
"Aku mau taaruf sama kamu dan keluargamu," teriak Adi.
Tepat saat Adi mengucapkannya musik berhenti. Orang-orang yang ada di sekitarnya memandang ke arahnya. Jelas mereka mendengar apa yang diucapkan Adi. Ada yang tersenyum dan berbisik-bisik sambil terus memperhatikannya. Ada pula yang cuek saja dan langsung mengalihkan fokus mereka lagi ke panggung.
Adelia terpaku. Dita dan Rendra jelas terkejut mendengar penyataan Adi. Dita melepaskan pelukan Rendra di pinggangnya lalu menghampiri kakaknya.
"Mas Adi, serius?" Dita memandang Adi dengan tatapan menyelidik.
"Iya, Dek."
"Heran deh, sama kedua pria ini. Enggak Mas Rendra, enggak Mas Adi, menyatakan perasaan kok enggak di tempat romantis. Yang satu di alkid satunya di festival musik. Ya udah, kita cabut aja cari tempat yang enak buat ngobrol. Yuk, Kak Adel." Dita menggandeng lengan Adelia setelah mengungkapkan kekesalannya.
"Mas Rendra, tolong bilang sama Kak Bara kita pulang duluan, biar dia enggak nyari kita nanti," lanjutnya.
"Iya, Sayang." Rendra mengambil gawai di sakunya lalu mengetik pesan buat Bara. Setelah itu Rendra tersenyum pada Adi.
"Ternyata kita enggak ada bedanya, Mas." Rendra menepuk bahu Adi, kemudian menyusul istrinya dan juga Adelia.
Adi ikut menyusul mereka berdua. Diam-diam dia tersenyum sendiri mengingat dulu pernah meledek Rendra yang nembak adiknya di alkid. Sekarang dia pun menyatakan keseriusannya bukan di tempat yang romantis.
"Kita mau ke mana, Sayang?" tanya Rendra dari balik kemudi saat mereka semua sudah berada di dalam mobil.
"Ke kafe deh. Atau ke mana terserah. Ada enggak tempat yang enak buat ngobrol di dekat rumah Kak Adel? Biar nanti Kak Adel enggak kemalaman pulangnya."
"Ada." Adelia menyebutkan nama dan tempatnya pada Rendra.
Rendra kemudian melajukan mobil ke tempat yang disebutkan Adelia.
"Mas Adi, jangan lirik-lirik terus belum halal," tegur Dita yang melihat Adi melalui rear view mirror beberapa kali mencuri pandang ke belakang.
"Apaan sih, Dek. Jangan asal menuduh," elak Adi.
"Aku enggak nuduh ya, Mas. Tapi aku lihat sendiri Mas lirik-lirik Kak Adel. Aku bilangin ayah ya biar langsung dinikahkan sekalian."
"Dita, jangan." Adelia memegang tangan Dita.
"Kenapa, Kak? Oh iya, Kak Adel kan belum nerima permintaan taaruf dari Mas Adi ya." Dita terkekeh pelan.
Adi berdecak pelan mendengar percakapan di belakangnya.
"Nah, udah sampai. Ayo turun." Rendra sudah memarkirkan mobil di depan sebuah kafe yang cukup luas di dekat rumah Adelia.
"Ayo, Kak Adel." Dita mengajak Adelia turun. Dia sama sekali tidak melepaskan pegangan tangannya pada Adelia.
Untung saja mereka masih bisa mendapatkan tempat duduk. Biasanya tempat itu selalu penuh, apalagi kalau malam Minggu. Mereka langsung memesan minuman dan camilan sebagai teman mengobrol.
"Mas Adi, sekarang ngomong baik-baik sama Kak Adel." Dita memberi kesempatan pada Adi untuk bicara.
"Iya, Dek." Adi mengambil napas panjang sebelum bicara dengan Adelia.
"Adelia, aku mau taaruf sama kamu dan keluargamu. Apa kamu mau?"
