Romansa Cinta Senior Junior

Romansa Cinta Senior Junior
60


__ADS_3

"Bro, gue enggak mau tahu pokoknya band lo harus ngisi di resepsi pernikahan gue. Lo harus bantu gue ngasih kejutan buat Dita." Ucap Rendra pada Bara.


"Iya, ntar gue bilang sama anak-anak dulu. Semoga mereka mau."


"Gimana caranya harus mau. Gue bayar berapa pun yang kalian minta."


"Haishhh ... kaya ama siapa aja lo. Enggak usah pakai bayar-bayaran."


"Enggak bisa Bro, kalian kerja ya harus gue bayar secara profesional."


"Lo enggak nganggep gue sahabat lo?"


"Justru karena gue anggap lo sahabat gue makanya gue bayar secara profesional. Lo sama teman-teman band lo kan kerja, enggak cuma main-main. Daripada gue bayar band lain lebih baik gue bayar band lo."


"Iya, nanti gue bilang anak-anak."


"Thanks. Gue berharap banget sama lo, Bro." Rendra menepuk bahu Bara.


"Kalian berdua nih ya selalu asyik berdua dan ngelupain aku." Adelia tiba-tiba datang menyela mereka.


"Eh ... lo Del, gimana kabar lo?" Sapa Bara.


"Kabarku baik. Kalian ini jahat ya mentang-mentang kita udah jarang kuliah bareng, aku enggak pernah diajak hang out lagi." Adelia duduk menghadap mereka.


"Kita enggak pernah hang out lagi sejak Bapak satu ini punya istri. Dia lebih memilih pergi sama istrinya dibandingkan gue." Bara menunjuk Rendra.


"Ya iyalah, kaya enggak tahu pengantin baru aja." Canda Rendra.


"Oh iya ... gimana kabar Dita?" Tanya Adelia pada Rendra.


"Alhamdulillah baik dan sehat," jawab Rendra.


"Kamu udah denger gosip soal Dita belum?" Adelia menatap Rendra.


"Gosip apa? Dita orangnya enggak suka aneh-aneh." Rendra mengerutkan keningnya heran.


"Berarti Dita enggak cerita sama kamu ya?" tanya Adelia memastikan.


"Gosip apa sih, Del? Jangan muter-muter ngomongnya." Protes Bara yang mulai tak sabar.


"Yang suaminya Dita, Rendra kan? Kenapa kamu yang enggak sabar?" Goda Adelia pada Bara.


"Udah Del, ada gosip apa soal Dita?" Tanya Rendra kemudian.


"Dita dilabrak sama penggemarmu, Ren." Jawab Adelia.


"Apa???" Teriak Rendra dan Bara bersamaan.


"Kompak amat Pak teriaknya," seloroh Adelia.


"Siapa yang berani labrak Dita?" Raut muka Rendra berubah menjadi kaku, rahangnya mengeras dan wajahnya memerah karena marah.


"Sabar Bro, tenangin diri lo dulu." Bara mencoba menenangkan Rendra.


"Serem Ren wajahmu, jangan marah sama aku." Adelia terlihat agak takut pada Rendra.


"Ceritakan apa yang kamu tahu Del, dengan sejelas-jelasnya." Ucap Rendra datar.


"Iya ... tapi kamu jangan nyeremin gini Ren. Aku jadi takut." Pinta Adelia.


"Astaghfirullah. Sori Del, aku enggak marah sama kamu. Tapi aku marah sama diriku sendiri karena enggak bisa melindungi Dita." Rendra mengusap kasar wajahnya.


“Jadi ceritanya gini yang aku dengar. Dita didatangi sama dua  orang katingnya di kantin. Anak arsi juga, kayanya semester 4. Katanya mereka marah-marah sama Dita, tapi istrimu menanggapinya dengan santai. Katanya sih ngancam Dita juga tapi aku enggak tahu ancamannya gimana.”


“Katanya sih enggak cuma sekali, tapi berapa kalinya aku juga enggak tahu. Kamu tanya Dita saja sendiri untuk memastikan.” Jelas Adelia.


“Kapan kejadiannya?” Tanya Bara.


“Sudah beberapa hari yang lalu, mungkin udah ada kali semingguan.” Jawab Adelia.


Rendra mengembuskan napas panjang setelah mendengar penjelasan Adelia. Dia tidak habis pikir kenapa sampai ada kejadian seperti ini.


“Kenapa Dita enggak cerita?” Gumam Rendra sambil memijat keningnya.


“Mungkin Dita enggak mau kamu kepikiran, Ren. Selama dia bisa menghadapinya sendiri kayanya dia enggak akan cerita sama kamu.” Ujar Adelia.


“Tapi aku merasa jadi suami yang enggak berguna, enggak bisa melindungi istri sendiri dari orang-orang yang mengaku penggemarku.” Rendra mengacak rambutnya kasar.


“Aku harus ketemu Dita sekarang,” Rendra hendak bangkit dari duduknya tapi ditahan Bara.

