Romansa Cinta Senior Junior

Romansa Cinta Senior Junior
122


__ADS_3

"Sayang, ada lagi yang mau aku bicarakan," kata Rendra sewaktu mereka menyantap hidangan penutup berupa puding mangga dengan es krim di atasnya.


"Apa, Mas?" Dita menoleh pada suaminya.


"Sayang, ingin kita punya anak berapa?"


"Kenapa Mas tanya itu?"


"Kan kata dokter Lita, kita sebaiknya merencanakan kehamilan selanjutnya."


"Dua atau tiga, atau sedikasihnya sama Allah saja."


"Gimana kalau kita bikin tim basket?" tanya Rendra sambil menaik turunkan alisnya.


"Lima?" Dita membelalakkan matanya.


"Iya," Rendra mengangguk dengan mantap.


"Ya, kalau dikasih amanah sama Allah segitu ya enggak apa-apa. Semoga kita nanti bisa membimbing mereka jadi anak yang saleh dan salehah."


"Aamiin. Insya Allah. Terus untuk anak yang kedua nanti, Sayang, mau menunda hamil seperti yang dokter Lita sarankan atau enggak?" Rendra menatap mata istrinya.


"Menurut, Mas, bagaimana baiknya?"


"Kalau aku sih terserah, Sayang. Kan bukan aku yang hamil. Aku sih siap-siap saja kalau diminta setiap saat untuk menghamili," seloroh Rendra.


"Mas, ih, ngajak ngomong serius malah bercanda." Dita menepuk lengan Rendra dengan kesal.


"Loh, aku serius, Sayang. Kapan Sayang mau hamil lagi, gassslah langsung kita proses."


Dita memutar bola matanya. "Udah deh, Mas, enggak usah dibahas lagi kalau bercanda terus."


Rendra mengikik melihat istrinya yang kesal. Gemas sekali rasanya setiap berhasil membuat belahan jiwanya itu merasa kesal.


"Jangan mengambek, Sayang." Rendra mengelus-elus pipi Dita. "Maaf ya. Oke, kita serius sekarang."


"Aku sudah tanya-tanya ke beberapa kenalan yang berpengalaman, memang bagusnya ditunda 1,5 sampai 2 tahun. Tetapi kalau ternyata sebelum itu hamil ya enggak apa-apa, cuma harus lebih hati-hati."


"Nah, Sayang, kan yang hamil. Sayang, juga masih kuliah. Apa Sayang siap hamil lagi dalam waktu dekat? Atau ingin menunda sampai selesai kuliah? Atau bagaimana?" Rendra menggenggam tangan istrinya.


Dita menghela napas panjang. "Aku sih inginnya selesai kuliah dulu, Mas. Tapi, aku juga enggak mau menunda hamil pakai alat kontrasepsi. Aku takut karena semua ada efek sampingnya. Mas, juga enggak mau pakai kan?"


"Hhmmm, rasanya enggak enak, Sayang. Cukup sekali, enggak mau lagi aku." Rendra bergidik.


"Terus gimana, Mas? Kita menunda pakai metode alami seperti biasa?"


"Iya, mau bagaimana lagi. Kita sama-sama tidak mau pakai alat kontrasepsi. Tapi mau menunda hamil pakai apa pun, kalau Allah berkehendak memberi kita amanah lagi, Sayang, siap kan?"


Dita mengangguk. "Insya Allah, Mas. Masa dikasih rezeki ditolak. Kalau Allah memberi kita amanah lagi berarti Allah tahu kalau kita mampu. Toh, semua alat kontrasepsi juga tidak bisa menjamin 100% keberhasilannya kan."


Rendra tersenyum, kemudian mengelus kepala Dita penuh cinta. "Aku jadi tambah cinta deh, istriku semakin dewasa sekali berpikirnya." Rendra mengecup kening istrinya.


"Sayang, mari kita sama-sama berdoa diberikan yang terbaik oleh Allah. Karena hanya Allah yang tahu mana yang terbaik untuk kita berdua. Belum tentu menurut kita baik, menurut Allah juga baik. Bisa jadi juga yang menurut kita tidak baik, justru baik menurut Allah."


