
Setelah menunggu hampir 1 jam, akhirnya Rendra dipindahkan ke ruang rawat inap di Paviliun Indraprasta yang berada di Gedung Pusat Jantung Terpadu sayap utara timur. Rendra mengambil ruang rawat inap VIP Dewasa A yang ada fasilitas tambahan sofa tamu dan sarapan bagi penunggu. Selain itu kamarnya juga lebih luas dibanding tipe kamar VIP lainnya yang ada di Paviliun Indrapasta. Dia ingin keluarganya merasa nyaman saat menunggu atau pun menjenguknya.
Setelah Rendra dipindahkan ke ruang rawat inap, Dita segera mengabari Ibu Dewi dan Adi di mana ruangan suaminya berada agar mereka bisa langsung ke sana tanpa harus mencari lagi. Saat ini Dita masih ditemani Bella dan juga Bara, beruntungnya dia dan Rendra mempunyai sahabat yang tulus dan selalu ada untuk mereka.
“Bel, kamu kalau capek pulang dulu aja enggak apa-apa. Sebentar lagi mamanya Mas Rendra datang kok.” Ucap Dita setelah membereskan barang bawaannya.
Sebelum Rendra dipindahkan tadi, Bella dan Bara baru saja kembali dari makan siang dengan membawa pesanan Rendra dan Dita. Jadi Dita belum sempat makan siang karena keburu pindah ke ruang rawat inap.
“Nanti saja, aku juga enggak ngapa-ngapain di kos. Kamu makan dulu aja Ta, jangan sampai kamu juga sakit karena telat makan.” Sahut Bella.
“Sayang, kamu makan dulu gih.” Perintah Rendra dengan suara lemah.
"Mas juga makan ya, aku suapin. Kita makan bareng." Dita mengambil bento yang tadi dibelikan Bara. Dita mengatur ranjang Rendra agar posisi matrasnya naik sehingga Rendra bisa tetap berbaring dalam posisi duduk.
"Aku makan nasinya saja. Mulut sama perutku enggak enak soalnya. Sedikit-sedikit saja nyuapinnya." Pinta Rendra.
"Oh ya, sendoknya jangan sama, kamu pakai sendok lainnya."
"Kenapa Mas?"
"Jaga-jaga jangan sampai kamu tertular, Sayang."
"Kalau begitu aku suapin Mas dulu sambil aku makan saladnya. Bismillahirrahmanirrahim, aaa ...." Dita mulai menyuapkan nasi pada Rendra lalu dia makan salad sayur.
"Sudah, Sayang." Ucap Rendra setelah beberapa suapan.
"Mas, baru makan sedikit lho."
"Yang penting ada yang masuk perut."
"Ya sudah, Mas minum dulu ya." Dita menyerahkan botol air mineral pada Rendra.
Rendra menerima botol air mineral itu lalu meneguknya sampai separuh botol. Dia menyerahkan kembali botol itu pada Dita, lalu menyandarkan kembali badannya. Matanya perlahan mulai memejam lagi.
Dita menyelesaikan makannya di sofa tamu sambil mengobrol dengan Bara dan Bella. Dita banyak bertanya tentang Rendra pada Bara, karena Bara lebih dulu kenal dengan suaminya pasti lebih tahu tentang sifat dan kebiasaan Rendra.
Beberapa waktu kemudian, Ibu Dewi datang bersama Nisa dan Shasha, yang sengaja minta izin setengah hari kerja untuk menjenguk adiknya. Mereka membawa baju ganti untuk Rendra dan beberapa makanan serta minuman.
Dita menyambut kehadiran mertua dan kedua saudara iparnya. Dia juga mengenalkan Bella pada mereka.
"Mas Rendra baru saja makan lalu tertidur, Ma." Jelas Dita saat Ibu Dewi mendekati ranjang Rendra.
"Rendra itu punya kebiasaan buruk, kalau sudah bekerja lupa waktu. Jadi begini akibatnya, sudah berulang kali kena tipes tetap saja tidak bisa mengubah kebiasaannya." Terang Ibu Dewi pada Dita.