__ADS_1


“Tenang dulu Bro, mendingan lo selidiki dulu soal ini. Cari tahu siapa orangnya. Nanti kalau sudah ketahuan, baru lo bisa ambil tindakan. Sekarang lo mau ketemu Dita mau apa? Interogasi dia?”


Rendra menggelengkan kepala. “Kamu tahu Del siapa yang udah datangin Dita?” Rendra menoleh pada Adelia.


“Aku belum tahu, tapi aku bisa bantu cari tahu. Nanti aku kabari kalau sudah ada info.”


“Thanks Del, dan aku juga minta tolong kalau ada temanmu yang melihat Dita didatangi lagi sama mereka langsung hubungi aku. Aku ingin ketemu langsung sama orangnya. Aku enggak peduli dia cewek, tapi dia sudah mengusik Dita jadi sama aja mengusik aku.” Tegas Rendra.


“Kenapa lo enggak coba tanya sama Bella aja, Bro. Mereka kan ke mana saja selalu berdua. Dia pasti tahu detail ceritanya,” saran Bara.


“Ah iya, kenapa gue enggak kepikiran sama dia.” Rendra menepuk jidatnya.


“Ya iyalah di pikiran lo kan cuma ada Dita,” ledek Bara.


“Sialan lo, tapi bener sih hahaha. Nanti gue tanya Dita nomornya Bella.”


“Apa Dita enggak curiga kalau lo minta nomornya Bella sama dia?”


“Iya juga ya,” Rendra menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Lo kenapa mendadak jadi bodoh sih, kan masih ada Baim. Nanti kalau gue ketemu dia, gue mintain nomornya Bella.”


“Ya gitu Bar, kalau orang baru jatuh cinta mendadak jadi bodoh.” Ledek Adelia.


“Terserah kalian mau ngomong apa, tapi tolong bantu gue soal ini.”


“Tenang aja Bro, kita pasti bantu lo kok.” Bara menepuk punggung Rendra.


“Iya Ren, buat kamu dan Dita apa sih yang enggak.”


"Thanks, kalian memang sahabat terbaik gue."


...---oOo---...


Rendra mengirim pesan pada Bella setelah mendapatkan nomornya dari Baim. Dia mau memastikan kabar tentang Dita yang diancam oleh katingnya. Setelah mendapat balasan dari Bella dan dia sedang tidak bersama Dita, lalu Rendra pun menelepon Bella.


“Halo, Kak Rendra.” Sapa Bella dari seberang telepon.


“Assalamu’alaikum,” salam Rendra.


“Wa’alaikumsalam,” balas Bella.


“To the point aja ya, apa benar berita yang beredar soal Dita diancam sama kating kalian?” Tanya Rendra tanpa basa-basi.


“Kamu tahu soal ini?”


“Tahu Kak, pas kejadian itu kebetulan aku sedang bersama Dita.”


“Bisa kamu ceritakan detailnya?”


“Bisa, Kak.” Bella lalu menceritakan semuanya pada Rendra.


“Sudah berapa kali kejadiannya?”


“Dua kali, Kak.”


“Kenapa enggak ada yang cerita sama aku?”


“Tidak boleh sama Dita, Kak. Aku sudah bilang agar cerita sama Kak Rendra tetapi Dita enggak mau menambah beban pikiran Kakak.”


“Jadi Dita memang sengaja ya enggak mau cerita?”


“Iya Kak, katanya itu hanya masalah kecil.”


“Kamu bisa bantu aku kan?”


“Apa yang bisa aku bantu Kak?”


“Kalau suatu saat ada kejadian lagi, kamu langsung hubungi aku. Bisa kan?”


“Iya, bisa Kak.”


“Oh ya, jangan bilang sama Dita kalau aku sudah tahu soal ini dan kalau aku telepon kamu. Aku ingin Dita yang cerita sendiri.”


“Iya Kak. Tapi Kakak janji ya jangan marah sama Dita. Dia melakukan itu karena dia enggak mau Kakak khawatir.”


“Justru dengan dia enggak cerita dan aku tahu dari orang lain malah membuatku tambah khawatir. Gimana kalau ada sesuatu yang terjadi dan aku enggak tahu. Nanti aku dianggap suami yang tidak bisa menjaga istriku. Bagaimana pertanggungjawabanku pada keluarga Dita.”


“Iya Kak, maaf. Aku janji akan langsung hubungi Kakak. Aku juga selalu berusaha bersama terus sama Dita, Kak. Jaga-jaga kalau suatu saat mereka nekat.”

__ADS_1


“Terima kasih, Bel. Aku nitip Dita ya kalau pas kuliah.”


“Iya sama-sama Kak, tenang saja.”


“Ya sudah aku tutup dulu, jangan lupa langsung kabari aku kalau ada apa-apa.”


“Siap, Kak.”


“Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikumsalam.”


... ---oOo---...


“Lo tuh memang enggak bisa ya dibilangin baik-baik. Masih anak baru saja belagu.” Hardik Siska pada Dita.


