Romansa Cinta Senior Junior

Romansa Cinta Senior Junior
6


__ADS_3

Hari Minggu pun tiba, pagi itu rumah Adi sudah ramai dipenuhi tamu dari jemaah pengajian masjid terdekat. Mereka akhirnya mengadakan pengajian dengan mengundang Ustaz Fikri sesuai anjuran dari Pak RT saat mereka berkunjung beberapa hari yang lalu. Selain jemaah pengajian, hadir juga para pengurus kampung di sana, saudara dekat Adi dan juga ayah bundanya.


Acara pengajian dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, sambutan dari Adi sebagai tuan rumah, sambutan dari Pak RT, kemudian diisi tausiah dari Ustaz Fikri. Acara itu diakhiri dengan doa juga oleh Ustaz Fikri, lalu berlanjut dengan menyantap hidangan yang sudah disediakan untuk para tamu.


Setelah para tamu selesai menyantap hidangan, satu per satu mereka mulai berpamitan, tak lupa para tamu masing-masing membawa pulang goodie bag yang berisi sekotak kue chiffon dari bakeri terkenal di Jogja.


Kini hanya tertinggal Adi, Dita, Ayah dan Bunda di rumah itu setelah para tamu telah pulang termasuk saudara dekat mereka.


“Ayo Dek, kita mulai bagikan bingkisan ke tetangga sekalian kenalan.” Ajak Adi pada Dita.


“Oke,” Dita bergegas ke dapur untuk mengambil bingkisan untuk para tetangga kompleks lalu membawanya ke depan.


“Ayah dan Bunda istirahat saja dulu di kamar, biar nanti Adi dan Adek yang membereskan.” Ucap Adi setelah melihat ayah dan bundanya mulai membersihkan tempat pengajian di ruang tamu dan ruang tengah.


“Ayah dan bunda tidak capek, masih mampu bekerja dan beres-beres.” Sahut Bunda sambil tetap beres-beres ruangan. Diikuti anggukan dari Ayah.


“Tapi kalau Ayah dan Bunda capek harus istirahat ya, jangan memaksakan diri. Adi dan Adek keliling sebentar ke tetangga.”


“Iya-iya, sudah sana pergi.”


Adi dan Dita berjalan beriringan sambil membawa goodie bag di tangan mereka. Tujuan pertama mereka sudah pasti tetangga di samping rumah.


Rumah bergaya minimalis modern berlantai 2 yang sudah dimodifikasi dari model awal itu terlihat asri dengan taman kecil di depan rumah dan berbagai tanaman hijau di teras. Terasa sejuk dan nyaman.


Dita memencet bel di samping pintu, tak lama keluar sesosok gadis dengan senyum manisnya.


“Assalamu’alaikum, selamat siang.” Sapa Dita dengan menyunggingkan senyum ramah.


“Wa’alaikumsalam, ya selamat siang. Maaf mencari siapa Kak?” Balas Nisa ramah.


“Perkenalkan saya Dita, dan ini kakak saya Mas Adi, kami tinggal di sebelah.” Dita mengulurkan tangan pada Nisa begitu pula Adi.


“Saya Nisa, Kak.” Dia menyambut uluran tangan Dita dan Adi untuk bersalaman. “Sebentar ya Kak, saya panggilkan mama dulu. Silakan masuk Kak, mari silakan duduk.”


Adi dan Dita masuk ke ruang tamu yang terkesan hangat itu, lalu mereka duduk berdampingan di sofa sementara Nisa masuk ke dalam untuk memanggil mamanya.


Tak lama muncul sosok wanita berhijab dengan paras cantik dan keibuan, tersenyum pada mereka, diikuti oleh Nisa yang berjalan di belakangnya.


Adi dan Dita seketika berdiri begitu wanita itu menghampiri mereka lalu saling bersalaman.


“Mari-mari silakan duduk.”

__ADS_1


“Terima kasih Tante. Mohon maaf bila kami sudah mengganggu Tante dan keluarga. Kami ingin berkenalan dengan Tante sekeluarga, saya Adi dan ini adik saya Dita. Kami yang tinggal di sebelah rumah Tante. Mohon maaf baru menyempatkan diri untuk berkenalan dan berkunjung.” Adi memulai perkenalannya dengan menyunggingkan senyum ramah.


“Oh, jadi Nak Adi dan Nak Dita yang tinggal di sebelah ya. Tidak apa-apa Nak, saya tahu kalian pasti sibuk jadi belum sempat untuk bersilaturahim. Saya Dewi, panggil saja Tante Dewi atau Mama Dewi. Ini Nisa, anak bungsu saya.” Dewi balas memperkenalkan dirinya dengan ramah.


“Iya, Tante. Tadi kami sudah berkenalan dengan Nisa.”


“Oya Nisa, sana panggil kakak kamu biar sekalian kenalan. Masak sama tetangga sebelah rumah tidak kenal.” Tanpa menjawab mamanya, Nisa segera beranjak masuk memanggil kakaknya begitu sang mama memintanya.


“Saya di sini tinggal berempat, saya dan 3 anak saya. Suami saya sudah meninggal  5 tahun lalu. Anak saya yang pertama Alesha biasa dipanggil Sasha, sudah kerja tapi saat ini dia sedang dinas di luar kota. Anak yang kedua Rendra masih kuliah semester 5, lalu Nisa tadi kelas 3 SMA.” Cerita Dewi pada Adi dan Dita.