"Maafkan Dita ya Ma, karena kurang memperhatikan Mas Rendra."
"Bukan salah kamu, memang Rendra-nya yang bandel. Jangan merasa bersalah ya." Ibu Dewi mengusap kepala Dita.
"Iya, Ma."
"Karena Dita sudah ada temannya, saya pamit dulu, Tante." Bella beranjak mendekati Ibu Dewi.
"Terima kasih ya Nak Bella, sudah menemani Dita."
"Iya, sama-sama Tante." Bella berpamitan juga pada Shasha, Nisa dan juga Bara. Dita mengantar Bella sampai di depan kamar rawat inap Rendra.
"Makasih ya Bel, untuk semuanya. Aku enggak tahu bagaimana kalau enggak ada kamu." Dita memeluk Bella.
"Kaya sama siapa aja Ta, udah ya aku balik dulu. Kamu juga jaga kesehatan, jangan sampai lupa makan. Kalau perlu apa-apa bisa hubungi aku."
"Siap, hati-hati ya di jalan." Mereka melepas pelukan, lalu Bella beranjak meninggalkan sahabatnya itu. Dita masuk kembali ke kamar setelah Bella pergi.
"Mama kira Dita mau pulang sama Bella." Kata Ibu Dewi pada Dita.
"Enggak Ma, nanti Mas Adi jemput kok. Oh ya, bajunya Mas Rendra mana Ma, biar aku masukkan ke lemari."
__ADS_1
"Ini Mbak di koper," sahut Nisa sambil menyerahkan koper pada Dita.
Dita membuka koper kemudian menata baju Rendra di lemari yang telah tersedia.
"Sayang," panggil Rendra.
"Apa Mas?" Dita menghampiri ranjang suaminya.
"Haus, mau minum." Dita menyerahkan botol air mineral pada Rendra.
"Mas mau ganti baju?" Tanya Dita setelah Rendra selesai minum.
"Nanti sekalian habis mandi," jawab Rendra.
"Mas mau mandi?"
"Kamu yang mandiin tapi ya."
"Eh ... enggak sama perawat?"
"Enggak mau kalau perawatnya cewek, tubuhku kan hanya boleh dilihat sama kamu saja."
Blush ....
"Nan ... nanti aku minta perawat yang cowok deh ke depan." Ucap Dita dengan pipi merona.
"Ya udah, aku enggak usah mandi sekalian." Rendra mulai merajuk.
"Rendra memang manja gitu Dit kalau lagi sakit, kamu yang sabar ya." Celetuk Shasha.
"Iya, Mbak."
"Biar Mama yang mandikan Rendra kalau Dita masih malu," Ibu Dewi memberi solusi.
"Eng ... enggak apa-apa, Ma. Dita saja yang memandikan Mas Rendra."
"Ya udah, mandi sekarang aja nanti keburu Mas Adi datang. Aku siapin baju dulu."
Dita segera menyiapkan baju Rendra lalu meletakkannya di kamar mandi, setelah itu dia menghampiri Rendra. Bara ikut membantu memapah Rendra yang masih lemas, karena bisa dipastikan Dita akan kesulitan bila melakukannya sendirian. Postur tubuh Rendra yang tingginya 186 cm dengan badan yang tegap dan berisi bila dibandingkan dengan Dita yang tingginya 168 cm dengan badan yang langsing, tentu saja tidak akan seimbang.
"Terima kasih Kak," ucap Dita setelah Bara membantunya memapah Rendra ke kamar mandi.
"Nanti panggil saja kalau sudah selesai," sahut Bara sebelum keluar dari kamar mandi.
"Iya, Kak." Dita menutup pintu kamar mandi.
Dita melepaskan kemeja yang dipakai Rendra dengan hati-hati karena tangan Rendra yang diinfus. Setelah itu dia melepaskan celana panjang Rendra dan menyisakan ce la na da lam nya.
"Kenapa enggak dilepas sekalian?" Tanya Rendra heran.