Siska dan Maria kembali mendatangi Dita yang sedang bersama Bella di kantin. Bella langsung mengirim pesan pada Rendra tanpa sepengetahuan Dita.


“Hai Kak Siska, Kak Maria.” Sapa Dita dengan santai sembari tersenyum ramah.


“Enggak usah sok akrab dan sok ramah gitu. Mau lo apa sebenarnya?”


“Saya mau makan nih Kak, lapar hehehe. Kakak mau makan juga? Mau saya pesankan sekalian?”


“Lo tuh bisa diajak ngomong serius enggak sih?”


“Saya dari tadi jawab serius lho, Kak. Apa saya kelihatan bercanda?” Dita memasang tampang polos.


“Lo yang ngomong sama dia, bikin aku makin emosi aja.” Kata Siska pada Maria.


"Lo itu bego atau gimana sih, sudah dibilangin berulang kali masih saja nekat bareng Kak Rendra."


"Lho ... salah saya di mana Kak? Kakak berdua bukan pacar atau istri Mas eh ... Kak Rendra kan, jadi tidak ada hak untuk melarang saya. Kalau saya enggak mau bareng nanti dia malah marah sama saya, Kak. Apa Kakak berdua mau bertanggungjawab kalau dia marah? Dia kalau marah seram loh, Kak."


"Enggak usah banyak ngomong lo. Jangan kebanyakan alasan. Ini peringatan terakhir dari kami, kalau kamu masih nekat bareng Kak Rendra, jangan salahkan kami kalau sampai terjadi sesuatu sama kamu."


"Apa yang mau kalian lakukan sama istriku?" Rendra tiba-tiba datang lalu berdiri di belakang Dita dengan wajah penuh amarah.


"Kak ... Ren ... dra ...." Siska dan Maria terkejut dengan kedatangan Rendra. Wajah mereka langsung memucat begitu melihat ekspresi wajah Rendra.


"Kalian jangan coba macam-macam sama Dita, atau kalian akan langsung berhadapan denganku." Tegas Rendra sembari menatap Siska dan Maria dengan tatapan tajam.


"Mas, sudah. Malu dilihat orang kalau ribut-ribut." Dita bangun dari duduknya mencoba menenangkan Rendra. Tidak disangka Rendra justru malah memeluk pinggang Dita.


"Perlu kalian tahu dan camkan baik-baik dalam pikiran kalian. Dita ini istriku, jadi kami mau melakukan apa saja berdua itu hak kami. Kalian tidak punya hak apa pun atas hidup kami."


"Bilang juga sama teman-teman kalian yang lain, jangan sekali pun mengganggu Dita. Atau kalian akan tanggung sendiri akibatnya. Kalian akan langsung berhadapan denganku. Mengganggu Dita berarti kalian juga menggangguku."


"Apa kalian sudah mengerti?" Rendra menatap tajam Siska dan Maria bergantian.


"Mengerti, Kak." Sahut Siska dan Maria bersamaan.


"Sekarang kalian minta maaf pada Dita." Perintah Rendra.


"Mas, sudah."


Rendra tidak menghiraukan Dita, dia fokus pada Siska dan Maria yang masih diam dan saling melirik.


"Kalian tidak mau minta maaf? Kenapa diam saja hah?" Rendra mulai menaikkan suaranya, dia tidak peduli menjadi tontonan orang-orang di sana.


"Ma ... mau Kak," sahut Siska.


"Dita, kami minta maaf atas sikap kami selama ini. Kami tidak tahu kalau kamu istrinya Kak Rendra. Kami janji tidak akan mengulangi lagi." Ucap Siska sambil menatap Dita.


"Sayang, apa kamu memaafkan mereka?" Rendra menoleh pada Dita.


"Iya, Mas." Dita menganggukan kepala.


"Karena istriku sudah memaafkan kalian, jadi aku melepaskan kalian kali ini. Kalau sampai aku mendengar hal ini terjadi lagi, aku enggak akan segan-segan menindak kalian."


"I ... iya Kak. Kami mengerti. Kami tidak akan mengulanginya lagi." Ucap Siska sambil menunduk.


"Ambil tasmu, kita pulang." Perintah Rendra pada Dita.


"Tapi, aku masih ada kuliah Mas."


"Bella, nanti tolong sampaikan pada dosen kalau Dita izin ada urusan keluarga." Kata Rendra pada Bella.


"Siap, Kak." Sahut Bella.

__ADS_1


"Ayo pulang." Rendra menggenggam tangan Dita setelah istrinya itu mencangklong tas ranselnya.


Mereka berjalan meninggalkan kantin dengan bergenggaman tangan, tepatnya Rendra yang memaksa menggenggam tangan Dita. Rendra sudah tidak peduli dengan tatapan dan omongan orang-orang di sekitar mereka. Dia hanya ingin melindungi istrinya dan menunjukkan kalau mereka memang suami istri. Dia berharap setelah ini tidak akan ada lagi yang mengganggu mereka, terutama Dita.


__ADS_2