Romansa Cinta Senior Junior

Romansa Cinta Senior Junior
80


__ADS_3

"Dek, pesen makanan aja sekarang, mas ikut aja." Saran Adi setelah mereka selesai salat Isya berjemaah.


"Aku pinjam hp-nya Mas ya. Punyaku ketinggalan di sebelah."


"Oh, ambil aja di meja kamar, Dek." Adi beranjak dari ruang salat.


Dita masuk ke kamar Adi untuk mengambil gawai. Dia mengutak atik gawai Adi sambil mencari aplikasi ojek online. Dia berjalan keluar kamar sambil menunduk melihat gawai.


"Mas, ini lokasinya sudah diset di sini belum?" Tanya Dita tanpa mengangkat kepalanya.


"Dek," panggil Adi.


"Hhhmmm ...," gumam Dita tanpa menoleh pada Adi.


"Dek, kalau dipanggil itu noleh jangan asyik sendiri lihat hp." Tegur Adi.


"Eh ... iya, Mas." Dita mengangkat kepala. Dia menoleh pada Adi yang sedang berdiri di antara ruang tamu dan ruang tengah. Dia terkesiap melihat sosok yang berdiri di samping Adi. Sontak dia langsung berjalan cepat masuk ke kamar.


"Dita," panggil Rendra yang langsung mengejar Dita. Tapi dia sedikit terlambat karena Dita keburu masuk kamar dan menguncinya.


"Dita, Sayang. Buka pintunya dong, Sayang." Rendra mengetuk pintu kamar Dita berkali-kali.


"Aku minta maaf, Sayang. Tolong buka pintunya," pinta Rendra.


Dita bergeming, tidak menjawab atau pun membuka pintu. Dia berdiri bersandar di balik pintu. Dia masih merasa belum siap bertemu dan bicara sama Rendra.


"Dek, buka pintunya. Mas mau bicara." Adi akhirnya ikut turun tangan.


Dita masih tak memberikan respon.


"Dek, jangan kaya gini. Buka pintunya, Dek." Adi kembali membujuk Dita.


"Sayang, buka pintunya."


"Dek, buka pintu atau mas dobrak pintunya?"


Dita akhirnya membuka pintu, tapi dia tidak keluar dari kamar.


Rendra mau masuk, tapi Adi menahannya.


"Biar, aku bicara dulu sama Dita."


"Baik, Mas."


Adi masuk ke kamar Dita, sementara Rendra menunggu di depan pintu kamar.


Adi menghampiri Dita yang sedang duduk di atas ranjang. Dia duduk di sebelah Dita.


"Dek, kenapa malah lari? Katanya ingin segera selesai masalahnya."


"Aku ... aku belum siap ketemu, Mas." Dita menundukkan kepala.


"Terus kapan Adek siap? Jangan biarkan masalah berlarut-larut, Dek. Adek sudah dewasa jangan seperti anak kecil yang lari dari masalah." Adi membelai kepala Dita.


"Rendra sudah ke sini loh nyusul Adek. Dia juga bawa tas berarti dia mau tidur di sini sama Adek. Kalau belum siap bicara enggak apa-apa, tapi jangan menghindar seperti ini."

__ADS_1


"Adek harus bertemu Rendra. Tetaplah jadi istri yang berbakti sama suami, meski kalian sedang ada masalah. Sekarang, keluar ya."


"Adek juga belum makan loh. Kayanya Rendra tadi juga bawa makanan. Kita makan dulu ya, Dek." Bujuk Adi lagi.


Dita menganggukan kepala. Adi bangun dari duduknya diikuti Dita. Mereka berjalan keluar kamar.


Rendra menghela napas lega melihat Dita sudah mau keluar kamar meski sikapnya masih belum biasa. Dia tersenyum saat Dita meliriknya.


"Tasmu dimasukkan ke kamar dulu, Rend."


"Iya, Mas. Oh ya, ini ada makanan dari mama untuk makan malam."


"Dek, ambil tuh terus siapin di meja makan," perintah Adi.


Dita mengambil rantang makanan dari tangan Rendra tanpa mengatakan apa pun. Meski begitu Rendra tetap tersenyum karena bisa menatap wajah istrinya yang dia rindukan. Sementara Dita menyiapkan makanan di meja makan, Rendra masuk ke kamar Dita untuk meletakkan tas yang dibawanya.


Saat makan, Dita tetap melayani Rendra makan meski hanya bicara seperlunya. Hanya Adi dan Rendra yang banyak bicara. Dita hanya menjawab bila ditanya.


Selesai makan, Rendra membantu Dita membereskan meja makan dan mau membantu mencuci alat makan.


"Biar, aku saja. Mas Rendra duduk di sana sama Mas Adi." Ucap Dita dengan nada datar.


"Aku di sini aja nunggu kamu, Sayang. Aku kangen." Rendra berdiri di samping Dita sambil menatap wajah istrinya itu.


Ada rasa berdesir dan nyeri di hatinya saat Rendra terus mengucapkan kata-kata manis. Dia juga rindu, tetapi ego masih menguasai Dita.


Rendra terus mengamati semua yang Dita lakukan dari samping. Ingin rasanya dia mendekap Dita dari belakang, merasakan kehangatan istrinya. Tetapi, mereka tidak hanya berdua di sana, ada Adi yang duduk di dekat mereka. Dia cukup tahu diri, tidak mengumbar kemesraan di depan kakak iparnya.


Setelah mencuci semua alat makan, Dita bergabung dengan Adi di ruang tengah. Rendra, tentu saja mengikuti istrinya. Mereka lalu duduk berdampingan di sofa. Sikap Dita masih dingin, meski dia tidak menolak saat Rendra menggenggam tangannya.


