Romansa Cinta Senior Junior

Romansa Cinta Senior Junior
22


__ADS_3

“Hai, Dita.” Bara melambaikan tangan sambil tersenyum lebar menyapa Dita yang baru sampai di depan gedung fakultas teknik dengan menggunakan ojek online.


“Pagi, Kak Bara,” balas Dita dengan senyum ramah saat berada di depan Bara.


“Kamu tiap hari naik ojol ya?” Tanya Bara tiba-tiba sambil menyejajarkan langkah dengan Dita.


“Enggak juga, Kak, kadang juga diantar sama Mas Adi.” Jawab Dita.


“Berarti pulang juga pakai ojol?”


“Iya ... kadang-kadang, Kak.”


“Terus yang pas kemarin kita habis ketemu di kantin itu, kamu juga naik ojol?” Selidik Bara.


“Eh ... oh ... waktu itu ... kebetulan bareng sama tetangga.” Jawab Dita sedikit gugup. “Apa Kak Bara tahu kalau aku berboncengan dengan dia?”


“Kenapa ya, Kak?”


“Enggak apa-apa sih, hanya waktu itu kan katanya kamu dijemput, aku kira dijemput sama kakakmu ternyata sama tetanggamu. Jadi, kamu sering juga bareng tetanggamu itu?”


“Enggak juga, Kak.”


“Cowok? Mahasiswa sini juga?” Cecar Bara.


“Iya, Kak.”


“Iya yang mana nih?” Bara mengernyit penasaran.


“Iya cowok, iya mahasiswa sini juga.” Jelas Dita. “Aduh, gawat ini kalau Kak Bara tanya terus.”


“Loh ... loh ... Kak Bara kok malah bareng saya ini enggak masuk ke kelas?” Tanya Dita heran karena Bara justru mengikutinya ke gedung jurusan arsitektur tidak masuk ke gedung jurusan teknik sipil.


“Aku mau mengantar kamu sampai ke kelas.” Jawab Bara dengan senyum lebar.


“Eh ... kok gitu, Kak. Enggak usah diantar, Kak, lagian juga dekat. Saya enggak enak sama yang lain.” Tolak Dita.


“Bukannya kita berteman ya? Apa salah kalau teman mengantar temannya?”


Pernyataan retoris Bara tentu saja membuatnya tidak bisa mengelak lagi. Dia akhirnya hanya bisa pasrah diantar Bara sampai ke depan ruang kuliahnya. Beberapa orang yang mereka lewati tentu saja memperhatikan mereka, ada yang sekedar melihat, ada pula yang berbisik-bisik dengan teman di sebelahnya. Bagaimana tidak, Bara merupakan salah satu idola di fakultas teknik, tentu saja banyak orang yang mengenal dan mengaguminya. Meski Dita merasa tidak nyaman tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa berdoa dalam hatinya semoga tidak ada rumor tentang mereka.


"Nanti selesai kuliah jam berapa?" Tanya Bara lagi.


"Sekitar jam 3, Kak." Jawab Dita.


"Mmmhhh ... enggak bisa bareng nih pulangnya. Aku nanti ada praktikum sampai sore atau malah mungkin malam selesainya hahaha." Bara tertawa sumbang.

__ADS_1


Dita hanya tersenyum mendengarnya.


"Kalau gitu, gimana kalau nanti kita makan siang bareng?" Usul Bara.


"Eh ... ya nanti coba saya tanya Bella dulu ya, Kak."


"Kamu enggak mau makan siang berdua sama aku?" Tanya Bara dengan raut wajah sendu.


"Eh ... bukan begitu, Kak. Soalnya kan saya biasanya bareng sama Bella terus kalau makan siang." Jawab Dita kikuk.


"Oke, enggak apa-apa kalau sama Bella malah lebih asyik kalau ramai." Ujar Bara yang akhirnya mengalah demi mendapatkan hati pujaannya itu.


"Kamu sudah pernah belum makan penyetan di Pogung situ, seberang utara fakultas sini?"


"Belum Kak, saya jarang makan di luar."


"Nanti kita makan di sana ya? Warung penyetan biasa sih, harga mahasiswa tapi rasanya lumayan enak kok. Sudah ada sayur dan sambal di tiap paketan menunya." Ajak Bara.


"Maaf, Kak. Apa tidak sebaiknya di kantin saja? Karena jam 1 saya harus masuk kelas lagi. Nanti selesai kuliah jam kedua saya langsung ke musala baru ke kantin. Kalau harus keluar takutnya enggak keburu." Tolak Dita dengan memberi alasan yang masuk akal.