"Kenapa Mas Adi mau taaruf sama saya?"
"Karena aku ingin menjadikan kamu istriku."
"Kenapa Mas Adi memilih saya yang pernah melakukan zina? Padahal masih banyak wanita lain yang jauh lebih baik dari pada saya."
"Karena Allah yang memantapkan hatiku. Dan masa lalumu sudah berlalu, jangan diingat lagi. Yang terpenting kamu yang sekarang mau berubah jadi lebih baik."
"Apa Mas Adi sudah salat Istikharah?" Dita menyela percakapan mereka.
"Sudah, Dek."
__ADS_1
"Sejak kapan?" Dita mengerutkan keningnya.
"Sejak pertama kali Adelia datang ke rumah."
Dita, Adelia dan Rendra terkejut dengan pengakuan Adi.
"Serius, Mas?" tanya Dita tak percaya.
"Iya. Mas serius, Dek," jawab Adi.
"Tapi, setiap kali aku menggoda Mas sama Kak Adel reaksi Mas kaya adem aja."
"Itu karena aku belum mendapat petunjuk dan kemantapan. Tapi, sekarang aku udah yakin dan mantap dengan Adelia."
"Mas, sudah bilang sama ayah dan bunda?" tanya Dita lagi.
"Mas sudah bilang sama bunda."
"Kapan?"
"Kemarin waktu kita pulang. Waktu Mas ngobrol berdua sama bunda."
"Terus gimana tanggapan bunda?"
"Bunda menyerahkan semua keputusan dan pilihan sama Mas."
"Ayah?"
"Ayah belum tahu. Nanti Mas kasih tahu setelah mendapat jawaban dari Adel."
"Maaf Mas Adi, Dita, apa boleh menyela?" Adelia memandang kedua kakak beradik itu bergantian.
"Oh, iya. Maaf, Kak. Harusnya memang Kak Adel yang bicara dengan Mas Adi. Silakan, Kak."
Adi mengangguk. "Iya, aku serius. Aku juga bukan manusia sempurna. Kita semua punya kekurangan dan kelebihan masing-masing."
"Tapi, saya masih kurang pengetahuan soal agama."
"Karena itu kita bisa belajar bersama. Aku insya Allah siap membimbing dan membantumu."
"Bagaimana kalau, maaf, ayahnya Mas Adi tidak bisa menerima saya?"
"Ayah pasti menerimamu. Aku yakin itu."
"Bagaimana Mas Adi bisa seyakin itu?"
"Pasti ayah akan tanya apa aku sudah Istikharah. Dengan Istikharah kan berarti aku melibatkan Allah dalam mengambil keputusan. Karena itu ayah pasti akan menerimanya. Seperti juga saat Rendra dulu meminta Dita pada ayah."
"Tapi track record Rendra bagus, Mas. Beda sama dengan saya."
"Bedanya apa? Kita sama-sama manusia. Kalau kamu pernah melakukan kesalahan dan sekarang kamu menyesal, tidak mengulangi lagi, itu sudah cukup. Kamu sudah bertobat, Adel. Dan sekarang kamu sudah berhijrah." Rendra ikut menyahut.
"Benar apa yang dikatakan Rendra. Jangan memandang rendah dirimu, Adel. Kubur semua masa lalumu itu. Jangan diingat yang tidak baik. Saatnya menyongsong masa depan dengan hal yang baik." Adi berusaha meyakinkan Adelia.
"Tapi, apa aku pantas menjadi istri Mas Adi yang saleh ini?"
"Siapa bilang tidak pantas, Kak? Kak Adel sudah memantaskan diri. Untuk itu Allah membukakan pintu hati Mas Adi yang lama terkunci itu, Kak." Dita menggenggam tangan Adelia memberi kekuatan.
"Kata siapa aku saleh? Aku juga punya banyak kekurangan. Hanya saja Allah masih menutupi semua kekuranganku."
