Dita dan Bella beranjak dari kursi mereka lalu berjalan meninggalkan kantin.


"Wa'alaikumsalam." Balas Rendra dan Bara bersama. Mereka menatap kepergian Dita dengan isi pikiran masing-masing.


Bara dan Rendra lalu melanjutkan makannya yang tertunda, karena mereka juga harus masuk ke kelas lagi lalu lanjut praktikum.


...---oOo---...


Rendra melemparkan ranselnya di atas meja belajar. Hari ini dia sangat lelah sekali. Seharian kuliah, dilanjut praktikum lalu masih harus rapat persiapan akhir seminar. Dan, dia baru sampai di rumah sekitar pukul 11.00 malam.


Semua penghuni rumah sudah tidur, untungnya dia selalu membawa kunci cadangan jadi tidak menganggu anggota keluarga lain bila dia pulang larut malam seperti sekarang. Sebelum beristirahat dia membersihkan diri dahulu agar badannya lebih segar dan tidur dengan nyaman.


Selesai membersihkan diri, dia mengambil wudu lalu salat Isya karena tadi belum melaksanakan kewajibannya itu. Setelah salat, masih dengan memakai baju koko dan sarung, dia beranjak ke ruang makan karena tadi belum sempat makan malam. Untungnya di meja makan ada roti tawar dan selai stroberi kesukaannya.


Dia mengambil 4 lembar roti tawar lalu mengoleskan selai stroberi di tiap lembarnya. Lumayanlah bisa mengganjal perutnya sebelum tidur. Selama makan, pikirannya kembali pada kejadian di kantin siang tadi.


Dia juga tidak tahu kenapa dia bisa bertindak seperti tadi. Karena sepertinya refleks tubuhnya yang menggerakkan semuanya. Benarkah? Atau itu hanya alibinya saja?


Sesuatu yang berkaitan dengan Dita sering tidak pernah dia rencanakan sebelumnya. Spontanitas dan refleks, itu yang sering dia lakukan. Atau mungkin hatinya kah yang menggerakkan tubuhnya?


Dia menggelengkan kepalanya berulang kali sambil tersenyum sendiri. Apa pengaruh Dita sudah begitu berefek pada sikapnya? Padahal Dita pun tidak pernah memberikan perlakuan spesial padanya. Mungkin benar ucapan Bara beberapa waktu lalu kalau Dita sudah menarik perhatian dan hatinya. Tetapi dia pun belum bisa mendefinisikan perasaannya sendiri saat ini.


Bicara tentang Bara, sahabatnya itu ternyata memang serius mendekati Dita. Dia sadar Bara pasti curiga dengan sikapnya, dan suatu saat dia memang harus jujur dengan Bara. Mungkin nanti setelah dia selesai mengurusi seminar.

__ADS_1


Di samping itu, dia juga ingin tahu bagaimana sebenarnya perasaannya. Apakah sebagai sahabat seperti Adelia, atau sebagai adik seperti Nisa, ataukah perasaan cinta yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Kalaupun nanti ternyata dia mencintai Dita, dia harus siap bersaing dengan sahabatnya, tentunya mereka harus bersaing secara sehat dan jantan.


Dia menatap jam dinding di ruang makan, waktu sudah menunjukkan pukul 11.55 WIB. Setelah membereskan meja makan, dia ke dapur untuk mencuci alat makannya, lalu dia memenuhi gelasnya dengan air putih dan mengambil botol minum untuk dibawa ke kamar.


__ADS_2