"Ehmm ... malu Mas," jawab Dita sambil memalingkan wajahnya.
"Takut kepengen ya?" Rendra malah jadi menggoda Dita.
"Ishhh ... pikirannya jangan aneh-aneh ya Mas. Ini Mas sikat gigi dulu, aku siapin air panasnya." Dita menyerahkan sikat gigi pada Rendra.
"Aku mau pipis ini, masa pipis di celana."
"Mas bisa kan lepas sendiri?"
"Panggilin mama aja deh, kalau kamu enggak ikhlas mandiin aku."
"Eh ... kok Mas ngomongnya gitu, siapa bilang aku enggak ikhlas?"
"Tadi aku disuruh lepas celanaku sendiri."
__ADS_1
"Udah sini aku lepasin," Dita akhirnya melepas ce la na da lam Rendra, dia melakukannya sambil memalingkan wajah. Sejujurnya dia sangat malu karena tidak pernah melihat sosok pria dengan tubuh polos di depan matanya.
Sambil Rendra menyikat gigi, Dita mulai mengguyur badan Rendra dari belakang dengan air hangat dari shower. Setelah itu dia menyabuni badan suaminya. Dita memalingkan wajah saat menyabuni tubuh bagian depan Rendra.
"Gimana bisa tahu sabunnya rata atau enggak kalau kamu enggak lihat, Sayang." Rendra menatap gemas Dita.
"Enggak percaya banget sih aku bisa menyabuni dengan rata meski tanpa melihat."
"Aku percaya penuh sama kamu kok. Aku sudah pasrah mau kamu apain aja."
"Memangnya aku mau ngapain Mas? Cuma mandiin aja kok lebai gitu ngomongnya."
"Kenapa sih enggak mau lihat? Tubuhku ini sudah milik kamu loh, seutuhnya tanpa kecuali. Kamu kalau sudah merasakannya pasti bakal ketagihan, aku jamin itu."
"Ngomong apa to Mas, aku enggak ngerti." Dita tetap meneruskan kegiatannya tanpa menanggapi omongan Rendra.
Akhirnya Dita selesai memandikan dan memakaikan baju Rendra. Setelah itu dia memanggil Bara untuk membantu memapah Rendra kembali ke ranjang.
Saat Rendra selesai mandi, ternyata Adi sudah datang. Dia terlihat sedang mengobrol dengan Ibu Dewi dan Shasha. Adi memang belum terlalu mengenal Shasha karena mereka baru bertemu sekali saat acara lamaran Dita, itu pun mereka tidak sempat mengobrol.
Dita, Adi dan Bara meninggalkan rumah sakit setelah beberapa saat, sebelum itu mereka mampir ke kampus untuk mengambil motor Rendra. Bara mengendarai motor Rendra, sementara Dita dan Adi memakai mobil.
Mereka bertiga menuju ke rumah Adi. Motor Rendra dimasukkan ke dalam garasi. Bara lalu ikut masuk ke rumah.
"Kak Bara mau mandi dulu?" Tanya Dita setelah dia menyajikan minuman untuk Bara.
"Nanti di kos aja. Makasih loh minumannya jadi malah merepotkan."
"Enggak Kak, justru kami yang sudah banyak merepotkan Kak Bara."
"Aku enggak repot apa-apa. Oya, ini kunci sama STNK motornya Rendra." Bara meletakkan kunci dan STNK motor di atas meja.
"Terima kasih Kak, aku simpan dulu ini. Kak Bara kalau mau rebahan dulu enggak apa-apa, aku mau mandi sama siapin baju ganti dulu mungkin agak lama."
"Santai Dita, nikmati saja waktumu."
"Aku ke dalam dulu ya Kak," Dita lalu meninggalkan Bara di ruang tamu sendirian karena Adi tadi langsung masuk ke kamarnya.
Bara merebahkan tubuhnya di sofa panjang ruang tamu Adi. Dia memejamkan mata sambil tersenyum penuh arti. Hari ini, dia bisa melihat sosok Dita yang begitu lepas. Selama ini Dita selalu menutup dirinya, tanpa diduga setelah menikah dengan Rendra, Dita menjadi sosok yang lebih terbuka.
