Romansa Cinta Senior Junior

Romansa Cinta Senior Junior
85


__ADS_3

“Sayang, bangun. Salat Tahajud yuk.” Rendra membangunkan Dita dengan mengecup kedua mata istrinya.


Dita pelan-pelan membuka matanya. “Jam berapa, Mas?”


“Jam tiga. Ayo bangun, sekalian jadi tes enggak?”


“Jadi dong, Mas. testpack-nya mana?” Dita bangun dari tidurnya, lalu duduk di atas ranjang sambil menyesuaikan mata dengan cahaya di kamar.


“Ini.” Rendra menyerahkan beberapa alat tes kehamilan pada Dita.


“Banyak banget belinya, Mas,” protes Dita.


Rendra meringis. “Hihihi, biar makin yakin, Sayang.”


“Pemborosan ini, Mas.”


“Enggak, itu harganya murah-murah kok,” elak Rendra.


“Bohong dosa loh, Mas.”


Rendra kembali meringis. “Yang mahal cuma ini, tapi bisa dipakai lebih dari sekali kok. Yang lainnya murah, Sayang.” Rendra menunjuk pada alat test kehamilan digital.


"Udah buruan ke kamar mandi. Apa minta digendong nih?"


"Enggak, aku bisa jalan sendiri." Dita bangkit dari duduknya. Tiba-tiba Rendra sudah mengangkat tubuhnya dan menggendong ke kamar mandi.


"Perlu aku bantu enggak, Sayang?" tawar Rendra setelah menurunkan Dita.


"Enggak usah, sana Mas keluar dulu." Dita mendorong Rendra keluar dari kamar mandi.


Dita segera menutup pintu, lalu membaca petunjuk di setiap testpack. Dita tersenyum sambil menggelengkan kepala karena Rendra membeli 10 testpack dengan merek yang berbeda.


Setelah membaca semua petunjuk di testpack, Dita mengambil cawan untuk menampung air seninya.


"Sayang, sudah belum?" Rendra mengetuk pintu tak sabar.


"Belum. Tunggu sebentar, Mas," sahut Dita.


Dita mulai mencelupkan testpack ke dalam cawan, ada pula yang harus diteteskan di alatnya. Setelah selesai, Dita menaruh semua testpack di atas meja wastafel kamar mandi.


Dita membuka pintu kamar mandi setelah membersihkan diri dan merapikan sampah bungkus testpack. Rendra langsung masuk ke kamar mandi begitu pintu dibuka.


"Gimana hasilnya, Sayang?" tanya Rendra sambil menggenggam tangan Dita.


"Belum kelihatan, Mas. Harus nunggu dulu. Yang paling cepat nanti yang digital, lainnya menunggu sekitar 10 menitan," jawab Dita.


"Lama banget sih," gerutu Rendra yang terlihat tak sabar.


"Mas, ambil wudu dulu kalau begitu," saran Dita.


"Enggak, aku mau lihat hasilnya dulu baru wudu." Rendra kembali ke mode keras kepalanya.


Dita hanya menghela napas mendengar ucapan Rendra. Sejujurnya, dia juga harap-harap cemas menunggu hasil tesnya.


"Mas, i ... itu yang digital sudah muncul hasilnya." Dita menunjuk testpack digital yang di layarnya tertulis 'yes'.


"Eh ... ini maksudnya apa, Sayang?"


Dita tersenyum. "Aku hamil."


"Serius?" tanya Rendra tak percaya.


Dita menganggukan kepala.


"Alhamdulillah. Terima kasih, Sayang." Rendra langsung mengecup kening Dita, lalu memeluknya.


"Harus diabadikan ini." Rendra melepas pelukannya lalu dia bergegas mengambil gawainya. Segera dia buka aplikasi kamera lalu memotret hasil testpack digital Dita.


"Yang lain gimana, Sayang?"


"Masih menunggu, Mas. Tapi ini ada yang mulai samar kelihatan 2 garis."


"Artinya apa kalau 2 garis?"

__ADS_1


"Insya Allah positif, Mas."


"Lama, tahu gitu aku beli yang mahal-mahal aja biar cepat hasilnya," gerutu Rendra sambil terus melihat testpack lain yang ada di atas meja wastafel.


"Suamiku tumben enggak sabaran banget sih." Dita menangkup wajah Rendra, membuat wajah Rendra menghadap ke arahnya.