"Di mata saya, Mas Adi sosok pria yang saleh, sama seperti Rendra."
Adi dan Rendra tersenyum, mereka saling memandang.
__ADS_1
"Aamiin. Semoga saja kami memang saleh di mata Allah," kata Rendra.
"Apa ada yang mau kamu tanyakan lagi, Del?" tanya Adi beberapa saat kemudian.
"Sementara kayanya cukup, Mas," jawab Adelia sambil menunduk.
"Kalau begitu, bagaimana jawabanmu?"
"Apa boleh saya Istikharah dulu, Mas? Mas Adi sudah Istikharah, sementara saya belum sama sekali."
"Ya, tentu saja. Memang kamu harus Istikharah dulu, aku juga akan melanjutkan Istikharah-ku sampai kamu memberi jawaban."
"Ba ... baik, Mas."
"Nanti kamu bisa kasih jawaban ke Dita. Untuk sementara sampai kamu memberi jawaban, kita tidak akan bertemu. Kamu tetap saja datang ke rumah seperti biasa untuk mengaji dan belajar dengan Dita. Aku tidak akan menemuimu."
"Tapi, itu kan rumah Mas Adi. Masa Mas Adi yang harus keluar. Saya yang seharusnya tidak ke sana."
"Enggak masalah. Jangan diambil pusing. Toh, nanti kalau kamu menerimaku, kamu juga akan tinggal di sana setelah jadi istriku."
Blush ....
Pipi Adelia memerah. Ucapan Adi barusan cukup membuatnya merasa tersanjung sekaligus malu.
"Ayo diminum dan dimakan dulu, Kak. Nanti setelah itu kita antar Kak Adel ke rumah."
"Santai aja, Dita. Masih belum tengah malam."
"Eh, enggak bisa gitu, Kak. Dulu aku kalau pergi maksimal jam 09.00 malam harus sudah sampai rumah. Ya kan, Mas Ren?"
Rendra menganggukkan kepala.
"Tuh, benar kan. Kalau bisa sebelum jam 10.00 kita sudah antar Kak Adel. Ini sudah melewati jam malamku, soalnya." Dita menunjuk jam digital di gawainya yang memperlihatkan angka 21.15.
"Iya, ya. Aku sekarang kan sudah tidak bebas seperti dulu bisa pulang jam berapa pun."
"Kak Adel, bisa bebas lagi kalau udah punya suami. Enggak pulang juga enggak ada yang nyari." Dita mengikik.
Adi melirik adik semata wayang yang amat disayanginya itu. "Iya, yang sudah punya suami bebas pergi ke mana aja berdua," ledeknya.
Setelah menghabiskan dan membayar minuman dan camilan yang tadi dipesan, mereka pulang. Tak lupa mereka mengantar Adelia dulu ke rumahnya baru kembali ke rumah Adi.
"Mas Adi, tetap semangat. Sabar ya. Sekarang Mas Adi bisa merasakan apa yang aku rasakan dulu saat menunggu jawaban Dita," ujar Rendra saat mereka dalam perjalanan pulang.
"Emang gimana Mas, rasanya?" tanya Dita yang jadi penasaran.
"Macam-macam lah, Sayang. Cemas, bingung, deg-degan, takut ditolak, ya kaya gitu-gitu," jawab Rendra.
"Ooohhhh."
"Enaknya jadi wanita itu ya gitu. Hanya dengan menjawab ya apa tidak. Sementara pria yang mengutarakan keinginannya, itu pun masih harus menunggu jawaban." Adi menghela napas.
"Memangnya Mas Adi mau berubah jadi wanita, biar cuma menjawab aja?" ledek Dita.
"Jangan sembarangan, Dek, kalau ngomong."
Dita tertawa melihat ekspresi Adi yang terlihat kesal sekaligus cemas.
...---oOo---...
Jogja, 150521 20.20
Lanjut atau enggak neh Adi dan Adelia? ššš
__ADS_1