Dita sedikit terkejut saat mendengar nama Rendra disebut, tapi dia berusaha berpikir positif kalau Rendra tetangganya ini bukan Rendra kakak tingkatnya yang berengsek itu. "Tidak mungkin di Jogja hanya ada satu nama Rendra kan?"


“Kalau saya sudah bekerja Tante, dan adik saya ini masih kuliah semester 1. Sering saya tinggal lembur, jadi sering di rumah sendiri.” Terang Adi.


“Dita kalau takut di rumah sendiri main ke sini saja ya, ada Nisa juga Tante. Kapan-kapan kenalan sama Sasha juga.”


“Iya Tante, terima kasih.” Dita menganggukkan kepala sambil tersenyum pada Dewi.


“Ada apa Ma?” Tanya Rendra pada mamanya begitu masuk ke ruang tamu tanpa melihat siapa yang datang.


“Sini duduk dulu, Ren. Kenalan dulu sama tetangga sebelah rumah, ini Adi dan ini Dita, adiknya Adi.” Jawab Mama Rendra sambil menerangkan siapa tamu mereka.


“Rendra.”


“Adi.”


Setelah berkenalan dengan Adi, Rendra mengalihkan pandangannya pada gadis di sebelah Adi. Begitu pandangan matanya bertemu dengan gadis itu seketika mata mereka melebar, sama-sama terkejut.


“Kamu ... !!!” Seru Rendra dan Dita bersamaan tanpa mengalihkan pandangan mereka. Tetapi ekspresi wajah mereka seketika berubah ke metode tidak ramah dan malas.


Adi, Mama Rendra dan Nisa terkejut melihat sikap Rendra dan Dita yang sepertinya sudah saling mengenal.


“Rendra sama Dita sudah saling kenal ya?” Tanya Mama Rendra penasaran.


“Enggak, Ma.” Jawab Rendra pendek.


“Belum, Tante.” Jawab Dita sungkan.


“Oh, Mama kira sudah saling kenal. Atau kalian pernah bertemu di kampus?” Tanya Mama Rendra lagi.


“Iya Ma, dia adik tingkat di kampus.” Terang Rendra datar.

__ADS_1


“Ya sudah kalau begitu, malah bagus kalian satu kampus bisa berangkat dan pulang bersama kalau ada kegiatan bersama. Nah, sekarang saatnya kalian resmi saling kenalan.” Titah Mama Rendra.


Dengan malas Rendra mengulurkan tangannya pada Dita, “Rendra.”


“Dita.” Dia pun membalas uluran tangan Rendra dengan malas, merasa sungkan pada Mama Rendra.


Mereka saling bersalaman dengan cepat tanpa saling senyum, dengan raut wajah datar dan malas.


“Nah begitu saling kenalan. Besok kalau ketemu lagi di kampus kan bisa saling menyapa.” Mama Rendra mencoba


mencairkan suasana yang mulai kaku karena interaksi Rendra dan Dita.


“Rendra jurusan apa?” Tanya Adi sekedar berbasa-basi.


“Teknik sipil, Mas.” Jawab Rendra.


“Oh beda jurusan ya sama Dita, dia arsitekstur.” Terang Adi.


Rendra hanya menganggukkan kepala tanpa menanggapi. Sementara Dita tetap diam sampai saatnya mereka berpamitan setelah Adi berbasa-basi.


Setelah dari rumah Rendra, mereka masih berkenalan dan menghantarkan buah tangan pada para tetangga lain, termasuk pada satpam yang berjaga di pintu masuk kompleks.


“Alhamdulillah selesai, bisa selonjoran sebentar.” Dita langsung duduk sambil menyelonjorkan kakinya di atas karpet ruang tengah begitu sampai di rumah.


“Ini kalian minum dulu sambil beristirahat.” Bunda menyerahkan dua gelas air putih pada kedua buah hatinya yang langsung disambut gembira oleh Adi dan Dita. Mereka segera menenggak habis air di dalam gelas begitu menerimanya.


“Alhamdulillah, terima kasih Bun,” ucap Adi.


“Ayah sama Bunda menginap di sini lagi kan?” Tanya Dita.


“Enggak, kan besok ayah harus ke kantor. Nanti setelah Magrib ayah dan bunda pulang.” Jawab Bunda.


“Kan aku masih kangen sama Ayah dan Bunda.” Dita mulai merajuk manja.


“Adek ini loh sudah kuliah kok masih manja sih.” Bunda mencubit gemas puncak hidung Dita.


“Memang aku sudah tidak boleh manja lagi ya Bund karena sudah kuliah?” Dita mengerucutkan bibirnya.


“Sampai kapan pun kalian tetap anak ayah dan bunda, dan kalian tetap boleh manja. Malah kadang bunda merasa sedih kalau kalian tidak pernah bermanja-manja lagi sama bunda.” Ujar Bunda sambil mengelus sayang puncak kepala Dita.


“Aku jadi makin sayang sama Bunda deh.” Dita langsung memeluk erat Bunda, sementara ayah dan Adi hanya menggelengkan kepala melihat tingkah manjanya.

__ADS_1


__ADS_2