Romansa Cinta Senior Junior

Romansa Cinta Senior Junior
88


__ADS_3

“Bella, aku kangen.” Dita berjalan menghampiri Bella sambil merentangkan kedua tangan ingin memeluk sahabatnya itu.


“Aku juga, Ta.” Mereka berdua saling mencium kedua pipi lalu berpelukan erat.


“Wah Ta, kayanya kita enggak ketemu cuma sebulan tapi penampilanmu sekarang berubah. Di mana semua celana jin kesayanganmu itu?” Bella mengamati penampilan Dita dari atas sampai bawah. Dita yang dulu tomboi selalu memakai celana jin dan kemeja lengan panjang, kini mengenakan hijab dengan gamis model terkini yang membuatnya terlihat lebih cantik dan feminin.


“Ih Bel, kamu ngelihatin aku kaya apa aja deh.” Dita tersenyum malu.


“Ehem ...,” Rendra berdeham, menyela pembicaraan kedua wanita di depannya yang asyik dengan dunia mereka sendiri.


“Eh ... Kak Rendra,” sapa Bella canggung. “Apa kabar, Kak Rendra?”


“Alhamdulillah baik. Bella, aku titip Dita dulu ya,” pesan Rendra pada Bella.


“Siap, Kak. Dita dijamin aman tanpa berkurang sedikit pun.” Bella mengangkat tangan di depan kening, berlagak memberi hormat pada Rendra.


“Apaan sih Mas pake dititipin segala. Aku bukan anak kecil dan bukan barang,” protes Dita sambil melirik suaminya.


“Paling lama 3 jam, aku tinggal. Terserah kalian mau pesan apa saja di restoran. Sayang, nanti bayarnya pakai ini ya.” Rendra menyerahkan kartu ATM pada Dita. “Pin-nya kaya yang biasanya,” pesannya.


“Makasih, Kak Rendra,” ucap Bella dengan mata berbinar. Tentu saja dia, sebagai anak kos, bahagia ditraktir makan siang apalagi di hotel.


“Iya, Mas.” Dita menerima ATM Rendra lalu dimasukkan ke tas selempangnya.


“Bella, jangan sampai Dita pesan makanan yang mentah, yang ada nanas, sama minuman bersoda ya,” pesan Rendra lagi.


“Siap, Kak.”


“Aku pergi dulu ya, Sayang. Kalau ada apa-apa langsung hubungi aku ya.” Rendra mencium kening Dita. Dia lalu menunduk, mengelus dan mencium perut Dita. “Baby, ayah kerja dulu ya. Baik-baik sama Ibu.”


“Iya, Ayah,” ucap Dita yang lalu mencium punggung tangan Rendra.


“Bella, titip mereka berdua ya. Assalamu’alaikum.” Rendra beranjak meninggalkan Dita dan Bella yang terkejut dengan kejadian yang baru saja terjadi di depan matanya.


“Wa’alaikumsalam,” sahut Dita dan Bella.


Hari ini Rendra diundang oleh Dinas Koperasi dan UKM (Usaha Kecil dan Menengah) Jogja untuk mengisi materi pelatihan kewirausahaan di sebuah hotel yang terletak di kawasan Malioboro. Rendra mengajak Dita karena istrinya itu juga ingin bertemu dengan Bella, yang baru kembali ke Jogja setelah mengisi liburan semesternya di kampung halaman. Karena itu Dita dan Bella bertemu di hotel sembari menunggu Rendra selesai memberi materi pelatihan.


“Ta, apa yang aku lihat dan dengar tadi enggak salah kan?” tanya Bella yang sudah mulai menguasai diri.


“Yang mana?” tanya Dita tak mengerti.


“Itu tadi, panggil ibu sama ayah,” jawab Bella.


“Oh itu, iya. Aku hamil, Bel. Emang aku belum kasih tahu kamu ya?”


“Serius kamu hamil, Ta?” tanya Bella tak percaya.


Dita menganggukkan kepala dengan senyum lebar. “Iya, aku hamil.”


“Bukannya dulu kamu bilang ingin nunda punya anak?”

