Romansa Cinta Senior Junior

Romansa Cinta Senior Junior
84


__ADS_3

“Dita, Tante minta maaf karena Olivia sudah membuatmu tidak nyaman dan mungkin juga menyakiti hatimu. Tante akan mendidik Olivia agar bisa bersikap lebih baik lagi. Tante terlalu memanjakannya jadi dia sering bertindak seenak hatinya. Kamu mau kan memaafkan Olivia?” pinta Tante Vina, mamanya Olivia.


Sore itu, Dita dan Rendra ke rumah Ibu Dewi untuk bertemu dengan Tante Vina, sekaligus membawa bebek bumbu Madura yang tadi mereka beli. Rendra berhasil membujuk Dita menemui Tante Vina. Ya, meskipun dia kesal dengan anaknya, tidak seharusnya kan dia menghindari mamanya. Itu juga sebagai bentuk sopan santunnya kepada orang yang lebih tua.


“Iya, Tante. Dita sudah memaafkan Olivia kok,” balas Dita sambil menyunggingkan senyum manisnya.


“Terima kasih ya, Dita. Tante tahu, kamu anak yang baik. Pantas Rendra jatuh cinta sama kamu.”


“Tante, bisa saja.” Dita tersenyum malu.


“Rendra enggak salah pilih istri kan, Tante,” pamer Rendra sambil merangkul Dita.


"Iya, pintar kamu cari istri," Tante Vina tersenyum sambil mengacungkan dua jempol pada Rendra.


"Oliv, sekarang giliranmu minta maaf sama Dita dan Rendra," perintah Tante Vina pada Olivia.


Olivia yang duduk di samping mamanya, sedari awal terus menunduk. Dia baru mengangkat kepala setelah mendengar perintah mamanya.


"Kak Rendra, Dita, aku minta maaf," ucap Olivia sambil menatap Rendra dan Dita.


"Kami maafkan, dan jangan diulangi lagi," tegas Rendra.


"Iya, Kak. Terima kasih." Olivia kembali menundukkan kepala.


"Dita, kapan main ke Jakarta?" tanya Tante Vina.


"Kalau Dita ikut Mas Rendra, Tante. Mungkin saat ada acara di sana atau saat liburan," jawab Dita.


"Ren, ajak istrimu ke Jakarta. Honey moon lagi gitu di sana," seloroh Tante Vina.


"Insya Allah, Tante. Nanti kalau ada kesempatan kita ke Jakarta," sahut Rendra.


"Benar ya, Tante tunggu. Pokoknya mah di sana tenang saja, semua akan Tante sediakan apa yang kalian mau."


"Terima kasih, Tante."


"Dita, nanti mau makan malam di sini kan?" tanya Ibu Dewi.


"Enggak. Maaf ya, Ma," jawab Dita, merasa sungkan.


"Iya, enggak apa-apa," tutur Ibu Dewi penuh pengertian.


"Maaf Ma, Tante. Dita pamit sekarang. Ada pekerjaan yang tadi ditinggal," pamit Dita.


"Wah, Tante jadi ganggu pekerjaanmu nih. Maaf ya, Dita."


"Enggak kok, Tante." Dita tersenyum.


"Rendra antar Dita sebentar ya, Tante. Nanti Rendra ke sini lagi."


Setelah Rendra mengantar Dita, dia kembali dan mengajak mamanya bicara berdua.


"Ma, apa kalau orang hamil itu suka makan yang asam-asam?" Rendra mulai bertanya perihal kehamilan.


"Biasanya iya, tapi enggak semua. Memangnya kenapa?" Ibu Dewi mengerutkan kening.


"Dita itu tadi makan sambal mangga banyak, padahal rasanya asam. Sudah Rendra larang, dia enggak mau dengar. Katanya enggak asam, tapi enak dan segar. Sambal mangga yang di bebek tadi diambil semua Ma sama Dita."


"Terus, biasanya dia menurut kalau dilarang meski sambil menggerutu. Tapi tadi sama sekali enggak mau dengar, Ma. Rendra takut dia jadi sakit perut karena kebanyakan makan asam," curhat Rendra.


Ibu Dewi tersenyum. "Coba kamu ingat kapan terakhir kali Dita datang bulan?"


"Kalau enggak salah akhir puasa, sebelum lebaran, Ma. Dan, sampai sekarang belum haid lagi." Rendra sangat yakin dengan jawabannya. Karena sejak bulan madu, mereka melakukan sesuatu yang asyik-asyik hampir setiap hari.