"Iya, Mas."


"Sayang," panggil Rendra tak lama kemudian.


"Apa, Mas?"


"Nanti kalau aku sudah lulus kuliah, Sayang, mau aku kerja kantoran atau freelance aja kaya biasa? Kebutuhan kita pasti akan meningkat kalau kita sudah punya anak. Aku tidak mungkin hanya mengandalkan penghasilan dari kafe saja."


"Mas, mau kerja kaya Mas Adi? Serius, Mas?"


"Aku kan tanya, Sayang. Baiknya aku kerjanya bagaimana?"


"Terserah, Mas, sih. Aku pasti dukung Mas mau kerja di mana dan apa saja. Yang penting halal dan berkah."


"Ya pasti halal, Sayang. Mana mungkin aku menafkahi istri dan anakku dengan harta yang haram. Apa sebaiknya aku melamar kerja di tempatnya Mas Adi saja? Nanti kan dapat penghasilan rutin tiap bulan plus lembur juga."


Dita tersenyum. "Yakin, Mas?"


"Kenapa, Sayang?" Rendra mengernyit.


"Maaf ya, Mas. Aku enggak bermaksud gimana-gimana. Tapi sejak aku kenal Mas, kan Mas kerjanya mandiri tidak pernah di bawah perintah atasan. Malah Mas jadi atasan yang bisa mengatur ritme kerja sendiri. Kayanya kok kurang cocok aja sih kerja kaya Mas Adi."


"Jangan salah, Sayang. Aku dulu waktu SMA sudah kerja jadi barista kopi selama setahun loh. Baru setelah itu aku berani buka kafe. Karena saat kerja itu aku juga mencari ilmu sekalian bagaimana cara mengelola kafe."


"Oh, kok Mas enggak pernah cerita." Dita cemberut.


"Sekarang kan aku udah cerita, Sayang. Tapi benar juga sih apa yang Sayang katakan. Jiwaku kayanya memang maunya bebas kerja, tidak terikat waktu. Apalagi kalau sering lembur kaya Mas Adi, kapan kita punya waktu berdua ya kan, Sayang."


"Lagian ya penghasilan Mas dari kafe sama Mas Adi juga lebih besar Mas sekarang."


"Masa sih, Sayang."


"Jangan pura-pura enggak tahu, Mas," cibir Dita. "Aku kan tahu berapa omset kafe per bulan. Berapa gaji Mas per bulan dan keuntungannya. Belum ditambah sama penghasilan dari freelance."


Rendra tertawa. Memang benar Dita tahu semuanya, karena sekarang istrinya itu sudah mengendalikan semua keuangannya.

__ADS_1


"Kenapa Mas enggak buka kantor atau perusahaan sendiri saja?" usul Dita dengan antusias.


"Nah, itu yang dari tadi aku tunggu-tunggu." Rendra tersenyum lebar.


"Maksudnya, Mas?"


"Aku memang punya niat bikin perusahaan properti sendiri dengan Mas Adi. Kapan hari ngobrol sama Mas Adi, dia juga bilang enggak mau selamanya kerja di sana. Makanya Mas Adi juga belajar bagaimana cara dapat tender proyek."


"Aku sama Mas Adi kan bagian teknik sipil dan lapangan, nah Sayang nanti bagian arsiteknya. Kalau kerja di perusahaan sendiri tidak begitu terikat waktu. Seandainya nanti kita sudah punya anak, Sayang bisa tetap bersama anak-anak meski bekerja."


"Jadi, tadi Mas mancing aku saja ya. Ternyata Mas sudah punya rencana sendiri sama Mas Adi." Dita mengerucutkan bibirnya.


"Maaf ya, Sayang. Karena aku ingin tahu bagaimana pandangan kamu kalau aku bekerja di kantor, Sayang." Rendra meraih tangan Dita lalu mengecupnya sebagai permintaan maaf.


