Romansa Cinta Senior Junior

Romansa Cinta Senior Junior
107


__ADS_3

"Hi, what's up, Bro." Bara menghampiri Rendra yang sedang duduk di kantin menunggu istrinya.


"Assalamu'alaikum, salam tuh yang bener," tegur Rendra pada sahabatnya.


"Wa'alaikumsalam. Iya, maaf, Pak Haji."


Rendra tersenyum, mereka berdua kemudian melakukan salam khas mereka.


"Apa kabar, Bro? Makin bersinar aja aura, Lo." Bara mengambil duduk di depan Rendra.


"Alhamdulillah baik. Lo gimana kabarnya?"


"Alhamdulillah, seperti yang Lo lihat sekarang. Gue baik, sehat, tapi tetap jomlo." Bara terkekeh sendiri.


Rendra menyimpan notebook-nya di atas meja kantin. Tadi dia sedang mengerjakan desain grafis pesanan pelanggannya.


"Sudah KRS sama ketemu dosen wali?" tanya Rendra pada Bara.


"Sudah. Lo?"


"Sudah juga. Ini lagi nunggu Dita kalau Lo mau tanya kenapa gue belum pulang."


"Gimana kabar Dita? Sudah pulih?"


"Alhamdulillah sudah. Tapi, aku masih tidak mengizinkan dia angkat barang yang berat."


"Gue ikut senang kalau istri lo sudah kembali pulih. Terus Lo mau program anak lagi sekarang?"


"Enggak lah, Bro. Gue tunda sampai Dita benar-benar siap. Dokter juga minta kami menunda punya anak dulu sampai paling enggak 1,5 tahun lagi. Program gue sekarang ya bikin skripsi."


Bara menganggukkan kepalanya. "Oya, Lo udah punya judul buat skripsi?"


"Alhamdulillah sudah. Gue udah ada tiga judul, enggak tahu besok mana yang disetujui sama dosen pembimbing. Lo sendiri gimana?"


"Gue masih pusing, Bro. Gue enggak tahu mana yang harus gue ambil dari beberapa yang menarik buat gue." Bara menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Gue juga dibantu sih sama Mas Adi. Dia kasih beberapa masukan buat gue." Rendra menyesap es jeruk yang tadi dia pesan.


"Lo sih enak punya kakak ipar yang sama-sama teknik sipil bisa buat diskusi. Nah, gue mau diskusi sama siapa?"


"Kalau Lo mau, besok Minggu Lo ke rumah ketemu Mas Adi. Dia pasti mau bantu kok."


"Serius Lo?"


Rendra mengangguk. "Iya, gue serius. Nanti gue bilang sama Mas Adi."

__ADS_1


"Thanks, Bro. Lo emang the best (yang terbaik). Setidaknya gue bisa ada pencerahan nanti setelah ngobrol sama Mas Adi." Bara mengacungkan jempolnya.


Rendra tersenyum simpul melihat sahabatnya itu sudah tidak terlihat pusing.


"Bro, Adelia hubungi lo enggak?" tanya Bara setelah beberapa saat mereka terdiam.


"Enggak, kenapa memangnya?" Rendra mengerutkan keningnya.


"Adel pasti enggak berani hubungi Lo, kan Lo udah punya istri. Lagi patah hati dia. Kapan hari telepon gue nangis-nangis. Dia minta gue nemenin ke pantai. Katanya mau melupakan tunangannya."


"Bukannya rencananya mereka mau nikah setelah Adel wisuda?"


"Iya. Tapi nyatanya dia putus sama tunangannya."


"Kenapa putus?"


"Tunangannya menghamili cewek lain."


"Astaghfirulah. Serius?" tanya Rendra tak percaya.


"Ya, serius lah. Buat apa coba gue bercanda," jawab Bara.


"Gue kasihan Bro sama Adel. Dia katanya sudah memberikan segalanya, nyatanya tunangannya tetap selingkuh juga. Mereka kan setengah tahun ini LDR (Long Distance Relationship \= pacaran jarak jauh) karena tunangannya pindah tugas. Mungkin di sana tunangannya butuh kehangatan tapi Adel enggak bisa kasih. Jadi terus mencari yang lain, entahlah." Bara mengangkat kedua bahunya.


"Astaghfirulah. Itulah alasan kenapa gue enggak mau pacaran. Takut lepas kendali. Terus gimana keadaan Adel sekarang?"


"Gue turut simpati sama Adel. Tapi, gue juga enggak bisa bantu banyak, cuma doa yang bisa gue kasih. Semoga dia bisa melewati semuanya dengan sabar dan ikhlas."


"Aamiin. Iya, gue ngerti posisi Lo, Bro. Meski kita bersahabat, kita menghormati Lo yang sudah menikah. Lo sudah enggak sebebas dulu lagi."


"Tapi dia masih mau lanjut kuliah kan?"