Bara memang masih belum bisa sepenuhnya melupakan Dita. Dengan melihat kebersamaan Dita dan Rendra membuatnya makin tersadar sudah seharusnya dia segera membuang jauh perasaannya. Tidak mudah memang menghilangkan rasa cinta, tetapi dia yakin seiring berjalannya waktu pasti akan bisa.
Sekitar 30 menit kemudian, Dita sudah siap dengan ransel dan tas selempangnya. Dia menghampiri Adi dan Bara yang sedang mengobrol di ruang tamu.
"Ayo Mas, kita berangkat." Ajak Dita.
"Oke, sudah tidak ada yang tertinggal?" Tanya Adi memastikan.
"Insya Allah enggak ada," jawab Dita.
Mereka bertiga kemudian kembali ke rumah sakit. Bara tidak kembali ke ruang rawat Rendra karena dia ada acara malam ini, jadi dia turun di dekat IGD di mana motornya terparkir. Dia berjanji besok pagi akan datang lagi menjenguk Rendra.
Malam itu Dita dan Adi yang menunggu Rendra di rumah sakit.
Selama dirawat di rumah sakit, Rendra sama sekali tidak boleh menyentuh notebook bila Dita sedang menunggunya. Jangankan notebook, memegang gawai saja dia tidak boleh kecuali Dita melihat ada pesan atau telepon penting yang masuk. Dita sangat tegas pada Rendra karena dia ingin suaminya benar-benar bisa istirahat.
Dita bahkan melarang teman-teman dan karyawan Rendra yang mau datang menjenguk. Dia hanya mengizinkan Bara dan Bella yang menjenguk, selain keluarga inti mereka. Ayah dan bunda Dita juga menjenguk Rendra di hari libur. Dia tidak mau mengganggu waktu istirahat Rendra bila banyak orang yang menjenguk.
Bila Dita sedang ada kuliah, Ibu Dewi yang akan menjaga Rendra. Setelah Dita selesai kuliah, baru Ibu Dewi pergi ke butik. Biasanya sepulang kuliah Dita akan ditemani Bella atau Bara, atau malah mereka berdua.
Setelah 7 hari dirawat, akhirnya Rendra diizinkan untuk pulang tetapi harus tetap dipantau dan kontrol ke dokter. Jenis makanan yang dimakan dan pola tidur harus diperhatikan sampai benar-benar dinyatakan sembuh dan sehat.
Sejak hari kepulangan Rendra, Dita memutuskan tinggal dengan suaminya setiap hari agar bisa memantau jam tidur Rendra yang kacau. Rendra tentu saja bahagia, meski beberapa pekerjaan harus dia tunda dan meminta tambahan waktu untuk menyelesaikannya.
Bila tidak ada tugas kuliah yang membuat mereka harus lembur, pukul 10.00 malam mereka harus sudah tidur. Kecuali memang ada tugas kuliah yang harus segera diselesaikan dan dikumpulkan, Dita mengizinkan untuk tidur lebih malam. Tentu saja Dita tetap menemani sampai selesai. Pernah suatu hari Dita tidur duluan, Rendra mencuri waktu mengerjakan desain sampai dini hari. Alhasil membuat Dita seharian mendiamkan Rendra karena dia kesal pada suaminya. Sejak itu Dita selalu menunggu Rendra sambil dia juga mengerjakan tugas kuliahnya atau sambil mempelajari materi kuliah yang dia masih belum terlalu paham.
__ADS_1
Rendra pun tak berani membantah Dita lagi sejak itu, karena didiamkan istrinya sangatlah tidak enak. Dia sampai harus meminta maaf berulang kali dan berjanji tidak akan mengulanginya. Dia tahu Dita melakukannya karena istrinya itu tidak mau dia sakit lagi. Dalam hati dia selalu bersyukur memiliki istri yang meski terlihat cuek tetapi sangat perhatian padanya.