"Mau kan memaafkan suamimu ini?" Rendra menatap mata istrinya.


Dita mengangguk.


"Terima kasih, Sayang." Rendra tersenyum, mengecup kening Dita, lalu memeluk erat wanita yang sudah berhasil mencuri hatinya itu.


"Sayang, memang yang paling mengerti aku. Terima kasih sudah mau mengerti dan menerima aku yang penuh kekurangan ini. Maafkan suamimu yang belum bisa selalu membahagiakanmu, Sayang." Rendra mengelus kepala Dita, lalu mengecupnya.


"Mas, ngomong apa sih? Jangan berlebihan memujiku. Justru Mas yang selalu membuat aku bahagia. Bersama Mas, aku bisa mendapatkan dan melakukan hal yang selalu aku inginkan. Aku yang harusnya berterima kasih. Dengan menjadi istri Mas, aku merasa sangat dicintai dan dihargai juga dimanjakan." Dita mengeratkan pelukannya pada Rendra.


Rendra kembali mengecup kepala Dita. "Itu sudah kewajibanku, Sayang." Dia mengurai pelukannya, menatap istrinya penuh cinta. Pelan-pelan dia mendekatkan wajah, menyentuhkan bibirnya ke bibir manis istrinya. Dengan lembut dan pelan, dia mencium bibir Dita. Tak lama, karena dia sadar di mana mereka berada.


"I love you, Sayang."


"I love you more, Mas."


Mereka lalu kembali berpelukan.


"Kita pulang sekarang?" tanya Rendra setelah mengurai pelukan mereka.


Dita mengangguk.


Rendra berdiri, kemudian mengulurkan tangannya. Dita menyambut uluran tangan suaminya, lalu ikut berdiri. Rendra menggenggam erat tangan Dita. Mereka ke luar dari ruangan itu untuk membayar tagihan sebelum pulang.


Rendra tidak melepas genggaman tangannya sampai mereka di samping mobil. Setelah membuka kunci mobil, dia membukakan pintu untuk Dita.


"Makasih, Mas."


"Sama-sama, Sayang." Rendra bergegas masuk ke mobil setelah membuka pintu pengemudi. Dia kembali memasangkan sabuk pengaman Dita, sebelum memasang sabuk pengamannya sendiri.


"Mas, mau ngapain?" tanya Dita waktu melihat suaminya mengambil sesuatu di kursi penumpang di belakang mereka.


"Mengambil ini, Sayang. This is for you, My Love," jawab Rendra sambil menyerahkan buket bunga pada Dita.


Rendra terkejut dengan ciuman Dita, tapi dia jadi sangat bahagia. Dia lalu mulai melajukan mobil sambil terus tersenyum lebar.


"Mas, hari ini kita merayakan hari apa ya? Apa aku kelupaan?" tanya Dita saat mobil sudah melaju meninggalkan restoran.


"Enggak ada, Sayang," jawab Rendra.


"Terus, ini?" Dita mengangkat buket bunga yang tadi dia terima.


"Aku memang lagi ingin kasih aja. Enggak harus ada perayaan kan kalau mau kasih bunga?"


"Oh, aku kira aku lupa kita merayakan apa."


Rendra tersenyum. "Itu cuma salah satu ucapan terima kasihku untuk semua yang sudah kamu kasih ke aku, Sayang."


"Hari ini sudah berapa ratus kali Mas bilang terima kasih sama aku." Dita terkikik sendiri.


"Rasanya enggak pernah cukup loh aku bilang terima kasihnya."


"Jangan lebai, Mas."


Rendra tertawa. "Aku enggak lebai loh, Sayang. Aku serius. Aku sangat bersyukur karena Allah sudah mempertemukan dan menjodohkan kita."


"Aku juga, Mas. Meski kita tidak pernah merencanakan menikah muda. Tetapi ternyata nikmat juga. Semuanya menjadi pahala tanpa takut berdosa."