"Berarti kan sudah sebulan lebih, Ren. Coba nanti kamu beli testpack di apotek buat Dita. Tesnya lebih bagus hasilnya kalau pagi hari. Jadi pas bangun tidur besok pagi, kamu minta Dita buat tes. Kalau hasilnya positif, Insya Allah hamil. Tetapi harus dipastikan lagi ke dokter kandungan atau bidan," jelas Ibu Dewi.


"Siap Ma, nanti Rendra bicara sama Dita."

__ADS_1


"Dita merasa mual atau muntah-muntah enggak?"


"Kayanya enggak, Ma. Dita enggak pernah bilang perutnya mual. Tapi Ma, Dita jadi gampang dan sering banget tidur. Enggak bisa lihat ada bantal atau sofa, kalau diam aja pasti dia ketiduran."


"Dita juga jadi gampang curiga dan cemburu, Ma. Padahal Mama tahu sendiri kan Dita itu santai dan agak cuek orangnya," lanjut Rendra.


Ibu Dewi tertawa kecil. "Semoga saja memang Dita hamil, Ren."


"Aamiin."


"Ren, kalian berdua sudah membicarakan belum bagaimana kalau Dita hamil saat kuliah. Dia dulu kan ingin nunda kehamilan, apa kalian enggak pakai alat kontrasepsi?"


Rendra meringis memperlihatkan deretan giginya. "He he, enggak Ma. Rendra sama Dita sama-sama enggak mau pakai. Rendra pikir belum tentu juga langsung hamil kan."


"Terus, kalau soal Dita hamil saat kuliah pernah sih Ma bicara, tapi hanya sepintas. Mungkin Dita bakal cuti kuliah kalau hamilnya sudah besar."


"Kalau benar nanti Dita positif hamil, kalian bicarakan lagi lebih serius soal kuliah dan kehamilannya. Jangan sampai Dita merasa terbebani dengan keadaannya yang hamil dan urusan kuliah."


"Iya, Ma."


"Kurangi itu kalian naik motor berdua dengan motormu. Lebih baik pakai yang matic biar lebih nyaman. Kalau mau pakai mobil juga enggak apa-apa, biar mama naik gocar."


"Siap, Ma. Tapi Dita itu lebih senang naik motor kalau enggak mendesak harus pakai mobil. Terus apalagi Ma yang harus Rendra lakukan?"


"Ajak ngaji sejak di dalam perut. Kamu baca Al-Qur'an di dekat perut Dita biar calon anakmu terbiasa mendengar ayat-ayat Allah sejak dini. Tidak harus surat khusus karena semua isi Al-Qur'an itu baik. Tapi ada juga yang khusus membaca Surat Yusuf dan Maryam selama hamil."


"Kamu juga harus lebih sabar menghadapi Dita, jangan terpancing emosi kalau dia mulai uring-uringan. Apalagi mood ibu hamil itu cepat sekali berubah. Itu semua pengaruh hormon kehamilan. Kamu sudah mengalami sendiri kan Dita yang mulai berubah sifatnya."


"Iya, Ma."


"Dan, satu lagi jadilah suami yang siaga, siap, antar, jaga. Jangan hanya mau enaknya saja. Mau membuat kok tidak mau ikut bersusah payah."


"Pastilah Ma, Rendra selalu siaga buat Dita. Dia enggak hamil aja Rendra jaga betul, apalagi kalau hamil."


"Mama percaya anak mama ini bisa diandalkan dan jadi sosok suami yang bertanggungjawab."


"Ma, doakan juga usaha, pekerjaan dan kuliahku lancar. Semester ini, insya Allah Rendra KKN dan magang. Besok Rendra nitip Dita ya Ma, kalau Rendra tidak ada di rumah karena ada kegiatan."


"Iya, tanpa kalian minta, mama selalu berdoa untuk kalian. Mama pasti akan menjaga Dita. Dia juga sudah menjadi anak Mama sekarang. Kamu enggak usah khawatir." Ibu Dewi mengelus punggung putra kesayangannya itu.


"Terima kasih, Ma."


...---oOo---...


"Sayang, ingat enggak kapan terakhir kali datang bulan?" Rendra mengawali pillow talk mereka.


"Eh ... iya. Kapan ya Mas? Sampai lupa kalau aku belum haid." Dita menggigit bibir bawahnya.


"Akhir puasa, sebelum lebaran. Iya kan."


"Kok Mas malah ingat." Dita mengerutkan keningnya.


"Ingat lah, kan setelah itu kita nikah terus bulan madu."


"Ah ... iya, betul." Dita menjentikkan jarinya. "Eh, sekarang tanggal berapa sih, Mas?"


Rendra mengambil gawainya di atas nakas, menyerahkan pada Dita.


"Ya Allah ... aku telat udah lama banget, lebih dari dua minggu," Dita menutup mulutnya setelah melihat aplikasi kalender di gawai Rendra.