Bara mengangguk. "Masih lah. Mungkin dengan fokus kuliah, dia pelan-pelan bisa melupakan tunangannya itu. Dia juga sempat curhat bingung mau skripsi tapi enggak ada ide."


"Ya udah, Lo ajak aja Adel sekalian besok Minggu. Adel juga bisa ngobrol atau curhat sama Dita. Sesama wanita mungkin dia bisa lebih terbuka."


"Benar juga ide Lo, Bro. Kenapa gue enggak kepikiran ya tadi." Bara meringis memperlihatkan barisan giginya yang rapi.


"Assalamu'alaikum, asyik banget kayanya ngobrolnya nih." Dita menghampiri Rendra dan Bara. Dia mencium punggung tangan Rendra lalu duduk di samping suaminya.


"Wa'alaikumsalam," sahut Rendra dan Bara bersamaan.


"Sudah selesai, Sayang?" Rendra mengelus kepala Dita yang tertutup hijab.


"Sudah, Mas."

__ADS_1


"Wah ada Kak Bara juga di sini. Apa kabar Pak Bos? Kak Bara?" sapa Bella yang datang bersama Dita. Dia duduk di kursi sebelah Bara yang kosong


"Ini di kampus jangan panggil seperti itu," tegur Rendra pada Bella.


"Iya, Kak Rendra. Maaf."


"Alhamdulillah, kabarku baik. Kalian cuma berdua aja nih. Biasanya sama Baim. Ke mana dia?" Bara mencari sosok Baim yang mungkin tertinggal di belakang.


"Kita memang cuma janjian berdua Kak. Baim sih sukanya mepet kalau KRS tuh," sahut Bella.


"Kalian mau pesan apa?" tanya Rendra pada Dita dan Bella.


"Aku minta punya Mas aja. Ini botol minum juga masih banyak isinya," jawab Dita sambil menunjukkan botol minumnya.


"Aku pesan sendiri aja, Kak." Bella beranjak dari kursinya.


"Gimana KRS-nya, Sayang?" tanya Rendra sambil menggenggam tangan Dita.


"Sudah beres, Mas. Tapi aku enggak boleh ambil 24 SKS sama dosen wali." Terlihat kekecewaan di wajah Dita.


"Kenapa?" Rendra mengernyit.


"Tugas di semester ini kan makin berat. Takutnya kami malah keteteran tugasnya karena mau ngejar SKS. Jadi enggak bisa maksimal mengerjakan tugas. Yang ada malah nanti kami harus ngulang lagi tahun depan." Dita menghela napasnya. "Makanya kami hanya boleh ambil maksimal 20 SKS."


"Ya udah, enggak apa-apa. Kan demi kebaikan kalian juga." Rendra mengelus tangan Dita yang tadi digenggamnya.


"Jangan sedih ya, Sayang." Rendra merangkul bahu Dita dengan tangannya yang bebas. Dita mengangguk lalu menyenderkan kepala di bahu suaminya.


Bara hanya diam melihat interaksi sejoli di hadapannya. Dia bisa melihat ikatan mereka lebih kuat sekarang, apalagi sejak meninggalnya anak mereka. Dalam hati dia berdoa semoga suatu saat bisa menemukan pasangan yang bisa membuatnya bahagia seperti Rendra.


"Sayang, besok Minggu Bara sama Adel mau ke rumah. Mau ketemu Mas Adi. Mau konsultasi soal skripsi." Rendra mengalihkan pembicaraan karena dia tidak mau melihat istrinya terus cemberut.


Dita mengangkat kepalanya, lalu menatap Bara. "Benar, Kak?"


"Iya benar. Mau ngerepotin Mas Adi." Bara tersenyum canggung pada Dita.


"Oh, wah pasti seneng tuh Mas Adi. Jangan sungkan Kak, Mas Adi malah suka. Kalau sudah ngobrol sama Mas Rendra aja suka lupa waktu kalau ngomongin kuliah." Dita melirik suaminya pura-pura kesal.


"Hei, I'm yours. Don't forget about that! (Hei, aku milikmu. Jangan lupakan itu!) Masa cemburu sama Mas Adi, hummm." Rendra mengelus pipi halus istrinya.


"Ehemmm .... Maaf Kak Rendra, ada dua jomlo di sini. Tolong kasihanilah kami," canda Bella yang sudah kembali ke meja mereka sambil membawa minumannya.


Rendra tersenyum, sementara Dita jadi salah tingkah.


"Maaf ya Para Jomlo, bawaannya pengen mesra terus sudah ketemu istriku ini," ucap Rendra menanggapi candaan Bella.

__ADS_1


Mereka kemudian mengobrol berempat sampai tiba saat salat Zuhur. Rendra dan Dita pergi ke Musala Teknik sementara Bella dan Bara pulang ke kosnya masing-masing.


Jogja, 260421 00.05


__ADS_2