__ADS_1


“Iya, tapi ternyata Allah kasih aku sama Mas Rendra amanah lebih cepat. Masa aku tolak sih, Bel. Sementara banyak orang yang ingin hamil dan punya anak tetapi belum dikasih amanah sama Allah.”


“Masya Allah, Ta. Aku rasanya masih enggak percaya. By the way, selamat ya. Semoga sehat dan lancar sampai melahirkan nanti.” Bella kembali memeluk Dita.


“Makasih, Bel. Tapi, kita sebaiknya cari tempat duduk yuk. Pegal dari tadi berdiri.”


Dita dan Bella mencari tempat duduk di salah satu sudut restoran di hotel itu.


“Kamu mau pesan apa Bel?” tanya Dita saat seorang pramusaji memberi mereka buku menu.


“Terima kasih, Mbak. Boleh ya ini ditinggal dulu. Nanti kalau sudah siap, saya panggil,” ucap Dita pada pramusaji yang tadi membawa menu pada mereka.


“Baik, Mbak.” Pramusaji itu berjalan menjauh dari meja mereka.


“Seperti yang tadi dibilang suamiku, terserah kamu mau pesan menu apa saja,” ucap Dita pada Bella yang sedang melihat-lihat buku menu.


“Siap, Nyonya Rendra. Kapan lagi ditraktir makan enak di hotel kalau enggak kaya gini. Sering-sering aja ya, Ta,” seloroh Bella.


“Idih maunya gratisan terus,” ledek Dita.


“Hihihi namanya juga anak kos,” Bella terkekeh.


Setelah memutuskan menu yang akan dipesan, Dita memanggil pramusaji dan menyebutkan pesanan mereka. Sambil menunggu pesanan dihidangkan, mereka kembali mengobrol.


“Ta, jadi sekarang kamu pakai gamis karena kamu sedang hamil?” tebak Bella.


Dita mengangguk. “Iya, ini perutku udah mulai kelihatan baby bump-nya.” Dita menunjukkan perutnya yang sedikit membuncit dari pada biasanya.


“Sama dokter juga enggak boleh pakai celana ketat, jadi ya udah pakai gamis sekalian. Ternyata nyaman juga lama-lama pakai gamis. Akhirnya Mas Rendra beliin aku banyak gamis. Mama mertua juga bikinin aku gamis yang bahannya dingin. Katanya sekalian promosi baju untuk ibu hamil,” cerita Dita.


“Namanya cewek pasti cantik lah, Bel. Kamu juga cantik kok. Aku belum tahu jenis kelaminnya, masih tiga bulan ini.”


“Eh tiga bulan? Jadi ini anak hasil bulan madu kalian?” tanya Bella setengah berteriak.


“Ssttt ... kebiasaan deh kamu Bel suka teriak-teriak.” Dita menegur Bella yang mulai lepas kendali.


“Upsss ... sori, Ta.” Bella mengangkat tangannya membentuk tanda V. “Eh, pertanyaanku tadi belum dijawab loh, Ta.”


“Iya, mungkin juga. Karena aku terakhir haid sebelum lebaran. Setelah itu aku belum haid lagi sampai sekarang.”


“Wih keren, Kak Rendra. Tokcer banget, kamu bisa langsung hamil,” puji Bella.


Obrolan mereka sempat terjeda karena pesanan mereka sudah diantarkan oleh pramusaji.


“Cerita dong tentang kehamilanmu, Ta,” pinta Bella setelah menyesap minumannya.


“Cerita tentang apa?” tanya Dita.


“Ya apa saja, nyidam apa? Rasanya gimana selama hamil,” jawab Bella yang sangat antusias ingin mendengar cerita Dita.


“Yang jelas aku jadi gampang ngantuk, gampang capek, gampang lapar. Enggak ada nyidam khusus sih. Apa aja aku makan. Alhamdulillah dia enggak rewel dan nyusahin ayahnya,” cerita Dita sambil mengelus perutnya.

__ADS_1


“Ih ... aku iri sama kamu, Ta. Kak Rendra pasti jadi makin perhatian ya sama kamu.”