Rendra mengambil lagi gawai dari tangan Dita, meletakkannya kembali ke atas nakas.


"Mas, apa aku hamil?" tanya Dita sambil menatap mata Rendra.


"Aku juga enggak tahu, Sayang. Tapi kata mama bisa jadi kamu hamil," jawab Rendra sambil mengelus pipi halus Dita.


Seketika Dita menjadi diam. Dia tampak memikirkan sesuatu.

__ADS_1


"Kenapa, Sayang?"


Dita menggelengkan kepalanya.


"Jangan diam begitu, ayo katakan apa yang kamu pikirkan. Jangan dipendam sendiri, hummm." Rendra menangkup wajah Dita.


"Bagaimana kuliahku, Mas?" Dita menatap Rendra dengan wajah sendu.


"Sayang, masih bisa kan kuliah satu semester. Terus semester depan bisa ambil cuti karena pasti sudah hamil besar."


"Nanti aku lulusnya enggak tepat waktu, Mas."


"Enggak apa-apa. Kita juga tidak dikejar waktu kan. Sayang, kamu tidak ada kewajiban untuk bekerja. Tetapi kalau ingin bekerja nanti setelah kuliah ya silakan, asal bisa membagi waktu dengan keluarga. Ayah dan Mas Adi pasti bisa mengerti, Sayang." Rendra mengelus kepala istrinya.


"Apa aku bisa jadi ibu yang baik, Mas? Meninggalkan anak untuk kuliah. Atau aku berhenti kuliah saja biar bisa mengurus anak kita?"


"No!!! Aku enggak setuju kamu berhenti kuliah, Sayang. Tetap lanjutkan kuliah, cukup cuti kuliah tidak harus berhenti. Sayang, kamu tetap bisa jadi ibu yang baik meski tetap kuliah. Jangan pesimis dan berkecil hati. Aku akan selalu ada di sampingmu, Sayang."


"Ada mama, ada bunda, Kak Shasha, Nisa yang bisa ikut membantu menjaga anak kita nanti. Jangan khawatir, kita akan tetap pegang kendali mendidik anak kita meski dibantu orang lain."


Dita masih tampak gelisah meski Rendra sudah mencoba meyakinkannya.


"Mas," panggil Dita pelan.


"Ya, Sayang."


"Benar ya, aku masih bisa jadi ibu yang baik meski tetap kuliah?"


"Iya, i'm sure about that. Selama ini, Sayang juga sudah menjadi istri yang baik, salehah. Pastinya juga akan menjadi ibu yang terbaik untuk anak-anak kita nanti."


"Kalau aku harus lembur ngerjain tugas atau ada tugas kelompok, bagaimana?"


"Kan ada aku, Sayang. Kalau kamu sibuk, aku yang akan mengasuh dia. Kita bisa berbagi tugas. Aku juga sudah skripsi saat anak kita lahir nanti, jadi waktunya di rumah juga pasti lebih banyak."


"Benar ya, Mas. Janji."


"Iya, Sayang. Aku janji, kita akan selalu bersama melewati semuanya." Rendra mengecup kening Dita lama, berusaha memberikan ketenangan pada istrinya.


"Berarti kita besok harus beli testpack, Mas," ucap Dita setelah Rendra menjauhkan dirinya.


"Aku udah beli, Sayang." Rendra tersenyum.


"Kapan?"


"Tadi sore, sebelum aku pulang ke sini. Tadi aku curhat panjang lebar sama mama. Terus aku disuruh beli testpack."


"Mas, enggak malu gitu beli testpack di apotek?"


"Kenapa harus malu? Testpack juga buat istri bukan buat orang lain. Aku sudah bilang kan, suamimu ini selalu bisa diandalkan."


Dita terkekeh dengan sikap narsis suaminya. Tapi memang benar, dalam hal apa pun dia bisa mengandalkan Rendra.


"Terima kasih, Mas." Dita mengecup kilat bibir suaminya.


Rendra tersenyum lega, satu masalah sudah teratasi.


"Tidur, yuk. Udah malam, besok pagi setelah bangun tidur jangan lupa untuk tes ya, Sayang."


"Benar ini, kita langsung tidur?" tanya Dita tak yakin.


"Iya, memang kenapa? Sayang ingin olahraga malam?" goda Rendra.


"Enggak, tumben aja langsung ajak tidur."


"Kata mama enggak boleh sering-sering selama kamu hamil. Apalagi masih hamil muda. Aku aja nahan 4 bulan bisa, masa cuma beberapa hari enggak bisa."


Dita kembali terkekeh mendengar ucapan suaminya.

__ADS_1


Jogja, 250321 13.40


__ADS_2