"Aku kan ingin tahu Sayang gimana hasil yang lainnya." Rendra mengerucutkan bibirnya, membuat Dita jadi gemas.


"Itu kayanya udah semua, Mas." Dita melepaskan tangannya lalu melihat ke atas meja wastafel.


"Semuanya menunjukkan positif, Mas," terang Dita.


"Alhamdulilah." Rendra kembali memotret hasil testpack dengan gawainya.


"Ini disimpan ya, Sayang. Buat kenang-kenangan. Aku ingin buat album khusus perkembangan anak-anak kita." Rendra menunjuk pada semua testpack.


"Iya, nanti cari tempat untuk menyimpan."


"Aku ambil wudu dulu ya, Sayang. Kita langsung salat Tahajud, mengucap syukur pada Allah."


"Iya, Mas."


Mereka pun salat Tahajud berjemaah. Saat berdoa, tanpa terasa mereka berdua meneteskan air mata. Merasakan keharuan karena Allah sudah menitipkan calon buah cinta mereka di rahim Dita.


Selesai salat Tahajud, mereka tadarus berdua sembari menunggu azan Subuh. Saat giliran Rendra membaca Al-Qur'an, dia meminta Dita duduk di kursi, sementara dia tetap lesehan beralaskan sajadah. Rendra membaca Al-Qur'an di depan perut istrinya.


"Sayang, ingin dipanggil apa nanti sama anak kita?" tanya Rendra setelah selesai mengaji.


"Ibu, mungkin," jawab Dita spontan.


"Assalamu'alaikum Baby, baik-baik ya di dalam perut ibu. Jangan rewel dan menyusahkan ibu. Ayah dan ibu menantikan kehadiranmu." Rendra mencium perut Dita usai bicara dengan calon buah hati mereka.


"Wa'alaikumsalam. Iya, Ayah," jawab Dita menirukan suara anak kecil.


Rendra bangkit dari duduknya, lalu berdiri dan mencium puncak kepala Dita. "I love you, Sayang. Thank you for everythings."


"I love you too, Mas." Dita memeluk tubuh Rendra.


Pagi itu mereka berdua mendatangi RSKIA (Rumah Sakit Khusus Ibu dan Anak) untuk bertemu dengan dokter kandungan. Karena ini kunjungan pertamanya, Dita diminta mengisi blangko pendaftaran pasien. Sesudah itu Dita diukur tensi, tinggi dan berat badannya. Dia juga dimintai sampel urine serta diambil darahnya untuk tes kehamilan dan mengetahui kondisi kesehatannya secara umum.


"Ibu Anindita Kusuma," panggil perawat setelah mereka menunggu beberapa saat.


Dita dan Rendra lalu masuk ke dalam ruangan praktek dokter. Mereka disambut dengan senyum ramah dokter Herlita. Di atas meja praktek tertulis dr. Herlita, Sp.OG, dari situlah mereka tahu nama dokter itu.


"Selamat pagi, Ibu Anindita dan Bapak Narendra," sapa dokter Herlita ramah, setelah melihat berkas mereka.


"Selamat pagi juga, Dok," balas Rendra.


"Bagaimana? Apa yang bisa saya bantu? Oya, panggil saya Lita saja biar lebih akrab."


"Begini Dokter Lita, istri saya, Dita, sudah terlambat haid lebih dari dua minggu. Tadi pagi sudah pakai testpack hasilnya positif. Makanya kami kemari untuk memastikan apakah Dita benar hamil atau tidak?" Rendra menjelaskan maksud kedatangan mereka.


Dokter Lita menganggukan kepala sambil tersenyum. "Jadi Ibu panggilannya Dita, ya?"


"Iya, Dok."


"Baik, tadi berdasarkan sampel urine dan darah, Ibu Dita alhamdulillah positif hamil, Pak," terang dokter Lita.


"Alhamdulillah," ucap Dita dan Rendra bersamaan. Rendra meremas tangan Dita yang terasa dingin karena tegang.


"Wah, Ibu Dita dan Pak Narendra ini pasangan muda ya. Salut saya kalau ada anak muda yang berani menikah dan tidak sibuk pacaran. Selamat ya, atas kehamilannya."


"Terima kasih, Dok."


"Kalau dilihat dari tanggal hari pertama haid terakhir, usia kehamilan Ibu memasuki 7 minggu. Mari Bu Dita, kita USG dulu."


Dita melepas genggaman Rendra, lalu naik ke atas tempat periksa USG.