“Banget. Enggak cuma suamiku, Mas Adi aja ikutan protektif. Ya, semua orang jadi lebih care sih. Sejak aku hamil mana pernah aku bonceng motor. Ke mana-mana harus naik mobil. Enggak boleh kerja berat, angkat-angkat barang. Ya gitu deh."


"Aku ikut bahagia lihat kamu bahagia sama Kak Rendra, Ta. Aku kadang masih enggak percaya kalau ingat dulu kalian seperti apa. Tapi namanya jodoh ya, mau kaya gimana juga pasti bersatu."


"Iya, aku aja enggak pernah nyangka bisa nikah dan hamil di umurku yang baru 19 ini. Dulu aku cuma berpikir kuliah selesai tepat waktu terus kerja. Ternyata Allah mendatangkan jodohku di luar perkiraanku," ucap Dita sambil menerawang.


"Tapi kamu jadi beda setelah menikah sama Kak Rendra."


"Apanya yang beda?" tanya Dita penasaran.


"Kamu bukan lagi Dita yang dingin dan cuek. Apalagi dengan penampilanmu sekarang. Kak Rendra bisa membuatmu berubah jadi lebih baik. Ah ... andai ada kloningan Kak Rendra pasti akan aku kejar sampai dapat," ujar Bella.


"Mimpi kamu, Bel." Dita tertawa mengejek Bella. "Enggak ingat kamu ditolak saat mau kasih cokelat?"


"Eh, Ta. Setelah aku pikir-pikir ya aku ini jadi perantara kalian kenal loh. Yah meski kenalnya enggak dengan cara baik-baik. Coba waktu itu kalau kamu enggak datang pas Kak Rendra nolak aku, pasti kalian enggak bakal ketemu."


Dita mencibir Bella. "Terserah kamu deh, Bel. Yang jelas saat itu Allah menggerakkan kakiku buat nolong kamu."


"Emang kamu tuh ya Ta, enggak bisa lihat aku bahagia sedikit aja. Pura-pura bilang makasih atau apa gitu," gerutu Bella pura-pura kesal.


Dita tertawa geli. "Iya deh. Makasih ya Bel, karena kamu, aku jadi ketemu sama Mas Rendra."


"Nah, gitu kan lebih enak didengar," sahut Bella yang diikuti tawa mereka.


"Sekarang ganti topik, bahas kamu, Bel. Dari tadi aku yang cerita terus," usul Dita.


"Ceritaku enggak ada yang menarik, Ta. Gitu-gitu aja, beda sama kamu," sahut Bella.


"Kalau gitu cerita gimana persiapanmu jadi panitia ospek, Bel?"


"Biasa aja, besok baru mulai deh pertemuan pertama. Kak Rendra ikut jadi panitia enggak, Ta?"


"Enggak, dia kan udah mundur dari BEM dan semua kegiatan kampus kecuali UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) karate. Tapi katanya diminta bantuan ngisi materi sih. Aku belum lihat jadwalnya, jadi aku enggak tahu," jelas Dita.


"Iya sih, Kak Rendra sudah punya istri jadi prioritasnya udah beda. Apalagi sekarang kamu lagi hamil."


"Semester ini kan Mas Rendra mau KKN sama magang, dia juga mau fokus ke kuliah. Kafenya saja sekarang aku ikut bantu urus," terang Dita.


"Wah, kamu jadi nyonya bos dong sekarang. Kalau ada lowongan karyawan part time kabari aku ya. Lumayan kan buat nambah modal bikin maket."


"Iya nanti aku kabari, Bel. Rencana memang mau tambah karyawan sih kalau bakery-nya udah jalan."


"Sip, sip. Aku tunggu kabarnya."


Dita mengacungkan jempol pada Bella. Mereka melanjutkan mengobrol sambil menghabiskan makanan dan minuman yang tadi mereka pesan.


"Dita, ya," sapa seorang pria dari samping.


Dita menoleh ke arah samping, dia terkejut melihat orang yang menyapanya.

__ADS_1


"Mas Reza," gumam Dita dengan kening berkerut.


Jogja, 290321 23.40


__ADS_2