"Oh ... iya, benar juga. Apalagi jam makan siang biasanya penuh dan antre di sana. Ya sudah lain waktu saja kita ke sana pas longgar waktunya."


"Insya Allah, Kak."


"Nanti kita ketemu di musala saja ya, aku tunggu di sana. Kita salat berjemaah lagi." Kata Bara dengan wajah ceria.


“Oya Dita, apa boleh aku minta nomor ponsel atau line id kamu?” Tanya Bara di depan ruang kuliah Dita saat mereka tiba di sana.


“Line id saya @AninditaK, Kak,” jawab Dita.


Bara lalu mengeluarkan gawainya, membuka aplikasi Line lalu mencari id Dita.


"Yang ini bukan?" Tanya Bara sambil menunjukkan gawainya pada Dita.


"Iya, betul, Kak." Dita menganggukkan kepalanya, setelah itu Bara menambahkan Dita sebagai teman.


“Terima kasih, Dita. Teman boleh saling berkirim pesan kan?” Kembali Bara mengeluarkan penyataan retoris yang membuat Dita mau tidak mau menganggukkan kepalanya.


“Terima kasih Kak sudah diantar, tetapi lain kali tidak perlu seperti ini.” Ujar Dita sungkan.


“Kenapa? We’re friend, right?” Kembali Bara menggunakan alasan pertemanan agar bisa dekat dengannya.


Dita mengembuskan napas pelan, lalu tersenyum pada Bara. “Saya masuk kelas dulu ya, Kak.”


Bara menganggukkan kepala dengan tetap tersenyum.

__ADS_1


“Sampai ketemu nanti.” Bara melambaikan tangannya saat Dita masuk ke ruangan kuliahnya. Setelah memastikan Dita masuk kelas, Bara melangkahkan kakinya dengan riang sambil terus tersenyum pada semua orang yang dia jumpai. "Yessss!!! One step closer."


Begitu Dita masuk ke kelas, teman-teman mulai menggodanya.


“Cie cie, sekarang sudah punya bodyguard yang ngawal ke kelas.”


“PJ-nya jangan lupa ya Dit.”


Dan berbagai macam celoteh lainnya. Dita tak mau menanggapinya, karena semakin ditanggapi mereka akan semakin menggodanya. Dia hanya tersenyum saja sambil terus berjalan ke kursinya.


“Beneran kamu diantar Kak Bara?” Tanya Baim yang tiba-tiba sudah duduk di sampingnya. Tidak biasanya temannya yang satu ini ingin tahu urusan orang lain.


Dita menganggukkan kepala pelan. “Iya dari depan fakultas sampai depan kelas.” Dita tersenyum kecut.


“Kak Bara kayanya serius mau mendekati kamu, Dit.” Ujar Baim.


“Entahlah Im, aku kemarin sudah bilang cuma ingin berteman saja, tapi kayanya Kak Bara memanfaatkan celah itu.”


“Namanya cowok Dit, ada kesempatan biar cuma kecil pasti dimanfaatkan.”


“Harusnya aku kemarin dengerin omongannya Rendra.” Gumam Dita pelan sambil menatap kosong ke depan.


“Kamu ngomong apa Dit?” Tanya Baim yang tadi sempat mendengar dia menggumam meski tidak jelas.


“Eh ... apa?” Dita tersadar dari lamunannya.


“Kamu melamun ya? Sudah tidak usah terlalu dipikirkan. Let it flow, jalani saja dulu. Toh, jodoh juga di tangan Allah, mau kamu menghindar kaya apa kalau dia memang jodohmu juga kamu tetap tidak bisa menolak kan.” Nasihat Baim.


Dalam hati Dita membenarkan kata-kata Baim, untuk apa dia malah pusing sendiri menghindari Bara. Semakin dia menghindar sepertinya Bara malah akan semakin mendekatinya dengan berbagai macam alasan.


“Makasih ya, Im. Ternyata sebagai teman ada manfaatnya juga kamu.” Seloroh Dita yang mulai bisa ceria lagi.


Baim melirik Dita, pura-pura kesal, lalu mereka berdua tertawa.


“Ada apa nih kalian berdua kayanya asyik bener tertawanya?” Tanya Bella yang baru datang.


“Rahasia.” Jawab Dita yang diikuti tawa Baim.


“Jahat ih kalian.” Bella mengerucutkan bibirnya kesal.


......※※※※※......


Catatan:


PJ : Pajak Jadian

__ADS_1


Tim Bara, mana suaranya? 😂😂😂


__ADS_2