"Bu Dita, sebaiknya besok pakai celana yang lebih longgar atau yang pinggangnya elastis agar tidak menekan perut," saran dokter Lita karena Dita memakai celana jin pas badan.


"Baik, Dok."


Dokter Lita mengoleskan gel di atas perut Dita, lalu mulai menggerakkan transducer.

__ADS_1


"Bagus ini rahimnya sudah membesar, tetapi karena belum 8 minggu janinnya belum terlihat. Nanti setelah 8 minggu baru bisa kelihatan. Sejauh ini bagus dan normal," jelas dokter Lita.


"Sudah, Bu. Silakan duduk kembali," ucap perawat setelah membersihkan gel di atas perut Dita.


"Terima kasih," ucap Dita.


"Bu Dita, selama ini ada keluhan yang mengganggu tidak, mual, muntah, pusing?"


"Tidak ada, Dok. Hanya saya jadi lebih cepat lelah dan mengantuk."


Dokter Lita menganggukkan kepala. "Itu normal, Bu. Ini nanti saya beri vitamin saja ya kalau begitu karena tidak ada keluhan lainnya."


"Baik, Dok."


"Apa ada yang mau ditanyakan?" Dokter Lita tersenyum ramah sambil menatap mereka berdua.


"Apa ada pantangan selama hamil, Dok?" tanya Dita.


"Sebaiknya dihindari minuman yang bersoda. Hindari dulu nanas, durian dan makanan mentah. Jangan diet ya, Bu. Jangan melakukan olahraga dan aktivitas yang berat. Jangan sampai stres atau banyak pikiran," jawab dokter Lita.


"Kapan kami ke sini untuk kontrol lagi, Dok?" tanya Rendra.


"Sebulan lagi kalau tidak ada keluhan. Bila ada keluhan bisa ke sini atau bisa konsultasi dulu via WhatsApp sebelum datang ke sini. Ini saya beri nomor saya," jawab dokter Lita sambil menyerahkan kartu namanya.


"Keluhan seperti apa ya, Dok?"


"Misalnya ada flek atau pendarahan. Atau perutnya merasa nyeri. Atau merasakan sesuatu yang tidak biasa misal mual dan muntah yang parah."


"Mmmhhh, Dok. Kalau melakukan hubungan boleh tidak?" tanya Rendra tanpa merasa malu, yang membuat wajah Dita memerah karena malu.


Dokter Lita tersenyum. "Selama Ibu tidak merasakan keluhan, silakan saja. Tapi harus lebih hati-hati ya, Pak. Porsinya juga mungkin bisa sedikit dikurangi, kasihan kalau Ibu nanti kecapekan."


"Apa ada posisi khusus, Dok?"


"Seperti yang saya bilang tadi, selama tidak ada keluhan tidak masalah. Bapak nanti juga bisa browsing posisi yang aman selama hamil. Yang penting Ibu harus merasa tetap nyaman, monggo mau posisi bagaimana saja."


"Baik, terima kasih, Dok."


"Ada lagi?"


"Apa saya harus minum susu untuk ibu hamil?"


"Tidak harus sih, tapi kalau mau minum juga lebih baik. Kalau bisa cari yang kadar gulanya rendah ya. Susu biasa pun tak masalah."


"Apa aman Dok kalau kami naik motor?"


"Insya Allah aman selama berhati-hati dan tidak mengebut. Memang untuk trimester pertama agak riskan apalagi kalau kandungannya lemah."


"Sayang, mau ada yang ditanyakan lagi enggak?" Rendra menoleh pada Dita.


"Kayanya enggak, Mas."


"Sepertinya itu saja pertanyaan kami, Dok."


"Kalau nanti ada yang mau ditanyakan lagi, bisa langsung WA ya, Bu. Insya Allah, akan saya balas walau mungkin slow respon."


"Baik, Dok."


"Sekali lagi selamat Bu Dita dan Pak Narendra. Semoga kehamilannya lancar sampai melahirkan nanti. Ibu dan calon dedeknya juga sehat."


"Aamiin. Terima kasih, Dok."


"Ini resep vitaminnya, diminum sekali sehari. Saya beri untuk satu bulan ya, Bu."


"Baik, Dok. Terima kasih."


"Sama-sama." Dokter Lita kembali menyunggingkan senyum manisnya.


"Kami permisi dulu, Dok. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Jogja, 270321 00.45

__ADS_1


__ADS_2