"Iya, Sayang." Rendra meraih tangan kanan Dita dengan tangan kirinya, menggenggam lalu mengecup punggung tangan istrinya. Dia lalu membawanya ke depan dadanya.


"Terima kasih Sayang sudah hadir di hidupku. Terima kasih sudah menerimaku jadi suamimu. Terima kasih sudah menerima semua kekuranganku. Terima kasih sudah mengerti aku. Terima sudah mau jadi ibu dari anakku. Terima kasih untuk semuanya. Sayang, adalah anugerah terindah dari Allah yang pernah aku miliki." Rendra kembali mengecup punggung tangan Dita.


Tanpa diduga, Dita justru terisak-isak setelah mendengar kata-kata suaminya. Rendra yang melihat Dita menangis menjadi panik. Dia melihat keadaan jalanan di sekitar mereka, setelah dirasa aman, dia menepikan mobil, lalu mematikan mesinnya.


"Sayang, kenapa menangis? Aku salah ya?" tanya Rendra sambil mengusap air mata yang mengalir dari sudut mata istrinya.


Dita menggeleng. "Aku terharu. Aku juga teringat Akhtar, Mas."


Rendra melepas sabuk pengamannya agar lebih leluasa bergerak. Dia mendekat ke Dita lalu memeluk istrinya.


"Maaf Sayang, sudah membuatmu menangis dan teringat Akhtar. Nanti kita doakan Akhtar. Besok kita jenguk Akhtar dan papa ya," kata Rendra sambil mengelus punggung istrinya, mencoba menenangkan.


Dita mengangguk sambil menangis di pelukan suaminya. "Iya, Mas."


Rendra memeluk istrinya sampai Dita lebih tenang. Berulang kali dia mengecup kepala belahan jiwanya itu, memberi ketenangan dan perlindungan.

__ADS_1


Setelah Dita tidak terisak-isak lagi, Rendra mengurai pelukannya. Dia tersenyum seraya menghapus sisa air mata di sudut mata atau pun pipi istrinya.


"Kita mau pulang atau mau nongkrong dulu?" tawar Rendra.


"Terserah, Mas."


"Kita nongkrong sebentar di Titik Nol Kilometer ya. Sambil menikmati nyanyian para pengamen jalanan."


"Iya, Mas."


"Sebentar saja nanti kita di sana. Sayang, enggak bawa jaket kan."


"Kan ada Mas yang bisa peluk kalau aku kedinginan," ucap Dita sambil tersipu malu.


"Ahhhh, jadi Sayang ingin dipeluk. Oke, siap, kita ke sana." Rendra memasang lagi sabuk pengamannya lalu melajukan mobil ke Titik Nol Kilometer.


Titik Nol Kilometer Jogja merupakan pertemuan dari Jalan A. Yani, Jalan KH Ahmad Dahlan, Jalan Panembahan Senopati, dan ruas jalan menuju Alun-alun Utara atau Keraton. Titik ini berada di pusat kota Jogja dan merupakan denyut nadi kota Jogja.


Selain sebagai pusat kota ada mitos yang terselip di sana. Mitosnya Titik Nol Kilometer merupakan garis sumbu imajiner (garis tegak khayal) yang menghubungkan antara pantai Laut Selatan (Pantai Parangkusumo), Keraton hingga Gunung Merapi dalam satu garis lurus.


Setelah memarkirkan mobil di depan kantor BI (Bank Indonesia), Rendra menggandeng Dita, mengajaknya menyeberang menuju ke depan Monumen Serangan Umum 1 Maret. Kawasan ini selalu ramai setiap malam. Selain sering ada atraksi budaya atau seniman, banyak juga pedagang kaki lima di sana. Pengunjung juga dimanjakan dengan berbagai spot menarik untuk mengambil foto. Selain itu juga terdapat banyak bangku di sana bagi para pengunjung.


Rendra mengajak Dita mencari bangku yang kosong. Setelah mendapatkan bangku, mereka duduk. Rendra merangkul Dita agar istrinya tidak kedinginan. Dita, menyandarkan kepalanya di bahu Rendra.