"Mas Adi, mungkin beberapa hari ke depan kami akan tidur di sini untuk sementara sampai semua kembali normal." Rendra memulai obrolan.


"Terima kasih, Mas."


"Enggak usah sungkan, kaya sama siapa aja. Kita ini sudah jadi keluarga. Rumah ini juga rumah kalian."


"Iya, Mas."


"Mama Dewi enggak masalah kan kalian tidur di sini?" tanya Adi.


"Justru mama yang menyuruh kami di sini dulu sementara. Mama tidak mau Dita merasa tidak nyaman di rumah." Jawab Rendra sembari menoleh pada Dita yang ternyata sedang memandangnya. Rendra sontak tersenyum membuat Dita langsung menundukkan wajahnya.


"Oh ya, bagaimana keadaan di sana setelah Dita ke sini?"


Rendra lalu menceritakan semua, termasuk saat mereka sekeluarga bicara dengan Olivia. Juga soal Olivia yang terus bersikeras kalau tidak salah.


"Kamu harus tegas Rend sama sepupumu itu. Kalau tidak, dia bisa mencari celah lagi untuk mengganggu kalian." Saran Adi.


"Iya, Mas. Aku juga sudah tidak menanggapi lagi apa pun yang dia katakan dan lakukan. Kamar kami juga sudah aku kunci biar dia tidak bisa masuk lagi ke sana. Karena itu, sampai setidaknya dia balik ke Jakarta, kami akan tinggal di sini. Atau sampai Dita merasa siap kembali ke rumah."


"Itu Dek, didengerin apa yang Rendra katakan. Kalian sama-sama sudah dewasa jangan meninggikan ego masing-masing. Sekarang tinggal kalian menyelesaikan masalah di antara kalian. Mas minta segera diselesaikan, jangan berlarut kalau ada masalah. Masalah hari ini selesaikan hari ini juga."


"Iya, Mas." Sahut Dita lirih.


"Mas mau ke kamar dulu, kalian bisa bicara berdua. Rend, nanti tolong cek pintu ya."

__ADS_1


"Siap, Mas."


Adi meninggalkan mereka berdua di ruang tengah.


"Sayang, aku minta maaf ya. Aku sadar sudah bersikap berlebihan. Aku memang salah, aku tidak peka. Untungnya mama dan Kak Shasha menyadarkan aku. Mau kan maafin suamimu ini?" Rendra duduk menghadap Dita, satu tangannya yang bebas mengusap pipi Dita.


Dita menganggukkan kepala tanpa bersuara.


"Terima kasih, Sayang." Rendra langsung mengecup kening Dita lalu memeluknya erat dan lama.


"Sayang, kamu harus tahu kalau tadi saat kamu pergi rasanya separuh jiwaku hilang. Jangan pergi lagi ya, Sayang. Ungkapkan saja semuanya sampai kamu puas dan lega, tapi tolong jangan pergi." Ungkap Rendra saat mereka masih berpelukan.


"Iya, Mas." Akhirnya Dita mengeluarkan suara, dia pun membalas pelukan Rendra.


"Maafin aku juga, sudah pergi tanpa izin Mas."


"Iya, lain kali jangan diulangi ya, Sayang." Rendra membelai kepala Dita.


"Iya, Mas."


Setelah puas berpelukan, mereka saling menjauhkan diri.


"Kita ngobrolnya di kamar aja yuk," ajak Rendra.


Dita menganggukkan kepala.


"Tunggu sebentar ya, aku cek pintu dulu." Rendra meninggalkan Dita di ruang tengah untuk mengecek pintu depan dan juga garasi.


Setelah itu mereka masuk kamar saling bergandengan tangan.


"Mas bawa baju ganti?" Tanya Dita saat mereka sudah di dalam kamar.


"Ada tuh di tas, tapi enggak banyak. Enggak muat soalnya. Keluarin aja, Sayang. Aku ke kamar mandi dulu."


Dita membuka tas Rendra lalu menata baju suaminya di lemari. Baju Rendra tidak banyak di sini karena mereka tidak pernah tidur di rumah Adi sejak mereka tinggal bersama.


Setelah Rendra selesai bersih-bersih, ganti Dita yang masuk ke kamar mandi.


Rendra menghidupkan lampu tidur sebelum mematikan lampu utama. Dia lalu duduk di atas ranjang menyandar di headboard, mengecek gawainya sambil menunggu Dita.


Dita naik ke atas ranjang lalu berbaring, sesudah membersihkan dirinya. Rendra pun ikut berbaring di sebelahnya.


Meski Dita sudah memaafkannya, tapi Rendra bisa merasakan kalau Dita masih bersikap dingin padanya. Tidak banyak bicara dan tidak bersikap manja seperti biasanya. Tapi untuk saat ini, Dita sudah memaafkan dan mau bicara dengannya saja sudah cukup.


"Sayang, besok kita jadi melihat-lihat peralatan bakery?" tanya Rendra.


"Kalau lusa gimana, Mas. Aku lagi males keluar. Besok pagi antar belanja saja buat isi kulkas dan masak."


"Ya udah, kalau itu maumu. Aku ikut aja."


"Kalau Mas mau ke kafe juga enggak apa-apa. Aku di rumah aja."


"Aku males pergi sendiri. Lagian aku masih kangen kamu, Sayang." Rendra mengusap pipi Dita.


"Aku sudah ngantuk, Mas." Dita mulai memejamkan mata.

__ADS_1


"Oke Sayang, kita tidur. Jangan lupa berdoa dulu. Selamat tidur, Cintaku." Rendra mengecup kening Dita lalu memeluk pinggang Dita. Dia pun ikut memejamkan mata.


Jogja, 210321 14.20


__ADS_2