"Gimana, suka enggak, Sayang?"


"Suka, ternyata menyenangkan juga nongkrong di sini."


Mereka menikmati malam itu sambil melihat kendaraan dan orang-orang yang berlalu lalang di sekitar mereka. Tak berapa lama ada rombongan pengamen jalanan mendatangi mereka.


"Sebentar, Sayang." Rendra melepas rangkulannya. Dia bangkit lalu berbisik pada salah satu pengamen sambil memberikan selembar uang kertas pecahan lima puluh ribu. Entah apa yang mereka bicarakan, Dita tidak tahu. Sepertinya setelah mencapai kesepakatan, Rendra kembali duduk di samping istrinya, dan merangkul kembali pujaan hatinya itu.


Tak lama musik pun mengalun, dan mulai menyanyikan lagu yang diminta Rendra.


...Melihat tawamu, mendengar senandungmu...


...Terlihat jelas di mataku warna-warna indahmu...


...Menatap langkahmu, meratapi kisah hidupmu...


...Terlihat jelas bahwa hatimu anugerah terindah yang pernah 'kumiliki...


...Sifatmu nan selalu redakan ambisiku...


...Tepikan khilafku dari bunga yang layu...


...Saat kau di sisiku, kembali dunia ceria...


...Tegaskan bahwa kamu anugerah terindah yang pernah 'kumiliki...


...Belai lembut jarimu, sejuk tatap wajahmu...


...Hangat peluk janjimu, oh...


...Belai lembut jarimu, sejuk tatap wajahmu...


...Hangat peluk janjimu...


...Anugerah terindah yang pernah 'kumiliki...


...(Sheila on 7 - Anugerah Terindah Yang Pernah Kumiliki)...


Dita tersenyum lebar menatap suaminya. "Terima kasih, Mas. I love you."


"I love you more, My Love."


...--- SELESAI ---...


Jogja, 220521 13.45


Assalamu'alaikum wr. wb.


Halo! Apa kabar teman-teman semua? Semoga semuanya dalam keadaan sehat dan tidak kurang suatu apa pun.


Eitsss, tunggu jangan protes dulu. Mungkin ada beberapa yang kecewa dengan akhir cerita ini. Kok masih menggantung, kok enggak sampai mereka punya anak, dan kok yang lainnya 😁😁


Insya Allah kisah Rendra dan Dita, juga Adi dan Adelia, serta Bara, Bella dan yang lainnya masih akan berlanjut, tapi di sekuelnya, bukan di sini. Nanti akan saya umumkan. Jadi, tolong jangan di-unfavorit dulu bila berkenan šŸ™


Terima kasih yang sudah mengawal kisah Rendra dan Dita dari awal sampai hari ini. Yang rela maraton beberapa hari demi mengejar ketertinggalan. Saya sangat menghargainya dan merasa senang sekali ada yang rela maraton membaca cerita receh ini.


Terima kasih yang sudah ikhlas memfavorit, menyukai, memberikan komentar, hadiah, vote maupun tips. Terima kasih yang selalu mendukung dan menyemangati saya bahkan saat saya di titik terendah. Saya tidak bisa membalas semuanya, hanya Allah yang bisa membalas semua kebaikan teman-teman. Saya bisa sampai di titik ini karena semuanya, tanpa teman-teman apalah saya.


Mohon dimaafkan bila masih banyak kekurangan, karena saya masih belajar menulis. Masih fakir ilmu dan pengetahuan. Karena itu saya tetap menerima segala macam ide, kritik dan saran yang membangun. Silakan disampaikan via komentar, PC atau DM di instagram @kokoro.no.tomo.82.


Sekali lagi terima kasih, matur nuwun šŸ™


Salam sayang, peluk untuk semuanya šŸ¤—šŸ¤—šŸ¤—


Wassalamu'alaikum wr. wb.

__ADS_1


Kokoro No Tomo


šŸ™‡šŸ™‡šŸ™‡


__ADS_2